Rida adalah seorang gadis 20 tahunan yang bekerja di sebuah bank negeri di kota Bkl. Ia tinggal di rumah kos bersama seorang rekan wanitanya, Ita, yang juga bekerja di bank yang sama walaupun pada cabang yang berbeda. Ia memiliki tubuh yang kencang. Wajahnya cukup manis dengan bibir yang penuh, yang selalu dipoles dengan lipstik warna terang. Tentu saja sebagai seorang teller di bank
Tampilkan postingan dengan label Pemerkosaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pemerkosaan. Tampilkan semua postingan
Senin, 17 Januari 2011
Rabu, 01 September 2010
1 Carissa Putri XXX: Ayat-ayat Bercinta
Sebuah mobil menelusuri ramainya jalan raya ibu kota ketika hujan lebat. Di dalam mobil itu terlihat seorang gadis yang sedang nyetir sambil asyik mendengarkan hentakan musik. Gadis berwajah Indo itu tidak lain adalah Carissa Putri, artis cantik yang mempunyai bentuk tubuh yang bila dipandang membuat cowok-cowok menelan ludah. Nama Carissa mulai terkenal sejak ia membintangi film Ayat-ayat Cinta,
1 Hipnotis Suami Istri
Saya Ira (26 thn) dan suami saya Bayu (28) tahun (nama samaran), kami mengalami suatu kejadian yang tidak bisa terlupakan dan sangat mengganggu kehidupan kami berdua. Saat ini kami sedang dalam perawatan Psikiater. Saya ingin menceritakan pengalaman buruk kami agar rekan-rekan dapat berhati-hati dan selalu waspada jika didekati seseorang yang meminta bantuan.
Pada hari Jum'at tgl 16 July 99
Pada hari Jum'at tgl 16 July 99
Selasa, 20 Juli 2010
1 Tragedi malam pengantin - 12
Tubuh kekarnya semakin liar mengempos dubur korbannya yang telah lunglai habis-habisan ini digilir sejak tadi, sebelah kakinya yang setengah jongkok itu kala mengentoti anus korbannya diangkat seperti anjing yang sedang kencing serta lututnya menumpu pada bongkahan pantat gadis tersebut sambil terus mengenjot tubuh perempuan belia yang telah takluk padanya. Tubuh keduanya tampak semakin licin berkilat oleh peluh mereka yang menyatu menghiasi adegan intim nan penuh paksaan semalam suntuk ini.
Karena lama bertahan lama dalam posisi itu, aku melepaskan aksi intipku dulu untuk membuat secangkir kopi hangat sebagai penahan rasa kantukku yang mulai melanda kedua pelupuk mataku ini dan meninggalkan adegan paksa yang masih berlangsung itu tanpa adanya usaha untuk mencegah peristiwa tragis yang menimpa sosok dara belia nan cantik namun bernasib sangat malang.
Selang beberapa saat aku hanyut dalam tegukkan sensasi kopi hangat yang kureguk di tenggorokkanku untuk kemudian kembali lagi melanjutkan aksi intipku. Lelaki penikmat dubur cewek ini kini berdiri diatas kasur ranjang pengantin itu dan tubuh perempuan muda yang masih menungging ini kedua kakinya ditarik melempeng kebelakang dengan kedua belah lututnya yang telah lurus itu tercengkeram oleh kedua tangan kekarnya. Lubang anusnya kembali ditembus batang kejantanan lelaki ketiga yang terakhir ini mengerjainya malam itu.
Dua bongkahan pantatnya yang padat menempel pada selangkangan lelaki yang doyan anus wanita ini dengan kaki lurus kebelakang melewati kedua pinggang pemerkosanya dengan posisi betis indahnya yang menekuk melengkung keatas serta menggantung bebas diudara. Rasanya jarang sekali ditemukan dalam film-film porno adegan yang seperti ini, tetapi kini dilakukan oleh pria itu kepada wanita korban pelampiasannya ini.
Ia memaksa kedua kaki gadis itu menjepit pinggangnya dengan kedua mata kaki korbannya bersilangan sehingga tubuhnya yang telanjang tergantung indah ini mengunci ketat pinggang lelaki bajingan itu. Dalam keadaan demikian kedua belah payudaranya nan indah melesak di kasur nan empuk itu menjadi tumpuan tubuhnya yang setengah melayang di udara ini. Dengan posisi demikian maka makin dalamlah tusukkan pelir lelaki itu menembus poros usus gadis belia cantik nan penuh derita berkepanjangan ini.
Anusnya terasa dimasukki oleh besi panas saja karena diusianya yang masih terlalu dini itu ia sudah dipaksa untuk mengenal permainan ranjang yang demikian tak lazim yang diperbuat lelaki-lekaki pemerkosanya. Tubuhnya yang semula kelihatan sangat mulus bersih serta terawat apik tanpa sedikitpun cacat dan cela tadinya itu kini berubah menjadi lusuh dan kotor bermandi keringat dengan lelehan lendir penuh nista permainan paksa mereka yang berceceran disana-sini.
Kasur putih dibawahnya telah penuh bercak darah kesuciannya di malam perkawinan yang mana keperawanannya telah direnggut oleh lelaki yang bukan kekasihnya, tetapi melainkan para pembunuh suaminya sendiri. Dengan sisa-sisa tenaganya yang terakhir gadis itu berusaha mengetatkan jepitan bongkahan pantatnya sendiri dan membiarkan lelaki itu terus menikmati kehangatan lorong dinding-dinding anusnya sambil berharap lelaki itu segera menyudahkan permainannya yang telah membuat duburnya menjadi semakin sembab dan bengkak ini. Tetapi ia salah menduga stamina lelaki ketiga ini yang demikian kuat melakukan anal sex terhadap tubuh mekarnya yang telanjang dalam dekapan.
Tanpa terasa cairan di anusnya semakin keluar melumuri daerah tempat keluar masuk batang kejantanan perkasa lelaki sang pemerkosa terakhir ini yang terus menggenjotnya dengan brutal. Suara berdecak-decak pada dinding anusnya yang tergesek-gesek oleh kontol itu semakin jelas terdengar olehku. Clop! clop! clop! Begitulah bunyi yang ditimbulkan dari dubur yang tengah diperkosa tersebut dan itu semakin dahsyat dilancarkan dengan penuh semangat oleh lelaki ketiga ini. Akupun berpikir kalau seandainya nanti mendapatkan seorang istri, maka aku akan pula ingin merasakan nikmat lubang pantatnya saat melayaniku nanti sebagai variasi bercinta, karena rasanya pasti demikian lezat sebagaimana yang telah kusaksikan sendiri saat ini dari lelaki garong itu kepada korbannya.
Dan lama-kelamaan jepitan kedua kaki dara yang bersilangan itu mulai melemah sudah, tubuh telanjangnya terhuyung-huyung jatuh kebawah seakan tulang-tulangnya telah terlolosi satu persatu. Tampaknya ia kembali kehilangan kesadarannya, namun tangan kekar itu sigap sekali menahan perut rampingnya agar pinggul telanjang korbannya tak sempat ambruk ke atas kasur, dicabutnya zakar itu dari anusnya, kemudian tubuh pingsan yang terkapar itu ditelentangkan.
Kedua tumit dara belia itu di taruh diatas pundaknya kiri kanan dan betis indahnya didekap didada bidang lelaki ketiga itu, otomatis pinggul gadis itu terangkat melayang separuh diudara nan bertumpu pada punuknya seiring tarikan lelaki tersebut pada kakinya. Kedua belah payudaranya nan indah semakin membulat mengembang dalam posisi sensual ini.
Tanpa perlu diarahkan lagi dengan tangannya, lelaki itu mendorong pinggulnya yang berada tepat pada bongkahan pantat yang terbuka itu sehingga kontolnya terbenam di lubang memek gadis yang sudah becek itu tanpa kesulitan yang berarti. Memeknya telah licin dan sudah tak sempit seperti semula akibat diperawani oleh kontol boss mereka yang paling besar diantara mereka bertiga, namun pelir anak buahnya tak bisa dianggap remeh karena tetap lebih besar dan panjang pula dari kepunyaanku.
Demikianlah ia kini berganti mengerjai vagina korbannya yang sepertinya akan diperlakukan sama seperti yang diperbuat oleh bossnya dahulu. Ia tampaknya ingin membuat gadis ini menjadi hamil, karena selain malam itu bertepatan dengan masa kesuburan rahimnya, ia ingin pula mencoba-coba dari gadis yang begitu sempurna ini nantinya pasti akan menghasilkan keturunan yang bagus pula keindahan fisik dan ketahanan tubuhnya melayani lelaki. Hanya saja ia khawatir kalau bibit bossnyalah yang jadi, sedang dirinya tidak, kalau hal itu terjadi maka ia tak dapat berbuat apa-apa, karena ia mencintai gadis ini sekarang sekaligus menyukai pantatnya nan memberinya kepuasan maksimal di atas ranjang.
Deru birahinya semakin menyala-nyala seiring dengan suara kecipakkan di vagina becek itu yang terus diembatnya sampai suatu saat pula tubuhnya kejang-kejang sambil menekuk bak seekor udang mendekap erat pinggul korbannya dan memuntahkan semua isi cairan lahar panas dari pelirnya yang telah begitu lama terbenam di rongga peranakan gadis cantik nan begitu mudanya itu.
Sesudahnya ia menyatukan kedua kaki gadis telanjang itu yang telah diluruskan kemudian mengikat kedua mata kakinya menjadi satu lalu tubuh bugil korbannya ini digantung diatas kayu pancang kelambu ranjang itu yang terbut dari kayu jati sehingga kuat menahan tubuh telanjang dara montok yang pingsan ini dengan kepala dibawah berurai rambut hitamnya yang berserakan di atas sprei putih ranjang pelaminan penuh noda ini. Tampak cairan sperma lelaki itu meleleh turun dari celah-celah bokong mudanya yang menggantung tanpa daya ini.
Satu jam lelaki itu membiarkan tubuh molek si dara tergantung sampai dirasanya sperma yang telah ia tumpahkan tadi di dalam rahimnya sudah kering terserap oleh tubuhnya yang mana diharapkan dapat membuahi rahim mudanya itu untuk menjadi ibu dari anak-anak mereka nanti. Setelah itu ia memanggul tubuh gadis yang telah ternoda itu pergi meninggalkan rumah tetanggaku tersebut dan menghilang di kegelapan malam. Akupun segera berkemas-kemas pergi meninggalkan rumahku lagi dalam keadaan kosong untuk pulang disaat hari menjelang subuh kembali ke tempat kostku dengan hati galau.
*****
Kutatap tulisan di koran sore ini yang bertajuk kriminal dan kudapati berita mengenai peristiwa tersebut di dalamnya.
"Pembunuhan sekaligus penculikan yang menimpa sepasang pengantin baru, gadis yatim piatu itu bernama Evelyne, berusia 19 tahun, belum diketahui dimana keberadaan gadis itu sekarang.."
Kututup lembaran koran itu dengan penuh sesal dihati akan bayang-bayang wajah gadis itu yang seolah-olah masih tersenyum manis padaku saat keluar dari mobil pengantinnya waktu itu dari balik jendela rumahku. Ia memang masih terlalu belia untuk mengalami kejadian tragis seperti itu. Andai saja dia yang menjadi istriku.. mungkin ceritanya akan lain.
Tamat
Karena lama bertahan lama dalam posisi itu, aku melepaskan aksi intipku dulu untuk membuat secangkir kopi hangat sebagai penahan rasa kantukku yang mulai melanda kedua pelupuk mataku ini dan meninggalkan adegan paksa yang masih berlangsung itu tanpa adanya usaha untuk mencegah peristiwa tragis yang menimpa sosok dara belia nan cantik namun bernasib sangat malang.
Selang beberapa saat aku hanyut dalam tegukkan sensasi kopi hangat yang kureguk di tenggorokkanku untuk kemudian kembali lagi melanjutkan aksi intipku. Lelaki penikmat dubur cewek ini kini berdiri diatas kasur ranjang pengantin itu dan tubuh perempuan muda yang masih menungging ini kedua kakinya ditarik melempeng kebelakang dengan kedua belah lututnya yang telah lurus itu tercengkeram oleh kedua tangan kekarnya. Lubang anusnya kembali ditembus batang kejantanan lelaki ketiga yang terakhir ini mengerjainya malam itu.
Dua bongkahan pantatnya yang padat menempel pada selangkangan lelaki yang doyan anus wanita ini dengan kaki lurus kebelakang melewati kedua pinggang pemerkosanya dengan posisi betis indahnya yang menekuk melengkung keatas serta menggantung bebas diudara. Rasanya jarang sekali ditemukan dalam film-film porno adegan yang seperti ini, tetapi kini dilakukan oleh pria itu kepada wanita korban pelampiasannya ini.
Ia memaksa kedua kaki gadis itu menjepit pinggangnya dengan kedua mata kaki korbannya bersilangan sehingga tubuhnya yang telanjang tergantung indah ini mengunci ketat pinggang lelaki bajingan itu. Dalam keadaan demikian kedua belah payudaranya nan indah melesak di kasur nan empuk itu menjadi tumpuan tubuhnya yang setengah melayang di udara ini. Dengan posisi demikian maka makin dalamlah tusukkan pelir lelaki itu menembus poros usus gadis belia cantik nan penuh derita berkepanjangan ini.
Anusnya terasa dimasukki oleh besi panas saja karena diusianya yang masih terlalu dini itu ia sudah dipaksa untuk mengenal permainan ranjang yang demikian tak lazim yang diperbuat lelaki-lekaki pemerkosanya. Tubuhnya yang semula kelihatan sangat mulus bersih serta terawat apik tanpa sedikitpun cacat dan cela tadinya itu kini berubah menjadi lusuh dan kotor bermandi keringat dengan lelehan lendir penuh nista permainan paksa mereka yang berceceran disana-sini.
Kasur putih dibawahnya telah penuh bercak darah kesuciannya di malam perkawinan yang mana keperawanannya telah direnggut oleh lelaki yang bukan kekasihnya, tetapi melainkan para pembunuh suaminya sendiri. Dengan sisa-sisa tenaganya yang terakhir gadis itu berusaha mengetatkan jepitan bongkahan pantatnya sendiri dan membiarkan lelaki itu terus menikmati kehangatan lorong dinding-dinding anusnya sambil berharap lelaki itu segera menyudahkan permainannya yang telah membuat duburnya menjadi semakin sembab dan bengkak ini. Tetapi ia salah menduga stamina lelaki ketiga ini yang demikian kuat melakukan anal sex terhadap tubuh mekarnya yang telanjang dalam dekapan.
Tanpa terasa cairan di anusnya semakin keluar melumuri daerah tempat keluar masuk batang kejantanan perkasa lelaki sang pemerkosa terakhir ini yang terus menggenjotnya dengan brutal. Suara berdecak-decak pada dinding anusnya yang tergesek-gesek oleh kontol itu semakin jelas terdengar olehku. Clop! clop! clop! Begitulah bunyi yang ditimbulkan dari dubur yang tengah diperkosa tersebut dan itu semakin dahsyat dilancarkan dengan penuh semangat oleh lelaki ketiga ini. Akupun berpikir kalau seandainya nanti mendapatkan seorang istri, maka aku akan pula ingin merasakan nikmat lubang pantatnya saat melayaniku nanti sebagai variasi bercinta, karena rasanya pasti demikian lezat sebagaimana yang telah kusaksikan sendiri saat ini dari lelaki garong itu kepada korbannya.
Dan lama-kelamaan jepitan kedua kaki dara yang bersilangan itu mulai melemah sudah, tubuh telanjangnya terhuyung-huyung jatuh kebawah seakan tulang-tulangnya telah terlolosi satu persatu. Tampaknya ia kembali kehilangan kesadarannya, namun tangan kekar itu sigap sekali menahan perut rampingnya agar pinggul telanjang korbannya tak sempat ambruk ke atas kasur, dicabutnya zakar itu dari anusnya, kemudian tubuh pingsan yang terkapar itu ditelentangkan.
Kedua tumit dara belia itu di taruh diatas pundaknya kiri kanan dan betis indahnya didekap didada bidang lelaki ketiga itu, otomatis pinggul gadis itu terangkat melayang separuh diudara nan bertumpu pada punuknya seiring tarikan lelaki tersebut pada kakinya. Kedua belah payudaranya nan indah semakin membulat mengembang dalam posisi sensual ini.
Tanpa perlu diarahkan lagi dengan tangannya, lelaki itu mendorong pinggulnya yang berada tepat pada bongkahan pantat yang terbuka itu sehingga kontolnya terbenam di lubang memek gadis yang sudah becek itu tanpa kesulitan yang berarti. Memeknya telah licin dan sudah tak sempit seperti semula akibat diperawani oleh kontol boss mereka yang paling besar diantara mereka bertiga, namun pelir anak buahnya tak bisa dianggap remeh karena tetap lebih besar dan panjang pula dari kepunyaanku.
Demikianlah ia kini berganti mengerjai vagina korbannya yang sepertinya akan diperlakukan sama seperti yang diperbuat oleh bossnya dahulu. Ia tampaknya ingin membuat gadis ini menjadi hamil, karena selain malam itu bertepatan dengan masa kesuburan rahimnya, ia ingin pula mencoba-coba dari gadis yang begitu sempurna ini nantinya pasti akan menghasilkan keturunan yang bagus pula keindahan fisik dan ketahanan tubuhnya melayani lelaki. Hanya saja ia khawatir kalau bibit bossnyalah yang jadi, sedang dirinya tidak, kalau hal itu terjadi maka ia tak dapat berbuat apa-apa, karena ia mencintai gadis ini sekarang sekaligus menyukai pantatnya nan memberinya kepuasan maksimal di atas ranjang.
Deru birahinya semakin menyala-nyala seiring dengan suara kecipakkan di vagina becek itu yang terus diembatnya sampai suatu saat pula tubuhnya kejang-kejang sambil menekuk bak seekor udang mendekap erat pinggul korbannya dan memuntahkan semua isi cairan lahar panas dari pelirnya yang telah begitu lama terbenam di rongga peranakan gadis cantik nan begitu mudanya itu.
Sesudahnya ia menyatukan kedua kaki gadis telanjang itu yang telah diluruskan kemudian mengikat kedua mata kakinya menjadi satu lalu tubuh bugil korbannya ini digantung diatas kayu pancang kelambu ranjang itu yang terbut dari kayu jati sehingga kuat menahan tubuh telanjang dara montok yang pingsan ini dengan kepala dibawah berurai rambut hitamnya yang berserakan di atas sprei putih ranjang pelaminan penuh noda ini. Tampak cairan sperma lelaki itu meleleh turun dari celah-celah bokong mudanya yang menggantung tanpa daya ini.
Satu jam lelaki itu membiarkan tubuh molek si dara tergantung sampai dirasanya sperma yang telah ia tumpahkan tadi di dalam rahimnya sudah kering terserap oleh tubuhnya yang mana diharapkan dapat membuahi rahim mudanya itu untuk menjadi ibu dari anak-anak mereka nanti. Setelah itu ia memanggul tubuh gadis yang telah ternoda itu pergi meninggalkan rumah tetanggaku tersebut dan menghilang di kegelapan malam. Akupun segera berkemas-kemas pergi meninggalkan rumahku lagi dalam keadaan kosong untuk pulang disaat hari menjelang subuh kembali ke tempat kostku dengan hati galau.
*****
Kutatap tulisan di koran sore ini yang bertajuk kriminal dan kudapati berita mengenai peristiwa tersebut di dalamnya.
"Pembunuhan sekaligus penculikan yang menimpa sepasang pengantin baru, gadis yatim piatu itu bernama Evelyne, berusia 19 tahun, belum diketahui dimana keberadaan gadis itu sekarang.."
Kututup lembaran koran itu dengan penuh sesal dihati akan bayang-bayang wajah gadis itu yang seolah-olah masih tersenyum manis padaku saat keluar dari mobil pengantinnya waktu itu dari balik jendela rumahku. Ia memang masih terlalu belia untuk mengalami kejadian tragis seperti itu. Andai saja dia yang menjadi istriku.. mungkin ceritanya akan lain.
Tamat
1 Wulan si gadis desa
Sebut saja namaku Paul. Aku bekerja di sebuah instansi pemerintahan di kota S, selain juga memiliki sebuah usaha wiraswasta. Cerita berikut ini bukan pengalamanku sendiri, melainkan pengalaman seorang rekanku, sebut saja dia Ta. Kami memang punya "hobi" yang sama, namun Ta punya trik tersendiri untuk menyalurkan hobinya. Kini selain terdaftar di kota asalnya, ia juga resmi penduduk sebuah desa yang agak terpencil. Berikut adalah caranya mendapatkan kembang desa, meski sudah beristri tiga orang.
Wulan terbangun dengan kepala yang pusing. Namun entah mengapa kedua tangannya tidak dapat digerakkan. Seluruh tubuhnya terasa hangat. Sambil mengerjapkan matanya, gadis itu memandang sekelilingnya. Ternyata ia berada dalam sebuah kamar yang belum pernah dilihatnya, terbaring di atas ranjang empuk dan besar yang berwarna merah jambu. Dari jendela yang tertutup terbayang hari sudah gelap. Dalam kamar itu sendiri hanya ada sebuah lampu kecil yang menyala remang-remang. Wulan hanya ingat Sabtu sore tadi setelah bertanding bola volley melawan sekolah dari kecamatan tetangga, ia harus berlari-lari dalam gerimis hujan menuju rumah neneknya untuk menginap malam ini, karena rumahnya terlalu jauh dari lapangan volley.
Seperti umumnya gadis desa lainnya, meskipun tidak terlalu tinggi, namun Wulan memiliki tubuh yang montok dan padat. Buah dadanya yang membusung kencang seolah tidak muat dalam bra bekas kakaknya yang kekecilan. Ditunjang dengan kulitnya yang kuning langsat mulus dan rambut sebahu, wajahnya yang manis sering membuat pemuda desa terpaku dan menelan ludah saat gadis itu lewat dengan goyangan pinggulnya. Pantatnya yang montok selalu menonjol di balik rok seragam sekolahnya, yang biarpun di bawah lutut, ketatnya memperlihatkan garis celana dalam gadis itu.
Bukan hanya para pemuda, beberapa orang yang telah beristri pun berangan-angan menjadikan gadis kelas 1 SMU itu istri mudanya. Menurut katuranggan, gadis macam Wulan rasanya peret dan legit, pasti akan memberikan kenikmatan sepanjang malam, membuat suaminya betah di rumah. Tidak heran, tiap kali ada pertandingan volley, selalu banyak penontonnya, meski kebanyakan hanya menonton paha Wulan yang bercelana pendek dan guncangan buah dadanya saat gadis itu memukul bola.
"Ah, sudah bangun Nduk..?" sebuah suara dan lampu yang menyala terang mengagetkan gadis itu.
Tampak seorang pria kekar memasuki ruangan. Wulan mengenalinya sebagai Ta, seorang terpandang di desanya. Meski bukan penduduk desa itu, namun suka kawin-cerai dengan gadis-gadis di sini. Dalam sebulan paling ia hanya di rumah satu-dua hari saja, selebihnya "kerja di kota". Sekarang ini istrinya di sini sudah ada tiga orang, semuanya masih belasan tahun dan cantik-cantik, namun masih suka menggoda Wulan tiap kali bertemu. Bahkan baru saja ia pernah berusaha melamar gadis itu namun tidak berhasil.
Wulan berusaha bangun, namun tangan dan kakinya tetap lemas tidak dapat bergerak.
"Tenang saja Nduk, nggak usah banyak gerak. Malam ini kamu di sini dulu." kata Ta.
Tidak sengaja Wulan melihat ke dinding kamar, dan dari cermin besar yang terpasang di sana, ia menyadari kedua tangannya terikat menjadi satu di atas kepalanya, demikian juga kedua kakinya yang terentang ke sudut-sudut ranjang, seperti huruf Y terbalik. Seluruh tubuhnya tertutup selimut, namun ujung selimut yang tersingkap memperlihatkan sebagian paha gadis itu. Di sudut ranjang tampak terserak baju seragam dan rok yang tadi dipakainya.
"Pak Ta, Wulan dimana? Kenapa Wulan begini?" tanya gadis itu dengan panik.
Ia mulai teringat saat berlari ke rumah neneknya tadi seseorang menariknya dari belakang dan menempelkan sesuatu yang berbau menyengat ke wajahnya, kemudian semuanya menjadi gelap, hingga akhirnya ia kemudian tersadar di situ.
"Tenang Wulan, kamu baik-baik saja. Malam ini kita akan kawin. Minggu lalu saya sudah melamarmu pada bapakmu. Sekarang kita akan nikmati malam pertama kita." kata Ta sambil menyeringai.
"Enggak! Enggak! Kemarin Bapak bilang ditolak! Wulan nggak mau!" gadis itu berusaha meronta, namun ikatan tangan dan kakinya terlalu kuat baginya.
Sambil tertawa terkekeh, Ta perlahan menarik selimut yang menutupi tubuh gadis itu, membuat Wulan terpekik karena penutup tubuhnya perlahan terbuka, sedangkan ternyata di balik selimut itu ia sudah telanjang bulat.
"Jangan! Jangan! Aduh jangan! Pak Ta, jangan Pak! Tolong..!"
Dengan sigap Ta mengambil pakaian dalam Wulan yang terserak di atas ranjang, lalu menyumpal mulut gadis itu dengan celana dalamnya sendiri, dan mengikatnya ke belakang dengan bra gadis itu.
"Pak? Kamu panggil aku Pak? Aku ini suamimu, tahu! Panggil aku Kangmas!" seru Ta sambil menampar pipi Wulan sampai gadis itu memekik kesakitan.
Ta semakin beringas melihat tubuh Wulan yang montok telanjang bulat. Kedua paha gadis manis itu terentang lebar mempertontonkan bibir kemaluannya yang jarang-jarang rambutnya.
"Diam Sayang! Ini malam kita bedah kelambu! Kalau bapakmu yang tolol itu tidak mau anaknya dilamar baik-baik, kita lihat saja besok! Karena besok anak perawannya sudah tidak perawan lagi!"
Tanpa basa basi Ta segera membuka pakaiannya sendiri, lalu melompat ke atas ranjang. Wulan dengan sia-sia meronta dan menjerit saat Ta menindih tubuhnya yang telanjang bulat tanpa sehelai benang pun. Gadis itu bahkan tidak bisa untuk sekedar merapatkan pahanya yang terkangkang lebar.
Pekikan Wulan tertahan sumpalan celana dalam saat Ta meremas buah dada gadis itu dengan kerasnya. Rontaan dan pekikan gadis cantik itu sama sekali tidak digubris. Ta kemudian menempatkan kejantanannya tepat di depan bibir kemaluan Wulan.
"Diam Sayang! Jangan takut, enak sekali kok! Nanti pasti kamu ketagihan. Sekarang biar Kangmas ambil perawanmu.." sambil berkata begitu Ta menghujamkan kejantanannya memasuki hangatnya keperawanan Wulan.
Selaput dara gadis itu terasa sedikit menghalangi, namun bukan tandingan bagi keperkasaan kejantanan Ta yang terus menerobos masuk.
"Haanggkk..! Aahhkk..!" Napas gadis itu terputus-putus dan matanya yang bulat indah terbeliak lebar saat Wulan merasakan perih tiba-tiba menyengat selangkangannya.
Tubuh montok gadis itu tergeliat-geliat merangsang dengan napas tersengal-sengal sambil terpekik tertahan-tahan ketika Ta dengan perkasa menggenjotkan kejantanannya menikmati hangatnya kemaluan perawan Wulan yang terasa begitu peret.
"Aahh.. enak sekali tempikmu.. aahh.. Wulaanh.. enak kan Nduk..? Terus ya Nduk..?" Ta mendesah merasakan nikmatnya mengambil kegadisan si kembang desa.
Wulan sambil merintih tidak jelas menggelengkan kepala dan meronta berusaha menolak, namun semua usahanya sia-sia, dan gadis itu kembali terpekik dan tersentak karena Ta kini dengan kuat meremasi kedua payudaranya yang kencang menantang. Memang benar kata orang, gadis seperti Wulan memang sangat memuaskan, wajahnya yang cantik, buah dadanya yang tegak menantang bergerak naik turun seirama napasnya yang tersengal-sengal, tubuhnya yang montok telanjang bersimbah keringat, kedua pahanya yang mulus bagai pualam tersentak terkangkang-kangkang, bibir kemaluannya tampak megap-megap dijejali kejantanan Ta yang begitu besar. Sementara dinding kemaluannya terasa seperti mencucup-cucup tiap kali gadis itu terpekik tertahan.
Wulan dengan airmata berlinang merintih memohon ampun, namun tusukan demi tusukan terus menghajar selangkangannya yang semakin perih. Payudaranya yang biasanya tersenggol pun terasa sakit kini diremas-remas tanpa ampun. Belum lagi rasa malu diikat dan ditelanjangi di depan orang yang tidak dikenalnya, lalu diperkosa tanpa dapat berkutik. Rasanya bagai bertahun-tahun Wulan disetubuhi tanpa mampu melawan sedikitpun.
"Hhh..! Wulanh..! Wulaann..! Sekarang Mas bikin kamu hamil, sayangghh..! Aah.. ambil Nduk! Nih! Nih! Niih..!"
Tanpa dapat ditahan lagi Ta menyemburkan spermanya dalam hangatnya kemaluan Wulan sambil sekuat tenaga meremas kedua payudara gadis itu, membuat Wulan tergeliat-geliat dan terpekik-pekik tertahan sumpalan celana dalam di mulutnya. Kepala gadis itu terasa berputar menyadari ia akan hamil. Perlahan pandangan gadis itu menjadi gelap.
Wulan kembali tersadar oleh dengusan napas di depan wajahnya. Sebelum sadar sepenuhnya, sengatan perih di selangkangannya membuat gadis itu terpekik dan meronta. Namun tangan dan kakinya tidak mau bergerak, dan pekikan-pekikannya tidak dapat keluar. Dengan gemas Ta kembali menggenjotkan kejantanannya menikmati keperawanan Wulan. Ta tidak tahan lagi untuk tidak kembali menggagahi gadis itu, memandanginya tergolek telanjang bugil tanpa daya di atas ranjang. Pahanya yang putih mulus terkangkang seolah mengundang, bibir kemaluannya yang berambut jarang terlihat berbercak merah, tanda Wulan memang betul-betul masih perawan, tadinya.
Kedua payudara gadis itu berdiri tegak menjulang, dengan puting susu yang kemerahan menggemaskan. Sementara wajahnya yang manis dan bau tubuhnya yang harum alami sungguh membuat Ta lupa diri. Dengan istri muda seperti Wulan, ia tidak akan mau tidur sekejap pun, tidak perduli gadis itu suka atau tidak.
"Aah..! Ahk! Angkung (ampun)..! Aguh (aduh).. hakik (sakit).. angkung (ampun)..!" Wulan merintih-rintih tidak jelas dengan mulut tersumpal celana dalam di sela-sela jeritan tertahan.
Tanpa mampu merapatkan pahanya yang terkangkang, gadis itu merasakan kemaluannya semakin perih tiap kali Ta menggerakkan kejantanannya. Tiap detik, tiap genjotan terasa begitu menyakitkan, Wulan berharap kembali pingsan saja agar perkosaan ini segera berlalu. Namun gadis itu tanpa daya merasakan bagian bawah tubuhnya terus ditusuk-tusuk benda yang begitu besar.
Ta semakin giat menggenjotkan kejantanannya dalam hangatnya kemaluan Wulan yang peret dan mencucup-cucup menggiurkan. Istri barunya ini memang pintar memuaskan suami di atas ranjang. Apalagi kalau nanti diajak tidur beramai-ramai bersama satu atau dua istrinya yang lain. Membayangkan meniduri dua atau tiga gadis sekaligus membuat Ta semakin bersemangat menyodok kemaluan Wulan, semakin cepat, semakin dalam.
Ta merasakan kejantanannya menyentuh dasar kemaluan gadis itu bila disodokkan dalam-dalam. Wulan sendiri hanya merintih tampak pasrah mempersembahkan kesuciannya pada Ta. Airmata gadis itu tampak berlinang membasahi pipinya yang kemerahan. Tubuh montok gadis itu tergelinjang-gelinjang kesakitan tiap kali kejantanan Ta menyodok masuk dalam kemaluannya yang begitu sempit. Dengan menggeram seperti macan menerkam mangsa, Ta dengan nikmat menyemburkan sperma dalam kehangatan tubuh Wulan yang terpekik tertahan-tahan.
Semalam suntuk Ta dengan gagahnya memperkosa Wulan, setidaknya lima kali gadis itu disetubuhi tanpa daya. Entah berapa kali Wulan pingsan ketika Ta mencapai puncak, hanya untuk tersadar ketika tubuhnya kembali dinikmati dengan buasnya. Selangkangan gadis itu terasa perih dan panas, seperti ditusuk-tusuk besi yang merah membara. Payudaranya serasa lecet diremas habis-habisan, terkena semilir angin pun perih. Punggung gadis itu perih tergores kuku Ta.
Namun siksaan tanpa belas kasihan itu tidak kunjung usai, bagai tidak mengenal lelah kejantanan Ta terus bertubi-tubi menusuk dalam-dalam, kedua tangannya seperti capit kepiting terus mencengkeram buah dada Wulan. Sementara gadis itu dengan tangan dan kaki terikat erat tidak mampu berkutik, apalagi menghindar atau mencegah. Bahkan menjerit pun Wulan tidak mampu, tenaganya sudah habis dan sumpalan celana dalamnya sendiri membuat pekikannya hanya seperti erangan. Bagai berabad-abad Wulan dibuat bulan-bulanan tanpa daya.
Dari sela-sela jendela yang tertutup, sinar matahari pagi menerobos masuk. Dengan lemas Ta berbaring di sisi Wulan yang terisak-isak. Sungguh luar biasa istri barunya ini, semalam suntuk gadis ini mampu melayani suaminya. Dari jam tujuh malam sampai jam enam pagi, dalam sebelas jam gadis itu mampu lima-enam kali memuaskan suaminya, meskipun harus sedikit dipaksa. Kalau saja kemarin tidak minum obat kuat, mungkin saja pagi ini Ta tidak dapat bangun. Sambil tersenyum lebar, Ta bangkit dan mengenakan pakaian.
Perlahan Ta membuka sumpalan mulut Wulan. Gadis itu sendiri masih telanjang bulat dengan tangan dan kaki terikat terentang lebar.
"Nduk, kalau jadi istriku, kamu minta apa saja pasti aku beri. Mau kalung? Gelang? Rumah? Sepeda motor? Jangan takut, sebagai istri orang kaya, semua keinginanmu akan terkabul."
"Nggak mau.. lepasin Wulan.. Wulan mau pulang..!" isak gadis itu menghiba.
"Rumah kita sekarang di sini Nduk, kamu sudah jadi istriku." bujuk Ta.
"Enggak.. enggak mau. Wulan mau pulang!" gadis itu berusaha meronta tanpa hasil.
"Jangan buat suamimu ini marah, Nduk! Kamu sudah jadi istriku, aku bebas berbuat apa saja dengan kamu! Jangan keras kepala!" seru Ta jengkel.
Wulan sambil terisak terus menggelengkan kepala. Berulangkali bujukan dan ancaman Ta tidak dihiraukan Wulan, membuat Ta naik pitam.
"Baik, jadi kamu tidak ingin jadi istriku. Baik, kamu sendiri yang minta, Nduk! Jangan salahkan aku kalau aku bertindak tegas!" kata Ta sambil membuka ikatan kaki Wulan.
Ta kemudian membuka ikatan tangan gadis itu dari besi ranjang, namun kedua pergelangan tangannya tetap terikat erat. Lalu dengan menarik ujung tali yang mengikat tangan Wulan, Ta menyeret gadis yang masih telanjang bulat itu keluar kamar. Karena tubuhnya masih lemas, Wulan tidak kuasa menolak dirinya yang masih bugil diseret sampai ke jalan desa yang terang benderang.
"Hei, lihat! Lihat ini! Sungguh memalukan!" seru Ta sambil menyeret gadis yang mati-matian berusaha menutupi ketelanjangannya.
"Ada apa Pak Ta? Apa yang terjadi?" tanya orang-orang desa yang segera saja mengerumuni keduanya.
"Lihat ini! Perempuan ini sudah membuat desa kita tercemar! Dia berzinah dengan laki-laki! Saya pergoki mereka di rumah kosong di tepi desa! Sayang laki-lakinya kabur, tapi saya tahu orangnya! Pasti nanti akan kita tangkap!" seru Ta berapi-api.
"Tidak! Tidak.. tolong..!" sia-sia Wulan berusaha membantah, suaranya tertelan ramainya suasana.
"Lihat! Ini bukti perempuan ini sudah berzinah!" Ta menunjuk ke arah selangkangan gadis itu yang berbercak darah.
Kerumunan orang bergumam dan mengangguk-anggukkan kepala.
"Tidak! Saya tidak ber.." perkataan Wulan terputus oleh teriakan salah seorang.
"Bawa ke balai desa! Biar dihukum adat di sana!" serunya.
Seseorang lain menarik tali yang mengikat tangan Wulan dan menyeret gadis telanjang bulat itu menuju ke balai desa. Sepanjang jalan mereka berteriak-teriak, membuat semakin banyak orang keluar rumah melihat Wulan yang bugil diseret. Anak-anak kecil berlari-lari mengikuti sambil tertawa-tawa mengejek.
Di balai desa, tepat di tengah pendopo, tali pengikat tangan Wulan ditarik ke atas dan diikatkan dengan tiang di atasnya. Kini gadis telanjang bulat itu berdiri tegak dengan tangan terikat ke atas. Wulan tahu bahwa hukuman bagi orang yang berzinah biasanya keduanya ditelanjangi, kemudian diikat seharian di balai desa. Seperti dirinya sekarang, namun ia hanya sendirian dan ia sama sekali tidak berzinah. Gadis itu diperkosa berkali-kali, lalu difitnah berzinah oleh pemerkosanya sendiri. Namun sia-sia gadis itu berusaha membantah, suaranya yang kecil hilang ditelan ramainya orang di sekitarnya. Dan kini ia berdiri telanjang bulat sendirian dikelilingi belasan warga.
Isakan tangis Wulan semakin keras mendengar tawa orang-orang yang mengelilinginya, berkomentar mencemooh tentang kemulusan tubuhnya, buah dadanya yang ranum kemerah-merahan bekas diremas, pantatnya yang bulat, pahanya yang mulus. Isakan gadis itu terhenti ketika sebuah truk berhenti di depan balai desa. Beberapa ibu-ibu yang turun dari truk terheran-heran melihat ke arah Wulan. Beberapa orang kemudian menurunkan barang-barang dari truk. Wulan tersadar, hari ini hari pasar, dan ratusan orang akan berkumpul hanya beberapa meter darinya. Ratusan orang akan melihat dirinya telanjang bulat tanpa tertutup sehelai benang pun.
Kepala gadis itu terasa berputar, saat Ta berbisik di telinganya, "Rasakan akibatnya kalau kamu tidak mau jadi istriku! Sekarang semua orang tahu kamu sudah tidak perawan, dan semua orang juga sudah pernah melihat kamu tanpa pakaian!"
Perlahan gadis itu kembali terisak dan berpikir seandainya saja ia menerima menjadi istri Ta.
Tamat
Wulan terbangun dengan kepala yang pusing. Namun entah mengapa kedua tangannya tidak dapat digerakkan. Seluruh tubuhnya terasa hangat. Sambil mengerjapkan matanya, gadis itu memandang sekelilingnya. Ternyata ia berada dalam sebuah kamar yang belum pernah dilihatnya, terbaring di atas ranjang empuk dan besar yang berwarna merah jambu. Dari jendela yang tertutup terbayang hari sudah gelap. Dalam kamar itu sendiri hanya ada sebuah lampu kecil yang menyala remang-remang. Wulan hanya ingat Sabtu sore tadi setelah bertanding bola volley melawan sekolah dari kecamatan tetangga, ia harus berlari-lari dalam gerimis hujan menuju rumah neneknya untuk menginap malam ini, karena rumahnya terlalu jauh dari lapangan volley.
Seperti umumnya gadis desa lainnya, meskipun tidak terlalu tinggi, namun Wulan memiliki tubuh yang montok dan padat. Buah dadanya yang membusung kencang seolah tidak muat dalam bra bekas kakaknya yang kekecilan. Ditunjang dengan kulitnya yang kuning langsat mulus dan rambut sebahu, wajahnya yang manis sering membuat pemuda desa terpaku dan menelan ludah saat gadis itu lewat dengan goyangan pinggulnya. Pantatnya yang montok selalu menonjol di balik rok seragam sekolahnya, yang biarpun di bawah lutut, ketatnya memperlihatkan garis celana dalam gadis itu.
Bukan hanya para pemuda, beberapa orang yang telah beristri pun berangan-angan menjadikan gadis kelas 1 SMU itu istri mudanya. Menurut katuranggan, gadis macam Wulan rasanya peret dan legit, pasti akan memberikan kenikmatan sepanjang malam, membuat suaminya betah di rumah. Tidak heran, tiap kali ada pertandingan volley, selalu banyak penontonnya, meski kebanyakan hanya menonton paha Wulan yang bercelana pendek dan guncangan buah dadanya saat gadis itu memukul bola.
"Ah, sudah bangun Nduk..?" sebuah suara dan lampu yang menyala terang mengagetkan gadis itu.
Tampak seorang pria kekar memasuki ruangan. Wulan mengenalinya sebagai Ta, seorang terpandang di desanya. Meski bukan penduduk desa itu, namun suka kawin-cerai dengan gadis-gadis di sini. Dalam sebulan paling ia hanya di rumah satu-dua hari saja, selebihnya "kerja di kota". Sekarang ini istrinya di sini sudah ada tiga orang, semuanya masih belasan tahun dan cantik-cantik, namun masih suka menggoda Wulan tiap kali bertemu. Bahkan baru saja ia pernah berusaha melamar gadis itu namun tidak berhasil.
Wulan berusaha bangun, namun tangan dan kakinya tetap lemas tidak dapat bergerak.
"Tenang saja Nduk, nggak usah banyak gerak. Malam ini kamu di sini dulu." kata Ta.
Tidak sengaja Wulan melihat ke dinding kamar, dan dari cermin besar yang terpasang di sana, ia menyadari kedua tangannya terikat menjadi satu di atas kepalanya, demikian juga kedua kakinya yang terentang ke sudut-sudut ranjang, seperti huruf Y terbalik. Seluruh tubuhnya tertutup selimut, namun ujung selimut yang tersingkap memperlihatkan sebagian paha gadis itu. Di sudut ranjang tampak terserak baju seragam dan rok yang tadi dipakainya.
"Pak Ta, Wulan dimana? Kenapa Wulan begini?" tanya gadis itu dengan panik.
Ia mulai teringat saat berlari ke rumah neneknya tadi seseorang menariknya dari belakang dan menempelkan sesuatu yang berbau menyengat ke wajahnya, kemudian semuanya menjadi gelap, hingga akhirnya ia kemudian tersadar di situ.
"Tenang Wulan, kamu baik-baik saja. Malam ini kita akan kawin. Minggu lalu saya sudah melamarmu pada bapakmu. Sekarang kita akan nikmati malam pertama kita." kata Ta sambil menyeringai.
"Enggak! Enggak! Kemarin Bapak bilang ditolak! Wulan nggak mau!" gadis itu berusaha meronta, namun ikatan tangan dan kakinya terlalu kuat baginya.
Sambil tertawa terkekeh, Ta perlahan menarik selimut yang menutupi tubuh gadis itu, membuat Wulan terpekik karena penutup tubuhnya perlahan terbuka, sedangkan ternyata di balik selimut itu ia sudah telanjang bulat.
"Jangan! Jangan! Aduh jangan! Pak Ta, jangan Pak! Tolong..!"
Dengan sigap Ta mengambil pakaian dalam Wulan yang terserak di atas ranjang, lalu menyumpal mulut gadis itu dengan celana dalamnya sendiri, dan mengikatnya ke belakang dengan bra gadis itu.
"Pak? Kamu panggil aku Pak? Aku ini suamimu, tahu! Panggil aku Kangmas!" seru Ta sambil menampar pipi Wulan sampai gadis itu memekik kesakitan.
Ta semakin beringas melihat tubuh Wulan yang montok telanjang bulat. Kedua paha gadis manis itu terentang lebar mempertontonkan bibir kemaluannya yang jarang-jarang rambutnya.
"Diam Sayang! Ini malam kita bedah kelambu! Kalau bapakmu yang tolol itu tidak mau anaknya dilamar baik-baik, kita lihat saja besok! Karena besok anak perawannya sudah tidak perawan lagi!"
Tanpa basa basi Ta segera membuka pakaiannya sendiri, lalu melompat ke atas ranjang. Wulan dengan sia-sia meronta dan menjerit saat Ta menindih tubuhnya yang telanjang bulat tanpa sehelai benang pun. Gadis itu bahkan tidak bisa untuk sekedar merapatkan pahanya yang terkangkang lebar.
Pekikan Wulan tertahan sumpalan celana dalam saat Ta meremas buah dada gadis itu dengan kerasnya. Rontaan dan pekikan gadis cantik itu sama sekali tidak digubris. Ta kemudian menempatkan kejantanannya tepat di depan bibir kemaluan Wulan.
"Diam Sayang! Jangan takut, enak sekali kok! Nanti pasti kamu ketagihan. Sekarang biar Kangmas ambil perawanmu.." sambil berkata begitu Ta menghujamkan kejantanannya memasuki hangatnya keperawanan Wulan.
Selaput dara gadis itu terasa sedikit menghalangi, namun bukan tandingan bagi keperkasaan kejantanan Ta yang terus menerobos masuk.
"Haanggkk..! Aahhkk..!" Napas gadis itu terputus-putus dan matanya yang bulat indah terbeliak lebar saat Wulan merasakan perih tiba-tiba menyengat selangkangannya.
Tubuh montok gadis itu tergeliat-geliat merangsang dengan napas tersengal-sengal sambil terpekik tertahan-tahan ketika Ta dengan perkasa menggenjotkan kejantanannya menikmati hangatnya kemaluan perawan Wulan yang terasa begitu peret.
"Aahh.. enak sekali tempikmu.. aahh.. Wulaanh.. enak kan Nduk..? Terus ya Nduk..?" Ta mendesah merasakan nikmatnya mengambil kegadisan si kembang desa.
Wulan sambil merintih tidak jelas menggelengkan kepala dan meronta berusaha menolak, namun semua usahanya sia-sia, dan gadis itu kembali terpekik dan tersentak karena Ta kini dengan kuat meremasi kedua payudaranya yang kencang menantang. Memang benar kata orang, gadis seperti Wulan memang sangat memuaskan, wajahnya yang cantik, buah dadanya yang tegak menantang bergerak naik turun seirama napasnya yang tersengal-sengal, tubuhnya yang montok telanjang bersimbah keringat, kedua pahanya yang mulus bagai pualam tersentak terkangkang-kangkang, bibir kemaluannya tampak megap-megap dijejali kejantanan Ta yang begitu besar. Sementara dinding kemaluannya terasa seperti mencucup-cucup tiap kali gadis itu terpekik tertahan.
Wulan dengan airmata berlinang merintih memohon ampun, namun tusukan demi tusukan terus menghajar selangkangannya yang semakin perih. Payudaranya yang biasanya tersenggol pun terasa sakit kini diremas-remas tanpa ampun. Belum lagi rasa malu diikat dan ditelanjangi di depan orang yang tidak dikenalnya, lalu diperkosa tanpa dapat berkutik. Rasanya bagai bertahun-tahun Wulan disetubuhi tanpa mampu melawan sedikitpun.
"Hhh..! Wulanh..! Wulaann..! Sekarang Mas bikin kamu hamil, sayangghh..! Aah.. ambil Nduk! Nih! Nih! Niih..!"
Tanpa dapat ditahan lagi Ta menyemburkan spermanya dalam hangatnya kemaluan Wulan sambil sekuat tenaga meremas kedua payudara gadis itu, membuat Wulan tergeliat-geliat dan terpekik-pekik tertahan sumpalan celana dalam di mulutnya. Kepala gadis itu terasa berputar menyadari ia akan hamil. Perlahan pandangan gadis itu menjadi gelap.
Wulan kembali tersadar oleh dengusan napas di depan wajahnya. Sebelum sadar sepenuhnya, sengatan perih di selangkangannya membuat gadis itu terpekik dan meronta. Namun tangan dan kakinya tidak mau bergerak, dan pekikan-pekikannya tidak dapat keluar. Dengan gemas Ta kembali menggenjotkan kejantanannya menikmati keperawanan Wulan. Ta tidak tahan lagi untuk tidak kembali menggagahi gadis itu, memandanginya tergolek telanjang bugil tanpa daya di atas ranjang. Pahanya yang putih mulus terkangkang seolah mengundang, bibir kemaluannya yang berambut jarang terlihat berbercak merah, tanda Wulan memang betul-betul masih perawan, tadinya.
Kedua payudara gadis itu berdiri tegak menjulang, dengan puting susu yang kemerahan menggemaskan. Sementara wajahnya yang manis dan bau tubuhnya yang harum alami sungguh membuat Ta lupa diri. Dengan istri muda seperti Wulan, ia tidak akan mau tidur sekejap pun, tidak perduli gadis itu suka atau tidak.
"Aah..! Ahk! Angkung (ampun)..! Aguh (aduh).. hakik (sakit).. angkung (ampun)..!" Wulan merintih-rintih tidak jelas dengan mulut tersumpal celana dalam di sela-sela jeritan tertahan.
Tanpa mampu merapatkan pahanya yang terkangkang, gadis itu merasakan kemaluannya semakin perih tiap kali Ta menggerakkan kejantanannya. Tiap detik, tiap genjotan terasa begitu menyakitkan, Wulan berharap kembali pingsan saja agar perkosaan ini segera berlalu. Namun gadis itu tanpa daya merasakan bagian bawah tubuhnya terus ditusuk-tusuk benda yang begitu besar.
Ta semakin giat menggenjotkan kejantanannya dalam hangatnya kemaluan Wulan yang peret dan mencucup-cucup menggiurkan. Istri barunya ini memang pintar memuaskan suami di atas ranjang. Apalagi kalau nanti diajak tidur beramai-ramai bersama satu atau dua istrinya yang lain. Membayangkan meniduri dua atau tiga gadis sekaligus membuat Ta semakin bersemangat menyodok kemaluan Wulan, semakin cepat, semakin dalam.
Ta merasakan kejantanannya menyentuh dasar kemaluan gadis itu bila disodokkan dalam-dalam. Wulan sendiri hanya merintih tampak pasrah mempersembahkan kesuciannya pada Ta. Airmata gadis itu tampak berlinang membasahi pipinya yang kemerahan. Tubuh montok gadis itu tergelinjang-gelinjang kesakitan tiap kali kejantanan Ta menyodok masuk dalam kemaluannya yang begitu sempit. Dengan menggeram seperti macan menerkam mangsa, Ta dengan nikmat menyemburkan sperma dalam kehangatan tubuh Wulan yang terpekik tertahan-tahan.
Semalam suntuk Ta dengan gagahnya memperkosa Wulan, setidaknya lima kali gadis itu disetubuhi tanpa daya. Entah berapa kali Wulan pingsan ketika Ta mencapai puncak, hanya untuk tersadar ketika tubuhnya kembali dinikmati dengan buasnya. Selangkangan gadis itu terasa perih dan panas, seperti ditusuk-tusuk besi yang merah membara. Payudaranya serasa lecet diremas habis-habisan, terkena semilir angin pun perih. Punggung gadis itu perih tergores kuku Ta.
Namun siksaan tanpa belas kasihan itu tidak kunjung usai, bagai tidak mengenal lelah kejantanan Ta terus bertubi-tubi menusuk dalam-dalam, kedua tangannya seperti capit kepiting terus mencengkeram buah dada Wulan. Sementara gadis itu dengan tangan dan kaki terikat erat tidak mampu berkutik, apalagi menghindar atau mencegah. Bahkan menjerit pun Wulan tidak mampu, tenaganya sudah habis dan sumpalan celana dalamnya sendiri membuat pekikannya hanya seperti erangan. Bagai berabad-abad Wulan dibuat bulan-bulanan tanpa daya.
Dari sela-sela jendela yang tertutup, sinar matahari pagi menerobos masuk. Dengan lemas Ta berbaring di sisi Wulan yang terisak-isak. Sungguh luar biasa istri barunya ini, semalam suntuk gadis ini mampu melayani suaminya. Dari jam tujuh malam sampai jam enam pagi, dalam sebelas jam gadis itu mampu lima-enam kali memuaskan suaminya, meskipun harus sedikit dipaksa. Kalau saja kemarin tidak minum obat kuat, mungkin saja pagi ini Ta tidak dapat bangun. Sambil tersenyum lebar, Ta bangkit dan mengenakan pakaian.
Perlahan Ta membuka sumpalan mulut Wulan. Gadis itu sendiri masih telanjang bulat dengan tangan dan kaki terikat terentang lebar.
"Nduk, kalau jadi istriku, kamu minta apa saja pasti aku beri. Mau kalung? Gelang? Rumah? Sepeda motor? Jangan takut, sebagai istri orang kaya, semua keinginanmu akan terkabul."
"Nggak mau.. lepasin Wulan.. Wulan mau pulang..!" isak gadis itu menghiba.
"Rumah kita sekarang di sini Nduk, kamu sudah jadi istriku." bujuk Ta.
"Enggak.. enggak mau. Wulan mau pulang!" gadis itu berusaha meronta tanpa hasil.
"Jangan buat suamimu ini marah, Nduk! Kamu sudah jadi istriku, aku bebas berbuat apa saja dengan kamu! Jangan keras kepala!" seru Ta jengkel.
Wulan sambil terisak terus menggelengkan kepala. Berulangkali bujukan dan ancaman Ta tidak dihiraukan Wulan, membuat Ta naik pitam.
"Baik, jadi kamu tidak ingin jadi istriku. Baik, kamu sendiri yang minta, Nduk! Jangan salahkan aku kalau aku bertindak tegas!" kata Ta sambil membuka ikatan kaki Wulan.
Ta kemudian membuka ikatan tangan gadis itu dari besi ranjang, namun kedua pergelangan tangannya tetap terikat erat. Lalu dengan menarik ujung tali yang mengikat tangan Wulan, Ta menyeret gadis yang masih telanjang bulat itu keluar kamar. Karena tubuhnya masih lemas, Wulan tidak kuasa menolak dirinya yang masih bugil diseret sampai ke jalan desa yang terang benderang.
"Hei, lihat! Lihat ini! Sungguh memalukan!" seru Ta sambil menyeret gadis yang mati-matian berusaha menutupi ketelanjangannya.
"Ada apa Pak Ta? Apa yang terjadi?" tanya orang-orang desa yang segera saja mengerumuni keduanya.
"Lihat ini! Perempuan ini sudah membuat desa kita tercemar! Dia berzinah dengan laki-laki! Saya pergoki mereka di rumah kosong di tepi desa! Sayang laki-lakinya kabur, tapi saya tahu orangnya! Pasti nanti akan kita tangkap!" seru Ta berapi-api.
"Tidak! Tidak.. tolong..!" sia-sia Wulan berusaha membantah, suaranya tertelan ramainya suasana.
"Lihat! Ini bukti perempuan ini sudah berzinah!" Ta menunjuk ke arah selangkangan gadis itu yang berbercak darah.
Kerumunan orang bergumam dan mengangguk-anggukkan kepala.
"Tidak! Saya tidak ber.." perkataan Wulan terputus oleh teriakan salah seorang.
"Bawa ke balai desa! Biar dihukum adat di sana!" serunya.
Seseorang lain menarik tali yang mengikat tangan Wulan dan menyeret gadis telanjang bulat itu menuju ke balai desa. Sepanjang jalan mereka berteriak-teriak, membuat semakin banyak orang keluar rumah melihat Wulan yang bugil diseret. Anak-anak kecil berlari-lari mengikuti sambil tertawa-tawa mengejek.
Di balai desa, tepat di tengah pendopo, tali pengikat tangan Wulan ditarik ke atas dan diikatkan dengan tiang di atasnya. Kini gadis telanjang bulat itu berdiri tegak dengan tangan terikat ke atas. Wulan tahu bahwa hukuman bagi orang yang berzinah biasanya keduanya ditelanjangi, kemudian diikat seharian di balai desa. Seperti dirinya sekarang, namun ia hanya sendirian dan ia sama sekali tidak berzinah. Gadis itu diperkosa berkali-kali, lalu difitnah berzinah oleh pemerkosanya sendiri. Namun sia-sia gadis itu berusaha membantah, suaranya yang kecil hilang ditelan ramainya orang di sekitarnya. Dan kini ia berdiri telanjang bulat sendirian dikelilingi belasan warga.
Isakan tangis Wulan semakin keras mendengar tawa orang-orang yang mengelilinginya, berkomentar mencemooh tentang kemulusan tubuhnya, buah dadanya yang ranum kemerah-merahan bekas diremas, pantatnya yang bulat, pahanya yang mulus. Isakan gadis itu terhenti ketika sebuah truk berhenti di depan balai desa. Beberapa ibu-ibu yang turun dari truk terheran-heran melihat ke arah Wulan. Beberapa orang kemudian menurunkan barang-barang dari truk. Wulan tersadar, hari ini hari pasar, dan ratusan orang akan berkumpul hanya beberapa meter darinya. Ratusan orang akan melihat dirinya telanjang bulat tanpa tertutup sehelai benang pun.
Kepala gadis itu terasa berputar, saat Ta berbisik di telinganya, "Rasakan akibatnya kalau kamu tidak mau jadi istriku! Sekarang semua orang tahu kamu sudah tidak perawan, dan semua orang juga sudah pernah melihat kamu tanpa pakaian!"
Perlahan gadis itu kembali terisak dan berpikir seandainya saja ia menerima menjadi istri Ta.
Tamat
1 Tragedi malam pengantin - 9
Barulah kulihat pada pukul setengah satu pagi, tubuh lelaki itu bergetar hebat diatas tubuh korbannya yang pingsan untuk sekian lamanya dan tanpa sepengetahuan gadis muda belia nan cantik ini, bajingan ini memuntahkan segenap akhir puncak dari nafsunya yang meledak-ledak kedalam tubuhnya. Paha yang terbuka membentuk huruf "V" dari tubuh gadis itu ditekannya kuat-kuat. Tubuh kekarnya seakan telah lekat menjadi satu dengan korbannya dan tanpa aku sadari sebenarnya lelaki itu sedang memuntahkan seluruh persediaan cairan mani lelakinya yang sejak tadi tersimpan di kedua belah biji pelir besarnya nan perkasa. Tanpa sepengetahuanku sama sekali cairan kontol lelaki itu yang mengandung benih-benih cintanya kini muncrat-muncrat mengisi rongga rahim gadis itu yang tengah dalam keadaan subur malam itu.
"Croot..! serr.. serr.. creet.. cret!", benih lelaki itu begitu tersembur dengan sangat cepat menyemburat kuat ke dalam isi dasar belahan memek gadis itu yang dikangkanginya tanpa pelindung sama sekali ini.
Bahkan aku kini dapat melihat rembesan lendir mani lelaki jahanam itu keluar dari celah-celah memeknya yang masih menelan penuh keseluruhan dari batang kontol perkasanya itu didalamnya sampai melumuri lubang anusnya, bahkan sampai menetes-netes ke permukaan sprei pengantin itu dibawahnya setelah meleleh di bongkahan pantat sang dara belia yang terkalahkan. Saking terlampau banyaknya lendir nista dari lelaki itu sehingga membuat seluruh rongga rahim gadis belia nan mungil ini kini tak sanggup lagi untuk menampung semuanya.
Dan kini kedua tungkai kaki milik gadis yang masih tak sadarkan diri ini diangkat tinggi-tinggi oleh sang bajingan tersebut hingga belahan bongkahan daging pantatnya yang terbuka telah sejajar dengan dada berbulu milik sang lelaki jantan penakluk si kembang desa ini. Permukaan dada itu digesek-gesekkan pada bongkahan pantat dara bunga yang telah berhasil dipetik keindahannya ini olehnya seraya menyaksikan memeknya yang telah banjir dilumuri oleh lendir putih kentalnya.
Dalam posisi yang setengah menggantung demikian tubuh telanjang dara itu hanya dapat bertumpu pada kedua belahan pundaknya yang tertekuk seperti udang dengan kedua kaki terbuka mengangkang diudara. Alhasil belahan lubang memeknya yang telah penuh oleh cairan lendir mani lelaki itu terjungkit keatas dan agaknya memang lelaki itu menginginkan tubuh korbannya bertahan pada posisi itu agar benih spermanya yang telah ia muntahkan tadi dapat membuahi rahim korbannya ini. Benar-benar kepala rampok itu seorang maniak tulen yang sangat dahsyat dan brutal aksinya tersebut serta membuatku semakin ngeper saja karena takut tertangkap basah pula olehnya. Sepuluh menit ia hanya terpaku sambil tetap menahan tungkai kaki gadis itu yang terkapar tanpa perlawanan lagi dan terus terpekur menatap lubang kencing pada selangkangan dara ini nan merekah.
Kepala rampok itu turun dari ranjang pelaminan korbannya dengan senyum kemenangan, ia segera mengemasi perhiasan-perhiasan yang tadi gadis itu kenakan, bahkan cincin kawin berlian kepunyaannya telah dilolosi pula dari jari manis lentiknya yang masih belum sadar dari pingsannya setelah dinodai oleh lelaki ini. Dilantai bawah kamar pengantin itu telah berserakkan oleh ceceran kain yang dulunya melekat ditubuh keduanya dan diraihnya sepatu putih sang mempelai wanitanya untuk kemudian diendusi dalamnya tempat kaki gadis itu biasa melekat disitu.
Tampaknya ia sangat menikmati hal tersebut, lalu celana dalam gadis itu juga kembali diciuminya sampai aku berpikir bahwa lelaki ini benar-benar telah dibatas ambang normal manusia pada umumnya. laci meja riasnya diacak-acak dan mengambil barang-barang berharga yang terdapat didalamnya, demikian pula isi lemari pakaian korbannya lalu semuanya dikumpulkan dalam satu kantung plastik hitam siap untuk dibawa pergi. Setelah itu ia keluar dari kamar itu meninggalkan tubuh gadis belia yang telah digagahinya secara sadis sepanjang malam sambil membawa ceceran pakaiannya sendiri.
Kira-kira pada pukul satu dini hari, tubuh kepala rampok itu meloncati pagar sambil menggendong karung hasil rampasannya dari rumah sebelah sebelum menghilang di kegelapan malam. Tubuh dara itu masih terbujur lemas di ranjangnya, namun kini aku melihat salah seorang anak buahnya membuka pintu kamar dimana gadis belia ini tertidur. Sambil mengendap-endap dirinya mendekati dan menaikku ranjang peraduan itu dengan tersenyum-senyum mesum. Tangannya yang kurang ajar mencolek-colek tubuh telanjang itu serta berusaha membangunkan tubuh dara molek itu yang masih terlentang indah menantang di matanya ini.
Demi mengetahui bahwa gadis ini sudah pingsan, ia merentangkan kedua belah gadis itu membentang terkangkang. Dilihatnya memek wanita muda cantik nan dihiasi jembut kemaluannya telah penuh oleh ceceran sperma yang telah mengering disana-sininya. Kedua jari telunjuk dan jari tengahnya secara bersamaan dicelupkan kedalam belahan terlarang dari gadis itu nan terbuka. Terasa begitu hangat dan lunak dinding keintiman yang berada didalamnya. Ketika dikeluarkan kedua jari itu telah berlumur cairan vaginanya yang telah menyatu dengan bercak darah kesuciannya disana sini sebagai bukti nyata bahwa keperawanannya sudah dimakan oleh bossnya dan dialah lelaki pertama yang berhasil memerawani tubuhnya.
Walaupun begitu ia tetap akan mengambil jatah bagiannya pula untuk menggarap gadis tersebut dengan berpatokan bahwa memek wanita bisa untuk di "salome", alias satu lobang untuk rame-rame. Ia mengambil plester dari saku celananya lalu memplester rapat kedua mulut bibir dara itu yang terkatup, lalu kedua tangannya dijadikan satu ke atas kepalanya kemudian diikatkan dalam posisi berdiri diatas papan atas yang membentang diatas tiang kayu kelambu ranjang perkawinan itu dengan susah payah ia merengkuh tubuh telanjang si dara yang masih lemas itu agar dapat diatur posisi enakknya untuk digarap olehnya.
Pada laci meja rias gadis tersebut kini ia menemukan sebotol parfume yang beraroma tajam, lalu ia lekatkan ke lubang hidung gadis itu untuk menyadarkannya. Dara itu membuka kedua belah pelupuk matanya yang cantik. Bola matanya yang bulat bersih bersinar itu kini terbeliak terkejut mendapati dirinya sudah tergantung dengan kedua tangannya telah terikat diatas kepalanya. Lelaki itu dengan liarnya telah mengemuti puting payudaranya dan sudah dalam keadaan telanjang pula, ketiak dara ini tak luput dari sasaran sapuan lidahnya yang sudah konak ini. Betapa malang nian penderitaan yang harus ditanggung oleh gadis belia yang telah ternodai sedangkan suaminya telah dibantai secara keji para garong itu tanpa ampun.
Lelaki yang kedua ini membasahi sekujur tubuh bugilnya nan begitu sedap dipandang mata serta menawan hati segenap pria dan aku yakin takkan ada seorangpun lelaki yang akan menolak bersebadan dengannya. Seperti mandi kucing saja ia menikmati setiap lekuk liku tubuh telanjang gadis itu yang membakar birahi kejantanannya kini sampai sekujur tubuh gadis itu dilumuri semua oleh cairan ludahnya dari ujung rambut hingga ke ujung kaki tanpa perlawanan yang berarti. Kulihat tatapan gadis itu telah kosong kedepan saat dicumbui lelaki kedua yang merupakan salah satu anak buah dari ketiga garong yang menyatroni rumah barunya ini.
Harga dirinya telah hancur lebur serta kehormatannya telah hilang dari tubuhnya. Sang bunga desa yang sedang mekar-mekarnya ini di tengah usianya nan belia telah terpetik sudah. Keperawanannya telah ludes tandas dicicipi para lelaki laknat ini. Lelaki kedua ini telah berdiri berhadapan dengan tubuhnya yang telanjang siap untuk menerkam mangsanya, sedangkan tungkai kaki kiri gadis itu yang dalam posisi berdiri tersebut ditekuk lututnya dan ditahan oleh lengan kanannya sehingga setengah mengangkang.Batang pelirnya yang tak sebesar kepunyaan bossnya tadi tampak sudah tegang mengacung. Diarahkannya kontolnya itu ke dalam belahan lubang kencing gadis itu untuk kemudian dibenamkan secara paksa.
"Bless.. blesek!", habislah sudah kontol itu tertelan oleh memek cewek nan cantik ini. Dientotnya cewek pengantin ini dengan tak kalah buasnya dengan sang bossnya tadi.
Meskipun sang malam telah turun dari peraduannya, namun tak membuatku menjadi mengantuk, malahan aku semakin bersemangat saja menyaksikan aksi pelecehan seksual yang tengah dilakukan oleh lelaki kedua ini terhadap korbannya. Birahinya begitu meletup-letup saat mengentoti vagina gadis malang ini. Kedua belah testisnya menampar-nampar pantat dara ramping nan montok begitu menggemaskan itu. Pinggul lelaki itu bergoyang-goyang luwes diantara rekahan pahanya yang terbuka. Kaki kirinya sang dara yang tengah dientot sambil berdiri oleh lelaki ini tampak terguncang-guncang hebat.
Kedua tubuh yang menyatu di malam itu seperti pertunjukkan tarian striptis nan penuh dengan nuansa erotis. Rambut hitam panjang sebahu gadis itu bahkan sampai tersibak-sibak kekanan dan kiri dari sisi wajahnya yang sudah tanpa ekspresi lagi. Pompaan pada tubuhnya yang tergantung itu terus dilancarkan oleh lelaki kedua ini nan bertubi-tubi menghujam kedalam lubang intimnya seakan tiada henti-hentinya. Punggung belakang dara belia nan polos itu dielus-elus oleh tangan-tangan jahil yang kurang ajar dari bajingan kedua ini. Kulit montok nan halus itu begitu licin dan sensual saat diraba disela-sela entotan pada bibir memeknya yang telah penuh oleh sumpalan batang pelirnya, sehingga turut bergelinjang meliuk-liuk manja dalam dekapan pelaku pemerkosaan terhadap gadis belia yang sangat cantik luar biasa ini.
Bersambung . . . . .
"Croot..! serr.. serr.. creet.. cret!", benih lelaki itu begitu tersembur dengan sangat cepat menyemburat kuat ke dalam isi dasar belahan memek gadis itu yang dikangkanginya tanpa pelindung sama sekali ini.
Bahkan aku kini dapat melihat rembesan lendir mani lelaki jahanam itu keluar dari celah-celah memeknya yang masih menelan penuh keseluruhan dari batang kontol perkasanya itu didalamnya sampai melumuri lubang anusnya, bahkan sampai menetes-netes ke permukaan sprei pengantin itu dibawahnya setelah meleleh di bongkahan pantat sang dara belia yang terkalahkan. Saking terlampau banyaknya lendir nista dari lelaki itu sehingga membuat seluruh rongga rahim gadis belia nan mungil ini kini tak sanggup lagi untuk menampung semuanya.
Dan kini kedua tungkai kaki milik gadis yang masih tak sadarkan diri ini diangkat tinggi-tinggi oleh sang bajingan tersebut hingga belahan bongkahan daging pantatnya yang terbuka telah sejajar dengan dada berbulu milik sang lelaki jantan penakluk si kembang desa ini. Permukaan dada itu digesek-gesekkan pada bongkahan pantat dara bunga yang telah berhasil dipetik keindahannya ini olehnya seraya menyaksikan memeknya yang telah banjir dilumuri oleh lendir putih kentalnya.
Dalam posisi yang setengah menggantung demikian tubuh telanjang dara itu hanya dapat bertumpu pada kedua belahan pundaknya yang tertekuk seperti udang dengan kedua kaki terbuka mengangkang diudara. Alhasil belahan lubang memeknya yang telah penuh oleh cairan lendir mani lelaki itu terjungkit keatas dan agaknya memang lelaki itu menginginkan tubuh korbannya bertahan pada posisi itu agar benih spermanya yang telah ia muntahkan tadi dapat membuahi rahim korbannya ini. Benar-benar kepala rampok itu seorang maniak tulen yang sangat dahsyat dan brutal aksinya tersebut serta membuatku semakin ngeper saja karena takut tertangkap basah pula olehnya. Sepuluh menit ia hanya terpaku sambil tetap menahan tungkai kaki gadis itu yang terkapar tanpa perlawanan lagi dan terus terpekur menatap lubang kencing pada selangkangan dara ini nan merekah.
Kepala rampok itu turun dari ranjang pelaminan korbannya dengan senyum kemenangan, ia segera mengemasi perhiasan-perhiasan yang tadi gadis itu kenakan, bahkan cincin kawin berlian kepunyaannya telah dilolosi pula dari jari manis lentiknya yang masih belum sadar dari pingsannya setelah dinodai oleh lelaki ini. Dilantai bawah kamar pengantin itu telah berserakkan oleh ceceran kain yang dulunya melekat ditubuh keduanya dan diraihnya sepatu putih sang mempelai wanitanya untuk kemudian diendusi dalamnya tempat kaki gadis itu biasa melekat disitu.
Tampaknya ia sangat menikmati hal tersebut, lalu celana dalam gadis itu juga kembali diciuminya sampai aku berpikir bahwa lelaki ini benar-benar telah dibatas ambang normal manusia pada umumnya. laci meja riasnya diacak-acak dan mengambil barang-barang berharga yang terdapat didalamnya, demikian pula isi lemari pakaian korbannya lalu semuanya dikumpulkan dalam satu kantung plastik hitam siap untuk dibawa pergi. Setelah itu ia keluar dari kamar itu meninggalkan tubuh gadis belia yang telah digagahinya secara sadis sepanjang malam sambil membawa ceceran pakaiannya sendiri.
Kira-kira pada pukul satu dini hari, tubuh kepala rampok itu meloncati pagar sambil menggendong karung hasil rampasannya dari rumah sebelah sebelum menghilang di kegelapan malam. Tubuh dara itu masih terbujur lemas di ranjangnya, namun kini aku melihat salah seorang anak buahnya membuka pintu kamar dimana gadis belia ini tertidur. Sambil mengendap-endap dirinya mendekati dan menaikku ranjang peraduan itu dengan tersenyum-senyum mesum. Tangannya yang kurang ajar mencolek-colek tubuh telanjang itu serta berusaha membangunkan tubuh dara molek itu yang masih terlentang indah menantang di matanya ini.
Demi mengetahui bahwa gadis ini sudah pingsan, ia merentangkan kedua belah gadis itu membentang terkangkang. Dilihatnya memek wanita muda cantik nan dihiasi jembut kemaluannya telah penuh oleh ceceran sperma yang telah mengering disana-sininya. Kedua jari telunjuk dan jari tengahnya secara bersamaan dicelupkan kedalam belahan terlarang dari gadis itu nan terbuka. Terasa begitu hangat dan lunak dinding keintiman yang berada didalamnya. Ketika dikeluarkan kedua jari itu telah berlumur cairan vaginanya yang telah menyatu dengan bercak darah kesuciannya disana sini sebagai bukti nyata bahwa keperawanannya sudah dimakan oleh bossnya dan dialah lelaki pertama yang berhasil memerawani tubuhnya.
Walaupun begitu ia tetap akan mengambil jatah bagiannya pula untuk menggarap gadis tersebut dengan berpatokan bahwa memek wanita bisa untuk di "salome", alias satu lobang untuk rame-rame. Ia mengambil plester dari saku celananya lalu memplester rapat kedua mulut bibir dara itu yang terkatup, lalu kedua tangannya dijadikan satu ke atas kepalanya kemudian diikatkan dalam posisi berdiri diatas papan atas yang membentang diatas tiang kayu kelambu ranjang perkawinan itu dengan susah payah ia merengkuh tubuh telanjang si dara yang masih lemas itu agar dapat diatur posisi enakknya untuk digarap olehnya.
Pada laci meja rias gadis tersebut kini ia menemukan sebotol parfume yang beraroma tajam, lalu ia lekatkan ke lubang hidung gadis itu untuk menyadarkannya. Dara itu membuka kedua belah pelupuk matanya yang cantik. Bola matanya yang bulat bersih bersinar itu kini terbeliak terkejut mendapati dirinya sudah tergantung dengan kedua tangannya telah terikat diatas kepalanya. Lelaki itu dengan liarnya telah mengemuti puting payudaranya dan sudah dalam keadaan telanjang pula, ketiak dara ini tak luput dari sasaran sapuan lidahnya yang sudah konak ini. Betapa malang nian penderitaan yang harus ditanggung oleh gadis belia yang telah ternodai sedangkan suaminya telah dibantai secara keji para garong itu tanpa ampun.
Lelaki yang kedua ini membasahi sekujur tubuh bugilnya nan begitu sedap dipandang mata serta menawan hati segenap pria dan aku yakin takkan ada seorangpun lelaki yang akan menolak bersebadan dengannya. Seperti mandi kucing saja ia menikmati setiap lekuk liku tubuh telanjang gadis itu yang membakar birahi kejantanannya kini sampai sekujur tubuh gadis itu dilumuri semua oleh cairan ludahnya dari ujung rambut hingga ke ujung kaki tanpa perlawanan yang berarti. Kulihat tatapan gadis itu telah kosong kedepan saat dicumbui lelaki kedua yang merupakan salah satu anak buah dari ketiga garong yang menyatroni rumah barunya ini.
Harga dirinya telah hancur lebur serta kehormatannya telah hilang dari tubuhnya. Sang bunga desa yang sedang mekar-mekarnya ini di tengah usianya nan belia telah terpetik sudah. Keperawanannya telah ludes tandas dicicipi para lelaki laknat ini. Lelaki kedua ini telah berdiri berhadapan dengan tubuhnya yang telanjang siap untuk menerkam mangsanya, sedangkan tungkai kaki kiri gadis itu yang dalam posisi berdiri tersebut ditekuk lututnya dan ditahan oleh lengan kanannya sehingga setengah mengangkang.Batang pelirnya yang tak sebesar kepunyaan bossnya tadi tampak sudah tegang mengacung. Diarahkannya kontolnya itu ke dalam belahan lubang kencing gadis itu untuk kemudian dibenamkan secara paksa.
"Bless.. blesek!", habislah sudah kontol itu tertelan oleh memek cewek nan cantik ini. Dientotnya cewek pengantin ini dengan tak kalah buasnya dengan sang bossnya tadi.
Meskipun sang malam telah turun dari peraduannya, namun tak membuatku menjadi mengantuk, malahan aku semakin bersemangat saja menyaksikan aksi pelecehan seksual yang tengah dilakukan oleh lelaki kedua ini terhadap korbannya. Birahinya begitu meletup-letup saat mengentoti vagina gadis malang ini. Kedua belah testisnya menampar-nampar pantat dara ramping nan montok begitu menggemaskan itu. Pinggul lelaki itu bergoyang-goyang luwes diantara rekahan pahanya yang terbuka. Kaki kirinya sang dara yang tengah dientot sambil berdiri oleh lelaki ini tampak terguncang-guncang hebat.
Kedua tubuh yang menyatu di malam itu seperti pertunjukkan tarian striptis nan penuh dengan nuansa erotis. Rambut hitam panjang sebahu gadis itu bahkan sampai tersibak-sibak kekanan dan kiri dari sisi wajahnya yang sudah tanpa ekspresi lagi. Pompaan pada tubuhnya yang tergantung itu terus dilancarkan oleh lelaki kedua ini nan bertubi-tubi menghujam kedalam lubang intimnya seakan tiada henti-hentinya. Punggung belakang dara belia nan polos itu dielus-elus oleh tangan-tangan jahil yang kurang ajar dari bajingan kedua ini. Kulit montok nan halus itu begitu licin dan sensual saat diraba disela-sela entotan pada bibir memeknya yang telah penuh oleh sumpalan batang pelirnya, sehingga turut bergelinjang meliuk-liuk manja dalam dekapan pelaku pemerkosaan terhadap gadis belia yang sangat cantik luar biasa ini.
Bersambung . . . . .
1 Tragedi malam pengantin - 10
Tidaklah munafik bagi setiap wanita yang saat digauli oleh seorang lelaki baik dalam keadaan terpaksa ataupun tidak, sesuai kodratnya sebagai seorang perempuan yang harus melayani kemauan lelaki lambat laun akan tunduk jua. Demikian pula dengan gadis itu yang dari memeknya kini juga telah dibasahi oleh lendir kemaluannya kembali dan semakin membuat batang pelir lelaki itu semakin berkilat-kilat ditengah aksinya keluar masuk menggesek-gesekkan dinding vaginanya.
Sungguh sedap pemandangan yang disajikan oleh mereka berdua dihadapanku ini dan sungguh beruntung sekali mereka-mereka ini yang mendapati seorang cewek cantik yang masih belia sebagai penghangat malam. Padahal aku dan mereka cuma dibatasi oleh tembok seukuran satu belah batu bata saja. Tetapi jika aksiku ketahun oleh mereka, maka mereka juga tak akan segan-segan membunuhku karena cuma aku yang satu-satunya orang yang menjadi saksi mata dari kejadian tragis yang menimpa seorang kembang desa yang digilir para perampok tepat pada malam pengantinnya sendiri.
Akupun tak tahu setelah kejadian ini berakhir pada hari-hari selanjutnya, akankah gadis itu akan menjadi hamil mengingat bahwa malam itu sangat bertepatan dengan masa subur di rahimnya dan sperma kepala rampok tadi telah berhasil bersarang penuh didalamnya serta sudah terserap pula kedalam rahimnya kini.
Sedang asyik-asyiknya kedua pasangan insan ini larut dalam ritual persetubuhannya, pintu kamar itu kini terbuka lagi dan masuklah sosok lelaki ketiga yang baru kelihatan kali ini setelah lepas tugasnya untuk menjaga pekarangan depan rumah pengantin baru itu. Setelah melihat perkembangan situasi yang akan terus aman dan terkendali, akhirnya ia memberanikan diri juga untuk naik keatas dan masuk kamar tempat kedua pasangan ini tengah bergumul dalam ajang arus pelepasan birahi mereka.
Sambil cengengesan lelaki ketiga ini memandangi kejadian di depan matanya saat gadis korbannya sedang dikerjai oleh temannya itu. Dengan mengedipkan sebelah matanya kepada temannya yang tengah asyik masyuk menyetubuhi dara belia ini, maka mengertilah ia akan tanda yang diberikan tersebut. Sebagai jawaban sinyal tanda yang diberikan oleh temannya tersebut, lelaki kedua ini mempergunakan tangan kirinya pula untuk menekuk serta menaikkan tungkai yang sebelah kanan milik gadis tersebut hingga membuat tubuh korbannya ini berada dalam gendongannya dengan kedua belah kakinya telah mengangkang menjepit pinggangnya nan masih menari-nari dihadapan perut rampingnya nan telanjang memukau itu.
Sang lelaki ketiga kini berjongkok dibelakang punggung dara belia yang masih terguncang-guncang dientot dalam gendongan temannya itu, kemudian membuka bongkahan pantat nan padat berisi itu serta menemukan apa yang ia carinya disitu. Tampak pelir temannya masih tertanam di belahan memek korban aksi mereka ini dan masih terus bergerak keluar masuk serta telah berkilat basah oleh lendir persetubuhan keduanya yang menyilaukan matanya. Namun bukanlah itu yang ia cari, hanya bokong dara itu yang menjadi sasarannya dan matanya tertumpu pada lubang mungil dibawahnya, yakni celah dubur kecil milik korbannya ini.
Kedua ibu jari tangannya membuka bokong gadis itu sehingga lubang anusnya sedikit terbuka dihadapannya, namun agak susah juga karena pantat gadis itu dalam keadaan terhempas-hempas oleh sodokan pelir temannya tersebut. Jari kelingking kasarnya ia basuh terlebih dulu dengan cairan ludahnya. setelah itu ditusukkannya kedalam celah sempit lubang dubur cewek belia nan tak berdaya ini. Sia-sia saja cewek pengantin ini berteriak karena redaman plester di mulutnya begitu ketat, sedangkan untuk menolak perlakuan lelaki ketiga itu percuma saja, sebab tubuh telanjangnya telah terjepit ditengah-tengah kedua pemerkosanya.
Kelingking lelaki ketiga itu telah masuk kedalam lobang pantatnya, terasa jepitan otot duburnya yang seperti cincin melingkar pada pintu anusnya begitu ketat dan kuat sekali. Lalu setelah itu jari itu tembus kedalamnya dan hanya terasa sempit pada luarnya tetapi didalamnya terasa lega dan agak lunak-lunak juga ada hawa panasnya pula. Ditariknya keluar jari itu, tampak sedikit kotoran tersisa dari dalamnya kemudian ia melakukan hal serupa kepada lubang anus itu tetapi menggantinya dengan jari telunjuknya setelah diludahi pula. Seperti halnya jari kelingkingnya tadi, ia pun sekarang memuntir-muntirkan telunjuknya yang telah menancap didalam dubur gadis belia ini untuk membuka ruang gerak didalamnya yang nantinya akan ia pergunakan sebagai ajang pemuas nafsu sexnya.
Rupanya lelaki ketiga ini adalah seorang pecinta anal sex dan dia tak akan segan-segan memerawani pantat wanita itu. Jeritan kesakitan gadis itu sama sekali tak membuatnya terganggu, malahan ia semakin terangsang membuka celah anus itu dan hal itu dulanginya lagi tetapi kini telah menggunakan batang telunjuk serta jari tengahnya yang dibenamkan secara bersamaan menguak isi dalam lubang pantat cewek dua puluh tahun ini. Dirojok-rojoknya anus gadis itu yang selama ini tidak pernah dimasukki oleh benda asing sekalipun, namun kini telah dipaksakan untuk membuka dan menjepit kedua jari dari lelaki ketiga ini sekaligus. Belum lagi pelayanan yang harus ia penuhi untuk memuaskan pelir temannya yang masih terus menikmati jepitan memeknya nan telah bengkak memerah akibat digilir paksa secara berkesinambungan oleh para bajingan terkutuk itu.
Setelah puas bermain-main dengan kedua jarinya menelusuri dalam dubur si wanita, lelaki itu mencabut jari-jari itu dari dalamnya dan kini mulut lubang anus itu tidak bisa mengatup rapat seperti semula serta menyisakan celah lubang kecil seukuran ujung ibu jari. Aroma yang terpancar dari anus sang cewek cantik ini terasa pekat dihidungnya. Wajah lelaki itu terbenam kembali diantara bongkahan pantat nan jelita, sertamerta celah lubang dubur yang terbuka ini disusupkan oleh lidah lancangnya menjelajahi jalan anal si gadis muda nan masih begitu belia ini. Tarian lidah itu semakin menggetarkan tubuh gadis itu yang membuat kepalanya semakin tergeleng-geleng menggelepar-gelepar dalam kebungkaman mulutnya yang terplester rapat menyesali ke tidak berdayaannya diperlakukan sedemikian rupa oleh para pemerkosa itu.
Lidah lelaki itu dirasakannya seperti menyakiti pantatnya tetapi juga begitu sangat menggelitik-gelitik anusnya laksana kenikmatan yang didapat pada saat cebokkan saja layaknya. Memang demikian kenyataannya, bahwa lelaki itu tengah mencebok lobang pantatnya tersebut dengan lidahnya sampai licin tuntas sudah diantara jeritan kesakitannya. Habislah sudah anal dari sang mempelai belia ini menjadi bulan-bulanan permainan dari si bangsat yang satu ini. Semakin gencar lidah itu menelusup didalam pantat molek tersebut, maka semakin terbuka lebar pula lubang anus berwarna merah muda merangsang itu merekah nan jatuh dalam dekapan si lelaki sialan yang ternyata suka sekali mengemuti pantat milik seorang wanita seperti dirinya ini.
Sang lelaki ketiga kini berdiri merapat dibongkahan pantat gadis belia ini dari arah belakang, kemudian batang pelirnya ia tempelkan tepat pada jalan masuk celah anus yang telah ia buka tadi, siap membenamkan kontolnya untuk menyodomi pantat sang dara cantik menggemaskan lambang kepuasan lelaki ini. Cewek ini mati kutu sudah dalam keadaannya yang terjepit itu tak ada usaha perlawanannya lagi yang berguna sekalipun selain daripada menerima kenyataan yang ada bahwa ia akan disodomi oleh lelaki ketiga ini.
Dan perlahan-lahan anusnya yang terkuak dipaksa untuk menelan pelir seorang lelaki dewasa. Meskipun begitu tersendat-sendat dan seret pelir itu mulai terbenam ke liang duburnya yang sempit. Diperawanilah lubang pantat milik dara belia cantik korbannya sembari dibantu oleh temannya yang masih menunjang tubuh telanjang dara itu. Namun tangan temannya yang tadinya menahan kaki gadis itu kini berpindah merengkuh bongkahan daging pantat serta membantu penetrasi pertama yang dilakukan lelaki ketiga ini kedalam belahan anus sang perawan yang telah ternoda.
Setengah ukuran zakarnya telah terbenam dalam muara anus itu yang sertamerta langsung membuat lonjakan-lonjakan hebat pada tubuh telanjangnya yang terlarang terjepit dalam ketiada berdayaan nana dipaksa melayani dua orang lelaki sekaligus. Untung saja rembesan lendir memeknya yang mengalir lewat sela-sela kedua bibirnya yang tersumbat oleh zakar lelaki pula nan telah merembes ke permukaan duburnya turut membantu melicinkan kontol yang melesak di anusnya.
Perlahan tapi pasti akhirnya kejantanan lelaki ketiga itu telah tertelan ke dalam lobang pantatnya yang kini menganga seukuran diameter kontol tersebut serta menjepitnya. Kini selangkangan gadis itu telah dipenuhi oleh kedua batang pelir lelaki-lelaki pemerkosanya yang bergantian keluar masuk didalamnya. Tubuh montok nan telanjang indah dari gadis itu kini bagaikan daging roti sandwich yang terjepit ditengah-tengah arena maksiat persetubuhan terlarang antara mereka yang tak lazim untuk dilakukan tersebut, dan tragedi di malam pengantinnya ini benar-benar laksana mimpi buruk baginya yang tak akan bisa ia lupakan seumur hidupnya.
Bersambung . . . .
Sungguh sedap pemandangan yang disajikan oleh mereka berdua dihadapanku ini dan sungguh beruntung sekali mereka-mereka ini yang mendapati seorang cewek cantik yang masih belia sebagai penghangat malam. Padahal aku dan mereka cuma dibatasi oleh tembok seukuran satu belah batu bata saja. Tetapi jika aksiku ketahun oleh mereka, maka mereka juga tak akan segan-segan membunuhku karena cuma aku yang satu-satunya orang yang menjadi saksi mata dari kejadian tragis yang menimpa seorang kembang desa yang digilir para perampok tepat pada malam pengantinnya sendiri.
Akupun tak tahu setelah kejadian ini berakhir pada hari-hari selanjutnya, akankah gadis itu akan menjadi hamil mengingat bahwa malam itu sangat bertepatan dengan masa subur di rahimnya dan sperma kepala rampok tadi telah berhasil bersarang penuh didalamnya serta sudah terserap pula kedalam rahimnya kini.
Sedang asyik-asyiknya kedua pasangan insan ini larut dalam ritual persetubuhannya, pintu kamar itu kini terbuka lagi dan masuklah sosok lelaki ketiga yang baru kelihatan kali ini setelah lepas tugasnya untuk menjaga pekarangan depan rumah pengantin baru itu. Setelah melihat perkembangan situasi yang akan terus aman dan terkendali, akhirnya ia memberanikan diri juga untuk naik keatas dan masuk kamar tempat kedua pasangan ini tengah bergumul dalam ajang arus pelepasan birahi mereka.
Sambil cengengesan lelaki ketiga ini memandangi kejadian di depan matanya saat gadis korbannya sedang dikerjai oleh temannya itu. Dengan mengedipkan sebelah matanya kepada temannya yang tengah asyik masyuk menyetubuhi dara belia ini, maka mengertilah ia akan tanda yang diberikan tersebut. Sebagai jawaban sinyal tanda yang diberikan oleh temannya tersebut, lelaki kedua ini mempergunakan tangan kirinya pula untuk menekuk serta menaikkan tungkai yang sebelah kanan milik gadis tersebut hingga membuat tubuh korbannya ini berada dalam gendongannya dengan kedua belah kakinya telah mengangkang menjepit pinggangnya nan masih menari-nari dihadapan perut rampingnya nan telanjang memukau itu.
Sang lelaki ketiga kini berjongkok dibelakang punggung dara belia yang masih terguncang-guncang dientot dalam gendongan temannya itu, kemudian membuka bongkahan pantat nan padat berisi itu serta menemukan apa yang ia carinya disitu. Tampak pelir temannya masih tertanam di belahan memek korban aksi mereka ini dan masih terus bergerak keluar masuk serta telah berkilat basah oleh lendir persetubuhan keduanya yang menyilaukan matanya. Namun bukanlah itu yang ia cari, hanya bokong dara itu yang menjadi sasarannya dan matanya tertumpu pada lubang mungil dibawahnya, yakni celah dubur kecil milik korbannya ini.
Kedua ibu jari tangannya membuka bokong gadis itu sehingga lubang anusnya sedikit terbuka dihadapannya, namun agak susah juga karena pantat gadis itu dalam keadaan terhempas-hempas oleh sodokan pelir temannya tersebut. Jari kelingking kasarnya ia basuh terlebih dulu dengan cairan ludahnya. setelah itu ditusukkannya kedalam celah sempit lubang dubur cewek belia nan tak berdaya ini. Sia-sia saja cewek pengantin ini berteriak karena redaman plester di mulutnya begitu ketat, sedangkan untuk menolak perlakuan lelaki ketiga itu percuma saja, sebab tubuh telanjangnya telah terjepit ditengah-tengah kedua pemerkosanya.
Kelingking lelaki ketiga itu telah masuk kedalam lobang pantatnya, terasa jepitan otot duburnya yang seperti cincin melingkar pada pintu anusnya begitu ketat dan kuat sekali. Lalu setelah itu jari itu tembus kedalamnya dan hanya terasa sempit pada luarnya tetapi didalamnya terasa lega dan agak lunak-lunak juga ada hawa panasnya pula. Ditariknya keluar jari itu, tampak sedikit kotoran tersisa dari dalamnya kemudian ia melakukan hal serupa kepada lubang anus itu tetapi menggantinya dengan jari telunjuknya setelah diludahi pula. Seperti halnya jari kelingkingnya tadi, ia pun sekarang memuntir-muntirkan telunjuknya yang telah menancap didalam dubur gadis belia ini untuk membuka ruang gerak didalamnya yang nantinya akan ia pergunakan sebagai ajang pemuas nafsu sexnya.
Rupanya lelaki ketiga ini adalah seorang pecinta anal sex dan dia tak akan segan-segan memerawani pantat wanita itu. Jeritan kesakitan gadis itu sama sekali tak membuatnya terganggu, malahan ia semakin terangsang membuka celah anus itu dan hal itu dulanginya lagi tetapi kini telah menggunakan batang telunjuk serta jari tengahnya yang dibenamkan secara bersamaan menguak isi dalam lubang pantat cewek dua puluh tahun ini. Dirojok-rojoknya anus gadis itu yang selama ini tidak pernah dimasukki oleh benda asing sekalipun, namun kini telah dipaksakan untuk membuka dan menjepit kedua jari dari lelaki ketiga ini sekaligus. Belum lagi pelayanan yang harus ia penuhi untuk memuaskan pelir temannya yang masih terus menikmati jepitan memeknya nan telah bengkak memerah akibat digilir paksa secara berkesinambungan oleh para bajingan terkutuk itu.
Setelah puas bermain-main dengan kedua jarinya menelusuri dalam dubur si wanita, lelaki itu mencabut jari-jari itu dari dalamnya dan kini mulut lubang anus itu tidak bisa mengatup rapat seperti semula serta menyisakan celah lubang kecil seukuran ujung ibu jari. Aroma yang terpancar dari anus sang cewek cantik ini terasa pekat dihidungnya. Wajah lelaki itu terbenam kembali diantara bongkahan pantat nan jelita, sertamerta celah lubang dubur yang terbuka ini disusupkan oleh lidah lancangnya menjelajahi jalan anal si gadis muda nan masih begitu belia ini. Tarian lidah itu semakin menggetarkan tubuh gadis itu yang membuat kepalanya semakin tergeleng-geleng menggelepar-gelepar dalam kebungkaman mulutnya yang terplester rapat menyesali ke tidak berdayaannya diperlakukan sedemikian rupa oleh para pemerkosa itu.
Lidah lelaki itu dirasakannya seperti menyakiti pantatnya tetapi juga begitu sangat menggelitik-gelitik anusnya laksana kenikmatan yang didapat pada saat cebokkan saja layaknya. Memang demikian kenyataannya, bahwa lelaki itu tengah mencebok lobang pantatnya tersebut dengan lidahnya sampai licin tuntas sudah diantara jeritan kesakitannya. Habislah sudah anal dari sang mempelai belia ini menjadi bulan-bulanan permainan dari si bangsat yang satu ini. Semakin gencar lidah itu menelusup didalam pantat molek tersebut, maka semakin terbuka lebar pula lubang anus berwarna merah muda merangsang itu merekah nan jatuh dalam dekapan si lelaki sialan yang ternyata suka sekali mengemuti pantat milik seorang wanita seperti dirinya ini.
Sang lelaki ketiga kini berdiri merapat dibongkahan pantat gadis belia ini dari arah belakang, kemudian batang pelirnya ia tempelkan tepat pada jalan masuk celah anus yang telah ia buka tadi, siap membenamkan kontolnya untuk menyodomi pantat sang dara cantik menggemaskan lambang kepuasan lelaki ini. Cewek ini mati kutu sudah dalam keadaannya yang terjepit itu tak ada usaha perlawanannya lagi yang berguna sekalipun selain daripada menerima kenyataan yang ada bahwa ia akan disodomi oleh lelaki ketiga ini.
Dan perlahan-lahan anusnya yang terkuak dipaksa untuk menelan pelir seorang lelaki dewasa. Meskipun begitu tersendat-sendat dan seret pelir itu mulai terbenam ke liang duburnya yang sempit. Diperawanilah lubang pantat milik dara belia cantik korbannya sembari dibantu oleh temannya yang masih menunjang tubuh telanjang dara itu. Namun tangan temannya yang tadinya menahan kaki gadis itu kini berpindah merengkuh bongkahan daging pantat serta membantu penetrasi pertama yang dilakukan lelaki ketiga ini kedalam belahan anus sang perawan yang telah ternoda.
Setengah ukuran zakarnya telah terbenam dalam muara anus itu yang sertamerta langsung membuat lonjakan-lonjakan hebat pada tubuh telanjangnya yang terlarang terjepit dalam ketiada berdayaan nana dipaksa melayani dua orang lelaki sekaligus. Untung saja rembesan lendir memeknya yang mengalir lewat sela-sela kedua bibirnya yang tersumbat oleh zakar lelaki pula nan telah merembes ke permukaan duburnya turut membantu melicinkan kontol yang melesak di anusnya.
Perlahan tapi pasti akhirnya kejantanan lelaki ketiga itu telah tertelan ke dalam lobang pantatnya yang kini menganga seukuran diameter kontol tersebut serta menjepitnya. Kini selangkangan gadis itu telah dipenuhi oleh kedua batang pelir lelaki-lelaki pemerkosanya yang bergantian keluar masuk didalamnya. Tubuh montok nan telanjang indah dari gadis itu kini bagaikan daging roti sandwich yang terjepit ditengah-tengah arena maksiat persetubuhan terlarang antara mereka yang tak lazim untuk dilakukan tersebut, dan tragedi di malam pengantinnya ini benar-benar laksana mimpi buruk baginya yang tak akan bisa ia lupakan seumur hidupnya.
Bersambung . . . .
1 Tragedi malam pengantin - 11
Karena letih terus menggendong tubuh dara itu, lelaki kedua memberi tanda untuk berganti posisi. Tangannya yang terikat keatas kepalanya diturunkan, lalu tubuhnya dipaksa untuk menungging diatas ranjang pengantinnya lagi dengan posisi bokongnya tetap menghadap padaku. Lelaki ketiganya menyelusup dibawah tubuh korbannya yang sudah menungging dan agaknya sang lelaki kedua juga ingin merasakan hangat dan lunaknya anus korbannya. Lelaki ketiga memeluk tubuh itu dari bawah berhadapan dengan payudara gadis itu yang tergantung tepat di antara mukanya. Kontol bekas memerawani anus dara itu kini dibenamkan ke dalam vaginanya yang telah becek. Dengan liarnya ia menyedoti payudara indah yang menggantung tepat didepan wajahnya bergantian sampai penuh dengan air liur disekitar puting susu korbannya seraya meremas-remas penuh nikmat.
Setengah jongkok tubuh lelaki keduanya mengambil tempat disela-sela pantat dara itu yang telah menungging dengan pantatnya yang menjungkit keatas siap untuk menerima lagi kehadiran kontol lelaki pada liang duburnya yang lezat dan nikmat dengan layanan sensasi nan berbeda. Aku sendiri sudah terlalu letih untuk beronani lagi karena energiku sudah terkuras pula untuk mengikuti kejadian tersebut. Yang pasti perempuan muda itu telah patuh pula pada perintah kedua lelaki bajingan tersebut yang memperkosanya dengan brutal.
Ternyata dari lubang anus dara itupun terdapat pula cairan lengketnya yang membantu melumasi persetubuhan serta melicinkan analnya yang tengah mengimbangi sodokan demi sodokan tonggak kejantanan yang menancap di bongkahan pantatnya yang terbuka secara nyata didepanku. Agaknya dara itu sebelumnya telah membuang hajatnya terlebih dahulu setelah pulang tadi, karena anusnya yang tengah diaduk-aduk oleh kontol lelaki itu telah bersih dari kotorannya pula. Sudah tak ada lagi sisa-sisa kotorannya nan lekat pada batang pelir lelaki itu yang terus merojok-rojok isi anusnya tersebut tanpa peduli sama sekali pada rintihannya.
Laksana diperlakukan sebagai seorang wanita pelacur saja mereka terus menikmati kehangatan dan kelezatan lubang-lubang yang terletak pada area selangkangan indah menawan ditubuhnya. Kedua jari-jari di telapak kaki gadis belia ini sampai tertekuk-tekuk akibat guncangan-guncangan yang dilakukan oleh kedua tubuh kekar dari para lelaki lancang ini nan semakin melekat begitu erat pada bokongnya. Tawa-tawa para pemerkosanya yang tengah menggarap tubuhnya semakin membuat dara itu tidak mempunyai martabat lagi dan dirinya kini sudah menjadi korban kebiadaban dari perbudakan nafsu perampok-perampok tersebut.
Celah-celah pantatnya yang begitu menggairahkan masih dihiasi oleh tancapan kedua pelir lelaki itu yang masih bergoyang-goyang memilukan otot-otot syahwat pada vagina dan duburnya gadis ini. Kejadian yang menimpa dirinya sekarang ini begitu pahit dan terlalu getir untuk gadis seusianya nan baru saja mekar tetapi sudah terpetik layu.
"Wuihh.. uhh.. gak sangka kalau pantat nih cewek sempit banget coi!", seloroh lelaki ketiga disela-sela genjotannya pada anus gadis itu.
Suara anus itu berdecak-decak nyata di telingaku dan sudah keliatan lebam dan memerah bibir duburnya yang telah diperawani oleh pelir lelaki.
"Oh ya? Kalau gitu gantian dong, aku juga ingin merasakan bagaimana enaknya mengentot pantat perempuan ini", balas lelaki kedua yang masih keenakan pula menggoyang memeknya dan menimbulkan suara berkecipak di dalamnya itu.
"Mmmh..! mmhh..! ammhh!", erang gadis itu dalam bungkaman plester di mulutnya.
"Jangan berisik non! Percuma, tidak bakal ada yang mendengar, lebih baik kau menurut saja, ayo sana balik!", perintah lelaki ketiga yang langsung merengkuh tubuh telanjang dara itu dari posisi menunggingnya.
Kini mereka berganti posisi dengan lelaki kedua masih terlentang dibawahnya, gadis itu ditelentangkan dengan kedua kaki terkangkang diatas tubuh lelaki kedua yang terbaring atasnya untuk dipaksa menduduki pelir lelaki itu menggunakan lubang anusnya itu.
"Ohh.. ohh! Betul juga katamu.. pantatnya lebih sempit nih!", puji lelaki kedua yang pelirnya telah terbenam di mulut anus gadis itu dan hanya menyisakan rimbunan jembut lebat hitamnya dengan kedua testis menggantung pada pangkal bongkahan pantat gadis itu.
"Sekarang kamu miringkan badan dong! Aku belum kebagian nih!", tukas lelaki ketiga pada temannya yang memiringkan badannya sehingga tubuh montok dara itu jatuh kesamping berbarengan ikut miring bersamaan dengan lelaki kedua namun masih dengan anus telah tertancap diselangkangannya.
Kaki kanannya telah lurus selonjor diatas ranjang, namun kaki kirinya semakin ditekuk lututnya keatas ditahan tungkainya oleh lutut kiri lelaki yang memperkosa anusnya yang juga membuka kakinya setengah tergantung di udara. Kini lelaki ketiga merebahkan tubuhnya pula dalam posisi miring sehingga kedua tubuh telanjang kedua lelaki itu kembali mengepit tubuh dara yang berada ditengah-tengahnya seperti sepotong hamburger.
Kontolnya diselusupkan kembali ke lubang memek dara itu yang masih terbuka bekas digilir oleh sang boss dan lelaki kedua tadi. Mereka mengayuh biduk liar bahtera hewani nafsu syahwat pada tubuh korbannya yang tak telah lunglai kehabisan tenaga digilir tak berkesudahan di malam yang seharusnya menjadi malam indah bagi diri dan hidupnya.
Seumur-umur dia tak akan menyangka bahwa malam ini ia akan mengalami hal yang paling mengerikan dalam hidupnya, betapa tidak..malam yang seharusnya ia dapatkan dari belaian lembut seorang lelaki terkasih yang menjadi impian hatinya itu kini telah sirna. Khayalan dirinya akan dipeluk mesra bersama sang suami tercinta dan mereguk cinta yang telah mereka rajut berdua kini telah musnah semua akibat ulah para perampok yang menyatroni rumahnya dan menzinahi dirinya.
Tulang kering kaki dari kedua lelaki yang kekar itu bersilangan menahan betis dari pahanya nan terkuak keatas bergoyang-goyang diantara decak-decak suara yang keluar dari ayunan dahsyat kemaksiatan mereka bertiga. Pelir lelaki itu kali ini begitu seakan benar-benar merojok-rojok vaginanya sampai menggesek-gesek umbai kelentitnya yang semakin mekar memerah membasah ini. Terus menerus menghadapi siksaan ini sekaligus membendung sensasi dari nafsu liar para perampok sadis itu yang memperkosanya secara brutal membuat sang dara terpelanting-pelanting didera orgasmenya kembali. Tubuhnya yang melejang-lejang kencang itu kembali meliuk-liuk dengan sebelah betis indahnya yang berada diudara nan terganjal oleh kedua kaki para pemerkosanya menendang-nendang diudara berikut desahan puncak kenikmatannya dalam bungkaman plester.
"Mmhh! mm.. mmhh!! mmhmmhh!!", jerit dara itu meledak diselingi oleh lekukan tubuhnya yang mengejang dengan seluruh otot diselangkangannya semakin menjepit erat kedua pelir para pemerkosanya itu. Lelaki kedua yang pelirnya berada dianus wanita itu menjadi terlonjak-lonjak menerima sensasi dari empotan lubang dubur korbannya yang tengah mengalami ledakan-ledakan dahsyat orgasmenya untuk yang kesekian kalinya.
"Uhh... uhh.. uohh! aku jug mau kel.. u.. ar.. nih!", jerit lelaki kedua yang rupanya sudah tak tahan menahan orgasmenya pula, apalagi sejak mencobai lobang pantat gadis itu yang terasa sesak luar biasa menjepit pelirnya membuatnya ingin menuntaskan sudah birahinya pada sang korban.
Iapun langsung mencabut keluar pelirnya yang tertanam di anus gadis belia tersebut, bergegas turun dari ranjang dan sambil berdiri merobek plester di mulut korbannya itu lalu membenamkan kejantanannya disana sambil menjambak rambut gadis itu ia menghentak-hentakkan kepala dara belia tersebut untuk ditumbuk-tumbukkan pada selangkangannya yang berbulu lebat itu.
"Ohh..! ahh..! ahh!!",ia memuntahkan seluruh air maninya di mulut sang dara cantik itu yang telah penuh oleh sumpalan pelirnya dan dipaksa pula untuk menelan semua cairan lendir putih kental miliknya yang muncrat-muncrat didalam rongga mulut mungil tersebut.
Semua maninya telah tertelan di kerongkongan perempuan muda ini sudah, dan kembali ia memplester mulut korbannya agar ia tak dapat memuntahi lagi air mani lelaki tersebut. Setelah itu ia mengemasi pakaiannya yang tercecer di lantai kamar untuk kemudian pergi meninggalkan kawannya yang masih asyik mengentoti tubuh gadis itu.
Tinggal tersisa lelaki ketiga dengannya sekarang sepeninggal lelaki kedua tadi dan aku melihat temannya telah menerobos keluar dari pagar rumah tersebut setelah berpakaian lengkap sambil membawa karung hasil rampokkannya pula di kegelapan malam tanpa peduli lagi dengan kawannya. Mungkin mereka tak mau kelihatan bergerombol agar tak dicurigai aksinya oleh pihak berwajib. Kembali aku menyaksikan adegan porno selanjutnya dari lelaki terakhir yang tersisa ini dan wow! Ia kembali membuat tubuh telanjang gadis belia ini dipaksa menungging di depanku dengan pelirnya yang masih tegang mengangguk-angguk setelah berhasil mengalahkan memek dara itu, ia kini balik lagi mencoblos kontolnya ke lubang pantat yang sangat digemarinya ini.
Bersambung . . . .
Setengah jongkok tubuh lelaki keduanya mengambil tempat disela-sela pantat dara itu yang telah menungging dengan pantatnya yang menjungkit keatas siap untuk menerima lagi kehadiran kontol lelaki pada liang duburnya yang lezat dan nikmat dengan layanan sensasi nan berbeda. Aku sendiri sudah terlalu letih untuk beronani lagi karena energiku sudah terkuras pula untuk mengikuti kejadian tersebut. Yang pasti perempuan muda itu telah patuh pula pada perintah kedua lelaki bajingan tersebut yang memperkosanya dengan brutal.
Ternyata dari lubang anus dara itupun terdapat pula cairan lengketnya yang membantu melumasi persetubuhan serta melicinkan analnya yang tengah mengimbangi sodokan demi sodokan tonggak kejantanan yang menancap di bongkahan pantatnya yang terbuka secara nyata didepanku. Agaknya dara itu sebelumnya telah membuang hajatnya terlebih dahulu setelah pulang tadi, karena anusnya yang tengah diaduk-aduk oleh kontol lelaki itu telah bersih dari kotorannya pula. Sudah tak ada lagi sisa-sisa kotorannya nan lekat pada batang pelir lelaki itu yang terus merojok-rojok isi anusnya tersebut tanpa peduli sama sekali pada rintihannya.
Laksana diperlakukan sebagai seorang wanita pelacur saja mereka terus menikmati kehangatan dan kelezatan lubang-lubang yang terletak pada area selangkangan indah menawan ditubuhnya. Kedua jari-jari di telapak kaki gadis belia ini sampai tertekuk-tekuk akibat guncangan-guncangan yang dilakukan oleh kedua tubuh kekar dari para lelaki lancang ini nan semakin melekat begitu erat pada bokongnya. Tawa-tawa para pemerkosanya yang tengah menggarap tubuhnya semakin membuat dara itu tidak mempunyai martabat lagi dan dirinya kini sudah menjadi korban kebiadaban dari perbudakan nafsu perampok-perampok tersebut.
Celah-celah pantatnya yang begitu menggairahkan masih dihiasi oleh tancapan kedua pelir lelaki itu yang masih bergoyang-goyang memilukan otot-otot syahwat pada vagina dan duburnya gadis ini. Kejadian yang menimpa dirinya sekarang ini begitu pahit dan terlalu getir untuk gadis seusianya nan baru saja mekar tetapi sudah terpetik layu.
"Wuihh.. uhh.. gak sangka kalau pantat nih cewek sempit banget coi!", seloroh lelaki ketiga disela-sela genjotannya pada anus gadis itu.
Suara anus itu berdecak-decak nyata di telingaku dan sudah keliatan lebam dan memerah bibir duburnya yang telah diperawani oleh pelir lelaki.
"Oh ya? Kalau gitu gantian dong, aku juga ingin merasakan bagaimana enaknya mengentot pantat perempuan ini", balas lelaki kedua yang masih keenakan pula menggoyang memeknya dan menimbulkan suara berkecipak di dalamnya itu.
"Mmmh..! mmhh..! ammhh!", erang gadis itu dalam bungkaman plester di mulutnya.
"Jangan berisik non! Percuma, tidak bakal ada yang mendengar, lebih baik kau menurut saja, ayo sana balik!", perintah lelaki ketiga yang langsung merengkuh tubuh telanjang dara itu dari posisi menunggingnya.
Kini mereka berganti posisi dengan lelaki kedua masih terlentang dibawahnya, gadis itu ditelentangkan dengan kedua kaki terkangkang diatas tubuh lelaki kedua yang terbaring atasnya untuk dipaksa menduduki pelir lelaki itu menggunakan lubang anusnya itu.
"Ohh.. ohh! Betul juga katamu.. pantatnya lebih sempit nih!", puji lelaki kedua yang pelirnya telah terbenam di mulut anus gadis itu dan hanya menyisakan rimbunan jembut lebat hitamnya dengan kedua testis menggantung pada pangkal bongkahan pantat gadis itu.
"Sekarang kamu miringkan badan dong! Aku belum kebagian nih!", tukas lelaki ketiga pada temannya yang memiringkan badannya sehingga tubuh montok dara itu jatuh kesamping berbarengan ikut miring bersamaan dengan lelaki kedua namun masih dengan anus telah tertancap diselangkangannya.
Kaki kanannya telah lurus selonjor diatas ranjang, namun kaki kirinya semakin ditekuk lututnya keatas ditahan tungkainya oleh lutut kiri lelaki yang memperkosa anusnya yang juga membuka kakinya setengah tergantung di udara. Kini lelaki ketiga merebahkan tubuhnya pula dalam posisi miring sehingga kedua tubuh telanjang kedua lelaki itu kembali mengepit tubuh dara yang berada ditengah-tengahnya seperti sepotong hamburger.
Kontolnya diselusupkan kembali ke lubang memek dara itu yang masih terbuka bekas digilir oleh sang boss dan lelaki kedua tadi. Mereka mengayuh biduk liar bahtera hewani nafsu syahwat pada tubuh korbannya yang tak telah lunglai kehabisan tenaga digilir tak berkesudahan di malam yang seharusnya menjadi malam indah bagi diri dan hidupnya.
Seumur-umur dia tak akan menyangka bahwa malam ini ia akan mengalami hal yang paling mengerikan dalam hidupnya, betapa tidak..malam yang seharusnya ia dapatkan dari belaian lembut seorang lelaki terkasih yang menjadi impian hatinya itu kini telah sirna. Khayalan dirinya akan dipeluk mesra bersama sang suami tercinta dan mereguk cinta yang telah mereka rajut berdua kini telah musnah semua akibat ulah para perampok yang menyatroni rumahnya dan menzinahi dirinya.
Tulang kering kaki dari kedua lelaki yang kekar itu bersilangan menahan betis dari pahanya nan terkuak keatas bergoyang-goyang diantara decak-decak suara yang keluar dari ayunan dahsyat kemaksiatan mereka bertiga. Pelir lelaki itu kali ini begitu seakan benar-benar merojok-rojok vaginanya sampai menggesek-gesek umbai kelentitnya yang semakin mekar memerah membasah ini. Terus menerus menghadapi siksaan ini sekaligus membendung sensasi dari nafsu liar para perampok sadis itu yang memperkosanya secara brutal membuat sang dara terpelanting-pelanting didera orgasmenya kembali. Tubuhnya yang melejang-lejang kencang itu kembali meliuk-liuk dengan sebelah betis indahnya yang berada diudara nan terganjal oleh kedua kaki para pemerkosanya menendang-nendang diudara berikut desahan puncak kenikmatannya dalam bungkaman plester.
"Mmhh! mm.. mmhh!! mmhmmhh!!", jerit dara itu meledak diselingi oleh lekukan tubuhnya yang mengejang dengan seluruh otot diselangkangannya semakin menjepit erat kedua pelir para pemerkosanya itu. Lelaki kedua yang pelirnya berada dianus wanita itu menjadi terlonjak-lonjak menerima sensasi dari empotan lubang dubur korbannya yang tengah mengalami ledakan-ledakan dahsyat orgasmenya untuk yang kesekian kalinya.
"Uhh... uhh.. uohh! aku jug mau kel.. u.. ar.. nih!", jerit lelaki kedua yang rupanya sudah tak tahan menahan orgasmenya pula, apalagi sejak mencobai lobang pantat gadis itu yang terasa sesak luar biasa menjepit pelirnya membuatnya ingin menuntaskan sudah birahinya pada sang korban.
Iapun langsung mencabut keluar pelirnya yang tertanam di anus gadis belia tersebut, bergegas turun dari ranjang dan sambil berdiri merobek plester di mulut korbannya itu lalu membenamkan kejantanannya disana sambil menjambak rambut gadis itu ia menghentak-hentakkan kepala dara belia tersebut untuk ditumbuk-tumbukkan pada selangkangannya yang berbulu lebat itu.
"Ohh..! ahh..! ahh!!",ia memuntahkan seluruh air maninya di mulut sang dara cantik itu yang telah penuh oleh sumpalan pelirnya dan dipaksa pula untuk menelan semua cairan lendir putih kental miliknya yang muncrat-muncrat didalam rongga mulut mungil tersebut.
Semua maninya telah tertelan di kerongkongan perempuan muda ini sudah, dan kembali ia memplester mulut korbannya agar ia tak dapat memuntahi lagi air mani lelaki tersebut. Setelah itu ia mengemasi pakaiannya yang tercecer di lantai kamar untuk kemudian pergi meninggalkan kawannya yang masih asyik mengentoti tubuh gadis itu.
Tinggal tersisa lelaki ketiga dengannya sekarang sepeninggal lelaki kedua tadi dan aku melihat temannya telah menerobos keluar dari pagar rumah tersebut setelah berpakaian lengkap sambil membawa karung hasil rampokkannya pula di kegelapan malam tanpa peduli lagi dengan kawannya. Mungkin mereka tak mau kelihatan bergerombol agar tak dicurigai aksinya oleh pihak berwajib. Kembali aku menyaksikan adegan porno selanjutnya dari lelaki terakhir yang tersisa ini dan wow! Ia kembali membuat tubuh telanjang gadis belia ini dipaksa menungging di depanku dengan pelirnya yang masih tegang mengangguk-angguk setelah berhasil mengalahkan memek dara itu, ia kini balik lagi mencoblos kontolnya ke lubang pantat yang sangat digemarinya ini.
Bersambung . . . .
1 Tragedi malam pengantin - 6
Dengan menggunakan kedua ibu jarinya, lelaki itu menyibakkan bulu-bulu jembut sang gadis belia nan begitu menawan, dikuakkannya belahan bibir vertikal yang berbentuk aluran indah lubang surga itu, membuatku dapat pula menyaksikannya lagi isi dalamnya yang masih lembab dan memerah lengkap beserta kelentit basahnya yang telah membengkak. Menggairahkan sekali isi belahan daging kemaluannya yang direkahkan, sayang sekali aku hanya dapat melihatnya tanpa dapat menyentuh atau merabanya, apalagi menikmatinya. Isi dalam liang sanggama kepunyaan gadis itu masih terdapat sisa-sisa rembesan lendir surgawinya, bibir dalamnya agak berkedut-kedut saat lelaki itu mengintip memeknya, saking takutnya gadis itu tanpa sengaja menggerak-gerakkan otot vaginanya untuk menolak apa yang akan dilakukan sebentar lagi dari lelaki bajingan itu kepadanya.
"Kau adalah gadis tercantik yang kuanggap pantas untuk melayaniku.. bersiaplah sayang.. karena kau akan menemaniku malam ini dan aku akan menikmati keindahan dan kehangatan tubuhmu ini manisku.. ha.. ha.. ha", tawa kemenangan lelaki itu telah di depan mata sudah, seraya menatap tubuh telanjang gadis itu yang kini telah terentang tanpa daya lagi terikat di atas ranjang miliknya sendiri.
Kepala batang kontolnya yang besar dan panjangnya dua kali lipat dari ukuranku itu telah diarahkan tepat pada jalan masuk dari liang sanggama gadis itu yang telah terbuka paksa oleh kedua ibu jarinya. Ujung daging kejantanan lelaki itu kini telah bersentuhan dengan kulit luar dari celah bibir memeknya yang ranum. Lendir diujung pelir lelaki itu telah bertemu dengan lendir vaginanya yang terkuak. Memek gadis itu benar-benar telah terhidang baginya sekarang. Ia akan segera melakukan sesuatu hal yang tak pantas dan sepatutnya disaksikan oleh orang lain terhadap diri gadis itu, dimana ia akan menggauli korbannya itu dengan memasukkan batang pelirnya kedalam liang kewanitaannya sebagai perwujudan dari pelampiasan nafsu binatangnya itu.
Pinggul lelaki itu kini telah terapit oleh sepasang kaki indah milik sang dara yang terikat membentang lebar dalam posisi mengangkang siap untuk segera dibuahi rahimnya. Aku teringat akan lendir yang melekat pada celana dalam gadis itu tadi, bukankah itu menandakan dirinya dalam keadaan subur sekarang? Agaknya lelaki laknat itu memang telah menginginkannya untuk tujuan itu pulakah?
Posisi keduanya kini menggugah birahiku yang sejak tadi juga telah kutahan-tahan, dan inilah saatnya aku juga akan turut menikmati kesenangan lelaki bajingan itu terhadap gadis belia cantik itu,demikian pula halnya dengan diriku. Bukannya rasa iba atau kasihan yang keluar dari dalam lubuk hatiku, namun aku semakin senang dengan penderitaan yang akan dialami seorang gadis belia nan suci yang sebentar lagi akan segera kehilangan keperawanannya bersama lelaki bajingan itu. Kutelanjangi juga diriku dan kejantananku telah kupegang erat dengan tanganku siap pula untuk bermasturbasi sambil menyaksikan tubuh sepasang insan tersebut.
Perlahan lelaki itu menghentakkan pinggulnya untuk yang pertama kalinya, namun gagal! Kepala pelirnya malah meleset ke sisi kiri dari lubang memek gadis itu dan hanya menghantam jembut gadis itu yang rimbun. Kembali lelaki itu menempatkan kontolnya ke lobang memek belia sang dara, tetapi tatkala dihentakkan lagi, masih juga mengalami kegagalan. Pada setiap hentakkannya diiringi jeritan tertahan dari gadis belia nan malang yang tengah dipaksa penuh untuk melewati malam pertamanya bersama lelaki bajingan tersebut.
"Oughh...! Aaghh!", begitulah rintihnya dalam sumpalan celana dalam pada mulutnya.
Meskipun begitu tak membuat lelaki itu menghentikan aksinya, malahan ia semakin terus mengulangi hentakkannya kembali berusaha keras menembus keperawanan dari gadis belia yang menjanjikan sejuta kenikmatan baginya. Berkali-kali ujung kepala batang pelir nan besar lelaki itu terus menghujam kearah jalan masuk lubang surga sang mempelai pengantin wanita ini, namun selalu sia-sia, bahkan kontol lelaki itu seketika berubah arahnya melenceng ke kanan maupun ke kiri, sekali-kali keatas menggesek pangkal klentitnya yang semakin basah oleh birahi nikmat yang mulai ditawarkan lelaki itu padanya, juga kadang meleset kebawah melesak-lesak ke lobang pantatnya serta menyodok pula anusnya.
Begitu sakit! Sangat pedih dan rasa perih yang tak terkira! itulah yang selalu dirasakan gadis itu setiap kali lelaki itu menghentakkan pantatnya berusaha memasukkan batang pelirnya yang tegak penuh dengan urat-urat kejantanannya yang begitu perkasa. Andai kata mulutnya tidak terbungkam seperti sekarang ini, mungkin ia telah mengaduh-aduh meminta ampun kepada lelaki bajingan yang berbuat hal nista ini pada dirinya. Ia hanya pasrah saja menerima perlakuan sang durjana pemetik bunga itu laksana seorang budak nafsu yang rendah dan sangat hina saja layaknya.
Kedua matanya terpejam agak membengkak dan sembab oleh tangisan derai air mata pilu dari hatinya yang telah remuk redam. Betapa tidak..kini sang suami tercintanya telah tewas ditangan perampok-perampok kejam nan buas dan tak berperikemanusiaan ini, sedangkan kini dirinya sedang menghadapi hal yang paling menakutkan bagi hidupnya, yakni ia akan segera kehilangan kehormatannya sebagai wanita baik-baik. Miliknya yang paling berharga dalam kehidupannya yang telah ia jaga dan dirawatnya dengan sangat hati-hati sekali itu, yakni keperawanannya akan ia relakan sesaat lagi dibawah ancaman dan paksaan penuh lelaki tak diundang itu.
Bibir memeknya terasa panas dan membengkak akibat terus menahan kegagalan dari upaya lelaki itu yang memaksa agar dapat segera memasukki tubuh telanjangnya yang sudah terkapar kehabisan tenaga perlawanannya ini. Jari-jari kaki indahnya yang terikat ditiang kelambunya itu tampak mengatup saking menahan rasa nyeri yang melanda bibir kemaluannya, padahal belum lagi pelir lelaki itu menembus kegadisannya. Ternyata begitu sulitnya untuk memerawani seorang wanita di malam pertamanya, meskipun aku melihat dengan mata kepala sendiri betapa kemaluan gadis itu dan kepala pelir lelaki itu telah sama-sama dalam keadaan licin dan basah oleh masing-masing cairan lendir senggamanya. Tadinya aku sama sekali tidak percaya dengan obrolan orang-orang yang baru berhasil memerawani istrinya setelah lewat malam ketujuh, tetapi kini aku tak menyangsikannya lagi hal itu.
Dari balik celah dinding itu aku melihat peluh yang melekat pada tubuh telanjang kedua insan tersebut mulai bercucuran membasahi arena permainan terlarang yang akan tergelar sekaligus menuntaskan hasrat si bajingan tengik itu yang ingin menodai seorang dara belia. Belum lagi kesucian gadis itu terenggut, tubuhku telah kejang-kejang bermandikan keringatku sendiri yang telah didera oleh orgasme si bujang lapuk. Air maniku seketika menyemprot-nyemprot dinding kamarku sendiri akibat tak tahan menyaksikan keintiman mereka, sementara dibalik tembok yang bisu itu disebelah sana masih terlihat usaha lelaki bajingan itu untuk menyetubuhi sang gadis suci. Aku menahan tubuh telanjangku yang telah lemas untuk terus berdiri menyaksikan terus segenap adegan terlarang dari keduanya yang sudah berada diambang pintu kemaksiatan.
Suatu saat entah sudah pada hentakkan untuk yang keberapa kalinya, kepala pelir kejantanan lelaki itu nan begitu perkasa yang selama ini terus masih meleset-leset, kini berhasil tertahan pada kedua belah bibir kemaluan sang gadis muda. Ujung kepala kontolnya tampak telah terjepit dengan daging pelirnya berhasil menempel pada celah lubang memek kepunyaan gadis itu yang masih tampak menganga seukuran ujung jari kelingking orang dewasa.
"Arghh!", jerit gadis itu yang semakin merasa pedih dan ngilu pada bibir belahan organ intimnya yang selama ini sama sekali belum pernah disetubuhi oleh lelaki, selain hanya dipergunakannya sebagai alat untuk keperluan buang air kecil semata saja, tapi kini dipergunakan lelaki itu untuk dijadikan sebagai ajang pelampiasan nafsu badaniahnya yang telah meledak-ledak merambati ubun-ubun kepalanya.
Kesempatan itu tak akan disia-siakan lagi oleh sang lelaki jahanam yang kini telah berada diatas angin dan perlahan-lahan pula daging kepala kejantanannya yang telah separuh terjepit oleh daging memek gadis itu yang memberi sensasi kehangatan pada ujung kontolnya mulai ia benamkan sedikit demi sedikit kedalam lubang surga ditubuh gadis belia yang terkangkang telanjang begitu sangat indahnya menawan hati bagi siapapun yang melihatnya. Lambat laun belahan daging indah berbulu basah gadis itu terkuak mengikuti setiap laju desakkan dari otot-otot keperkasaan lelaki itu yang menyeruak kedalam isi lubang sanggamanya diikuti pula dengan jepitan selaput daranya yang mulai mengurut-urut daging kepala pelir itu.
"Slep.. slep.. blessek..!", begitulah bunyi decikkan pertemuan kedua kelamin itu yang kudengar begitu vulgar dan penuh erotis membangkitkan adrenalinku.
Lelaki itu benar-benar meresapi sensasi luar biasa akibat jepitan selaput dara sang gadis jelita yang masih muda belia ini dan akhirnya perlahan tapi pasti pangkal kejantanannya yang dihiasi oleh kedua biji pelirnya telah melekat pada bongkahan pantat bagian bawah selangkangan gadis itu serta melekat disitu menutupi lubang anusnya. Ini berarti tubuh keduanya telah menyatu sudah dan kepala zakar lelaki itu telah menembus pula sampai mentok ke dasar liang kegadisan sang pengantin wanita yang masih sangat muda ini, tetapi telah cukup matang untuk digauli lelaki.
Bersambung . .. .
"Kau adalah gadis tercantik yang kuanggap pantas untuk melayaniku.. bersiaplah sayang.. karena kau akan menemaniku malam ini dan aku akan menikmati keindahan dan kehangatan tubuhmu ini manisku.. ha.. ha.. ha", tawa kemenangan lelaki itu telah di depan mata sudah, seraya menatap tubuh telanjang gadis itu yang kini telah terentang tanpa daya lagi terikat di atas ranjang miliknya sendiri.
Kepala batang kontolnya yang besar dan panjangnya dua kali lipat dari ukuranku itu telah diarahkan tepat pada jalan masuk dari liang sanggama gadis itu yang telah terbuka paksa oleh kedua ibu jarinya. Ujung daging kejantanan lelaki itu kini telah bersentuhan dengan kulit luar dari celah bibir memeknya yang ranum. Lendir diujung pelir lelaki itu telah bertemu dengan lendir vaginanya yang terkuak. Memek gadis itu benar-benar telah terhidang baginya sekarang. Ia akan segera melakukan sesuatu hal yang tak pantas dan sepatutnya disaksikan oleh orang lain terhadap diri gadis itu, dimana ia akan menggauli korbannya itu dengan memasukkan batang pelirnya kedalam liang kewanitaannya sebagai perwujudan dari pelampiasan nafsu binatangnya itu.
Pinggul lelaki itu kini telah terapit oleh sepasang kaki indah milik sang dara yang terikat membentang lebar dalam posisi mengangkang siap untuk segera dibuahi rahimnya. Aku teringat akan lendir yang melekat pada celana dalam gadis itu tadi, bukankah itu menandakan dirinya dalam keadaan subur sekarang? Agaknya lelaki laknat itu memang telah menginginkannya untuk tujuan itu pulakah?
Posisi keduanya kini menggugah birahiku yang sejak tadi juga telah kutahan-tahan, dan inilah saatnya aku juga akan turut menikmati kesenangan lelaki bajingan itu terhadap gadis belia cantik itu,demikian pula halnya dengan diriku. Bukannya rasa iba atau kasihan yang keluar dari dalam lubuk hatiku, namun aku semakin senang dengan penderitaan yang akan dialami seorang gadis belia nan suci yang sebentar lagi akan segera kehilangan keperawanannya bersama lelaki bajingan itu. Kutelanjangi juga diriku dan kejantananku telah kupegang erat dengan tanganku siap pula untuk bermasturbasi sambil menyaksikan tubuh sepasang insan tersebut.
Perlahan lelaki itu menghentakkan pinggulnya untuk yang pertama kalinya, namun gagal! Kepala pelirnya malah meleset ke sisi kiri dari lubang memek gadis itu dan hanya menghantam jembut gadis itu yang rimbun. Kembali lelaki itu menempatkan kontolnya ke lobang memek belia sang dara, tetapi tatkala dihentakkan lagi, masih juga mengalami kegagalan. Pada setiap hentakkannya diiringi jeritan tertahan dari gadis belia nan malang yang tengah dipaksa penuh untuk melewati malam pertamanya bersama lelaki bajingan tersebut.
"Oughh...! Aaghh!", begitulah rintihnya dalam sumpalan celana dalam pada mulutnya.
Meskipun begitu tak membuat lelaki itu menghentikan aksinya, malahan ia semakin terus mengulangi hentakkannya kembali berusaha keras menembus keperawanan dari gadis belia yang menjanjikan sejuta kenikmatan baginya. Berkali-kali ujung kepala batang pelir nan besar lelaki itu terus menghujam kearah jalan masuk lubang surga sang mempelai pengantin wanita ini, namun selalu sia-sia, bahkan kontol lelaki itu seketika berubah arahnya melenceng ke kanan maupun ke kiri, sekali-kali keatas menggesek pangkal klentitnya yang semakin basah oleh birahi nikmat yang mulai ditawarkan lelaki itu padanya, juga kadang meleset kebawah melesak-lesak ke lobang pantatnya serta menyodok pula anusnya.
Begitu sakit! Sangat pedih dan rasa perih yang tak terkira! itulah yang selalu dirasakan gadis itu setiap kali lelaki itu menghentakkan pantatnya berusaha memasukkan batang pelirnya yang tegak penuh dengan urat-urat kejantanannya yang begitu perkasa. Andai kata mulutnya tidak terbungkam seperti sekarang ini, mungkin ia telah mengaduh-aduh meminta ampun kepada lelaki bajingan yang berbuat hal nista ini pada dirinya. Ia hanya pasrah saja menerima perlakuan sang durjana pemetik bunga itu laksana seorang budak nafsu yang rendah dan sangat hina saja layaknya.
Kedua matanya terpejam agak membengkak dan sembab oleh tangisan derai air mata pilu dari hatinya yang telah remuk redam. Betapa tidak..kini sang suami tercintanya telah tewas ditangan perampok-perampok kejam nan buas dan tak berperikemanusiaan ini, sedangkan kini dirinya sedang menghadapi hal yang paling menakutkan bagi hidupnya, yakni ia akan segera kehilangan kehormatannya sebagai wanita baik-baik. Miliknya yang paling berharga dalam kehidupannya yang telah ia jaga dan dirawatnya dengan sangat hati-hati sekali itu, yakni keperawanannya akan ia relakan sesaat lagi dibawah ancaman dan paksaan penuh lelaki tak diundang itu.
Bibir memeknya terasa panas dan membengkak akibat terus menahan kegagalan dari upaya lelaki itu yang memaksa agar dapat segera memasukki tubuh telanjangnya yang sudah terkapar kehabisan tenaga perlawanannya ini. Jari-jari kaki indahnya yang terikat ditiang kelambunya itu tampak mengatup saking menahan rasa nyeri yang melanda bibir kemaluannya, padahal belum lagi pelir lelaki itu menembus kegadisannya. Ternyata begitu sulitnya untuk memerawani seorang wanita di malam pertamanya, meskipun aku melihat dengan mata kepala sendiri betapa kemaluan gadis itu dan kepala pelir lelaki itu telah sama-sama dalam keadaan licin dan basah oleh masing-masing cairan lendir senggamanya. Tadinya aku sama sekali tidak percaya dengan obrolan orang-orang yang baru berhasil memerawani istrinya setelah lewat malam ketujuh, tetapi kini aku tak menyangsikannya lagi hal itu.
Dari balik celah dinding itu aku melihat peluh yang melekat pada tubuh telanjang kedua insan tersebut mulai bercucuran membasahi arena permainan terlarang yang akan tergelar sekaligus menuntaskan hasrat si bajingan tengik itu yang ingin menodai seorang dara belia. Belum lagi kesucian gadis itu terenggut, tubuhku telah kejang-kejang bermandikan keringatku sendiri yang telah didera oleh orgasme si bujang lapuk. Air maniku seketika menyemprot-nyemprot dinding kamarku sendiri akibat tak tahan menyaksikan keintiman mereka, sementara dibalik tembok yang bisu itu disebelah sana masih terlihat usaha lelaki bajingan itu untuk menyetubuhi sang gadis suci. Aku menahan tubuh telanjangku yang telah lemas untuk terus berdiri menyaksikan terus segenap adegan terlarang dari keduanya yang sudah berada diambang pintu kemaksiatan.
Suatu saat entah sudah pada hentakkan untuk yang keberapa kalinya, kepala pelir kejantanan lelaki itu nan begitu perkasa yang selama ini terus masih meleset-leset, kini berhasil tertahan pada kedua belah bibir kemaluan sang gadis muda. Ujung kepala kontolnya tampak telah terjepit dengan daging pelirnya berhasil menempel pada celah lubang memek kepunyaan gadis itu yang masih tampak menganga seukuran ujung jari kelingking orang dewasa.
"Arghh!", jerit gadis itu yang semakin merasa pedih dan ngilu pada bibir belahan organ intimnya yang selama ini sama sekali belum pernah disetubuhi oleh lelaki, selain hanya dipergunakannya sebagai alat untuk keperluan buang air kecil semata saja, tapi kini dipergunakan lelaki itu untuk dijadikan sebagai ajang pelampiasan nafsu badaniahnya yang telah meledak-ledak merambati ubun-ubun kepalanya.
Kesempatan itu tak akan disia-siakan lagi oleh sang lelaki jahanam yang kini telah berada diatas angin dan perlahan-lahan pula daging kepala kejantanannya yang telah separuh terjepit oleh daging memek gadis itu yang memberi sensasi kehangatan pada ujung kontolnya mulai ia benamkan sedikit demi sedikit kedalam lubang surga ditubuh gadis belia yang terkangkang telanjang begitu sangat indahnya menawan hati bagi siapapun yang melihatnya. Lambat laun belahan daging indah berbulu basah gadis itu terkuak mengikuti setiap laju desakkan dari otot-otot keperkasaan lelaki itu yang menyeruak kedalam isi lubang sanggamanya diikuti pula dengan jepitan selaput daranya yang mulai mengurut-urut daging kepala pelir itu.
"Slep.. slep.. blessek..!", begitulah bunyi decikkan pertemuan kedua kelamin itu yang kudengar begitu vulgar dan penuh erotis membangkitkan adrenalinku.
Lelaki itu benar-benar meresapi sensasi luar biasa akibat jepitan selaput dara sang gadis jelita yang masih muda belia ini dan akhirnya perlahan tapi pasti pangkal kejantanannya yang dihiasi oleh kedua biji pelirnya telah melekat pada bongkahan pantat bagian bawah selangkangan gadis itu serta melekat disitu menutupi lubang anusnya. Ini berarti tubuh keduanya telah menyatu sudah dan kepala zakar lelaki itu telah menembus pula sampai mentok ke dasar liang kegadisan sang pengantin wanita yang masih sangat muda ini, tetapi telah cukup matang untuk digauli lelaki.
Bersambung . .. .
1 Tragedi malam pengantin - 7
Bajingan itu terus menikmati jepitan dinding kemaluan gadis itu beserta selaput keperawanannya dan ia terus bertahan disitu tanpa melakukan satu gerakan apapun terlebih dahulu. Pertama, ia masih belum rela melepaskan kenikmatannya yang tak terlukiskan oleh kata-kata tatkala dinding keperawanan gadis korbannya itu sangat memberi kelembutan serta kehangatan yang tiada terkira untuknya, sebab ia tahu apabila begitu batang pelir yang telah terbenam seluruhnya kini ke dalam dasar kemaluan dara itu ia tarik ataupun dicabut, maka kesuciannya akan terenggut sudah.
Rasanya tak ada satu kenikmatan apapun di belahan bumi ini yang mampu menandingi ataupun menyamai dari nikmatnya kala bersetubuh dengan seorang wanita yang masih perawan. Dan yang kedua, ia memberi nafas kepada gadis belia yang ditidurinya itu agar memeknya dapat menyesuaikan diri terlebih dahulu dengan ukuran kontolnya yang begitu sangat besar merangsang, sehingga terlihat bibir kemaluannya telah ikut melesak masuk kedalam pula tatkala dipaksa harus menelan batang penis lelaki itu yang kini sudah menancap pada vaginanya disela-sela kedua belah pahanya yang terbuka.
Kenikmatan demi kenikmatan yang dirasakan oleh bajingan itu ternyata sangat bertolak belakang sekali dengan apa yang dirasakan gadis muda belia itu kini. Ia yang baru kali ini di sebadani oleh seorang lelaki begitu merasakan kesakitan yang amat tak terperikan. Jeritannya yang teredam sumpalan kain celdamnya begitu terdengar berulang kali seakan tiada henti mengiringi kemenangan lelaki perkasa itu yang berhasil menaklukkannya dan membuat gadis itu dengan terpaksa merelakan keperawanannya tanpa ampun dibawah dekapan lelaki bajingan yang memperkosanya secara brutal ini.
Sementara rambut hitam panjang sebahu milik gadis itu seakan terlecut-lecut mengikuti arah kepalanya yang terus terbanting-banting di atas kasur putih ranjang pengantinnya ke kiri dan ke kanan seakan tak rela atas apa yang terjadi menimpa dirinya ini. Linangan air matanya turun berderai lagi membasahi kembali kedua pipi mulusnya serta mengisi alur bekas air mata lalunya yang telah mengering dan kini telah tergantikan.
Didekapnya tubuh telanjang dari gadis belia yang kini berada dibawahnya dan dada bidang perkasa nan sarat dengan bulu-bule lebatnya itu menekan kedua belah payudara korbannya. Wajah lelaki itu menelusuri leher jenjang kanan yang begitu halusnya dari si wanita sehingga membuat kepala wanita tak lagi dapat bergolek kesana kemari.
Dijilatinya leher jenjang sang perawan itu dengan rakusnya dari pangkal telinga sampai pundak kanannya, melumuri area itu dengan air liur kemenangannya. Puting susu sebelah kiri gadis itu yang semakin mekar ranum memerah dipilin oleh pertemuan ibu jari dan telunjuk tangan kanannya yang kasar, dengan gencar diremas-remasnya bongkahan daging susu yang masih mencuat indah keatas dan sama sekali belum kelihatan turun sama sekali serta masih berbentuk bulat kenyal dan memadat indah mempesona nan menghiasi bagian dadanya yang jatuh dalam dekapan sang pria jahanam itu.
Celana dalam yang tersumpal di belahan mulut mungilnya ditarik lepas dan langsung tergantikan oleh ciuman ganas penuh birahi yang luar biasa buas dari sang durjana kepada korbannya sebelum gadis itu sempat mengeluarkan erangan dan rintihannya kembali. Kedua bibir dari insan berlainan jenis ini bertemu seketika dalam peraduan adegan indah persetubuhan nan terlarang itu. Lidah lelaki itu telah memasukki rongga mulut mungil sang dara yang terpejam erat dan menari-nari di dalamnya berusaha mengait-ngait lidah wanita yang masih belia tersebut nan telah dicicipi kehangatan dan kelembutannya saat tadi mengulum batang zakarnya.
Terus didera bertubi-tubi ciuman sang lelaki, kini sang dara hanya bisa pasrah merelakan lidahnya yang telah dikaitkan oleh tarian lidah lelaki tersebut yang elastis, kadang bisa dibuat tegang kaku saat waktu lalu digunakan menyodok-nyodok celah lubang duburnya, kadang pula lemas seperti tali yang meliuk-liuk maupun mengait lidah mungilnya kini. Setelah dirasanya telah puas mencicipi keperawanan sang dara, kini kontol yang cukup lama terbenam di dasar memek itu kini ditariknya perlahan dan kedua jembut mereka yang tadinya melekat erat seakan telah menjadi satu itu mulai terpisah ruah.
"Psshh...! sleph.. wes hewess..!", suara yang ditimbulkan dari pelepasan batang pelir yang tertancap pada kemaluan sang perawan itu begitu sangat khas sekali di telinga dan proses terenggutnya kesucian gadis itu dimulailah.
Kini seiring dengan pergerakan urat intim lelaki jahanam itu yang telah keluar sepertiga dari ukuran batangnya dari dalam belahan intim kemaluan gadis itu yang merekah membuat bibir-bibir vagina korbannya menjadi ikut tertarik sampai monyong kedepan. Bersamaan itu pula dari sela-sela lubang memeknya dimana kulit-kulit kontol bajingan itu bersarang didalamnya, kini tampak berkilat-kilat basah oleh lendir vaginanya yang melumasi jajaran tonggak daging pelirnya mulai menetes darah segar kesuciannya yang pada akhirnya berhasil direnggut paksa jua dari tubuhnya.
"Mmpphff! Ugh! Ughff!!", itulah suara rintihan dari seorang dara yang terdengar saat keperawannya telah terenggut seutuhnya oleh sang lelaki maniak durjana pemetik bunga nan penuh nista ini, sementara sela-sela vaginanya yang telah diluluh lantakkan itu masih berdesis-desis tatkala melepaskan batang pelir lelaki tersebut dari dasar peranakkannya diiringi senyum kemenangan kepala rampok itu.
Betapa hancur hati sang dara itu kini, tangisan pilunya mewarnai tragedi di malam pengantinnya ini mengiringi kepergian sang suami tercinta yang telah pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya, sedangkan dirinya kini telah jatuh dalam pelukan lelaki lain yang sama sekali tak dikenal apalagi dicintainya, namun tubuhnya telah menjadi satu dengan jahanam itu dan semua yang ada diketelanjangannya berbaur sudah. Tak ubahnya tubuh gadis itu adalah tubuh lelaki itu, demikian pula sebaliknya, tubuh lelaki itu adalah merupakan bagian dari tubuhnya kini. Ya! Mereka telah menjadi satu tubuh sekarang dalam adegan yang hanya pantas dilakukan oleh seorang lelaki dan seorang perempuan nan telah dewasa dalam ikatan benang merah perkawinan.
Mulut lelaki itu melahap belahan payudara kanan gadis itu dan menelan puting susunya sekaligus, lalu disedot-sedot dengan buas penuh dengan nafsu hewaniah. Tubuh telanjang gadis itu sampai menggeliat-liat dibuatnya seiring dengan dimulainya hentakkan pinggul lelaki itu diantara kedua kaki indah nan mengangkang menggetarkan hatiku itu. Aku berkhayal andaikata saja gadis ini menjadi istriku, maka aku akan meminta jatah ranjang padanya setiap malam, dan aku akan meningkatkan staminaku untuk membahagiakannya. Mungkin madu dan telor akan menjadi menuku sehari-hari dan aku akan mengenjot terus tubuh telanjang mudanya yang aduhai begitu sempurna keindahannya bagaikan seorang dewi yang turun dari langit saja layaknya sampai sang pagi datang menjelang.
Ikatan tambang yang mengikat erat kedua kakinya ini kini dilepaskan oleh lelaki durjana itu, karena ia telah yakin bahwa kini korbannya telah takluk pada kejantanannya. Derai-derai air mata di pipi mulusnya itu telah dibersihkan pula oleh telapak tangannya yang kekar. Sepasang betisnya yang masih mulus terbentang kencang itu kini dikepitnya diantara kedua ketiak dari lengan perkasanya kiri dan kanan. Kaki-kaki indah yang terjepit ketiak itu tampak bergerak-gerak seiring hujaman lelaki bajingan itu pada lubang memeknya dan tubuhnya yang sudah bermandikan oleh peluh persebadanannya itu terhempas-hempas dibuatnya.
Oh seperti inikah yang dinamakan kenikmatan dari surga dunia? Saat kontol lelaki itu keluar masuk di lubang kenikmatan si wanita? Tapi yang pasti aku sangat yakin sekali kenikmatannya tak sebanding dengan diriku yang hanya bisa beronani saja, padahal aku yang hanya menonton saja adegan nikmat itu berlangsung sudah sedemikian nikmatnya, apalagi bila aku yang melakukannya terhadap gadis itu?
Dengan posisi setengah jongkok lelaki jahanam itu terus menggenjot tubuh belia yang masih begitu kencang dan padat diusia mudanya. Kedua tungkai paha gadis itu kini ditekan oleh kedua tangannya sehingga kangkangannya semakin jelas dan lebar dimataku dengan kedua tumit kaki indahnya bertumpu pada kedua belah pundak berkulit gelap sang pemimpin perampok tersebut. Wajah cantiknya yang tergerai rambut hitam panjangnya semakin tengadah membelakangiku hingga aku hanya dapat melihat dagu lancipnya saja nan cantik mempesona itu. Kedua kakinya semakin tertarik keatas bertopang pada pundak kiri dan kanan sang lelaki jahanam yang telah leluasa menikmati kehangatan tubuh mudanya itu.
Dalam posisi yang sebegitu rupa ini membuat bongkahan dari pantat gadis yang berkulit putih mulus licin itu semakin mencuat keatas mempertontonkan lonjakan-lonjakan kejantanan lelaki itu yang masih terlihat seret keluar masuk pada memeknya. Kedua biji pelir lelaki itu yang terpontang-panting menabrak-nabrak jalan masuk lobang pantatnya semakin nyata mengiringi lelehan lendir kewanitaannya yang telah bercampur aduk dengan darah kesuciannya nan terus menggenangi mulut vaginanya dan dijadikan bulan-bulanan olehnya.
Bersambung . . .
Rasanya tak ada satu kenikmatan apapun di belahan bumi ini yang mampu menandingi ataupun menyamai dari nikmatnya kala bersetubuh dengan seorang wanita yang masih perawan. Dan yang kedua, ia memberi nafas kepada gadis belia yang ditidurinya itu agar memeknya dapat menyesuaikan diri terlebih dahulu dengan ukuran kontolnya yang begitu sangat besar merangsang, sehingga terlihat bibir kemaluannya telah ikut melesak masuk kedalam pula tatkala dipaksa harus menelan batang penis lelaki itu yang kini sudah menancap pada vaginanya disela-sela kedua belah pahanya yang terbuka.
Kenikmatan demi kenikmatan yang dirasakan oleh bajingan itu ternyata sangat bertolak belakang sekali dengan apa yang dirasakan gadis muda belia itu kini. Ia yang baru kali ini di sebadani oleh seorang lelaki begitu merasakan kesakitan yang amat tak terperikan. Jeritannya yang teredam sumpalan kain celdamnya begitu terdengar berulang kali seakan tiada henti mengiringi kemenangan lelaki perkasa itu yang berhasil menaklukkannya dan membuat gadis itu dengan terpaksa merelakan keperawanannya tanpa ampun dibawah dekapan lelaki bajingan yang memperkosanya secara brutal ini.
Sementara rambut hitam panjang sebahu milik gadis itu seakan terlecut-lecut mengikuti arah kepalanya yang terus terbanting-banting di atas kasur putih ranjang pengantinnya ke kiri dan ke kanan seakan tak rela atas apa yang terjadi menimpa dirinya ini. Linangan air matanya turun berderai lagi membasahi kembali kedua pipi mulusnya serta mengisi alur bekas air mata lalunya yang telah mengering dan kini telah tergantikan.
Didekapnya tubuh telanjang dari gadis belia yang kini berada dibawahnya dan dada bidang perkasa nan sarat dengan bulu-bule lebatnya itu menekan kedua belah payudara korbannya. Wajah lelaki itu menelusuri leher jenjang kanan yang begitu halusnya dari si wanita sehingga membuat kepala wanita tak lagi dapat bergolek kesana kemari.
Dijilatinya leher jenjang sang perawan itu dengan rakusnya dari pangkal telinga sampai pundak kanannya, melumuri area itu dengan air liur kemenangannya. Puting susu sebelah kiri gadis itu yang semakin mekar ranum memerah dipilin oleh pertemuan ibu jari dan telunjuk tangan kanannya yang kasar, dengan gencar diremas-remasnya bongkahan daging susu yang masih mencuat indah keatas dan sama sekali belum kelihatan turun sama sekali serta masih berbentuk bulat kenyal dan memadat indah mempesona nan menghiasi bagian dadanya yang jatuh dalam dekapan sang pria jahanam itu.
Celana dalam yang tersumpal di belahan mulut mungilnya ditarik lepas dan langsung tergantikan oleh ciuman ganas penuh birahi yang luar biasa buas dari sang durjana kepada korbannya sebelum gadis itu sempat mengeluarkan erangan dan rintihannya kembali. Kedua bibir dari insan berlainan jenis ini bertemu seketika dalam peraduan adegan indah persetubuhan nan terlarang itu. Lidah lelaki itu telah memasukki rongga mulut mungil sang dara yang terpejam erat dan menari-nari di dalamnya berusaha mengait-ngait lidah wanita yang masih belia tersebut nan telah dicicipi kehangatan dan kelembutannya saat tadi mengulum batang zakarnya.
Terus didera bertubi-tubi ciuman sang lelaki, kini sang dara hanya bisa pasrah merelakan lidahnya yang telah dikaitkan oleh tarian lidah lelaki tersebut yang elastis, kadang bisa dibuat tegang kaku saat waktu lalu digunakan menyodok-nyodok celah lubang duburnya, kadang pula lemas seperti tali yang meliuk-liuk maupun mengait lidah mungilnya kini. Setelah dirasanya telah puas mencicipi keperawanan sang dara, kini kontol yang cukup lama terbenam di dasar memek itu kini ditariknya perlahan dan kedua jembut mereka yang tadinya melekat erat seakan telah menjadi satu itu mulai terpisah ruah.
"Psshh...! sleph.. wes hewess..!", suara yang ditimbulkan dari pelepasan batang pelir yang tertancap pada kemaluan sang perawan itu begitu sangat khas sekali di telinga dan proses terenggutnya kesucian gadis itu dimulailah.
Kini seiring dengan pergerakan urat intim lelaki jahanam itu yang telah keluar sepertiga dari ukuran batangnya dari dalam belahan intim kemaluan gadis itu yang merekah membuat bibir-bibir vagina korbannya menjadi ikut tertarik sampai monyong kedepan. Bersamaan itu pula dari sela-sela lubang memeknya dimana kulit-kulit kontol bajingan itu bersarang didalamnya, kini tampak berkilat-kilat basah oleh lendir vaginanya yang melumasi jajaran tonggak daging pelirnya mulai menetes darah segar kesuciannya yang pada akhirnya berhasil direnggut paksa jua dari tubuhnya.
"Mmpphff! Ugh! Ughff!!", itulah suara rintihan dari seorang dara yang terdengar saat keperawannya telah terenggut seutuhnya oleh sang lelaki maniak durjana pemetik bunga nan penuh nista ini, sementara sela-sela vaginanya yang telah diluluh lantakkan itu masih berdesis-desis tatkala melepaskan batang pelir lelaki tersebut dari dasar peranakkannya diiringi senyum kemenangan kepala rampok itu.
Betapa hancur hati sang dara itu kini, tangisan pilunya mewarnai tragedi di malam pengantinnya ini mengiringi kepergian sang suami tercinta yang telah pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya, sedangkan dirinya kini telah jatuh dalam pelukan lelaki lain yang sama sekali tak dikenal apalagi dicintainya, namun tubuhnya telah menjadi satu dengan jahanam itu dan semua yang ada diketelanjangannya berbaur sudah. Tak ubahnya tubuh gadis itu adalah tubuh lelaki itu, demikian pula sebaliknya, tubuh lelaki itu adalah merupakan bagian dari tubuhnya kini. Ya! Mereka telah menjadi satu tubuh sekarang dalam adegan yang hanya pantas dilakukan oleh seorang lelaki dan seorang perempuan nan telah dewasa dalam ikatan benang merah perkawinan.
Mulut lelaki itu melahap belahan payudara kanan gadis itu dan menelan puting susunya sekaligus, lalu disedot-sedot dengan buas penuh dengan nafsu hewaniah. Tubuh telanjang gadis itu sampai menggeliat-liat dibuatnya seiring dengan dimulainya hentakkan pinggul lelaki itu diantara kedua kaki indah nan mengangkang menggetarkan hatiku itu. Aku berkhayal andaikata saja gadis ini menjadi istriku, maka aku akan meminta jatah ranjang padanya setiap malam, dan aku akan meningkatkan staminaku untuk membahagiakannya. Mungkin madu dan telor akan menjadi menuku sehari-hari dan aku akan mengenjot terus tubuh telanjang mudanya yang aduhai begitu sempurna keindahannya bagaikan seorang dewi yang turun dari langit saja layaknya sampai sang pagi datang menjelang.
Ikatan tambang yang mengikat erat kedua kakinya ini kini dilepaskan oleh lelaki durjana itu, karena ia telah yakin bahwa kini korbannya telah takluk pada kejantanannya. Derai-derai air mata di pipi mulusnya itu telah dibersihkan pula oleh telapak tangannya yang kekar. Sepasang betisnya yang masih mulus terbentang kencang itu kini dikepitnya diantara kedua ketiak dari lengan perkasanya kiri dan kanan. Kaki-kaki indah yang terjepit ketiak itu tampak bergerak-gerak seiring hujaman lelaki bajingan itu pada lubang memeknya dan tubuhnya yang sudah bermandikan oleh peluh persebadanannya itu terhempas-hempas dibuatnya.
Oh seperti inikah yang dinamakan kenikmatan dari surga dunia? Saat kontol lelaki itu keluar masuk di lubang kenikmatan si wanita? Tapi yang pasti aku sangat yakin sekali kenikmatannya tak sebanding dengan diriku yang hanya bisa beronani saja, padahal aku yang hanya menonton saja adegan nikmat itu berlangsung sudah sedemikian nikmatnya, apalagi bila aku yang melakukannya terhadap gadis itu?
Dengan posisi setengah jongkok lelaki jahanam itu terus menggenjot tubuh belia yang masih begitu kencang dan padat diusia mudanya. Kedua tungkai paha gadis itu kini ditekan oleh kedua tangannya sehingga kangkangannya semakin jelas dan lebar dimataku dengan kedua tumit kaki indahnya bertumpu pada kedua belah pundak berkulit gelap sang pemimpin perampok tersebut. Wajah cantiknya yang tergerai rambut hitam panjangnya semakin tengadah membelakangiku hingga aku hanya dapat melihat dagu lancipnya saja nan cantik mempesona itu. Kedua kakinya semakin tertarik keatas bertopang pada pundak kiri dan kanan sang lelaki jahanam yang telah leluasa menikmati kehangatan tubuh mudanya itu.
Dalam posisi yang sebegitu rupa ini membuat bongkahan dari pantat gadis yang berkulit putih mulus licin itu semakin mencuat keatas mempertontonkan lonjakan-lonjakan kejantanan lelaki itu yang masih terlihat seret keluar masuk pada memeknya. Kedua biji pelir lelaki itu yang terpontang-panting menabrak-nabrak jalan masuk lobang pantatnya semakin nyata mengiringi lelehan lendir kewanitaannya yang telah bercampur aduk dengan darah kesuciannya nan terus menggenangi mulut vaginanya dan dijadikan bulan-bulanan olehnya.
Bersambung . . .
0 Tragedi malam pengantin - 8
Cairan surgawi kepunyaan gadis itu telah merembes sampai membasahi lubang anusnya yang begitu kecil tak berdaya nan berwarna merah muda sungguh menawan hati ini beserta bercak-bercak darah keperawanannya yang telah direnggut serta dicicipi lendir madunya itu. Ranjang mahligai indah kamar pelaminan yang menjadi tempat tumpuan adegan persetubuhan mereka itupun mulai berderit-derit seiring dengan suara decakan peret pada lubang kemaluan dara yang digagahi oleh kepala bajingan zina ini.
"Ough... ohh.. ohh.. ternyata enak sekali memekmu ini sayang.. Ohh.. ohh.. sempit sekali sihh..? masih peret nihh Uhh.. Ohh... Ouh", seloroh bangsat itu diantara tarian maksiatnya menikmati kehangatan daging belia korbannya ini.
"Ahh...! ahh..! aduhh..! perih Mas.. Oh.. oh.. jangan keras-keras.. uhh.. ahh", pinta dara itu akhirnya.
"Enak sayang?! Hah?! Bagaimana sekarang?! Masih sakit yach?! aduh kasihan.. tahan sebentar yahh manisku? Ohh.. ohh.. Ouh..", balas lelaki itu yang asyik mengentoti memeknya di hadapanku.
"Sshh.. ahh... sshh.. ohh.. pelan-pelan mas.. ahh.. ahh.. ahh", pintanya di sela-sela tubuhnya yang terhentak-hentak tanpa perlawanan lagi. Senang sekali sang bajingan itu mendapati korbannya kini telah pasrah melayani keinginannya.
"Jangan ditahan terus dong kontolku ini sayang.. terima saja apa adanya.. lebarkan kakimu supaya tidak terlalu sakit lagi manisku.. ohh.. ohh.. legit sekali kepunyaanmu ini.. ohh", perintah bangsat itu yang kiranya langsung dipatuhi oleh gadis cantik yang semakin membuka rentangan kakinya hingga semakin jelas bibir memeknya yang melesak ke dalam dan memonyong ke depan mengikuti hunjaman pelir besar yang tertanam didalam isi belahan daging surganya menghadapku.
Liang anus gadis itu juga turut mengembang dan menguncup terkena pukulan-pukulan kedua biji pelir lelaki jantan itu yang terbanting-banting di bongkahan pantat dara itu yang mungil mengangkang seakan sengaja ia mempertontonkan miliknya yang indah namun terlarang itu kepada diriku.
Kedua tubuh itu terus bergumul seakan tak peduli lagi akan keadaan malam yang semakin larut dalam keheningannya, seakan tak terpisahkan lagi dalam gelora nafsu membara yang menyala-nyala dikamar yang telah pengap dan sesak oleh permainan asmara nista berbirahi hina ini. Meskipun telah lewat masa seperempat jam berlalu, namun tak membuat lelaki perkasa itu mengendorkan goyangan pinggulnya dan terus melesak-lesakkan pelirnya mengaduk-aduk isi dalam lubang kemaluan dara itu yang telah sembab membengkak dan semakin memerah warnanya.
Bahkan ketika aku mendekatkan hidungku pada lubang dinding kamarku, ternyata lewat endusan nafasku aku dapat pula membaui aroma rasa dari memek gadis itu yang telah sembab membasah dan ini pengalaman pertamaku dapat mencium bau pesing memikat nikmat yang khas dari celah memek seorang wanita nan masih begitu muda belia ini setelah berhasil membedakannya dari aroma pekat batang pelir lelaki itu. Bau-bau itu menyatu menghasilkan sensasi aroma persetubuhan yang melenakan aku untuk terus membuka mata pada malam yang telah larut itu.
Tak lama kulihat tubuh telanjang gadis itu yang berada dibawahnya terlejang-lejang kencang seiring dengan luapan puncak orgasmenya yang kedua. Perut rampingnya yang dihiasi pusarnya nan begitu indah tampak berkedut-kedut mengikuti gelinjangan tubuh bugilnya tanpa sehelaipun kain menutupi kulitnya lagi. Kedua kakinya kini menendang-nendang di udara menahan luapan puncak kenikmatannya yang melanda sekujur tubuh polosnya itu dan belum lagi kelojotan dara itu terhenti, lelaki itu segera mencabut pelirnya dari dalam lubang memeknya yang tengah bergetar didera arus birahi sanggamanya.
"Wess hewess.. poof!!", begitulah suara yang dihasilkan saat pelir kejantanan lelaki itu dicabut dari jepitan lubang kemaluan sang dara yang telah kehilangan keperawanannya ini.
Sekujur kulit luar dari kontol nan demikian perkasanya penuh dengan lelehan lendir memek yang bercampur dengan lumuran darah segar kesucian sang dara cantik itu yang belepotan melumuri tonggak daging kejantanannya yang masih mengacung tegak mengangguk-angguk. Kedua tungkai kaki gadis itu di angkat keatas tinggi-tinggi dari ranjang pelaminannya sehingga ujung jari kaki yang dihiasi kutek bening transparant itu terjuntai indah menggantung tanpa daya. Kedua otot dari jari-jari kaki indahnya mengatup dan membuka sangat cepat sekali bergantian membendung gelora birahinya yang kembali telah berhasil dibangkitkan oleh lelaki itu. Bongkahan pantatnya terhidang jelas tepat berada pada wajah lelaki itu yang menadahkan lidahnya pada perbatasan antara belahan bibir memek gadis tersebut dengan daerah duburnya dan ia tempelkan disitu.
Berikutnya dari mulut vaginanya yang kini sudah tak berbentuk garis vertikal yang sempit seperti tadi itu, malah kini telah terpecah menjadi dua garis bergelombang dengan kelentitnya yang bengap dan basah itu terkuak sejelas-jelasnya disertai oleh lelehan lendir memeknya keluar dari lubang senggamanya nan semakin merekah menjadi sebesar ukuran sebutir telur burung puyuh. Cairan yang keluar dari memek itu langsung ditelan oleh lelaki itu dengan rakusnya bak orang yang tengah kehausan nan amat sangat. Dengan lahapnya jilatan lidah lelaki itu sampai menyeruak-ruak kedalam isi belahan memek korbannya, menyapu segenap dinding bagian dalam vagina gadis malang itu sampai licin tandas tanpa tersisa sedikitpun.
Tubuh telanjang dara itu kini terjerembab pada hamparan kain sprei putih ranjangnya yang terbentang awut-awutan disana sini dan ditengahnya telah terdapat noda darah dari kesuciannya pula selain dibasahi oleh keringat keduanya dan juga lendir-lendir yang berasal dari kedua kelamin yang berbeda jenisnya tersebut. Keletihan yang amat sangat mendera tubuhnya kini yang telah lusuh tanpa tenaga lagi, seakan tulang-tulangnya telah terlolosi semuanya. Belum lagi usai mengatur helaan nafasnya yang masih menderu-deru, tetapi kini tubuh telanjang gadis itu yang rmaping itu dibalikkan secara paksa oleh lelaki itu sehingga tertelungkup.
Tangan-tangan kurang ajarnya menyusupi bagian bawah perutnya yang telah menempel pada kasur ranjangnya, setelah itu ditariknya keatas, dan bongkahan pantat gadis yang telah lemas itu terjungkit keatas kini. Bajingan itu menekuk kedua lutut korbannya sampai pantatnya tampak dalam posisi menungging menghadap penglihatanku. Agaknya ia akan menyetubuhi dara itu dengan mengambil gaya dari anjing yang tengah kawin. Namun sebelum itu tangannya berpindah lagi membuka pantat itu dan menemukan posisi lubang anusnya berada, lalu lidah lelaki itu menyusupi kekedalaman belahan duburnya itu tanpa rasa jijik sama sekali mengingat lubang itu biasa digunakan untuk buang hajat. Tetapi apalah artinya batasan itu jika dibandingkan dengan nilai kenikmatan yang dapat ia peroleh dari kelezatan anusnya sang gadis muda dengan mengabaikan aroma tak sedap yang terpacar dari dalamnya.
Setelah puas menjilati dubur dari sang pengantin perempuan yang begitu sangat lezat baginya ini, kini tubuh lelaki itu berlutut dihadapan tunggingan pantat korbannya, setelah itu batang pelirnya kembali ia selusupkan ke dalam memek gadis itu yang telah kehabisan suaranya karena kecapaian melayani birahi lelaki perkasa ini. Bajingan itu memperkosa memeknya dari arah belakang tanpa peduli sama sekali terhadap perasaan korbannya, yang ada hanyalah nafsu yang harus ia tuntaskan walaupun harus mempertaruhkan dirinya yang sewaktu-waktu dapat tertangkap oleh aparat hukum.
Kembali kedua tubuh itu menyatu dan jembut yang menghiasi bawah perut lelaki itu seakan terjepit pula ke lubang anus dara bidadari cantik ini tatkala penisnya terus menyodok-nyodok isi dalam liang kemaluannya. Kedua insan yang sedang kawin ini tak henti-hentinya mengajariku bagaimana cara melakukan hubungan intim suami istri dalam posisi yang lain dari biasanya.
Menjelang tengah malam, kusaksikan lagi tubuh telanjang dari itu meraih orgasmenya untuk yang ketiga kalinya dalam posisi menungging, namun baru kedua kali jikalau dihitung dari saat mula ia disetubuhi lelaki jahanam tersebut. Mataku telah agak berkunang-kunang menyaksikan pemandangan tersebut, padahal aku selalu berganti-ganti mata kala mengintip adegan dewasa antara keduanya yang terus berlangsung. Malangnya aku melihat dara itu tak sadarkan diri lagi usai mencapai puncak surga duniawinya dari lelaki itu yang staminanya begitu sangat luar biasa.
Kalau diamat-amati rasanya jarang sekali lelaki yang mempunyai daya tahan tubuh seperti kepala garong yang sadis ini namun dapat memberi kebahagiaan badani pada wanita korbannya itu. Setelah puas mereguk cairan lendir madu surgawi yang telah dihasilkan kembali oleh memek gadis itu pada puncak kenikmatannya tadi. Ia menelentangkan kembali tubuh gadis itu yang telah pingsan dan menaruh kedua tumit dari kaki dara itu yang telanjang ke kanan kiri bahunya lagi untuk kemudian menggenjot kembali tubuh si gadis belia ini dengan brutal.
Tampak di penglihatanku sekarang pompaan pelir lelaki ini pada memek korbannya terus bertambah kecepatannya, sementara hamparan sprei dibawahnya itu telah benar-benar basah oleh keringat keduanya yang semakin memanas. Andai saja dara itu tidak sadarkan diri seperti sekarang ini, mungkin ia akan meminta ampun karena pasti memeknya akan terasa nyeri diperlakukan sedemikian brutalnya oleh perampok bajingan tersebut.
Bersambung . . .
"Ough... ohh.. ohh.. ternyata enak sekali memekmu ini sayang.. Ohh.. ohh.. sempit sekali sihh..? masih peret nihh Uhh.. Ohh... Ouh", seloroh bangsat itu diantara tarian maksiatnya menikmati kehangatan daging belia korbannya ini.
"Ahh...! ahh..! aduhh..! perih Mas.. Oh.. oh.. jangan keras-keras.. uhh.. ahh", pinta dara itu akhirnya.
"Enak sayang?! Hah?! Bagaimana sekarang?! Masih sakit yach?! aduh kasihan.. tahan sebentar yahh manisku? Ohh.. ohh.. Ouh..", balas lelaki itu yang asyik mengentoti memeknya di hadapanku.
"Sshh.. ahh... sshh.. ohh.. pelan-pelan mas.. ahh.. ahh.. ahh", pintanya di sela-sela tubuhnya yang terhentak-hentak tanpa perlawanan lagi. Senang sekali sang bajingan itu mendapati korbannya kini telah pasrah melayani keinginannya.
"Jangan ditahan terus dong kontolku ini sayang.. terima saja apa adanya.. lebarkan kakimu supaya tidak terlalu sakit lagi manisku.. ohh.. ohh.. legit sekali kepunyaanmu ini.. ohh", perintah bangsat itu yang kiranya langsung dipatuhi oleh gadis cantik yang semakin membuka rentangan kakinya hingga semakin jelas bibir memeknya yang melesak ke dalam dan memonyong ke depan mengikuti hunjaman pelir besar yang tertanam didalam isi belahan daging surganya menghadapku.
Liang anus gadis itu juga turut mengembang dan menguncup terkena pukulan-pukulan kedua biji pelir lelaki jantan itu yang terbanting-banting di bongkahan pantat dara itu yang mungil mengangkang seakan sengaja ia mempertontonkan miliknya yang indah namun terlarang itu kepada diriku.
Kedua tubuh itu terus bergumul seakan tak peduli lagi akan keadaan malam yang semakin larut dalam keheningannya, seakan tak terpisahkan lagi dalam gelora nafsu membara yang menyala-nyala dikamar yang telah pengap dan sesak oleh permainan asmara nista berbirahi hina ini. Meskipun telah lewat masa seperempat jam berlalu, namun tak membuat lelaki perkasa itu mengendorkan goyangan pinggulnya dan terus melesak-lesakkan pelirnya mengaduk-aduk isi dalam lubang kemaluan dara itu yang telah sembab membengkak dan semakin memerah warnanya.
Bahkan ketika aku mendekatkan hidungku pada lubang dinding kamarku, ternyata lewat endusan nafasku aku dapat pula membaui aroma rasa dari memek gadis itu yang telah sembab membasah dan ini pengalaman pertamaku dapat mencium bau pesing memikat nikmat yang khas dari celah memek seorang wanita nan masih begitu muda belia ini setelah berhasil membedakannya dari aroma pekat batang pelir lelaki itu. Bau-bau itu menyatu menghasilkan sensasi aroma persetubuhan yang melenakan aku untuk terus membuka mata pada malam yang telah larut itu.
Tak lama kulihat tubuh telanjang gadis itu yang berada dibawahnya terlejang-lejang kencang seiring dengan luapan puncak orgasmenya yang kedua. Perut rampingnya yang dihiasi pusarnya nan begitu indah tampak berkedut-kedut mengikuti gelinjangan tubuh bugilnya tanpa sehelaipun kain menutupi kulitnya lagi. Kedua kakinya kini menendang-nendang di udara menahan luapan puncak kenikmatannya yang melanda sekujur tubuh polosnya itu dan belum lagi kelojotan dara itu terhenti, lelaki itu segera mencabut pelirnya dari dalam lubang memeknya yang tengah bergetar didera arus birahi sanggamanya.
"Wess hewess.. poof!!", begitulah suara yang dihasilkan saat pelir kejantanan lelaki itu dicabut dari jepitan lubang kemaluan sang dara yang telah kehilangan keperawanannya ini.
Sekujur kulit luar dari kontol nan demikian perkasanya penuh dengan lelehan lendir memek yang bercampur dengan lumuran darah segar kesucian sang dara cantik itu yang belepotan melumuri tonggak daging kejantanannya yang masih mengacung tegak mengangguk-angguk. Kedua tungkai kaki gadis itu di angkat keatas tinggi-tinggi dari ranjang pelaminannya sehingga ujung jari kaki yang dihiasi kutek bening transparant itu terjuntai indah menggantung tanpa daya. Kedua otot dari jari-jari kaki indahnya mengatup dan membuka sangat cepat sekali bergantian membendung gelora birahinya yang kembali telah berhasil dibangkitkan oleh lelaki itu. Bongkahan pantatnya terhidang jelas tepat berada pada wajah lelaki itu yang menadahkan lidahnya pada perbatasan antara belahan bibir memek gadis tersebut dengan daerah duburnya dan ia tempelkan disitu.
Berikutnya dari mulut vaginanya yang kini sudah tak berbentuk garis vertikal yang sempit seperti tadi itu, malah kini telah terpecah menjadi dua garis bergelombang dengan kelentitnya yang bengap dan basah itu terkuak sejelas-jelasnya disertai oleh lelehan lendir memeknya keluar dari lubang senggamanya nan semakin merekah menjadi sebesar ukuran sebutir telur burung puyuh. Cairan yang keluar dari memek itu langsung ditelan oleh lelaki itu dengan rakusnya bak orang yang tengah kehausan nan amat sangat. Dengan lahapnya jilatan lidah lelaki itu sampai menyeruak-ruak kedalam isi belahan memek korbannya, menyapu segenap dinding bagian dalam vagina gadis malang itu sampai licin tandas tanpa tersisa sedikitpun.
Tubuh telanjang dara itu kini terjerembab pada hamparan kain sprei putih ranjangnya yang terbentang awut-awutan disana sini dan ditengahnya telah terdapat noda darah dari kesuciannya pula selain dibasahi oleh keringat keduanya dan juga lendir-lendir yang berasal dari kedua kelamin yang berbeda jenisnya tersebut. Keletihan yang amat sangat mendera tubuhnya kini yang telah lusuh tanpa tenaga lagi, seakan tulang-tulangnya telah terlolosi semuanya. Belum lagi usai mengatur helaan nafasnya yang masih menderu-deru, tetapi kini tubuh telanjang gadis itu yang rmaping itu dibalikkan secara paksa oleh lelaki itu sehingga tertelungkup.
Tangan-tangan kurang ajarnya menyusupi bagian bawah perutnya yang telah menempel pada kasur ranjangnya, setelah itu ditariknya keatas, dan bongkahan pantat gadis yang telah lemas itu terjungkit keatas kini. Bajingan itu menekuk kedua lutut korbannya sampai pantatnya tampak dalam posisi menungging menghadap penglihatanku. Agaknya ia akan menyetubuhi dara itu dengan mengambil gaya dari anjing yang tengah kawin. Namun sebelum itu tangannya berpindah lagi membuka pantat itu dan menemukan posisi lubang anusnya berada, lalu lidah lelaki itu menyusupi kekedalaman belahan duburnya itu tanpa rasa jijik sama sekali mengingat lubang itu biasa digunakan untuk buang hajat. Tetapi apalah artinya batasan itu jika dibandingkan dengan nilai kenikmatan yang dapat ia peroleh dari kelezatan anusnya sang gadis muda dengan mengabaikan aroma tak sedap yang terpacar dari dalamnya.
Setelah puas menjilati dubur dari sang pengantin perempuan yang begitu sangat lezat baginya ini, kini tubuh lelaki itu berlutut dihadapan tunggingan pantat korbannya, setelah itu batang pelirnya kembali ia selusupkan ke dalam memek gadis itu yang telah kehabisan suaranya karena kecapaian melayani birahi lelaki perkasa ini. Bajingan itu memperkosa memeknya dari arah belakang tanpa peduli sama sekali terhadap perasaan korbannya, yang ada hanyalah nafsu yang harus ia tuntaskan walaupun harus mempertaruhkan dirinya yang sewaktu-waktu dapat tertangkap oleh aparat hukum.
Kembali kedua tubuh itu menyatu dan jembut yang menghiasi bawah perut lelaki itu seakan terjepit pula ke lubang anus dara bidadari cantik ini tatkala penisnya terus menyodok-nyodok isi dalam liang kemaluannya. Kedua insan yang sedang kawin ini tak henti-hentinya mengajariku bagaimana cara melakukan hubungan intim suami istri dalam posisi yang lain dari biasanya.
Menjelang tengah malam, kusaksikan lagi tubuh telanjang dari itu meraih orgasmenya untuk yang ketiga kalinya dalam posisi menungging, namun baru kedua kali jikalau dihitung dari saat mula ia disetubuhi lelaki jahanam tersebut. Mataku telah agak berkunang-kunang menyaksikan pemandangan tersebut, padahal aku selalu berganti-ganti mata kala mengintip adegan dewasa antara keduanya yang terus berlangsung. Malangnya aku melihat dara itu tak sadarkan diri lagi usai mencapai puncak surga duniawinya dari lelaki itu yang staminanya begitu sangat luar biasa.
Kalau diamat-amati rasanya jarang sekali lelaki yang mempunyai daya tahan tubuh seperti kepala garong yang sadis ini namun dapat memberi kebahagiaan badani pada wanita korbannya itu. Setelah puas mereguk cairan lendir madu surgawi yang telah dihasilkan kembali oleh memek gadis itu pada puncak kenikmatannya tadi. Ia menelentangkan kembali tubuh gadis itu yang telah pingsan dan menaruh kedua tumit dari kaki dara itu yang telanjang ke kanan kiri bahunya lagi untuk kemudian menggenjot kembali tubuh si gadis belia ini dengan brutal.
Tampak di penglihatanku sekarang pompaan pelir lelaki ini pada memek korbannya terus bertambah kecepatannya, sementara hamparan sprei dibawahnya itu telah benar-benar basah oleh keringat keduanya yang semakin memanas. Andai saja dara itu tidak sadarkan diri seperti sekarang ini, mungkin ia akan meminta ampun karena pasti memeknya akan terasa nyeri diperlakukan sedemikian brutalnya oleh perampok bajingan tersebut.
Bersambung . . .
0 Tragedi malam pengantin - 2
"Jangan melawan manis, kalau ingin selamat!!", ancam lelaki yang menodongkan belati di lehernya sambil mencengkram kedua tangan gadis itu dengan tangan yang satunya lagi.
Lelaki yang membekap mulut gadis itu mengeluarkan sehelai kain dari saku celananya lalu dengan serta merta membungkam mulut mungil dara belia cantik sang mempelai wanita ini.
"Mmmpphh..!", hanya suara itu yang terdengar di balik rontaannya melawan niat busuk lelaki-lelaki itu, namun apalah dayanya karena sebentar saja mulutnya telah tersumpal oleh kain yang dijejali lelaki besar yang sangat kekar itu. Sedangkan lelaki keduanya kini menelikung kedua belah tangan si gadis ke belakang punggungnya dan mengikatnya dengan seutas tambang kecil yang agaknya telah dipersiapkan untuk melumpuhkan korbannya. Sekejap saja gadis itu telah dibuat tak berdaya oleh mereka dan hanya menyisakan suara-suara yang tak jelas maknanya dibalik gumpalan kain yang memenuhi rongga mulutnya.
"Hahaha.. beruntung sekali kita boss! Sudah merampok, dapat gadis pula..", seringai lelaki yang menghunus belati tadi kepada lelaki kekar perkasa bertubuh gelap yang ternyata adalah pemimpin kepala rampok itu. Tampak tonjolan otot-otot lengannya yang begitu perkasa dibalik kaosnya yang berwarna gelap di dalam kamar membuatku iri dengan tubuh kejantanannya itu.
"Jangan khawatir.. kalian nanti akan kubagi pula kesenangan ini, sekarang ayo cepat baringkan dia diatas kasur!!", perintah kepala rampok itu dengan parang masih berada dipinggangnya. Berdua mereka membaringkan paksa tubuh dara pengantin baru itu yang sudah dalam keadaan terikat lengkap dengan busana pengantinnya tersebut hingga terlentang.
Kedua belah kaki gadis itu yang masih bersepatu pengantinnya berusaha menendang-nendang tubuh kedua pelaku, tetapi tangan-tangan kekar mereka menangkap kaki-kaki indah miliknya serta mengikat kedua belah mata kakinya ke tiang kelambu ranjang pelaminan tersebut kiri dan kanan, sehingga kini gadis itu terkangkang di atas ranjang mahligai perkawinannya sendiri.
Gadis itu membanting-bantingkan kepalanya ke kiri dan ke kanan serta berharap untuk bisa lepas dari keadaannya yang telah terikat erat kedua tangannya ke belakang punggungnya itu. Namun jeratan utas tambang itu semakin dirasanya semakin kuat membelenggu pergelangan kedua tangan dan kakinya, sementara kedua lelaki didepannya tertawa-tawa menyeringai kegirangan mendapati ketakberdayaan dirinya itu.
Akupun terkesiap mendapati kenyataan ini, karena tak pernah kubayangkan bahwa aku akan menyaksikan peristiwa kriminalitas secara nyata yang mana aku adalah sebagai saksi matanya sendiri. Malam pengantin yang kuimpikan antara gadis tadi bersama suaminya telah pupus sudah. Kini yang terpampang di mataku adalah tragedi yang menimpa sepasang pengantin baru di hari yang seharusnya menjadi hari kebahagiaan baru bagi mereka. Dari balik celah dinding itu aku melihat derai air mata gadis itu mulai menetes membasahi kedua pipinya yang putih mulus membuyarkan dandanan di wajahnya yang semakin manis di pandang itu, namun wajahnya dalam posisi itu membelakangiku sehingga aku hanya dapat menatap permukaan wajahnya saja dari celah atas dinding kamarku.
Kepala rampok itu mengelus-elus paha putih korbannya yang masih terbalut stocking hitam panjang dan menikmati setiap sentuhan jarinya pada permukaan kulit paha sang dara belia diantara selusupan tangan kekarnya kedalam isi gaun pengantin perempuan itu yang berwarna putih berkilat. Setelah itu ia mendekatkan wajahnya pada sepatu yang dikenakan gadis muda sang mempelai wanita dengan wajah penuh gairah kelelakiannya. Perlahan ia melepaskan sepatu kanan pengantin gadis itu yang mungkin telah dipakainya sejak pagi tadi hingga malam hari ini pukul sembilan lebih empat puluh lima menit.
Sepatu itu terlepas sudah, menyisakan telapak kaki indah milik seorang dara jelita yang masih belia berbalut stocking hitamnya yang tampak serasi menutupi kulit jenjang kakinya. Segenap aroma sembab dari kakinya menebar seisi ruangan kamar pengantinnya, bahkan melalui celah itu aku dapat membauinya pula, namun lelaki kepala para perampok itu malahan menciumi telapak kaki gadis itu tepat di depan penglihatanku dengan penuh gairah dan nafsu serta menjilat dan menghisap-hisap jari kaki lentik milik gadis korbannya yang terus meronta-ronta dalam ketakberdayaannya di mataku. Puas dengan kaki kanan, ia melanjutkannya dengan kaki yang kiri sambil sesekali membelai-belai betis indah gadis itu yang terpampang indah dipelupuk matanya.
"Kamu jaga di bawah dululah! Nanti kalau aku sudah selesai, baru aku panggil kau!", perintah kepala rampok itu pada anak buahnya itu, mungkin ia merasa terganggu dan risih oleh tatapan anak buahnya yang melihat aksi maniaknya itu.
"Oke boss! Aku akan mengantongi barang-barang berharga di rumah ini segera!", ujar anak buahnya penuh semangat, lalu ia keluar kamar tersebut meninggalkan bossnya bersama dengan gadis belia tersebut. Aku tak tahu apa yang telah terjadi dengan sang suami dari gadis itu, agaknya mereka telah berhasil melumpuhkannya dan entah bagaimana dengan nasibnya sekarang.
Keadaan di malam sepi itu benar-benar menunjang aksi mereka untuk menguras harta benda rumah itu secara perlahan-lahan. Bahkan dengan santainya lelaki ketiganya kini tengah duduk di teras rumah sebelahku itu sambil merokok sekaligus berjaga-jaga dan melihat situasi keadaan di luar. Sangat sepi diluar dan hanya menyisakan hawa dingin dan lampu penerang yang sangat redup serta hampir tidak kelihatan apa-apa dari jendela kamarku yang gelap.
Ketika kulihat kembali, tampak lelaki itu meraih gaun pengantin gadis itu di bagian dadanya kemudian menariknya dengan kasar hingga robeklah busana pelaminan di dada gadis belia cantik itu. Aku sangat iba sekali terhadap perlakuan kasar lelaki itu pada gadis tersebut, tetapi aku sangat ingin sekali melihat kelanjutannya, sehingga aku hanya bisa pasrah dengan keadaanku yang lemah ini. Terus terang aku tak mau tersangkut paut dengan peristiwa ini, namun dibalik itu aku ingin menikmati pula hobi mengintipku yang baru kali ini mendapati adegan yang lain dari biasanya seumur perjalanan hidupku.
Lelaki bajingan itu merengkuh tubuh gadis itu yang bagian dadanya telah terbuka menampilkan kedua belah payudaranya yang begitu indah, padat dan berisi berikut puting susunya yang berwarna merah muda sebagaimana layaknya seorang perawan pada umumnya. Aku sendiri pun mengakui kehalusan kulit dada gadis ini yang begitu tiada cacat cela sama sekali terpampang di hadapan bajingan itu dan aku. Daging dadanya saat tersentuh oleh jari-jari perkasa lelaki itu begitu kenyalnya dan lelaki kekar itu mulai memilin-milin puting payudaranya yang selama ini belum pernah tersentuh oleh lelaki, namun kini bajingan kepala perampok itu begitu leluasanya mempermainkan bagian sensitif dari dara itu yang terlarang.
Seketika kelelakianku mulai terangsang dan bangkit seraya membayangkan seperti apa rasa nikmatnya memelintir-lintir puting susu dari seorang gadis, apalagi gadis ini begitu sempurna dimataku laksana seorang dewi bagiku dan mungkin saja bagi lelaki bajingan itu merasakannya pula bahawa pada malam itu adalah malam keberuntungannya mendapati mangsanya yang begitu secantik ini.
Benar-benar jauh dari film-film biru yang selama ini aku tonton, dan betapa adegan bajingan itu yang tengah mengulum puting payudara gadis yang sedang mekar-mekarnya itu membuat gairah kejantananku mulai bangkit di antara penderitaan yang tengah dialami gadis itu yang terpaksa membiarkan dirinya menjadi santapan birahi lelaki itu. Namun di tengah-tengah kerakusan bajingan itu melahap payudara indah milik sang mempelai perempuan, ia juga perlahan-lahan mulai membangkitkan gairah korbannya agar tidak sepenuhnya nanti akan melayaninya secara terpaksa saat di gaulinya. Kedua tangannya yang kasar dan kelihatan sangat kuat berotot itu terus digunakan untuk mengusap-usap kedua belah paha kaki gadis itu yang terkangkang akibat terikat tambang di tiang-tiang kelambu ranjang pelaminannya.
Akhirnya aku mendengar suara lenguhan pertama yang keluar dari bibir gadis itu, meskipun teredam oleh secarik ikatan kain yang menyumpal mulut mungilnya.
"Ehmm... hmmphh..!", erang gadis belia itu yang masih terikat tanpa daya, sementara wajah cantiknya telah penuh dengan linangan air matanya masih tergolek ke kiri dan ke kanan berusaha menahan adanya sensasi yang mulai mendera tubuhnya. Suatu sensasi yang baru kali ini ia rasakan selama hidupnya dan perlahan-lahan sensasi itu semakin melanda dirinya begitu membuatnya semakin merasa malu dan terhina diperlakukan seperti itu oleh lelaki yang bukan suaminya dan bahkan tidak ia cintai sama sekali.
"Manisku.. kalau kau terus meronta dan melawan, maka aku tak akan segan-segan untuk menyuruh anak buahku di bawah untuk menghabisi nyawa suamimu!! Patuhlah kepadaku, maka kau akan kulepaskan esok pagi!", ancam kepala bajingan itu tepat ditelinga gadis belia ini.
"Bagaimana hah?! Sekarang aku akan melepaskan ikatan pada kedua kakimu, tetapi kau harus berjanji untuk tidak melawan dan memberontak lagi, mengerti?!", tukas kepala perampok itu lagi.
Agak lama aku menunggu jawaban dari gadis itu untuk sesaat waktu dan dengan perlahan kepala si gadis itu mengangguk dengan sangat berat hati seakan hatinya telah tersayat oleh sembilu mendengar ancaman yang menghentikan perlawanannya. Wajah cantiknya semakin penuh dengan derai air mata pilu keterpaksaannya malam itu kepada lelaki bajingan ini yang tersenyum girang mendapati korbannya telah takluk olehnya.
Bersambung . . . .
Lelaki yang membekap mulut gadis itu mengeluarkan sehelai kain dari saku celananya lalu dengan serta merta membungkam mulut mungil dara belia cantik sang mempelai wanita ini.
"Mmmpphh..!", hanya suara itu yang terdengar di balik rontaannya melawan niat busuk lelaki-lelaki itu, namun apalah dayanya karena sebentar saja mulutnya telah tersumpal oleh kain yang dijejali lelaki besar yang sangat kekar itu. Sedangkan lelaki keduanya kini menelikung kedua belah tangan si gadis ke belakang punggungnya dan mengikatnya dengan seutas tambang kecil yang agaknya telah dipersiapkan untuk melumpuhkan korbannya. Sekejap saja gadis itu telah dibuat tak berdaya oleh mereka dan hanya menyisakan suara-suara yang tak jelas maknanya dibalik gumpalan kain yang memenuhi rongga mulutnya.
"Hahaha.. beruntung sekali kita boss! Sudah merampok, dapat gadis pula..", seringai lelaki yang menghunus belati tadi kepada lelaki kekar perkasa bertubuh gelap yang ternyata adalah pemimpin kepala rampok itu. Tampak tonjolan otot-otot lengannya yang begitu perkasa dibalik kaosnya yang berwarna gelap di dalam kamar membuatku iri dengan tubuh kejantanannya itu.
"Jangan khawatir.. kalian nanti akan kubagi pula kesenangan ini, sekarang ayo cepat baringkan dia diatas kasur!!", perintah kepala rampok itu dengan parang masih berada dipinggangnya. Berdua mereka membaringkan paksa tubuh dara pengantin baru itu yang sudah dalam keadaan terikat lengkap dengan busana pengantinnya tersebut hingga terlentang.
Kedua belah kaki gadis itu yang masih bersepatu pengantinnya berusaha menendang-nendang tubuh kedua pelaku, tetapi tangan-tangan kekar mereka menangkap kaki-kaki indah miliknya serta mengikat kedua belah mata kakinya ke tiang kelambu ranjang pelaminan tersebut kiri dan kanan, sehingga kini gadis itu terkangkang di atas ranjang mahligai perkawinannya sendiri.
Gadis itu membanting-bantingkan kepalanya ke kiri dan ke kanan serta berharap untuk bisa lepas dari keadaannya yang telah terikat erat kedua tangannya ke belakang punggungnya itu. Namun jeratan utas tambang itu semakin dirasanya semakin kuat membelenggu pergelangan kedua tangan dan kakinya, sementara kedua lelaki didepannya tertawa-tawa menyeringai kegirangan mendapati ketakberdayaan dirinya itu.
Akupun terkesiap mendapati kenyataan ini, karena tak pernah kubayangkan bahwa aku akan menyaksikan peristiwa kriminalitas secara nyata yang mana aku adalah sebagai saksi matanya sendiri. Malam pengantin yang kuimpikan antara gadis tadi bersama suaminya telah pupus sudah. Kini yang terpampang di mataku adalah tragedi yang menimpa sepasang pengantin baru di hari yang seharusnya menjadi hari kebahagiaan baru bagi mereka. Dari balik celah dinding itu aku melihat derai air mata gadis itu mulai menetes membasahi kedua pipinya yang putih mulus membuyarkan dandanan di wajahnya yang semakin manis di pandang itu, namun wajahnya dalam posisi itu membelakangiku sehingga aku hanya dapat menatap permukaan wajahnya saja dari celah atas dinding kamarku.
Kepala rampok itu mengelus-elus paha putih korbannya yang masih terbalut stocking hitam panjang dan menikmati setiap sentuhan jarinya pada permukaan kulit paha sang dara belia diantara selusupan tangan kekarnya kedalam isi gaun pengantin perempuan itu yang berwarna putih berkilat. Setelah itu ia mendekatkan wajahnya pada sepatu yang dikenakan gadis muda sang mempelai wanita dengan wajah penuh gairah kelelakiannya. Perlahan ia melepaskan sepatu kanan pengantin gadis itu yang mungkin telah dipakainya sejak pagi tadi hingga malam hari ini pukul sembilan lebih empat puluh lima menit.
Sepatu itu terlepas sudah, menyisakan telapak kaki indah milik seorang dara jelita yang masih belia berbalut stocking hitamnya yang tampak serasi menutupi kulit jenjang kakinya. Segenap aroma sembab dari kakinya menebar seisi ruangan kamar pengantinnya, bahkan melalui celah itu aku dapat membauinya pula, namun lelaki kepala para perampok itu malahan menciumi telapak kaki gadis itu tepat di depan penglihatanku dengan penuh gairah dan nafsu serta menjilat dan menghisap-hisap jari kaki lentik milik gadis korbannya yang terus meronta-ronta dalam ketakberdayaannya di mataku. Puas dengan kaki kanan, ia melanjutkannya dengan kaki yang kiri sambil sesekali membelai-belai betis indah gadis itu yang terpampang indah dipelupuk matanya.
"Kamu jaga di bawah dululah! Nanti kalau aku sudah selesai, baru aku panggil kau!", perintah kepala rampok itu pada anak buahnya itu, mungkin ia merasa terganggu dan risih oleh tatapan anak buahnya yang melihat aksi maniaknya itu.
"Oke boss! Aku akan mengantongi barang-barang berharga di rumah ini segera!", ujar anak buahnya penuh semangat, lalu ia keluar kamar tersebut meninggalkan bossnya bersama dengan gadis belia tersebut. Aku tak tahu apa yang telah terjadi dengan sang suami dari gadis itu, agaknya mereka telah berhasil melumpuhkannya dan entah bagaimana dengan nasibnya sekarang.
Keadaan di malam sepi itu benar-benar menunjang aksi mereka untuk menguras harta benda rumah itu secara perlahan-lahan. Bahkan dengan santainya lelaki ketiganya kini tengah duduk di teras rumah sebelahku itu sambil merokok sekaligus berjaga-jaga dan melihat situasi keadaan di luar. Sangat sepi diluar dan hanya menyisakan hawa dingin dan lampu penerang yang sangat redup serta hampir tidak kelihatan apa-apa dari jendela kamarku yang gelap.
Ketika kulihat kembali, tampak lelaki itu meraih gaun pengantin gadis itu di bagian dadanya kemudian menariknya dengan kasar hingga robeklah busana pelaminan di dada gadis belia cantik itu. Aku sangat iba sekali terhadap perlakuan kasar lelaki itu pada gadis tersebut, tetapi aku sangat ingin sekali melihat kelanjutannya, sehingga aku hanya bisa pasrah dengan keadaanku yang lemah ini. Terus terang aku tak mau tersangkut paut dengan peristiwa ini, namun dibalik itu aku ingin menikmati pula hobi mengintipku yang baru kali ini mendapati adegan yang lain dari biasanya seumur perjalanan hidupku.
Lelaki bajingan itu merengkuh tubuh gadis itu yang bagian dadanya telah terbuka menampilkan kedua belah payudaranya yang begitu indah, padat dan berisi berikut puting susunya yang berwarna merah muda sebagaimana layaknya seorang perawan pada umumnya. Aku sendiri pun mengakui kehalusan kulit dada gadis ini yang begitu tiada cacat cela sama sekali terpampang di hadapan bajingan itu dan aku. Daging dadanya saat tersentuh oleh jari-jari perkasa lelaki itu begitu kenyalnya dan lelaki kekar itu mulai memilin-milin puting payudaranya yang selama ini belum pernah tersentuh oleh lelaki, namun kini bajingan kepala perampok itu begitu leluasanya mempermainkan bagian sensitif dari dara itu yang terlarang.
Seketika kelelakianku mulai terangsang dan bangkit seraya membayangkan seperti apa rasa nikmatnya memelintir-lintir puting susu dari seorang gadis, apalagi gadis ini begitu sempurna dimataku laksana seorang dewi bagiku dan mungkin saja bagi lelaki bajingan itu merasakannya pula bahawa pada malam itu adalah malam keberuntungannya mendapati mangsanya yang begitu secantik ini.
Benar-benar jauh dari film-film biru yang selama ini aku tonton, dan betapa adegan bajingan itu yang tengah mengulum puting payudara gadis yang sedang mekar-mekarnya itu membuat gairah kejantananku mulai bangkit di antara penderitaan yang tengah dialami gadis itu yang terpaksa membiarkan dirinya menjadi santapan birahi lelaki itu. Namun di tengah-tengah kerakusan bajingan itu melahap payudara indah milik sang mempelai perempuan, ia juga perlahan-lahan mulai membangkitkan gairah korbannya agar tidak sepenuhnya nanti akan melayaninya secara terpaksa saat di gaulinya. Kedua tangannya yang kasar dan kelihatan sangat kuat berotot itu terus digunakan untuk mengusap-usap kedua belah paha kaki gadis itu yang terkangkang akibat terikat tambang di tiang-tiang kelambu ranjang pelaminannya.
Akhirnya aku mendengar suara lenguhan pertama yang keluar dari bibir gadis itu, meskipun teredam oleh secarik ikatan kain yang menyumpal mulut mungilnya.
"Ehmm... hmmphh..!", erang gadis belia itu yang masih terikat tanpa daya, sementara wajah cantiknya telah penuh dengan linangan air matanya masih tergolek ke kiri dan ke kanan berusaha menahan adanya sensasi yang mulai mendera tubuhnya. Suatu sensasi yang baru kali ini ia rasakan selama hidupnya dan perlahan-lahan sensasi itu semakin melanda dirinya begitu membuatnya semakin merasa malu dan terhina diperlakukan seperti itu oleh lelaki yang bukan suaminya dan bahkan tidak ia cintai sama sekali.
"Manisku.. kalau kau terus meronta dan melawan, maka aku tak akan segan-segan untuk menyuruh anak buahku di bawah untuk menghabisi nyawa suamimu!! Patuhlah kepadaku, maka kau akan kulepaskan esok pagi!", ancam kepala bajingan itu tepat ditelinga gadis belia ini.
"Bagaimana hah?! Sekarang aku akan melepaskan ikatan pada kedua kakimu, tetapi kau harus berjanji untuk tidak melawan dan memberontak lagi, mengerti?!", tukas kepala perampok itu lagi.
Agak lama aku menunggu jawaban dari gadis itu untuk sesaat waktu dan dengan perlahan kepala si gadis itu mengangguk dengan sangat berat hati seakan hatinya telah tersayat oleh sembilu mendengar ancaman yang menghentikan perlawanannya. Wajah cantiknya semakin penuh dengan derai air mata pilu keterpaksaannya malam itu kepada lelaki bajingan ini yang tersenyum girang mendapati korbannya telah takluk olehnya.
Bersambung . . . .
0 Tragedi malam pengantin - 3
Dengan senyum menyeringai yang menyeramkan lelaki bajingan bertubuh tinggi besar yang sangat kekar itu melepaskan ikatan tambang yang tadi mengikat kedua mata kaki sang dara belia. Setelah itu ia membiarkan tubuh gadis itu terlentang di kasurnya yang berwarna putih bersih itu. Selanjutnya lelaki itu merobek kembali gaun pengantin bagian atasnya kemudian melorotkan kain itu sampai kepinggang.
Betapa tubuh telanjang gadis itu kini terpampang di depan matanya yang begitu buas bak singa lapar yang tengah menghampiri mangsanya, hingga yang tersisa dari tubuh indah gadis itu adalah tinggal celana dalam putihnya dan stocking hitam yang berbentuk jala-jala kecil itu yang masih membungkus kedua kakinya yang halus dengan cabikkan gaun pengantinnya masih melingkari pinggangnya, tetapi mulutnya masih tersumbat dan kedua tangannya masih terikat pula ke belakang.
Perut gadis itu rata dengan pusar yang menantang menghiasi lekuk liku perutnya yang begitu sensual mempesona berikut kaki indahnya yang dihiasi gelang kaki terbuat dari emas yang melingkar di mata kaki kanannya. Leher jenjangnya begitu mulus menopang wajahnya yang begitu sedap dipandang mata dari sudut manapun juga dan pada lehernya juga dihiasi kalung emas dengan liontin berbentuk hati yang melambangkan cinta dari pasangan pengantin itu. Rambutnya yang sebahu tergerai indah beruntaikan penuh pernak-pernik mahkota bebungaan perhiasan pengantin wanita.
Lelaki itu berdiri dan membuka kaos berwarna gelapnya, terlihatlah tubuh kekarnya yang berotot begitu perkasa membentuk tonjolan-tonjolan yang jelas serta dadanya yang penuh dengan bulu-bulu hitam yang kasar. Perutnya begitu sempurna dengan otot-otot perutnya begitu mencetak tubuh kelelakiannya. Iapun kini melucuti celananya di hadapan gadis itu yang ketakutan meringkuk di tepian ranjang mahligai perkawinannya.
Kejantanan lelaki itu masih tidur namun terlihat besar dengan kedua biji pelirnya yang menggantung dengan gagahnya kira-kira ukurannya ada dua kali lebih besar dari punyaku. Agaknya tak secepat itu lelaki perkasa ini terangsang kelelakiannya hanya cuma dengan mengemuti payudara gadis belia nan cantik yang kukira akan menawan hati bagi setiap pria yang melihatnya.
Kedua bola mata nan indah milik gadis belia cantik itu begitu kagetnya demi melihat apa yang terpampang di hadapannya dari sosok seorang lelaki gagah yang demikian perkasa, dan rasanya sang suaminya belum tentu akan memilikki tonjolan di selangkangannya seperti lelaki bajingan kepala perampok yang menyatroni rumahnya ini. Seketika tubuhnya semakin ciut saja menanti apa yang akan dilakukan lelaki itu kepadanya sesudahnya. Berikutnya lengan kirinya yang terikat erat itu dicekal oleh sang jahanam yang serta menariknya dari ranjang untuk kemudian dipaksa berdiri bersebelahan dengan tubuh lelaki itu yang telah telanjang kini.
Ketika kedua tubuh berlainan jenis kelamin itu telah berdiri, aku melihat dengan jelas bahwa ukuran lelaki tubuh lelaki itu ada dua kali lebih besar dari tubuh sang gadis malang ini. Tubuh gadis itu diraihnya sehingga tubuh mereka kini saling berhadapan, lelaki itu berjongkok tepat dihadapan tubuh sang pengantin perempuan itu kemudian dengan perlahan-lahan menyusupi gaun serta melucuti celana dalam dara itu yang tersisa.
Aku terus memandangi detil kejadian itu, saat lelaki itu mulai menarik celana itu dari bongkahan pantatnya sampai melorot ke betis indah sang wanita muda, diiringi suara sesenggukkan tangis gadis cantik nan malang ini. Kulihat sesuatu bagian dari miliknya yang terlarang dapat kulihat dengan jelas, yakni di sela-sela pangkal pahanya yang putih mulus bak lobak itu dihiasi dengan bulu-bulu halus garis kemaluannya yang masih tertutup rapat sama sekali.
Namun yang membuatku lebih bernafsu lagi adalah ketika mataku tertumbuk pada celana dalam putih sutranya gadis itu yang kini telah tergantung di betis indah kirinya, tampak pada bagian yang menutupi auratnya pada kain celana tersebut terlihat bercak lendir yang berasal dari keintimannya. Bercak cairan itu sedikit menggumpal seperti jelly yang membuatku teringat akan apa yang tertulis dalam buku pengetahuan sex yang pernah aku baca, bahwa ada beberapa wanita dalam usia suburnya akan mengalami hal seperti ini dan itu adalah tanda rahimnya telah siap untuk dibuahi oleh lelaki.
Kepala perampok itu agaknya juga telah mengetahui noda percikkan lendir gadis itu pada celananya, dan ia meraih celana dalam yang tergantung di betis kiri itu kemudian menyorongkan hidungnya mengendus sisa cairan itu. Bagai seorang maniak tulen, bajingan itu menjilati sekaligus melahap lendir di celana sang dara dengan rakus dan buas bak menjilati es krim saja layaknya.
Gadis itu hanya dapat memejamkan matanya menyaksikannya dengan penuh kengerian serta juga perasaan malu yang amat sangat dengan penuh rona merah di kedua pipinya, bahwa lelaki itu ternyata menyukai sekali cairan yang berasal dari kemaluannya serta apa yang akan dilakukan oleh lelaki itu selanjutnya terhadap seorang wanita seperti dirinya ketika telah sama-sama berdua di dalam kamar tanpa diketahui oleh orang lain. Sama sekali tak pernah diduganya bahwa seorang lelaki itu akan begitu penuh dengan nafsu binatang tatkala mencumbui seorang wanita, dan kembali air matanya berderai jatuh untuk yang kesekian kalinya. Belum pernah ia telanjang seperti ini dihadapan seorang lelaki manapun dan rasa malu itu terus mendera hati dan perasaan halusnya sebagai seorang wanita baik-baik.
"Hahaha.. manis.. lendir kemaluanmu begitu wangi dan lezat.. marilah kita nikmati malam bahagia ini berdua, bersamaku kita akan mengarungi surga kenikmatan yang tak akan kau dapatkan dari suamimu itu..", rayu lelaki bajingan yang jantan itu sambil mendekatkan wajahnya diantara celah miliknya yang selama ini belum pernah dilihat atau tersentuh oleh lelaki manapun, tak terkecuali oleh suaminya sendiri yang belum sempat mereguk kebahagiaan malam pertama mereka itu.
Dengan paksa kini ia mendorong tubuh gadis itu hingga terjerembab di atas kasur pelaminannya kembali, serta merta sebelum gadis itu tersadar apa yang akan terjadi selanjutnya, ia menyibakkan gaun pengantin yang menutupi selangkangannya, kemudian mencengkram kedua tungkai kaki gadis itu hingga dengkulnya kini tertahan pada kedua belah puting payudaranya yang memerah basah oleh sisa air liur lelaki itu saat tadi mencumbunya. Aku tak dapat melihat apa yang dilihat oleh lelaki itu kini, yang pasti aku juga sebenarnya sangat ingin melihat bagaimana bentuk dari kemaluan seorang wanita yang sama sekali belum pernah bersetubuh dengan laki-laki, tak seperti yang sering kusaksikan dalam filem biru yang rata-rata telah rusak dan bentuknya sudah jelek dan tak menggairahkan lagi untuk dilihat.
Percuma saja gadis itu berusaha mengatupkan kedua belah pahanya yang mulus itu karena cengkeraman tangan bajingan kepala perampok itu begitu kuat menahan kedua tungkai kakinya, bahkan bukaan kedua kakinya semakin melebar saja manakala kekuatan dorong lelaki itu di tambah untuk melawan daya tolak gadis itu. Aku yakin sekali lelaki itu telah berhasil menyaksikan serta menikmati keindahan dari kemaluan gadis itu seutuhnya sudah, lalu dengan menggunakan telapak kaki kanannya yang besar dan berotot, ia menginjak tungkai kaki kiri gadis itu menggantikan tangan kanannya untuk menahan agar gadis itu tetap mengangkang, kemudian tangan kanannya ia gunakan untuk membuka bibir belahan berbulu milik sang dara yang tak berdaya diperlakukan serendah dan sehina itu.
Wajah lelaki itu semakin senang setelah melihat apa yang ada dalam pangkal paha sang dara yang terbuka tersebut, agaknya ia telah melihat kesucian gadis itu yang selama ini telah banyak kubaca dan kudengar dari cerita-cerita temanku yang telah menikah, bahwa seorang wanita yang belum pernah disetubuhi lelaki masih mempunyai selaput dara yang menjaga jalan masuk liang kewanitaannya sekaligus sebagai tanda keperawanannya.
Sayang sekali aku tak dapat menyaksikannya dengan jelas sebagaimana yang dilihat oleh lelaki jahanam itu, karena pantulan dari kaca meja rias dan lemari pakaian itu tertutup oleh bayangan punggung belakang tubuh telanjang lelaki tersebut. Terlihat wajah lelaki itu semakin mendekat kearah pangkal paha dari kedua belah kaki yang terkangkang dan tengah menghirup aroma yang terpancar dari selangkangan gadis belia itu yang terbuka lebar. Kata orang, wanita mempunyai bau yang khas pada vaginanya apalagi yang masih gadis, maka aroma baunya masih kental sekali, begitu sangat sembab asli perawan murni!
Aku iri dengan lelaki itu saat ini, karena seumurku sama sekali aku belum pernah mengetahui seperti apa rasanya kenikmatan yang asli ketika bersamaan dengan seorang wanita, apalagi sedekat dan seintim mereka kini. Walaupun gadis itu sedang dalam paksaan, namun tak membuat lelaki itu kehilangan selera kenikmatannya, bahkan kini setalah mencengkram kembali tungkai kiri gadis itu dengan tangannya, ia membuka mulutnya serta menjulurkan lidahnya tepat ditengah-tengah lubang berbulu gadis itu.
Aku hanya mendapati betapa kumis lelaki itu seakan telah menyatu dengan bulu-bulu jembut sang dara belia yang malang ini. Lidahnya terus bergerak-gerak lincah menyapu area terlarang milik mempelai perempuan ini yang berusaha menahan gairah keperawanannya yang terus dibangkitkan gejolaknya oleh sentuhan-sentuhan lelaki itu pada organ intimnya.
Bersambung . ..
Betapa tubuh telanjang gadis itu kini terpampang di depan matanya yang begitu buas bak singa lapar yang tengah menghampiri mangsanya, hingga yang tersisa dari tubuh indah gadis itu adalah tinggal celana dalam putihnya dan stocking hitam yang berbentuk jala-jala kecil itu yang masih membungkus kedua kakinya yang halus dengan cabikkan gaun pengantinnya masih melingkari pinggangnya, tetapi mulutnya masih tersumbat dan kedua tangannya masih terikat pula ke belakang.
Perut gadis itu rata dengan pusar yang menantang menghiasi lekuk liku perutnya yang begitu sensual mempesona berikut kaki indahnya yang dihiasi gelang kaki terbuat dari emas yang melingkar di mata kaki kanannya. Leher jenjangnya begitu mulus menopang wajahnya yang begitu sedap dipandang mata dari sudut manapun juga dan pada lehernya juga dihiasi kalung emas dengan liontin berbentuk hati yang melambangkan cinta dari pasangan pengantin itu. Rambutnya yang sebahu tergerai indah beruntaikan penuh pernak-pernik mahkota bebungaan perhiasan pengantin wanita.
Lelaki itu berdiri dan membuka kaos berwarna gelapnya, terlihatlah tubuh kekarnya yang berotot begitu perkasa membentuk tonjolan-tonjolan yang jelas serta dadanya yang penuh dengan bulu-bulu hitam yang kasar. Perutnya begitu sempurna dengan otot-otot perutnya begitu mencetak tubuh kelelakiannya. Iapun kini melucuti celananya di hadapan gadis itu yang ketakutan meringkuk di tepian ranjang mahligai perkawinannya.
Kejantanan lelaki itu masih tidur namun terlihat besar dengan kedua biji pelirnya yang menggantung dengan gagahnya kira-kira ukurannya ada dua kali lebih besar dari punyaku. Agaknya tak secepat itu lelaki perkasa ini terangsang kelelakiannya hanya cuma dengan mengemuti payudara gadis belia nan cantik yang kukira akan menawan hati bagi setiap pria yang melihatnya.
Kedua bola mata nan indah milik gadis belia cantik itu begitu kagetnya demi melihat apa yang terpampang di hadapannya dari sosok seorang lelaki gagah yang demikian perkasa, dan rasanya sang suaminya belum tentu akan memilikki tonjolan di selangkangannya seperti lelaki bajingan kepala perampok yang menyatroni rumahnya ini. Seketika tubuhnya semakin ciut saja menanti apa yang akan dilakukan lelaki itu kepadanya sesudahnya. Berikutnya lengan kirinya yang terikat erat itu dicekal oleh sang jahanam yang serta menariknya dari ranjang untuk kemudian dipaksa berdiri bersebelahan dengan tubuh lelaki itu yang telah telanjang kini.
Ketika kedua tubuh berlainan jenis kelamin itu telah berdiri, aku melihat dengan jelas bahwa ukuran lelaki tubuh lelaki itu ada dua kali lebih besar dari tubuh sang gadis malang ini. Tubuh gadis itu diraihnya sehingga tubuh mereka kini saling berhadapan, lelaki itu berjongkok tepat dihadapan tubuh sang pengantin perempuan itu kemudian dengan perlahan-lahan menyusupi gaun serta melucuti celana dalam dara itu yang tersisa.
Aku terus memandangi detil kejadian itu, saat lelaki itu mulai menarik celana itu dari bongkahan pantatnya sampai melorot ke betis indah sang wanita muda, diiringi suara sesenggukkan tangis gadis cantik nan malang ini. Kulihat sesuatu bagian dari miliknya yang terlarang dapat kulihat dengan jelas, yakni di sela-sela pangkal pahanya yang putih mulus bak lobak itu dihiasi dengan bulu-bulu halus garis kemaluannya yang masih tertutup rapat sama sekali.
Namun yang membuatku lebih bernafsu lagi adalah ketika mataku tertumbuk pada celana dalam putih sutranya gadis itu yang kini telah tergantung di betis indah kirinya, tampak pada bagian yang menutupi auratnya pada kain celana tersebut terlihat bercak lendir yang berasal dari keintimannya. Bercak cairan itu sedikit menggumpal seperti jelly yang membuatku teringat akan apa yang tertulis dalam buku pengetahuan sex yang pernah aku baca, bahwa ada beberapa wanita dalam usia suburnya akan mengalami hal seperti ini dan itu adalah tanda rahimnya telah siap untuk dibuahi oleh lelaki.
Kepala perampok itu agaknya juga telah mengetahui noda percikkan lendir gadis itu pada celananya, dan ia meraih celana dalam yang tergantung di betis kiri itu kemudian menyorongkan hidungnya mengendus sisa cairan itu. Bagai seorang maniak tulen, bajingan itu menjilati sekaligus melahap lendir di celana sang dara dengan rakus dan buas bak menjilati es krim saja layaknya.
Gadis itu hanya dapat memejamkan matanya menyaksikannya dengan penuh kengerian serta juga perasaan malu yang amat sangat dengan penuh rona merah di kedua pipinya, bahwa lelaki itu ternyata menyukai sekali cairan yang berasal dari kemaluannya serta apa yang akan dilakukan oleh lelaki itu selanjutnya terhadap seorang wanita seperti dirinya ketika telah sama-sama berdua di dalam kamar tanpa diketahui oleh orang lain. Sama sekali tak pernah diduganya bahwa seorang lelaki itu akan begitu penuh dengan nafsu binatang tatkala mencumbui seorang wanita, dan kembali air matanya berderai jatuh untuk yang kesekian kalinya. Belum pernah ia telanjang seperti ini dihadapan seorang lelaki manapun dan rasa malu itu terus mendera hati dan perasaan halusnya sebagai seorang wanita baik-baik.
"Hahaha.. manis.. lendir kemaluanmu begitu wangi dan lezat.. marilah kita nikmati malam bahagia ini berdua, bersamaku kita akan mengarungi surga kenikmatan yang tak akan kau dapatkan dari suamimu itu..", rayu lelaki bajingan yang jantan itu sambil mendekatkan wajahnya diantara celah miliknya yang selama ini belum pernah dilihat atau tersentuh oleh lelaki manapun, tak terkecuali oleh suaminya sendiri yang belum sempat mereguk kebahagiaan malam pertama mereka itu.
Dengan paksa kini ia mendorong tubuh gadis itu hingga terjerembab di atas kasur pelaminannya kembali, serta merta sebelum gadis itu tersadar apa yang akan terjadi selanjutnya, ia menyibakkan gaun pengantin yang menutupi selangkangannya, kemudian mencengkram kedua tungkai kaki gadis itu hingga dengkulnya kini tertahan pada kedua belah puting payudaranya yang memerah basah oleh sisa air liur lelaki itu saat tadi mencumbunya. Aku tak dapat melihat apa yang dilihat oleh lelaki itu kini, yang pasti aku juga sebenarnya sangat ingin melihat bagaimana bentuk dari kemaluan seorang wanita yang sama sekali belum pernah bersetubuh dengan laki-laki, tak seperti yang sering kusaksikan dalam filem biru yang rata-rata telah rusak dan bentuknya sudah jelek dan tak menggairahkan lagi untuk dilihat.
Percuma saja gadis itu berusaha mengatupkan kedua belah pahanya yang mulus itu karena cengkeraman tangan bajingan kepala perampok itu begitu kuat menahan kedua tungkai kakinya, bahkan bukaan kedua kakinya semakin melebar saja manakala kekuatan dorong lelaki itu di tambah untuk melawan daya tolak gadis itu. Aku yakin sekali lelaki itu telah berhasil menyaksikan serta menikmati keindahan dari kemaluan gadis itu seutuhnya sudah, lalu dengan menggunakan telapak kaki kanannya yang besar dan berotot, ia menginjak tungkai kaki kiri gadis itu menggantikan tangan kanannya untuk menahan agar gadis itu tetap mengangkang, kemudian tangan kanannya ia gunakan untuk membuka bibir belahan berbulu milik sang dara yang tak berdaya diperlakukan serendah dan sehina itu.
Wajah lelaki itu semakin senang setelah melihat apa yang ada dalam pangkal paha sang dara yang terbuka tersebut, agaknya ia telah melihat kesucian gadis itu yang selama ini telah banyak kubaca dan kudengar dari cerita-cerita temanku yang telah menikah, bahwa seorang wanita yang belum pernah disetubuhi lelaki masih mempunyai selaput dara yang menjaga jalan masuk liang kewanitaannya sekaligus sebagai tanda keperawanannya.
Sayang sekali aku tak dapat menyaksikannya dengan jelas sebagaimana yang dilihat oleh lelaki jahanam itu, karena pantulan dari kaca meja rias dan lemari pakaian itu tertutup oleh bayangan punggung belakang tubuh telanjang lelaki tersebut. Terlihat wajah lelaki itu semakin mendekat kearah pangkal paha dari kedua belah kaki yang terkangkang dan tengah menghirup aroma yang terpancar dari selangkangan gadis belia itu yang terbuka lebar. Kata orang, wanita mempunyai bau yang khas pada vaginanya apalagi yang masih gadis, maka aroma baunya masih kental sekali, begitu sangat sembab asli perawan murni!
Aku iri dengan lelaki itu saat ini, karena seumurku sama sekali aku belum pernah mengetahui seperti apa rasanya kenikmatan yang asli ketika bersamaan dengan seorang wanita, apalagi sedekat dan seintim mereka kini. Walaupun gadis itu sedang dalam paksaan, namun tak membuat lelaki itu kehilangan selera kenikmatannya, bahkan kini setalah mencengkram kembali tungkai kiri gadis itu dengan tangannya, ia membuka mulutnya serta menjulurkan lidahnya tepat ditengah-tengah lubang berbulu gadis itu.
Aku hanya mendapati betapa kumis lelaki itu seakan telah menyatu dengan bulu-bulu jembut sang dara belia yang malang ini. Lidahnya terus bergerak-gerak lincah menyapu area terlarang milik mempelai perempuan ini yang berusaha menahan gairah keperawanannya yang terus dibangkitkan gejolaknya oleh sentuhan-sentuhan lelaki itu pada organ intimnya.
Bersambung . ..
Langganan:
Postingan (Atom)
Labels
- ABG (8)
- Amoy (2)
- Artikel Seks (78)
- Bandung (2)
- Berita (3)
- Bestiality (16)
- Cerita Dewasa (34)
- Cerita Ngentot (22)
- cerita panas (32)
- Cerita Seks (40)
- Cerita Selingkuh (8)
- Cerita Sex Indonesia (9)
- Cerita Swinger (2)
- Daftar Isi (13)
- Daun Muda (237)
- dvd kadir doyok (1)
- dvd warkop (1)
- English Sex Stories (7)
- Fan Fiction (1)
- Gigolo (2)
- Guru SD (2)
- HCL Leaptop P30-P3002 Laptop (1)
- HCL Leaptop Z24-Z2403 Laptop (1)
- Koleksi Langka (2)
- Lain-lain (300)
- Masturbasi (29)
- mesum (12)
- Pembantu (2)
- Pemerkosaan (176)
- Perawan (6)
- Perjaka (2)
- Pesta Seks (268)
- Pesta Sex (4)
- Pria Jantan (4)
- Program kejantanan (4)
- script bisnis (1)
- Sedarah (198)
- Seks Umum (2433)
- Selingkuh (8)
- Sesama Pria (105)
- Sesama Wanita (83)
- Setengah Baya (282)
- Siswi (4)
- Siswi SMP (2)
- Siswi SMU (4)
- template website (1)
- Tukar Pasangan (104)
- warkop dki (1)