Pages

Tampilkan postingan dengan label Sesama Wanita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sesama Wanita. Tampilkan semua postingan

Selasa, 09 Maret 2010

0 Memori yang tak terlupakan - 2

Cind, kamu sayang sama saya?
Dan saya lihat Cindy mengangguk.
Boleh saya sayang kamu juga Cind?
Kali ini Cindy menatap saya dan balik bertanya, Benar kamu juga sayang sama saya? Gimana sama Rico?
Saya akan minta putus sama Rico karena saya benar-benar sayang sama kamu dan saya tidak bisa membina dua hubungan dalam waktu yang bersamaan sekalipun sayang saya ke kamu berbeda dengan sayang saya ke Rico.

Tiba-tiba Cindy mencium pipi saya dan merebahkan kepalanya di dada saya. Mungkin dia dapat mendengarkan debar jantung saya yang mengatakan betapa bahagianya perasaan saya pada pagi hari itu. Saya membelai rambut Cindy yang tergerai panjang sebahu. Tangan Cindy pun mulai terasa membelai paha saya. Terus terang, saya menyadari kalau saya termasuk type wanita yang mempunyai dorongan sexual yang tinggi. Sedikit saja saya disentuh, saya akan meminta lebih dari itu sampai saya dapat menuntaskan kebutuhan sexual saya, tapi tentunya dengan pacar saya sendiri.

Mendapat belaian tangan Cindy di daerah paha saya, langsung saya menghadapkan wajah Cindy menghadap saya dan saya cium bibirnya. Saya tahu saya yang pertama untuk Cindy dan dia belum tahu caranya berciuman. Maka saya mencoba untuk merangsangnya dengan membuka mulutnya dengan lidah saya dan saya mainkan lidah saya di dalam rongga mulutnya. Saya mengait-ngait lidahnya untuk dapat saya kulum dan saya hisap. Oohh.., nikmat sekali rasa lidahnya dalam kuluman lidah saya, dan Cindy mulai terengah-engah dengan sensasi sexual yang baru pertama dialaminya.

Cindy nampak mulai kehabisan napas ketika saya mulai mengulum dan menghisap lidahnya dengan sangat bernafsu. Tangan saya pun tidak tinggal diam, tapi mulai meraba payudara Cindy yang ternyata cukup besar, yaitu 36B dan saya sendiri 34A. Kami memang tidak pernah memakai BH kalau tidur, jadi saya dapat langsung merasakan kelembutan payudara Cindy di tangan saya. Nafsu saya untuk mengungkapkan perasaan cinta saya ke Cindy telah melupakan perasaan aneh karena memainkan payudara wanita lain. Malah sebaliknya, begitu saya memainkan payudara Cindy yang indah itu, nafsu saya makin bertambah untuk memberikan kepuasan pada Cindy disamping perasaan saya sendiri yang sudah sangat terangsang tentunya.

Cindy dengan napas terengah-engah mendorong saya pelan untuk menghentikan kuluman saya pada lidahnya.
Gila kamu, saya sampai kehabisan napas kamu ciumin seperti itu.
Kamu ngga suka Cind? Kamu marah? Kalau kamu ngga suka, kita ngga usah ngelakuin ini dan hal ini ngga akan ngerubah perasaan saya ke kamu.
Saya memang agak khawatir kalau-kalau Cindy tidak menyukai hal ini. Tapi ternyata saya keliru.

Kamu lebih gila lagi kalau kamu pikir saya ngga suka dengan semua yang kamu lakuin ke saya barusan. Saya malah mau bilang untuk jangan pernah berhenti, tapi saya juga mau kamu ajarin saya karena saya pengen bisa nyenengin kamu juga.
Saya sendiri baru sekali ini making love sama perempuan Cind, pernah ngebayangin pun ngga. Mungkin karena saya sayang banget sama kamu makanya saya bisa ngelakuin ini semua sama kamu. Cindy, boleh ngga saya senengin kamu sekarang ini dan kamu ngga usah mikirin caranya nyenengin saya juga. Kamu nikmatin aja dan kamu ikutin perasaan kamu. Boleh kan sayang?

Saya mulai memanggilnya dengan kata sayang ke Cindy dan dia menyukai panggilan itu yang dipakainya juga untuk memanggil saya. Dia hanya mengangguk sambil melingkarkan sebelah tanganya ke leher saya dan saya dekatkan wajah saya ke wajah Cindy dan saya mulai mencium bibirnya yang sexy dan menggemaskan itu kembali. Tapi kali ini saya kulum dengan perlahan dan tangan saya pun mulai kembali bergerilya.

Sambil mengulum bibirnya, tangan saya mulai saya selipkan di balik kaos tidurnya dan mulai meraba-raba payudara Cindy yang halus terasa di kulit jari-jari saya. Jari-jari saya pun mulai memainkan puting susunya yang sudah mengeras dan Cindy mulai mengerang dan napasnya makin memburu karena rangsangan di puting dan payudaranya.

Aagh.. Sayang..! Suck my nipples, please.. agh.., please..! erang Cindy ketika jemari saya dengan lincahnya memainkan puting payudaranya.
Mendengar permohonannya, saya berhenti mencium bibirnya dan tangan saya pun saya tarik keluar dari balik kaos tidurnya. Lalu saya mulai menarik kaosnya ke atas melalui kepalanya dan juga saya tarik celana pendeknya ke bawah beserta dengan celana dalamnya. Sekarang Cindy sudah bertelanjang bulat di depan saya dan saya benar-benar mengagumi badannya yang sintal dan tidak kurus.

Dengan bergegas Cindy pun mulai ikut melepaskan pakaian tidur saya satu persatu hingga kami berdua sama-sama telanjang tanpa sehelai benang pun yang menutupi badan kami. Karena masih dalam musim dingin kami mulai merasa kedinginan, sekalipun badan kami masih di bawah selimut. Saya merengkuh badan Cindy dan memeluknya dengan erat sehingga kami dapat merasakan kehangatan badan kami satu sama lain. Kami kembali berciuman dan puting susu kami saling bergesekan yang memberikan sensasi tersendiri yang membuat kami berdua menjadi lebih terangsang.

Ciuman saya mulai berpindah ke leher Cindy yang putih dan cukup jenjang dan juga sangat menggoda libido untuk menciuminya. Saya mulai menciumi dan menjilati lehernya yang sexy itu. Tangan saya pun mulai kembali menggeranyangi payudara Cindy dengan meraba-raba dan meremas daging yang kenyal dan hangat itu. Cindy mulai kembali terangsang dan megerang, terlebih ketika saya mulai memainkan puting susunya dengan memijat dan memutar-mutarnya. Putingnya terasa makin mengeras dan membengkak di antara jari-jari saya.

Ciuman saya berpindah naik ke daun telinganya yang mulai saya ciumi dan saya jilati bagian dalamnya. Begitu lidah saya menyentuh telinga bagian dalamnya, napas Cindy makin memburu dan terengah-engah. Setelah beberapa saat saya mainkan lidah saya di bagian dalam telinganya, saya rasakan badan Cindy mengejang beberapa saat untuk kemudian melemah. Saya yakin Cindy telah mengalami klimaksnya yang pertama, tapi saya tidak berhenti sampai di situ. Saya ingin pagi itu menjadi hari yang tidak pernah terlupakan bagi Cindy.

Lantas ciuman saya berpindah ke arah payudaranya. Menciumi payudaranya yang kenyal sambil sebelah tangan saya tetap memainkan payudaranya dan juga putingnya yang sebelah lagi. Cindy mulai terangsang kembali ketika saya mulai menciumi dan menggigit perlahan payudaranya yang kenyal itu.

Perlahan-lahan lidah saya mulai saya julurkan dan menjilat putingnya yang sudah sangat mengeras. Cindy menjerit kecil ketika lidah saya menyentuh puting susunya dan mulai terengah-engah ketika saya mulai menjilatinya berulang-ulang dengan intens.
Aahh.. Sayang, jangan berhenti. Uugghh.., enak sekali Sayang. Aagh..!
Mendengar rintihannya, nafsu saya makin besar untuk memberikan kepuasan pada wanita yang sangat saya cintai ini.

Putingnya yang berwarna pink dan sudah mengeras mulai saya hisap perlahan dan makin lama makin dalam yang membuat Cindy makin menjerit dan terengah-engah serta mengerang tidak karuan. Semuanya makin menjadi ketika saya mulai menggigit-gigit putingnya dengan lembut. Yang saya kira Cindy akan merasa sakit karena untuk pertama kalinya puting susunya digigit, ternyata malah sebaliknya. Dia menekan kepala saya lebih dalam ke payudaranya dan memohon saya untuk menggigit putingnya lebih keras.

Takut dia akan merasa sakit, tangan saya yang sedang bermain dengan payudara dan putingnya yang sebelah kanan saya arahkan ke selangkangan Cindy yang saya yakin sudah amat basah dengan maksud untuk menambah rangsangan pada Cindy. Dugaan saya benar. Vagina Cindy sudah basah kuyup dengan lendir kewanitaannya yang keluar akibat dari orgasmenya yang pertama dan rangsangan-rangsangan yang masih dirasakannya. Saya ingin sekali mencicipi lendir kewanitaan Cindy, tapi saya ingin membuat lendir itu lebih banyak lagi.

Jilatan di puting payudara Cindy makin sering saya lakukan bergantian dengan gigitan-gigitan lembut dan kasar, dan kali ini ditambah dengan jari-jari saya yang menari di antara bibir-bibir vaginanya. Uugh.. sangat lembab dan hangat vagina Cindy di jari-jari saya, tapi juga begitu sensual yang saya rasakan. Jari telunjuk saya menari berputar-putar di sekitar dan di depan lubang vagina Cindy yang tidak henti-henti mengeluarkan lahar panasnya.

Saya gemas sekali dan ingin cepat-cepat turun ke bawah mencicipi lendir kewanitaannya. Tapi saya juga tahu kalau Cindy ingin mencapai orgasme keduanya dan saya tidak tega untuk menghentikannya dan itu tidak mungkin saya lakukan kepada wanita yang saya cintai ini. Sambil tetap menjilati dan menggigit puting susunya secara bergantian, ujung jari telunjuk saya mengambil cairan lendir kewanitaannya untuk kemudian saya taruh di klitorisnya dan jari telunjuk itu mulai saya mainkan dengan membuat gerakan melingkar di atas klitoris Cindy.

Reaksi Cindy seperti yang sudah saya bayangkan sebelumnya bahwa dia akan menjerit menerima kocokan telunjuk saya di klitorisnya.
Aaghh.. Sayang, apa yang kamu lakukan..? Ouughh.., just dont stop it.. Aacch..!
Badan Cindy mulai bergelinjang dengan hebat dan permainan lidah saya mulai saya tingkatan menjadi hisapan-hisapan dan gigitan yang dalam pada puting payudara Cindy. Cindy begitu terangsang sampai menarik kepala saya lebih dalam ke payudaranya dan juga menjepit jari-jari saya yang ada di selangkangannya.

Aacchh.. Sayang..! Cindy menjerit panjang sambil menaikkan pantat dan pinggulnya bersamaan dengan mengalirnya lahar panas dari vaginanya yang turun membasahi jari-jari saya.
Saya tarik jari-jari itu dari selangkangan Cindy dan saya jilat jari telunjuk saya yang basah oleh lendir orgasme Cindy.
Saya bisikkan kata-kata mesra di telinga Cindy yang sedang terengah-engah dan mencoba mengatur napasnya kembali.
You taste so nice, darling..! sambil saya ciumi telinga dan leher Cindy.

Beberapa saat kemudian Cindy menggeliat karena helaan napas saya di telinganya. Vagina saya mulai terasa sensitif, basah dan membengkak menahan keinginan saya untuk dicumbu oleh Cindy. Tapi saya tahu bahwa Cindy belum mahir atau mungkin belum tahu caranya. Tapi sialnya, Cindy menjamah vagina saya dengan jari-jarinya yang membuat saya sedikit terkejut dan mengejang menerima sentuhannya. Cindy pun ternyata kaget mendapati vagina saya sudah bengkak dan sangat basah.

Sayang, punya kamu udah basah banget kaya vagina Cindy. Boleh ngga Cindy lakuin kaya yang kamu lakuin ke Cindy tadi..? Please..?
Boleh, asal memang kamu juga mau ngelakuinnya dan bukan cuman karena pengen nyenengin saya.
Kok kamu ngomongnya gitu sich, Sayang. Kalau Cindy mau ngelakuin yach karena Cindy sayang sama kamu dan Cindy cuman mau kamu ngerasain senang cuman dari Cindy seorang dan bukan dari orang lain.

Cindy tidak lagi menunggu jawaban saya, tapi langsung menyambar mulut saya dan melumat bibir saya dengan penuh nafsu. Ternyata Cindy seorang Quick Learner karena ciuman, lumatan dan hisapan lidahnya di dalam mulut saya begitu merangsang dan saya tidak sanggup untuk menunggu lebih lama lagi. Tangan Cindy saya raih dan saya letakkan di payudara saya. Cindy mengerti maksud saya.

Sambil menghisap lidah saya, Cindy mulai meremas payudara saya dan memainkan kedua puting saya bergantian.
Uughh.. ach.. Sayang, please..! Bite my nipples, please..!
Cindy langsung menurunkan mulutnya untuk kemudian melumat puting payudara saya yang sudah benar-benar mengeras.
Ach.. Sayang, oh ya Sayang..! kata-kata itu berulang kali saya ucapkan ketika mulut Cindy mulai menjilati dan menghisap dalam puting payudara saya bergantian dengan gigitan-gigitannya.

Bersambung . . . .

0 Memori yang tak terlupakan - 3

Akhirnya saya benar-benar tidak kuat untuk menahan orgasme saya, tapi hal itu tidak boleh terjadi karena saya ingin mencapai klimak saya bersamaan dengan Cindy. Lalu Cindy saya tarik ke atas dan saya rebahkan badannya sehingga saya berada di atasnya lagi. Saya tatap wajah Cindy yang imut-imut dan menggemaskan itu.
Kok kamu berhentiin saya? Saya yakin kamu belum mendapatkan kepuasan seperti yang saya rasakan tadi kan? Kenapa? Ngga enak yach permaianan saya?
Wajah Cindy benar-benar menggemaskan saya karena dia begitu terheran-heran melihat saya menghentikan aktivitasnya.

Sayang, kamu hampir bikin saya nyampai klimaks, tau ngga..?
Trus..? Kok kamu minta Cindy berhenti..?
Saya tuch ngga mau klimaks sendirian, saya pengen kita sama-sama ngerasain klimaks.
Tapi Cindy kan udah dua kali kamu bikin klimaks, sedangkan kamu sekali aja belum. Ive been unfair to you.
Who cares about being fair? Saya sayang kamu Cind, ngeliat kamu senang itu udah bikin saya senang. Kamu senang ngga dengan semua yang saya lakuin ke kamu tadi?

Cindy tidak langsung menjawab tapi langsung melumat bibir saya dan memasukkan lidahnya ke mulut saya untuk kemudian menghisap lidah saya.
Itu tanda terima kasih saya dan jawaban saya kalau saya tuch sukaa.. banget dan saya pasti bakalan ketagihan. Gimana kalau saya tiap malam minta kamu ngelakuin semua itu ke saya? Apa kamu sanggup?
Cindy tertawa-tawa sambil mengedipkan sebelah matanya untuk menggoda saya. Wah.., ternyata dia belum tahu tentang tingginya nafsu sexual saya, kata saya dalam hati.

Kalau ternyata kamu yang kewalahan dalam menuhin keinginan sexual saya gimana? tanya saya balik pada Cindy.
Ahh.. saya tidak mungkin kewalahan karena saya pasti akan menikmati semuanya sama kamu. jawab Cindy dengan gaya yang dibuat-buat sedikit sombong dan membuat saya makin gemas melihatnya.

Tanpa berkata-kata lagi, bibir Cindy langsung saya lumat kembali di dalam mulut saya dan lidah saya mulai saya julurkan ke dalam mulutnya untuk mencari lidahnya. Akhirnya lidah kami saling melumat, menghisap dan mengait-ngait yang membuat napas kami mulai memburu karena menahan rangsangan-rangsangan yang hebat supaya kami tidak mencapai orgasme terlalu cepat. Badan saya masih berada di atas badan Cindy dan ciuman saya turun beralih ke payudara Cindy. Saya begitu menyukai puting dan payudara Cindy yang di mata saya sangat sexy dengan paduan yang serasi antara putingnya yang berwarna pink dengan kulitnya yang putih.

Tidak bosan-bosannya saya mencium, menjilat, menghisap dan mengigit puting payudara Cindy yang tanpa saya sadari menjadi bagian sensitif bagi Cindy setelah vaginanya. Cindy mulai mengerang-ngerang dan menjerit kembali ketika lidah saya mulai menjilati putingnya silih berganti dengan hisapan dan gigitan. Tangannya sudah mulai mengacak-ngacak rambut saya dan menekan kepala saya ke payudaranya agar saya muali mgenggigit lebih keras putingnya.

Sambil mencumbu payudaranya yang indah, tangan saya turun ke selangkangan Cindy dan merentangkan kedua pahanya sehingga Cindy dalam keadaan mengangkang dan badan saya ada di tengah kedua pahanya yang terbuka lebar. Melihat Cindy yang sudah mulai sangat terangsang, ciuman saya mulai beralih turun dan satu persatu saya mulai menciumi perut dan terus ke bawah.

Cindy sudah mulai dapat mengatur napasnya kembali ketika mulut saya sudah menjauhi kedua payudaranya dan beralih ke daerah perutnya. Setiap badan Cindy saya nikmati dan menciuminya lembut dan menjilatnya sampai ke pangkal pahanya. Napas Cindy mulai tidak teratur ketika saya mulai menjilati selangkangan Cindy tanpa menyentuh vaginanya sedikit pun. Saya sapu lidah saya berulang-ulang, naik-turun di selangkangannya silih berganti kanan dan kiri.

Vagina Cindy ditumbuhi bulu-bulu yang cukup lebat yang terlihat sudah sangat basah dan lembab oleh lendir kewanitaannya. Bau khas lendir kewanitaanya sudah sangat menggoda keinginan saya untuk menenggelamkan seluruh wajah saya di situ, tapi saya ingin Cindy benar-benar terangsang dan menginginkan saya lebih dari segalanya. Maka saya tahan keinginan saya itu dengan tetap menjilati selangkangannya dan juga memegang tangan Cindy yang berusaha mengarahkan kepala saya ke vaginanya.

Sayang, apa yang kamu lakukan..? Ooh.. please, ciumin memek saya Sayang..! Please, suck my clit, please Sayang..! Fuck me, oohh.. please Sayang, jilatin memek saya..!
Kata-kata kotor Cindy mulai keluar dan terdengar sangat merangsang libido saya. Keringat dingin Cindy mulai keluar menahan nafsunya sendiri karena saya masih belum menyentuh vaginanya dan tetap menciumi dan menjilati selangkangannya.

Cindy mengerang-ngerang dan menjerit-jerit, memohon saya untuk menggarap vaginanya dan akhirnya saya lakukan juga. Jari telunjuk saya yang sebelah kanan saya sapukan di sela-sela bibir vagina Cindy yang ternyata sudah teramat basah dan saya jilati jari telunjuk saya. Lalu dengan kedua tangan saya, saya buka bibir vagina Cindy yang sudah lengket dengan lendir kewanitaannya. Oh.., vagina Cindy sangatlah sexy di mata saya. Di balik rimbunnya bulu-bulu kemaluan Cindy, ternyata kulit vagina Cindy bagian dalam juga berwarna pink dengan kelentitnya yang sudah amat membengkak sebesar kacang.

Lalu saya sapukan lidah saya di belahan vagina Cindy dari atas ke bawah dan Cindy mulai menjerit kecil.
Oougghh.. Sayang, oh iya Sayang.. please, dont stop. I like that, please fuck me Darling. Please.., please..!
Cindy benar-benar sudah terangsang, dan kali ini saya jilati vagina Cindy berulang-ulang dari atas ke bawah, bawah ke atas bergantian. Saya jilat dan hisap semua lendir kewanitaannya dan saya benar-benar menyukai rasanya.

Setelah habis saya telan semua lendir kewanitaannya, bibir vagian Cindy saya buka lebar-lebar dan saya julurkan lidah saya lebih dalam ke lubang vagina Cindy. Dan setelah semua lidah saya masuk lalu saya keluarkan lagi dan saya lakukan berulang-ulang dan Cindy menyukainya.
Sayang.., keep fucking me with your tounge..! Oh yes, oughh..!

Tiba-tiba saya arahkan lidah saya ke kelentit Cindy dan saya jilat lidah Cindy sekilas tapi membuat Cindy berteriak. Cindy tidak mengira kalau lidah saya akan menjilat kelentitnya karena di situlah tempat paling sensitif buat Cindy tapi sekaligus mejadi tantangan buat saya untuk memuaskan Cindy.

Saya menjulurkan lidah saya untuk kembali mejilati kelentit Cindy. Cindy mulai menggelinjang dengan hebatnya dan menjerit kuat ketika saya menghisap kelentitnya dengan kuat. Pinggulnya terangkat dan badannya mengejang bersamaan dengan mengalirnya lahar panas yang sangat banyak dari lubang vaginanya yang sebagian juga membasahi bibir saya. Terus terang, saya menyukai orgasme yang berkali-kali dalam satu kali permainan, dan saya ingin Cindy juga merasakannya.

Maka ketika badan Cindy mulai melemah dan cairan dari vaginanya masih mengalir, saya masukkan dua jari saya ke dalam vagina Cindy sampai saya dapat menyentuh G-Spotnya. Cindy menjerit kecil ketika jari-jari saya mulai masuk ke dalam. Sambil saya jilati kembali kelentit Cindy, saya mulai mengocok vagina Cindy dengan memasukkan dan mengeluarkan dua jari saya di vagina Cindy berulang-ulang. Saya tahu kalau kelentit Cindy mulai sensitif dengan sentuhan karena Cindy berusaha untuk menjauhkan kepala saya dari selangkangannya. Tapi saya tetap menjilati dan menghisap kelentitnya sambil mengocokkan jari-jari saya di vaginanya. Tangan Cindy pun mulai berhenti meronta dan Cindy pun mulai menikmati rangsangan di vaginanya kembali.

Oouughh.. Sayang. Keep fucking me..! Oohh yes.., faster, faster, darling..!
Kocokan jari-jari saya di dalam vagina Cindy makin saya percepat dan makin dalam, begitu pula dengan hisapan dan gigitan saya di kelentitnya sampai Cindy mengalami orgasme sekali lagi dan akhirnya tubuhnya melemah. Sesungguhnya saya ingin menstimulasinya lagi agar Cindy dapat mencapai orgasme sekali lagi agar dia benar-benar puas, tapi saya kasihan melihat Cindy sudah kelelahan, dan ini pengalaman pertamanya dalam menikmati orgasme.

Cindy menutup matanya dengan napas yang masih terengah-engah dan saya memandanginya sambil membelai-belai rambutnya. Sekali-sekali saya mencium lembut pipinya. Ternyata saya benar-benar mencintai wanita ini.

Cindy tertidur pulas sampai hampir 20 menit, dan saya tidak bosan-bosannya memandangi wajahnya. Saya benar-benar tidak percaya kalau saat itu saya dapat melihat, memeluk dan mencium seluruh bagian tubuh Cindy. Saya juga hampir tidak percaya bahwa cinta saya pada Cindy tidak bertepuk sebelah tangan. Akhirnya Cindy bangun dan mengatakan bahwa ia sangat lemas dan ngantuk.
Sayang, maaf yach Cindy ninggalin kamu tidur. Cindy lemas banget tapi juga puas banget. Kamu belum yach Sayang..? Kamu mau Cindy puasin juga..?

Tapi mata Cindy terlihat sangat mengantuk dan saya tidak mungkin tega untuk memintanya memuaskan saya. Akhirnya Cindy saya tarik dalam pelukan saya.
Ngga usah Sayang, kamu tidur aja di pelukan saya yach..!
Cindy mengangguk dan langsung tertidur lagi, saya pun akhirnya tertidur juga.

Kira-kira jam 01.00 siang kami bangun dan mandi bersama-sama. Setelah kami bercinta lagi, barulah Cindy mulai belajar memuaskan saya dan saya benar-benar puas karena memang saya sangat mencintainya. Hari-hari kami lalui dengan penuh cinta dan juga bercinta setiap ada kesempatan dan kesempatan itu setiap hari dan kami dapat melakukan 3 kali dalam sehari.

Sampai 2 tahun tidak terasa kami harus berpisah karena Cindy takut tidak dapat hidup tanpa saya. Dia memohon saya untuk membiarkannya pergi karena dia ingin belajar menjalani hidupnya tanpa saya di sampingnya karena kenyataan seperti itulah yang harus kami hadapi di kemudian hari. Kenyataan bahwa kami harus berpisah. Kalau saya masih mempunyai kesempatan untuk bertemu Cindy lagi suatu saat kelak, saya akan tetap mengatakannya bahwa saya masih mencintainya dan saya tidak akan pernah berhenti mencintainya dalam keadaan apapun di kehidupan kami.

Tamat

0 Benih cinta sejenis

Ringkasan ini tidak tersedia. Harap klik di sini untuk melihat postingan.

0 Memori yang tak terlupakan - 1

Nama saya Anggi. Saya bekerja sebagai manager di salah satu perusahaan multinational yang cukup terkenal di Indonesia. Sudah lama saya tertarik untuk menceritakan pengalaman pribadi saya yang terjadi kira-kira 7 tahun yang lalu di situs ini. Tapi karena kesibukan saya di kantor yang akhirnya baru memberikan kesempatan pada saya untuk menulis sekarang ini.

Saya memang bukan pengagum sesama wanita yang sejati, karena saya juga menyukai pria. Dan kejadian ini adalah yang pertama yang saya rasakan dan saya lakukan selama 2 tahun, dimana wanita ini benar-benar telah membuat saya jatuh cinta dengan sesama jenis. Dan cinta itu masih saya rasakan sampai sekarang, sekalipun kami sudah berpisah 5 tahun yang lalu tanpa kami pernah bertemu lagi. Dia bidadari pertama yang pernah saya jumpai dan membuat saya bertekuk lutut dan tidak pernah dapat berhenti untuk mencintainya.

Kejadiannya berawal 7 tahun yang lalu ketika saya masih menjalani kuliah di negara kangguru, Australia. Waktu itu saya sudah ada di tahun kedua kuliah saya, yang berarti saya hanya tinggal menyelesaikan setahun lagi untuk mendapat gelar Sarjana. Tapi saya sendiri sudah tinggal di kota Sydney lebih dari 4 tahun sampai saya bertemu Cindy di tahun kedua kuliah saya.

Cindy adalah pendatang baru dari Jakarta waktu itu. Cindy baru menyelesaikan pendidikan SMA-nya di Jakarta dan langsung ke Sydney untuk meneruskan kuliahnya. Karena jauh terpautnya usia kami, yaitu 9 tahun, maka kami berdua pun tidak pernah menyangka bahwa kami akan dapat saling tertarik dan jatuh cinta. Apalagi cinta sesama jenis ini belum pernah kami rasakan dan kami lakukan sebelumnya.

Terlebih lagi, saya telah mempunyai pacar seorang pria yang sangat tampan dan pinta (berdasarkan kenyataan dan menurut pendapat semua teman-teman dan juga keluarga saya). Ketampanan pacar saya terbukti dengan banyaknya teman-teman wanitanya, baik orang Indonesia ataupun bule-bule Australia yang mengutarakan langsung keinginan mereka untuk menjadi pacar Rico (bukan nama sebenarnya).

Kami memang tinggal berlainan kota. Saya kuliah di Sydney, sedangkan Rico kuliah di kota Canberra. Kami bertemu minimal sekali dalam sebulan dan biasanya Rico selalu menginap di apartemen saya kalau dia sedang mengunjungi saya di Sydney. Saya sangat mencintai Rico karena dia adalah cinta pertama saya dan pada Rico lah saya berikan kegadisan saya. Saya pernah berpikir bahwa saya tidak mungkin dapat hidup tanpa Rico.

Banyak pria yang saya temui di Australia yang ingin menjadi pacar saya termasuk orang-orang bule di sana, tapi waktu itu hati dan cinta saya hanya untuk Rico. Tapi setelah Cindy muncul dalam kehidupan saya, semuanya jadi berubah total dan saya baru dapat merasakan apa yang dinamakan mencintai dan dicintai, dimana segalanya begitu indah untuk dijalani dan dirasakan.

Cindy sebenarnya adalah teman sekelas adik saya. Adik saya ini datang menyusul saya ke Sydney juga untuk melanjutkan kuliah. Setelah 4 tahun saya hidup sendiri atau sharing apartemen bersama orang bule (baik sesama pelajar atau saya tinggal bersama keluarga Australia di sana), akhirnya saya memutuskan untuk menyewa apartemen sendiri bersama adik saya.

Kami berdua menyewa apartemen dengan 2 kamar tidur dan 1 kamar mandi. Kamar tidur saya jauh lebih besar dibandingkan kamar tidur adik saya, sehingga siapapun yang ingin menginap di apartemen kami akan tidur di kamar saya, terutama kalau jumlahnya lebih dari 2 orang. Tapi kalau hanya 2 orang biasanya akan kami bagi menjadi 2, yaitu 1 orang tidur bersama adik saya dan 1 orang lagi bersama saya, sehingga kami tidak memerlukan kasur tambahan.

Karena kami hanya hidup berdua di negara orang, maka teman-teman saya adalah teman adik saya juga dan begitu juga sebaliknya. Terus terang, saya tidak ingin adik saya terjerumus dengan pergaulan yang tidak baik di sana. Oleh karena itu, dengan cara yang halus saya mendekatkan diri pada teman-temannya dan juga mengenalkan dia pada teman-teman saya.

Setelah saya tinggal berdua dengan adik saya ini, otomatis pertemuan saya dengan Rico menjadi lebih jarang, karena Rico tidak dapat lagi menginap di rumah saya. Kalaupun Rico ingin bertemu saya lebih lama dari sekedar mengobrol, biasanya kami menginap di hotel. Saya tidak ingin memberi contoh yang jelek kepada adik saya dengan membiasakan pacar-pacar kami menginap di apartemen kami. Disamping itu, Rico pun sibuk dengan pembuatan skripsinya karena tahun itu adalah tahun terakhirnya di Australia sebelum akhirnya dia lulus kuliah dan pulang ke Jakarta setahun lebih awal dari saya sendiri. Pada saat itulah saya berkenalan dengan Cindy.

Waktu itu udara di Sydney cukup dingin karena memang pertengahan winter. Dengan memakai sweater dan jaket, saya turun dari bis dan berlari kecil menuju rumah. Bayangan segelas hot chocolate sudah menari-nari di pelupuk mata saya dan sudah terasa di tenggorokan saya nikmatnya. Membayangkan hal itu, saya benar-benar ingin cepat sampai di apartemen, karena udara di luar makin bertambah dingin.

Hari itu cukup melelahkan karena banyaknya tugas kuliah yang harus saya kerjakan di perpustakaan kampus. Saya sendiri baru meninggalkan perputakaan sekitar pukul 9 malam, waktu pegawai di sana mengingatkan bahwa mereka akan tutup. Begitu sampai di depan gedung apartemen, saya melihat lampu apartemen saya sudah terang, menandakan bahwa adik saya juga sudah pulang. Kami berdua memang sering pulang malam atau malah menginap di rumah teman karena banyaknya tugas-tugas kuliah yang harus kami kerjakan secara berkelompok.

Tapi nampaknya malam itu adik saya membawa beberapa temannya ke rumah. Apartemen saya ada di lantai dasar, sehingga suara dan ketawa mereka dapat terdengar dari luar. Tentu saja dalam bahasa Indonesia. Tapi suara mereka langsung berhenti ketika saya memutar kunci dan membuka pintu apartemen. Dan memang benar dugaan saya kalau saya kedatangan 2 orang tamu, yaitu teman-teman adik saya.

Mereka terlihat langsung menjaga prilaku mereka ketika mereka tahu kalau kakak dari si empunya apartemen itu sudah pulang dan pastinya dalam keadaan sangat lelah karena memang jam sudah menunjukkan pukul 10 malam.

Seperti yang lainnya, mereka memberi salam dengan panggilan Mbak ke saya dan saya balas dengan anggukan dan senyuman. Bayangan hot chocolate masih mendominasi pikiran saya malam itu. Lalu saya cepat-cepat berganti pakaian rumah (tentunya masih memakai sweater..!) dan pergi ke dapur untuk merealisasikan impian saya itu.

15 menit kemudian saya sudah bergabung dengan mereka di ruang tamu yang juga merangkap sebagai ruang TV atau keluarga. Baru saya sadari bahwa tamu-tamu adik saya ini belum pernah datang sebelumnya, dan salah satu dari mereka telah menarik perhatian saya dan yang akhirnya saya tahu kalau namanya Cindy. Saya sangat menyukai caranya dia berbicara atau ketika sedang bercerita. Tapi dari semua itu, mata Cindy lah yang membuat saya ingin mengenalnya lebih dekat.

Saya memang tidak pandai membaca pandangan mata, tapi entah kenapa setiap kami mengobrol dan tidak sengaja bertatapan, ada perasaan yang lain dalam hati saya. Entah apa, tapi yang pasti makin kami sering bertemu dan semakin saya mengenalnya, saya semakin menyayanginya.

Ketidakhadiran Rico di akhir pekan tidak lagi menjadi masalah bagi saya. Padahal biasanya saya akan uring-uringan jika Rico bilang tidak dapat datang mengunjungi saya. Biasanya Rico harus merayu saya supaya saya mau mengerti dan tidak marah berkepanjangan. Entah kenapa, sejak Cindy sering menginap di rumah, saya cukup melepas rindu saya pada Rico melalui telpon. Mungkin karena kesibukannya dalam menyelesaikan skripsinya Rico tidak merasa curiga atau mempermasalahkan perubahan sikap saya.

Sekalipun kami makin jarang bertemu, saya tetap menghubunginya secara rutin lewat telpon. Hubungan saya sendiri dengan Cindy semakin dekat dan saya juga mulai merasakan perhatiannya pada saya. Tapi hanya sebatas itu, karena kami berdua memang sama-sama tidak berani memulainya. Saya rasa, pandangan mata kami yang lebih sering berbicara kalau sebenarnya kami saling mencintai. Tapi mungkin perasaan saya pada Cindy terlalu besar sehingga saya tidak mampu untuk menutupinya lebih jauh.

Setiap kami bersentuhan lengan, hati saya langsung berdebar-debar dan mengharapkan lebih dari itu. Oh ya, Cindy selalu tidur bersama saya setiap dia menginap di rumah. Dia selalu datang berdua dengan teman satu apartemennya dan temannya tidur di kamar adik saya. Tapi sejauh itu tidak ada yang kami lakukan selain mengobrol sebelum tidur atau setelah bangun tidur. Sampai pada suatu hari, saya merasa cemburu padanya waktu kami pergi beramai-ramai dan Cindy membawa 2 teman kuliah prianya yang berasal dari Korea.

Sepanjang jalan dia bersenda gurau bersama teman Korea-nya itu dan seakan-akan saya tidak dihiraukannya. Saya benar-benar sedih dan marah, tapi saya tahu kalau saya tidak punya hak untuk marah dan akhirnya saya hanya dapat diam sepanjang perjalanan kami sampai kami pulang ke rumah saya. Cindy malam itu juga menginap di rumah seperti biasanya. Tapi malam itu, begitu kami sampai saya langsung mandi dan masuk ke kamar untuk tidur. Saya tidak mempunyai keinginan lagi untuk mengobrol karena saya masih merasa cemburu yang teramat sangat.

Esok paginya saya bangun agak siang, sekitar pukul 9 dan saya yakin adik saya sudah pergi kuliah bersama teman Cindy. Tapi Cindy masih ada di samping saya ketika saya bangun. Dia memiringkan badannya dan menghadap saya yang masih tidur telentang. Saya cukup kaget ketika terbangun dan Cindy sedang memperhatikan saya. Dia memberikan senyum tercantiknya untuk saya pagi itu. Ingin sekali rasanya saya mencium dan memeluknya. Tapi itu tidak mungkin saya lakukan. Paling tidak, saya belum berani melakukannya.

Melihat dia tersenyum sambil menatap saya, langsung saya tanyakan alasannya, Ada apa? Kenapa kamu senyum-senyum kaya gitu? Jam berapa kamu bangun?
Nothing. Seneng aja ngeliat kamu tidur? Saya ngga bisa tidur semaleman.
Kenapa ngga bisa tidur? Abis dapat telpon dari Jakarta lagi? Mama sama Papa kamu bertengkar lagi?

Saya bisa sangat dekat dengan Cindy karena Cindy banyak bercerita tentang keluarganya, juga tentang orang tuanya yang sering bertengkar. Cindy anak tertua dari 2 bersaudara. Adiknya laki-laki.

Cindy menggeleng.
Trus, kenapa ngga bisa tidur? tanya saya sambil saya menatap balik ke Cindy dan dia terdiam beberapa saat sebelum berkata-kata yang membuat saya sangat terkejut tapi juga sangat senang.
Hhmm.. kamu marah yach sama saya?
Sambil menanyakan hal ini Cindy menundukkan kepalanya tanpa berani menatap mata saya. Posisi badan kami belum berubah, dimana badan Cindy masih miring menghadap ke saya yang masih tidur telentang.

Pelan-pelan saya mengangkat dagu Cindy sehingga kami bertatapan dan saya balik bertanya, Dari mana kamu tau kalau saya marah sama kamu?
Kamu ngediemin saya dari kemaren waktu kita jalan-jalan. Kamu ngga ngajak ngomong saya sedikit pun. Begitu pulang pun kamu langsung tidur abis mandi. Biasanya kita selalu punya waktu untuk ngobrol. Kamu cemburu yach sama temen-temen Korea saya itu?

Saya benar-benar kaget dengan kalimat Cindy yang terakhir, tapi saya pikir ini saatnya saya harus berkata jujur pada Cindy. Tapi saya mulai pengakuan saya dengan anggukan kepala untuk membenarkan bahwa memang saya cemburu, sekaligus melihat reaksi dan jawaban dari Cindy. Dan jawabannya benar-benar membuat saya bahagia.

Saya khan cuman berteman sama mereka. Saya ngga punya hubungan apa-apa sama mereka. Kemarin itu mereka cuman minta diceritain tentang pulai Bali dan Jakarta dan saya bilang turis di Bali cantik-cantik, rugi kalau mereka ngga pernah datang ke Bali. Kamu jangan cemburu buta gitu dong dan kamu tuch ngga perlu cemburu sama siapa pun. Saya yang seharusnya cemburu kalau ngeliat kamu lagi ngobrol di telpon sama Rico. Tapi saya tau kalau saya ngga punya hak untuk marah.

Saya benar-benar kaget tapi juga bahagia mendengar semua pengakuan Cindy dan saya benar-benar yakin kalau cinta saya tidak bertepuk sebelah tangan. Saya mulai memberanikan diri untuk menariknya dalam pelukan saya dan Cindy tidak menolaknya. Sambil berada di pelukan saya, berbagai pertanyaan saya tanyakan pada Cindy.

Bersambung . . . .

0 Andani Citra - The other side of me

Ini adalah pengalamanku yang agak beda dari yang biasa kuceritakan pada pembaca. Karena kali ini aku akan membuka sisi lesbianku, seperti yang dikatakan ilmu psikologi bahwa setiap manusia itu tidak 100% homoseks, juga tidak 100% heteroseks. Pernah diceritakan pada kisah-kisahku sebelumnya bahwa aku juga pernah melakukan aktivitas seksual dengan sesama jenisku walau bersamaan dengan lawan jenisku. Namun kecenderunganku pada wanita paling cuma 25%, cuma buat variasi atau iseng saja. Pada kesempatan ini aku akan menceritakan aktivitas seksku dengan sesama jenis secara khusus.

*****

Diantara empat sekawan geng-ku mungkin yang belum banyak diketahui pembaca adalah Ratna, aku memang belum sempat menuliskan pengalaman-pengalaman kami bersamanya. Ratna ini orangnya paling kalem diantara kami, juga paling pintar dalam pelajaran. Dibanding kami bertiga yang masih sendiri atau sering gonta-ganti pacar, perjalanan cintanya adalah yang paling mulus, cowoknya seorang liberal sehingga sehingga membiarkannya bebas bertualang dengan cowok lain, asalkan hatinya tetap untuknya, begitu kata cowoknya yang juga pernah terlibat ML denganku itu.

Dia mempunyai tubuh langsing dengan payudara sedang, berambut hitam sebahu. Wajahnya bersih serta bermata bening dan berbibir indah, membuat setiap pria terkesima oleh pesonanya. Karena lebih banyak menghabiskan waktu dengan pacarnya, kebersamaannya denganku lebih sedikit dibanding dua temanku lainnya.

Hari itu kami rencananya akan clubbing, sebelumnya aku harus menjemput Ratna dulu di rumahnya baru ke rumah Verna yang tidak terlalu jauh dari sana, barulah berangkat bareng dengan mobilnya Verna. Aku sampai ke rumah Ratna terlalu pagi agaknya, baru jam setengah delapan malam. Setiba di sana aku disambut mamanya yang mengatakan kalau Ratna sedang mandi, beliau mempersilakanku langsung saja ke kamarnya di lantai tiga.

"Hai, Ci, masuk aja dulu, gua belum beres nih!" ajaknya saat membuka pintu.

Jelas sekali dia baru mandi karena rambutnya basah dan cuma memakai handuk hijau yang melilit di tubuhnya.

"Walah, lu baru mandi lu malam gini!" kataku.
"Hehehe.. Tadi ketiduran lama abis nonton film, ya sekalian isi tenaga buat nanti lah!" jawabnya.

Dia duduk di ranjang dan mengoleskan body lotion pada pahanya, dipersilahkannya aku duduk di sebelahnya. Kuperhatikan tubuh montoknya yang cuma terbalut handuk dengan kulit putih mulus, kaki kanannya yang sedang diolesi lotion ditekuk sehingga memancarkan keindahannya.

"Ikutan Amway (salah satu usaha MLM) lu Na? Bukannya biasa lu pake Bodyshop?" tanyaku merujuk pada body lotion itu.
"Nggak, itu saudara gua nawar-nawarin terus sih, jadi aja gua beli deh, lumayan mahal loh!"
"Bagus nggak tapi?"
"Ya gitulah, kata gua sih nggak beda jauh, cuma bantuin saudara gua nambah poin aja sih," jawabnya, "Nih.. Coba aja sama lu sini!" seraya menawarkannya padaku

Aku menjulurkan telapak tangan menerima sedikit cairan itu, lantas kuoleskan pada lengan dan betisku yang terbuka karena saat itu memakai celana jeans ketat sepanjang lutut.

"Ci, bisa tolong gosokin ke punggung sekalian nggak?" pintanya sambil melepas handuk yang membelit tubuhnya sehingga terlihatlah tubuh telanjang dibaliknya.

Ratna merebahkan tubuhnya tengkurap dan menaruh kepalanya pada kedua lengannya yang dilipat. Mulailah aku menggosok punggungnya, perlahan sambil memijat. Dia senyum-senyum kecil sambil dan memuji pijatanku yang katanya enak dan lembut.

"Eemmhh.. Enak Ci, kaya di salon aja, lu emang bakat mijat deh!"
"Enak aja.. Gua disamain tukang pijat, iihh!" kataku sambil menepuk pelan pantat montoknya.
"Aw.. Genit ah lu, tepuk-tepuk pantat segala" sambil tertawa cekikikan.

Mumpung tanganku sudah mendarat di pantatnya dan cairan itu masih tersisa sedikit ditanganku, akupun sekalian memijati pantatnya.

"Disini sekalian dioles juga yah, tanggung nih dikit lagi, sayang kan mahal-mahal mubazir" saranku yang lalu diiyakannya.

Ketika mengurut bongkahan pantatnya terdengar olehku dia mendesis pelan dan tubuhnya sedikit bergetar. Melihat reaksinya, iseng-iseng aku menyusupkan tanganku ke paha dalam lalu merambat perlahan ke pangkalnya.

"Oohh.. Ci!!" desisnya makin jelas begitu daerah sensitif itu kusentuh.

Entah secara disadari atau tidak, dia merenggangkan kedua pahanya seolah minta lebih. Karena dia menikmati yang kulakukan, akupun mulai horny dan terdorong meneruskan lebih jauh lagi.

Pinggiran vaginanya kuusapi dan sedikit demi sedikit jari tengah dan telunjukku mulai masuk ke lubang kemaluannya. Jempolku kususupi ke anusnya diiringi desahannya, oohh..! Baik aku maupun dia makin terangsang saja dengan suasana seperti ini. Tanganku yang sudah basah oleh body lotion jadi tambah basah bercampur dengan air kewanitaan Ratna. Sekitar sepuluh menit jari-jariku bermain pada anus dan vaginanya hingga akhirnya dia menggelinjang dan mendesah mencapai orgasmenya. Dua menit kemudian dia bangkit duduk di ranjang dan menatapku dengan senyum manis.

"Ok, sekarang giliran lu Ci" katanya.

Akupun mulai melepas tank-top dan BH-ku sehingga aku topless sekarang.

"Wah, tambah seksi aja lu Ci" sahutnya sambil memencet payudaraku.
"Sama lu juga, pantesan si Samuel betah sama lu" jawabku sambil balas mencubit putingnya.

Kami saling meraba payudara, pelan-pelan wajah kami semakin dekat, hidungku bertemu hidungnya. Hembusan nafas Ratna yang sudah memburu terasa di wajahku. Kulingkarkan tanganku pada lehernya dan bibir kami mulai saling mendekat hingga bertemu.

Aku mengeluarkan lidah menjilati bibirnya, dia juga ikut mengeluarkan lidahnya membalas perbuatanku. Lidah kami menari-nari dalam mulut pasangan masing-masing. Tangannya yang lembut membelai punggungku menimbulkan sensasi geli yang nikmat. Demikian pula halnya tanganku turut mengelus punggungnya, sementara tangan kananku meremas payudaranya sambil memilin-milin putingnya, puting itu makin mengeras karena terus kumain-mainkan. Tanpa melepas ciuman, kudorong tubuhku de depan sehingga menindihnya. Ciuman kami semakin hot seiring dengan gairah yang makin membara dalam diri kami. Suara-suara kecupan bercampur dengan erangan tertahan dan nafas kami yang makin menderu.

Tiba-tiba Ratna mendorong tubuhku dan berguling ke samping, kini posisi kami bertukar menjadi dia yang menindihku. Tangannya dengan sigap membuka sabukku dan memerosotkan celanaku berserta celana dalam dibaliknya. Aku turut menggerakkan kakiku membantu celana itu lepas dari tubuhku. Ratna melemparkan celana dan celana dalamku ke kursi rias yang tak jauh dari sini. Kembali dia menindihku hingga payudara kami saling menghimpit. Setengah menit kami berpelukan erat dengan mata saling tatap, kemudian kurasakan suatu gesekan pada bibir vaginaku yang membuatku mendesah secara refleks.

Ternyata Ratna mengelus vaginaku dengan pahanya. Aku membuka pahaku lebih lebar agar klitorisku juga merasakan belaian lembut itu. Gesekan itu membuatku menggelinjang, belum lagi sekarang Ratna sudah mulai menciumi telingaku. Hembusan nafas ditambah permainan lidahnya pada lubang dan daun telingaku menghanyutkanku lebih dalam.

"Eemmhh.. Nana.. Mm!" desahku dengan mata terpejam.
"Servis gua ok kan" katanya berbisik di telingaku.

Ciumannya merambat turun ke leherku, ssrr.. Lidahnya menyapu telak leher jenjangku disusul gigitan pelan dan cupangan yang dilakukannya dengan lembut dan mesra. Tangan kirinya menangkap payudaraku dan meremasnya lembut, jari-jarinya yang lentik menyentil-nyentil putingku hingga membuatnya makin tegang. Dari leher mulutnya turun lagi ke dadaku, lidahnya menjilati putingku yang kanan sementara tangan kirinya tetap memijat payudara kiriku.

"Terus Na.. Give me more!" kataku sambil menekan kepalanya karena tidak puas hanya dengan dijilati saja.

Tubuhku bergetar hebat merasakan payudaraku dikenyot dan diremas olehnya.

Tangan kanannya kini bercokol di kemaluanku menggantikan pahanya, jarinya membelai lembut diantara kerimbunan bulu-bulu kemaluanku. Dua jari lainnya masuk ke dalam dan mengelus-elus dinding vaginaku sekaligus mencari klitorisku. Ketika menemukan titik rangsangan itu, semakin gencarlah dia memainkan benda itu sehingga tubuhku makin tak terkendali dengan mendesah dan menggeliat-geliat. Butir-butir keringat seperti embun sudah membasahi dahiku dan wajahku makin merah menandakan betapa terangsangnya aku. Kugerakkan tanganku ke bawah meraih payudaranya dan meremasinya sebagai respon perbuatannya.

Jilatan Ratna turun lagi ke pusar yang dia jilati sebentar membuatku tertawa kecil karena geli, kemudian turun lagi mencapai vaginaku. Diperhatikannya sejenak kemaluanku sambil mengelus bulunya yang lebat. Kedua jarinya membuka bibir vaginaku sehingga udara dingin dari AC menerpanya. Darahku makin bergolak ketika dia mulai membenamkan wajahnya ke daerah itu. Aahh.. Desisku begitu lidahnya menyentuh bibir vaginaku.

"Na.. Eenngghh.. Di situ.. Terus!" aku menggeliat merasakan lidah Ratna bergerak liar seperti ular merangsang setiap titik peka pada vaginaku. Sebagai seorang wanita, dia tahu betul bagaimana memanjakan tubuh wanita secara seksual.

Aku sungguh menikmati permainan oralnya. Kedua pahaku merapat mengapit kepalanya menahan rasa geli. Otomatis pinggulku ikut bergoyang akibat rangsangan itu, Ratna memegangi pinggulku untuk menahan guncangan agar tak terlalu keras. Birahiku pun makin memuncak yang berakibat tubuhku menggelinjang hebat. Akhirnya sebuah erangan panjang menandai orgasmeku, tubuhku mengejang dengan tangan kiri meremas payudaraku sendiri dan tangan kananku menekan kepalanya lebih terbenam lagi di selangkanganku. Aku merasakan vaginaku dihisap-hisap kuat olehnya, melahap setiap tetes cairan yang terus mengalir dari sana.

"Oohh.. Nana.. Bitch.. Aahh.. Akh!" erangku dengan mata merem-melek sambil meremas rambutnya.

Lalu Ratna pun mengangkat wajahnya dan kembali naik ke tubuhku, pada mulutnya yang belepotan cairan kewanitaanku itu tersungging sebuah senyum.

"Love it?" tanyanya dekat wajahku.

Aku cuma mengangguk dengan nafas masih kacau. Diciumnya bibirku dan kubalas dengan tak kalah bernafsu. Aroma vaginaku masih terasa tajam pada mulutnya, kami ber-French kiss sambil menikmati sisa-sisa cairan kemaluanku.

Setelah tenagaku terkumpul aku mencoba membalikkan tubuhnya hingga dia telentang di sebelahku. Kubelai rambut dan wajahnya sambil mendekatkan wajahku padanya. Putingnya yang terjepit diantara jariku kupencet dan kuplintir menyebabkan dia mendesah, saat itulah aku mencium bibirnya yang terbuka. Lidahnya kukulum dalam mulutku sambil menggerayangi payudaranya. Ratna menggeliat-geliat saat lehernya merasakan jilatan dan cupanganku, di saat yang sama tanganku sibuk memilin-milin kedua putingnya yang sudah keras. Dalam keadaan birahi tinggi seperti itu secara tidak sengaja, tangannya yang tadinya cuma mengelus punggung, tiba-tiba mencakarku.

"Aduh-duh.. Hati-hati dong Na, sakit tau, udah tau kuku panjang gitu!" protesku.
"Eehh.. Sory Ci, sory banget, habis lagi tegangan tinggi sih, cuma lecet dikit kan nggak akan berbekas!"
"Awas ya, gua bales nih!" puting kanannya kugigit agak keras sambil meremas payudaranya.
"Aakkhh.. Ci.. Pelan-pelan!" erangnya dengan tubuh mengejang.

Erangannya justru membuatku makin bergairah mengenyot kedua payudaranya secara bergantian. Selanjutnya aku mulai melakukan mandi kucing terhadapnya. Leher dan pundaknya kusapu dengan lidah, kedua tangannya kurentangkan ke atas sehingga aku bisa menjilati ketiaknya yang bebas bulu.

"Oohh.. Ampun Ci.. Geli..!" desahnya bercampur tawa kegelian, tubuhnya pun terhentak-hentak.

Aku terus menjilati ke bagian dada, perut, hingga sampai pada kemaluannya. Bulu-bulunya agak jarang, tidak selebat milikku, serta bentuknya dicukur rapih. Tanpa buang waktu lagi aku langsung menjilati belahannya dan menggesek-gesek klitorisnya dengan jariku, perbuatanku ini spontan membuatnya menggelinjang hebat.

"Aahh.. Gila.. Uuhh.. Uhh.. Disitu enak Ci!" demikian desah Ratna.

Lidahku menyusup lebih dalam menjilati dinding kemaluan dan klitorisnya, semakin kujilat semakin basah daerah itu. Klitorisnya kutangkap dengan mulut dan kuhisap sehingga pemiliknya makin berkelejotan tak karuan.

"Ci.. Citra, udah.. Gua keluar!" erangnya lebih panjang seiring dengan mengejangnya tubuhnya.

Cairan yang keluar dari kemaluannya semakin banyak serta merta kujilati dengan nikmat.

Ratna kembali melemas sementara aku masih saja menjilati tubuhnya sampai 2-3 menit ke depan. Akhirnya kamipun tergolek bersebelahan, beristirahat sejenak dengan obrolan dan canda ringan. Tiba-tiba HP Ratna berbunyi.

"Iya-iya, ntar lagi kita berangkat kok.. Udah Citra dah datang dari tadi, tunggu ya!" kata Ratna menjawab HP-nya.
"Verna tuh, udah ngomel-ngomel, yuk siap-siap!" katanya lagi setelah menutup HP.

Kamipun bangun menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuh dengan handuk basah. Ratna berdandan dengan terburu-buru sampai hampir lupa meresleting bajunya.

"Ya ampun Na, dari tadi pintu nggak dikunci yah, gimana kalo ada yang kesini?" seruku ketika mau membuka pintu.
"Ups, lupa.. Heheh.. Rasanya sih nggak, cuma ada nyokap di bawah, untung si Vina (adiknya) lagi keluar, yuk let's go!" dia menarik lenganku dan melangkah ke bawah dengan cepat.

Setelah pamitan pada mamanya, kamipun berangkat untuk menikmati hiburan malam.


E N D

Kamis, 25 Juni 2009

0 Malam itu di kamar Salma

Ceritanya aku nemuin surat milik Saskia, teman sekamarku waktu aku lagi bersih-bersih kamar. Waktu aku baca, isi surat itu bener-bener bikin aku berkeringat dingin. Surat itu dari Salma, seorang janda muda yang tinggal di rumah induk. Dan isinya, Salma pingin ketemuan sama Saskia dan Salma pingin berhubungan badan dengan Saskia. What? Maksudnya, Saskia lesbian? Gawat! Jadi selama ini aku sekamar dengan lesbi? Tapi kenapa Salma pingin tidur dengan Saskia ya? Apa dia juga lesbi?
"Aku nggak tahan lagi, Sas. Sudah lama hatiku kering, dan aku merindukan pelukan yang hangat dan mesra. Tapi, aku nggak mau ambil resiko. Jadi aku rasa aku mau menuruti tawaranmu. Malam ini rumah induk sepi. Aku tunggu kau di kamarku jam tujuh." Begitu penggalan surat Salma.

Jam tujuh kurang seperempat. Aku sudah siap di kamar Bella, sebelah kamarnya Salma. Beruntung, karena dua hari lalu ketika Bella hendak pulang dia menitipkan kunci kamarnya ke aku. Segera aku cari tempat yang strategis buat ngintip suasana kamar Salma. Pas! Ada lobang angin-angin yang menghubungkan kamar Bella dan kamar Salma. Dan dengan mudah dan jelas aku bisa mengintip ke kamar Salma.

Salma sedang duduk menyisir rambutnya di depan meja rias. Wajah ayunya dihiasi dengan senyum. Matanya yang sayu berkali-kali memandangi jam dinding. Benar juga, nampaknya Salma menanti seseorang. Jam tujuh kurang lima menit. Tok.. tok.. tok..
"Salma.. ini aku, Saskia."
Salma membukakan pintu kamarnya. Nampak Saskia tersenyum manis sambil menyapa,
"Hai!". Busyet! Kayak ngapel ke rumah pacar saja, batinku.

Saskia segera masuk dengan mengunci pintu kamar. Dipandanginya wajah Salma sesaat. Dibelainya wajah halus Salma yang tanpa cacat. Tapi nampaknya Salma sudah tak tahan lagi. Segera diburunya bibir Saskia. Kedua bibir yang sama-sama mengenakan lipstik itu saling melumat dan menghisap. Bisa kubayangkan lidah-lidah mereka yang bertarung mengganas. Tangan-tangan mereka saling meremas dan memeluk kepala pasangannya. Salma menghisap kuat-kuat bibir Saskia, dan Saskiapun membalasnya dengan menggigit bibir atas Salma.

Saskia segera melepaskan daster yang dikenakan Salma, dan kemudian kembali mereka bercumbu. Daster itu meluncur turun meninggalkan tubuh Salma yang kini tinggal berlapis BH dan CD tipis. Begitupun yang dilakukan Salma. Dilepasnya tali kimono Saskia hingga nampak tubuh Saskia yang berbalut lingerin hitam.

"Wah, bagus banget!" seru Salma ketika melihat lingerin yang dikenakan Saskia. Bagus apaan! Menurutku lingerin itu menjijikkan. Warnanya hitam lagi transparan, dan cuman menutup payudara Saskia sampai diujung saja. Hingga kedua gumpalan payudara berukuran 36 itu bagai ingin melompat keluar. Pakai lingerin atau bugil, kayaknya sama saja.

"Aku ingin hanya diriku yang kau puji sayang.. bukan lingerin ini." kata Saskia merajuk.
"Iya deh.." kata Salma kembali memburu bibir seksi Saskia.
Bibir mereka kembali bergumul. Tangan Saskia menyusup masuk ke balik CD Salma. Perlahan-lahan diremasnya kedua pantat kenyal Salma.
"Aah.." desis Salma keenakan.
Saskia semakin ganas meraba-raba Salma hingga kemudian melepaskan pengait BH Salma. Penutup dada Salma itu mengendor lalu terjatuh. Ciuman Saskia turun ke leher dan dada Salma. Tak disia-siakannya setiap inchi dada Salma yang mungil. Dicumbuinya penuh nafsu hingga ke perut lalu berhenti sebentar di pusarnya dan kemudian naik lagi hingga kembali ke bibir Salma. Diperlakukan seperti itu Salma mendesis-desis penuh birahi,
"Sass.. ashh..ehmm..".

Saskia mendorong Salma terlentang di atas kasur dan menindihnya. Ciuman Saskia kembali menurun hingga ke dada Salma. Diciuminya kedua bongkahan gunung kembar Salma yang sudah menegang. Putingnya berwarna kecoklatan menantang. Tanpa malu ladi dimasukkannya salah satu puting itu ke dalam mulutnya.

"Uagghh.. Sas.. ahh.. terus.. say.." gumam Salma meremas rambut Saskia yang cepak.
Saskia meremas-remas buah dada yang baru saja dikulumnya itu. Dan sekali-kali diplintirnya putingnya hingga membuat Salma bergelinjangan. Dan kemudian dihisapnya kuat-kuat. Sedang telapak tangan kirinya menekan kemaluan Salma yang masih dilapisi oleh CD.
"Saskiaa.." teriak Salma menghentak-hentak keasyikan.

"Hmm.. ehm.." gumam Saskia keenakan. Tak dipedulikannya erangan Salma. Kedua bukit kembar Salma digarapnya bergantian. Dikenyot-kenyotnya payudara Salma yang sudah bengkak benar bagai bayi yang amat kehausan. Salma yang sudah lama tak merasakan kenikmatan itu bagai menikmatinya dengan sepenuh hati.

Kupalingkan muka sejenak, karena tak tahan dengan libidoku sendiri yang mulai terbakar. Keringat dingin yang menetes di dahiku. Tapi aku segera kembali mengikuti permainan itu, nggak ingin rasanya tertinggal sedetik saja.

Saskia segera merosot satu-satunya CD yang melekat di tubuh Salma yang terlentang di ranjang hingga janda muda itu bagai bayi yang baru terlahir. Kemudian Saskia berdiri di hadapan Salma yang mengerang pasrah.
"It's show time." kata Saskia.

Salma terdiam memandangi Saskia yang mulai melucuti lingerinnya. Kain tipis itu meluncur turun meninggalkan tubuh Saskia yang bugil total. Nampaklah dada Saskia yang membusung bengkak menggemaskan, juga bukit kemaluannya yang licin tanpa bulu. Saskia mulai meremas-remas buah dadanya sendiri, membangkitkan gairah Salma hingga pada titik puncaknya. Diremasnya kedua payudaranya dengan gerakan memutar hingga kedua gunung kembar itu bergoyang-goyang menantang. Dan bagai iklan sabun Saskia membelai tubuhnya sendiri, dari dada.. perut.. hingga kemaluannya yang gundul. Tubuhnya meliuk-liuk lalu menungging membelakangi Salma dan memamerkan kesekalan bokongnya kemudian menyibak lorong kecil yang merah merekah. Nampak liang kawin Saskia yang berlumuran lendir putih kental. Saskia memasukkan jemari telunjuknya ke dalam liang kawin itu. "Aagh.." desah Saskia pelan. Lalu ditariknya telunjuk yang telah basah itu. Kemudian dijilatnya dengan mata sayu menatap Salma. Oh, Batara Kala.. jangankan Salma, akupun merasa terbakar gairah.

Salma segera memburu Saskia. Dalam keadaan berdiri diterkamnya kedua payudara Saskia secara bergantian sedangkan tangannya mengerayangi setiap lekuk kemaluan Saskia yang telah basah betul. "Sall.. ough.." desah Saskia sambil mendekap kepala Salma erat. Dengan buas Salma melakukan pembalasan atas semua lumatan Saskia.
"Aaagghh.." pekik Saskia ketika Salma menghisap puting payudaranya sekuat tenaga.

Saskia berkelojotan ambruk di kasur. Salma menindihnya dan terus melumat buah dada Saskia yang bagai mau meledak. Kedua kaki Saskia menyilang bagai mengunci tubuh Salma. Jemari Salma kembali beroperasi di sekitar kemaluan Saskia.
"Sal.. ayo.. masukkan Sal.. aghh.." ujar Saskia sambil mengacung-acungkan sebatang dildo kepada Salma. Salma mengerti apa yang Saskia mau. Maka Salmapun segera memasukkan dildo itu perlahan-lahan pada lubang kawin Saskia.

"Ee.. eghh.. ehh.." Saskia mengedan sebentar lalu, krak! nampaknya selaput dara Saskia semakin sobek saking kerasnya sodokan Salma.
"Aagh.. brengsek..!" pekik Saskia ketika Salma menghunjamkan dildo itu seluruhnya ke dalam lubang kawin Saskia. Agak sakit mungkin, karena sebelumnya Saskia selalu melakukannya dengan perlahan-lahan dan tidak sepenuh itu. Tapi sodokan yang keras dan cepat itu memberikan kenikmatan yang belum pernah Saskia rasakan.

"Tenanglah Sas.. nanti pasti enak.." kata Salma sembari menggoyang-goyangkan batang dildo yang tinggal dua senti itu. Dan benar saja, tubuh Saskia terguncang-guncang nikmat. Peluh membanjir di seluruh tubuhnya yang terkulai lemas. Kelincahan tangan-tangan Salma yang menggoyang tubuhnya sambil terus meremas-remas payudaranya membuat Saskia tak tahan lagi.
"Sal.. aku keluar nih.. eghh.." Saskia mengedan sebentar lalu terkapar lemas.

Salma segera menarik dildo dari lubang kawin Saskia. Dildo itu berlumuran cairan kawin Saskia yang membanjir. Salma berbaring di samping Saskia dengan wajah kecewa.
"Makasih ya, Sal. Aku puas banget." kata Saskia
"Sas, kamu curang. Aku kan belum selesai." ujar Salma kesal.
"Iya, tunggu sebentar say.. biar aku pulihkan tenaga." jawab Saskia membelai wajah Salma.

Salma hanya diam, tapi roman mukanya kurang sedap. Karena merasa tak enak hati, maka Saskia kembali membelai-belai payudara Salma. Salma memandang Saskia degan mata sayu, kemudian di belainya kemaluan Saskia yang masih basah.
"Hik.. kik.." Saskia mengikik kegelian sedang Salma tersenyum-senyum menikmati rasa dingin yang menyiram tubuhnya yang ditimbulkan dari gelitikan jemari Saskia di kedua puting susunya. Saskia meraih batang dildo yang tergeletak tak jauh darinya lalu menyodorkannya ke wajah Salma.
"Ayo jilatlah sayang.." bisik Saskia.

Walaupun sedikit jijik, Salma menuruti keinginan Saskia. Dijilatinya ujung dildo yang masih basah oleh lendir kawin Saskia itu. Pikiran Salma melayang pada Bas, mantan suaminya. Maka dengan ganas dijilatinya ujung dildo itu bagaikan menjilati penis Bas yang luar biasa besarnya. Walaupun belum pernah melakukannya sebelumnya, tapi nampaknya Salma sangat menikmatinya. Apalagi jemari Saskia mengutak-atik isi kemaluannya. Menyusuri lorong sempit di antara rimbunan belantara dan menyentil-nyentil daging kecil yang tumbuh diantara goanya.

"Ough.. Saskii.." Salma menumbruk Saskia dengan liar. Namun Saskia lebih cepat membantingnya, hingga posisinya kembali berada di bawah kendali Saskia. Saskia segera mengambil posisi 69.
"Ayo Sall.. kamu makan bagianmu, dan aku makan bagianku yach.."
Terhampar di depan Saskia sebidang hutan nan lebat yang telah basah dan becek. Jemari Saskia ikut membantu menyibak belukar basah itu. Lidahnya menjulur melintasi semak belukar hingga masuk ke mulut goa. Lidah itu menyusuri goa itu hingga kemudian menjilati ujung daging kecil yang tersembul merah dan kenyal. Dihisapnya hingga daging kecil itu mengembang hingga membuat Salma yang sibuk dengan vagina Saskia mendengking tertahan,
"Achh.. ehmm.. eennaakk.."

Tak tahan dengan rangsangan Saskia yang begitu dasyat, Salma menggigit-gigit kecil vagina mayora Saskia. Saskia pun mendengking perlahan,
"Ough.. Sal.. sakit.."
Dan secara bersamaan tubuh keduanya menegang dan..
"Uachg..!" Suurr.. lendir-lendir kenikmatan mereka mengalir dengan deras. Salma merintih dalam nikmat. Lalu keduanya saling menjilat seluruh cairan kental itu hingga tandas. Rasa nikmat yang tercipta seakan ikut terasa olehku. Akupun merasa ada cairan basah yang menetes dari kemaluanku.

"Saski.. ayo masukkan penisnya.. sebelum aku keluar.." perintah Salma. Saskiapun segera meraih dildo dan membenamkannya ke dalam lubang kawin Salma. Namun lubang kawin Salma tak selebar milik Saskia, hingga Saskia harus perlahan-lahan menyodokkannya.
"Engh.. terus Sass.." pekik Salma yang terdiam menikmati sodokan Saskia.
Perlahan batang dildo itu amblas dimakan oleh lubang kawin Salma. Janda itu menangis merasakan kenikmatan yang lama tak terasakan itu. Saskia bangkit dan segera mengocok dildo yang bersarang di lubang kawin Salma. Gerakannya yang ritmis membuat Salma terantuk-antuk. Ranjang itu berdecit-decit seakan bersorak atas rasa puas yang dirasakan oleh Salma. Dan untuk kedua kalinya Salma mengalami orgasme yang nikmatnya tiada tara.

Aku berpaling dan menjauh dari lubang pengintipanku itu ketika Salma menangis bahagia. Dan Saskia memeluknya mesra seraya berkata, "Salma, mulai sekarang akulah milikmu. Kau tak sendiri lagi karena aku akan selalu sayang padamu. Maukah kau menjadi kekasihku, Salma?" Dan Salma pun menangis di pelukan Saskia.

Kubasuh peluh yang mengalir di keningku dan juga airmata yang membasah di pipiku. Akupun segera meningalkan kamar Bella. Malam itu di kamar Salma, aku mendapati pengalaman yang tak mungkin terlupakan.

Tamat

0 Jenny wanita mafia - 1

Salam kenal, beberapa waktu lalu, seorang kawan mereferensikan pada saya untuk mengunjungi website RumahSeks ini, dan setelah membaca-baca, saya ingin mencoba berbagi cerita. Nama saya, sebut saja Ivon, saya tinggal dan bekerja di London, Inggris, di bagian administrasi sebuah perusahaan trading. Waktu itu, saya berusia 28 tahun, tinggi/berat 164 cm/41 kg, dan bentuk badan saya biasa saja, cenderung agak langsing dan tidak bertonjolan di dada dan pinggul.

Saya ingat, malam itu saya sedang berada di kantor untuk menyelesaikan sisa-sisa kerjaan. Sebentar lagi akan libur musim panas selama lebih kurang 2 minggu, jadi saya tidak ingin liburan saya terganggu oleh pikiran tentang kerjaan yang belum kelar. Beberapa yang berpamitan dan mengucapkan happy holidays hanya saya jawab dengan senyum manis dan jawaban pendek "You too!" di sela-sela kesibukan saya menghadap ke layar monitor.

Semua berlangsung begitu saja, sampai akhirnya di kantor kecil itu hanya ada saya, beberapa penjaga malam, dan si pemilik kantor, sebut saja namanya Pak Smith. Agak lama kemudian, saya mendengar ribut-ribut di lantai bawah, suara orang membentak, suara kegaduhan dan banyak lagi.

Saya merasa agak takut dan mengintip dari jendela ke arah jalanan di bawah sana. Terlihat sebuah mobil mewah berwarna hitam sedang terparkir di depan kantor. Celaka! Pikir saya. Itu pasti segerombolan preman kasar pegawai perusahaan Italia yang menagih uang keamanan. Benar-benar menjengkelkan sekali, karena penyebab ketidakamanan itu adalah mereka sendiri. Tapi jika kantor-kantor kecil seperti kantor saya ini telat membayar tagihan, mereka akan melakukan hal-hal yang diluar perikemanusiaan.

Saya memberanikan diri menuruni tangga untuk mengintip apa yang terjadi di ruang bawah. Saya lihat boss saya, Pak Smith sedang menghitung sejumlah uang dengan tangan gemetar. Di hadapannya, tampak dua orang pria bertubuh tinggi besar. Yang satu berkulit hitam legam dan berkepala gundul, sementara yang satunya lagi berwajah ganteng khas Italia, namun tampangnya juga tampak seram saat itu, dengan memasukkan tangan ke kantong, yang mungkin saja ada pistolnya. Namun ada seseorang lagi bersama dua orang centeng itu. Seorang wanita berkebangsaan Asia yang kurus tinggi berpakaian mahal. Sebenarnya ia cantik di balik kaca mata biru yang dipakainya, namun gayanya berdiri di depan Pak Smith sambil berkacak pinggang itu benar-benar menyebalkan dan menakutkan.

"Ivon! Tolong ambilkan dua puluh pound dari ruanganmu!" tiba-tiba Pak Smith memekik karena uang yang harus dibayarnya agak kurang.
Dengan tergopoh-gopoh saya berlari ke kantor saya, mengambil dua puluh pound dari laci, lalu berlari kembali menuruni tangga.
"Berikan langsung pada mereka!" ujar Pak Smith yang masih berdiri dengan gemetaran.
Saya menyodorkan dua lembar sepuluh pound itu ke arah mereka, dan si wanita Asia langsung menyambarnya dari tangan saya.

Entah kenapa, tapi wanita itu tidak segera mengalihkan pandangannya, ia menatap saya dari balik kaca mata birunya. Mungkin karena kurang puas, ia melepaskan kacamatanya, dan terus menatap saya. Sepasang mata paling mengerikan dan paling tajam yang pernah saya lihat sepanjang hidup saya. Saya hanya diam terpaku sambil melangkah mundur perlahan.

"Jangan mundur!" bentak wanita itu dengan dialek British yang kental.
Ia lalu mendekatkan wajahnya ke wajah saya, membuat saya menundukkan pandangan karena gemetar.
"Lihat ke arah saya!" bentaknya lagi, masih dengan bahasa Inggris beraksen British yang sangat kental.
Saya melihat ke arah matanya, dan sepasang mata itu tidak lagi setajam tadi.
Ia menunjuk name-tag di dada saya dan berkata, "Ivon. Hmm, Indonesian name, isn't it?" tanyanya lagi, dengan nada datar.
"Y-Yes, It is." jawab saya agak terbata-bata, khawatir kalau-kalau ia menyakiti saya.
Pak Smith juga tak kuasa melakukan apa-apa untuk menolong saya, karena dua orang preman tinggi besar itu memperhatikannya terus.
"Kalau gitu, diskon sepuluh pound deh!" ujar wanita Asia itu, benar-benar dengan bahasa Indonesia yang fasih dan lancar.
Ia menyodorkan pada saya lembaran sepuluh pound yang tadi saya berikan padanya, dengan agak gemetar saya menerimanya.

Wanita itu tersenyum dingin, dan berkata lirih, "Maaf Ivon, aku cuma mengerjakan tugas, demi keselamatanku sendiri."
Lalu ia berpaling ke arah dua rekannya sambil memberi kode mengajak pergi. Pak Smith dan saya hanya diam terpaku melihat ketiga manusia sangar itu meninggalkan ruangan dan membanting pintu dengan keras. Sejenak sebelum menutup pintu, si wanita sempat melirik ke arah saya dan mengerdipkan mata kanannya, seolah memberikan satu isyarat yang saya tidak pernah mengerti.

Setelah malam yang menegangkan itu usai, liburan tiba, dan semuanya berjalan biasa-biasa saja. Saya pergi ke Paris bersama keluarga saya selama seminggu, lalu kembali ke London untuk menghabiskan sisa liburan di sini. Rasanya, saya sudah lupa akan kejadian dengan para debt collector seminggu sebelumnya. Namun apa yang terjadi siang ini seperti membuat saya tidak mungkin melupakan kejadian malam itu.

Saat itu saya sedang menemani tante dan om saya dari Indonesia mengunjungi museum Madame Tussaud. Usai melihat-lihat patung lilin di museum itu, tante dan om saya naik kereta kembali ke hotel mereka, sementara saya masih berjalan-jalan di Bakerstreet (tempat museum tadi berada), karena banyak teman asal Indoneisa yang menginap di apartemen-apartemen sekitar situ.

Waktu saya sedang berjalan cepat di trotoar, saya merasa ada yang berjalan di sebelah kiri saya dengan kecepatan yang sama. Saya tidak terlalu memperdulikan, dan mempercepat jalan saya, namun ia juga mempercepat jalannya hingga terus sejajar dengan saya.
Tiba-tiba ia mencolek bahu saya, "Hi Ivon, lupa sama saya ya?" sapanya dengan bahasa Indonesia.
Saya menengok ke arahnya dan kaget setengah mati. Wanita Asia yang kerja untuk Mafia itu! Saya sempat berniat kabur, namun ia memegangi lengan saya.
"Hey, jangan kabur dong!" ujarnya ramah, meski mengenggam kuat lengan saya.
Akhirnya saya pasrah saja diajaknya minum di sebuah kafe pinggir jalan.

Saya waswas melihat ke kiri kanan, kalau-kalau dia ditemani dua orang centengnya tempo hari. Tapi ia tampak tenang saja sambil tertawa-tawa mengatakan bahwa dia sedang diluar jam kerja.

Singkat cerita, kami mengobrol panjang lebar di kafe itu. Lambat laun, rasa takut saya mulai hilang, berubah jadi rasa persahabatan. Maklum, di negeri orang, siapapun yang sebangsa dengan kita akan menjadi sahabat yang sangat baik, siapapun dia.

Namanya, sebut saja Jenny. Ia menceritakan sejarah kedatangannya ke Inggris untuk menyelesaikan S2-nya, juga tentang keterlibatannya dengan para Mafia itu, yang disebabkan karena ia sedang kesulitan ekonomi. Ia berencana untuk mengumpulkan uang dulu sebelum meninggalkan Inggris. Ia bercita-cita untuk pulang ke Indonesia, dan bekerja memanfaatkan gelar MBA-nya selama beberapa tahun, lalu membuka usaha sendiri berbekal pengalaman dan manajemen Italia yang dipelajarinya di lingkungan Mafia ini. Saya bersimpati padanya, sekaligus mengagumi keberaniannya menceburkan diri ke lingkaran yang begitu 'hitam' dan berbahaya itu.

"Kamu nggak punya boyfriend kan?" tebak Jenny di sela obrolan.
"Kok kamu tahu?" tanya saya balik.
"Old Fashioned dan pendiam, kalau nggak dijodohin mana mungkin dapat pacar?" katanya sambil tertawa kecil.

Saya tersipu malu, menyadari bahwa 'tongkrongan' saya memang terkesan tertutup, saya juga pendiam dan tidak banyak bicara. Beda dengan Jenny yang tampaknya ceplas-ceplos dan tidak kenal takut atau malu. Dia dapat berkelakar dalam bahasa Indonesia maupun Inggris dengan sangat lancar, bahkan dengan para waiter di kafe itu, yang baru saja dikenalnya. Diam-diam, saya bersyukur dapat berkenalan dengan seorang 'putri mafia' (nama ejekan saya untuknya) seperti dia ini.

Tanpa terasa hari mulai malam, dan Jenny mengajak saya meninggalkan kafe. Karena apartemen saya agak jauh, ia menyarankan saya untuk tinggal di apartemennya. Saya menurut saja karena sudah terlanjur percaya. Ia mengajak saya berjalan kaki melewati jalan-jalan yang saya belum pernah lewati, daerah-daerah lampu merah, daerah kumuh, dan daerah pusat hiburan malam. Benar-benar sisi lain dari London yang tidak pernah saya lihat, meski saya sudah menetap disini selama 3 tahun.

"Nggak usah takut, Von." katanya sambil melangkah cepat, "Kita aman di daerah sini."
Saya berusaha untuk tetap tenang, meski di kiri kanan saya melihat pria-pria bertubuh besar sedang mabuk atau teler karena narkoba. Wanita-wanita jalang juga tampak berkeliaran di daerah yang saya tidak tahu namanya itu. Namun Jenny berjalan dengan cuek, sambil sesekali menyapa orang di sekitar situ dengan akrab. Saya sempat heran, orang macam apa sebenarnya teman saya ini.

Akhirnya kami sampai di apartemennya. Sebuah apartemen yang dari luar tampak kumuh dan jelek. Namun begitu saya masuk ke kamarnya, semuanya terasa berbeda. Meski tidak besar, ruangannya tertata rapih dan dipenuhi perabotan kelas menengah, penghangat listrik, seperangkat laptop, juga ponsel (yang pada tahun itu belum begitu populer). Satu hal yang membuat saya bergidik adalah sepucuk pistol kecil berwarna perak tergeletak di samping ponselnya.

Ia mempersilakan saya duduk di ranjang, lalu membuatkan saya segelas teh hangat. Darjeeling tea, teh yang tergolong mahal. Ketika saya bertanya tentang teh itu, Jenny menjawab bahwa teh itu diambilnya dari sebuah hotel kecil tempat ia menagih hutang. Tanpa rasa risih, Jenny menanggalkan celana panjang dan raincoat-nya. Sambil hanya mengenakan kaos oblong dan celana dalam, ia mondar mandir di situ. Mencuci muka, sikat gigi, dan menyisir rambut, seolah-olah sudah sangat akrab dengan saya. Diam-diam saya iri melihat tubuhnya yang ramping dan cukup jangkung untuk ukuran Indo, sangat menarik. Saya kira tidak akan ada pria ataupun wanita yang tidak mencuri pandang ke arahnya saat berada di tempat umum.

"Ngeliatin apa, Von?" tanyanya membuat saya tersipu.
"Ngeliatin badan kamu." jawab saya mencoba untuk tidak malu, "Bagus banget."
"Hihihi." ia tertawa kecil, "Kamu juga sexy kok."
Terus terang, saya kege-eran juga mendengar pujiannya. Apalagi setelah ia mengatakan itu, ia menatap saya dalam-dalam sambil menyunggingkan senyum aneh.

Ia lalu melangkah mendekati saya. Saya terpaku di bibir ranjang sambil memegangi cangkir teh yang sudah kosong, seolah tidak tahu harus berbuat apa. Dengan was-was saya melirik ke arah buffet tempat pistolnya berada, dan merasa agak tenang karena pistol itu masih ada di situ. Tiba-tiba dia sudah ada di hadapan saya.

"Mana gelasnya?" bisiknya sambil meraih cangkir dari tangan saya dan meletakkannya di karpet.
"Kamu manis sekali, Von." bisiknya lagi, sambil melepaskan kacamata saya yang minus tujuh.
Lalu ia naik ke ranjang dan memeluk saya dari belakang.

Mula-mula saya gemetar dan takut mengingat bahwa Jenny adalah seorang anggota mafia, ditambah juga perasaan rikuh karena dipeluk sesama wanita. Saya mencoba untuk berontak secara halus.
Namun ia tetap memeluk pinggang saya dan berbisik di kuping kiri, "Jangan takut, Von. Nikmati saja."
Saya hanya bisa diam dan mencoba menikmati.

Ia lalu membuka satu persatu kancing baju saya yang terletak di bagian belakang, sampai punggung saya benar-benar terbuka di hadapannya. Dengan lembut juga ia melepaskan kaitan BH di punggung saya. Lalu terasa tangannya yang halus memijat dan mengelus punggung saya. Hangat dan lembut.
"Punggung kamu halus sekali, Von." bisiknya, "Pasti kamu rawat dengan baik, ya? Hmm?"
Ia lalu membelai rambut saya yang lurus dan panjang sebahu, disibakkannya ke samping, lalu lagi-lagi ia memuji saya, "Tengkuk kamu bagus, aku terangsang banget ngeliatnya, boleh aku cium?"
Tanpa menunggu jawaban saya, ia langsung menciumi leher dan tengkuk saya. Saya memejamkan mata merasakan kehangatan itu. Kehangatan yang belum pernah saya rasakan selama hidup, karena saya belum pernah sekalipun berpacaran.

Ciumannya menjalar kemana-mana, ke dagu saya, rahang, telinga, aahh rasanya geli sekali, namun membuat saya jadi lupa daratan, dan menyerahkan diri padanya. Tangannya mulai meraba-raba ke balik baju saya, mengelus-elus perut saya, sambil mulutnya terus membisikkan kata-kata indah memuji keindahan tubuh saya. Kata-katanya membuat perasaan saya jadi PD (percaya diri), karena selama ini saya minder dengan tubuh saya yang kurus.

Lidahnya menjilat-jilat punggung saya, tengkuk saya, dan bahu saya. Kulit saya terasa merinding dan badan saya menggelinjang kecil. Hal itu membuat Jenny makin bersemangat. Ia melucuti baju dan BH saya hingga tubuh bagian atas saya benar-benar telanjang. Ia menyuruh saya berdiri dan menjauh dari ranjang. Saya menurut saja, meski merasa agak gila.

Bersambung . . . .

0 Jenny wanita mafia - 2

Di bawah sinar lampu yang terang benderang, saya berdiri setengah telanjang di hadapan seorang wanita yang baru saja saya kenal tadi siang. Wanita mafia pula! Namun entah kenapa, saya menikmati permainannya, saya menikmati tatapannya yang lekat ke sekujur tubuh saya. Bola matanya tampak tajam menatap dua buah dada saya. Seharusnya saya merasa malu, namun saya malah menegakkan tubuh, membusungkan dada, hingga Jenny bebas menikmati keindahan dua susu saya yang berwarna lebih terang dibandingkan tubuh saya yang sawomatang, lengkap dengan dua putingnya yang coklat tua.

Jenny terbaring miring di ranjangnya dengan pose yang amat merangsang. Garis pinggulnya tampak begitu indah, pahanya yang mulus dan putih bersih begitu panjang dan menggoda. Kaosnya oblongnya agak tersingkap ke atas, membuat perutnya yang indah mengintip nakal. Celana dalam yang dipakainya pun hitam transparan menunjukkan rambut-rambut halus di selangkangannya. Matanya meredup dan bibir basahnya berbisik agar saya kembali naik ke ranjang.

"Kamu cantik sekali Von." bisiknya lagi saat saya menelentangkan diri di ranjang.
"Kamu juga, Jen." saya sudah mulai berani menjawab.
Ia lalu mendekatkan wajahnya, lalu mulut-mulut kami berciuman dengan mesra. Saat itulah saya pertama kali berciuman, merasakan lidahnya masuk ke mulut saya, menjilat dan menghisap-hisap bibir bawah saya, mm, nyaman sekali.

Bibirnya lalu melepaskan bibir saya dan beranjak menuruni rahang dan leher saya. Lidahnya yang hangat berputar-putar di pangkal susu saya, membuat saya kegelian. Tangan saya membelai-belai rambutnya yang lurus dan pendek seleher. Entah kenapa, tapi saya merasakan hal yang berbeda. Saya merasa dikagumi, diperhatikan, dan dicintai. Sebuah perasaan yang tidak pernah saya dapatkan dari siapapun kecuali orang tua saya. Namun kali ini rasanya benar-benar lain.

"Von, susu kamu indah sekali." bisiknya dengan suara setengah merintih.
"Ciumin dong Jen." pinta saya tidak sabar.
"Haa, kamu udah pengen ya?" godanya.
"Kok tau sih?" jawab saya kembali menggoda.
"Pentil kamu udah tegang gini." jawabnya cuek sambil menatap ke dua puting susu saya.
Saya mengangkat kepala untuk melihat ke susu saya, dan benar, kedua puting ini tampak berdiri meruncing. Saya tersipu malu. Namun Jenny segera menangkap puting susu saya dengan mulutnya.

"Engghh.." saya langsung mengerang sambil menggelinjang ketika puting susu saya dihisapnya.
Saya mendongakkan kepala, merem melek dan mengerang-ngerang. Aduhh, puting susu saya rasanya begitu nikmat. Saya tidak tahu apa yang Jenny lakukan, namun kedua puting saya tidak henti merasakan belaian lembut dan hisapan-hisapan halus. Rasa nikmatnya mengalir ke seluruh badan sampai rasanya seperti lemas dan pasrah padanya. Ohh, benar-benar mabuk kepayang. Betapa tidak, rasanya nikmaat sekali. (Mengetikkan cerita ini saja membuat dua puting susu saya terangsang lagi mengingat rasanya).

Entah berapa lama Jenny memainkan susu saya, tapi rasanya seperti bertahun-tahun terperangkap dalam rasa nikmat. Sampai-sampai vagina saya terasa gatal dan mengeluarkan cairannya. Padahal hanya susu saya saja yang dimainkannya. Aduhh, Jenny benar-benar mengerti bagaimana menaklukkan seorang wanita innocent seperti saya ini. Ia terus mengulum, menjilat, dan menghisap, dan entah ngapain lagi di kedua puting saya ini, yang jelas saya begitu menikmatinya. Sampai saya mencengkeram tengkuknya agar mulutnya tidak lari dari puting saya. Mata saya 'kiar-kier' menahan nikmat, mulut saya terus mengerang-ngerang keenakan.

"Uhh, Ohh.. Ahh.. Jennyy.. Aduhh.. enaknyaa.. Ohh.."
Jenny seperti tidak perduli, ia terus saja membuat kedua puting ini merasakan rangsangan luar biasa. Badan saya menggelinjang-gelinjang hebat, punggung saya terangkat-angkat dari ranjang karena tidak kuat menahan enaknya permainan ini. Tiba-tiba Jenny berhenti. Saya terengah-engah lemas, dua susu saya terasa menyesak dan berat.
"Von.. Oi, buka mata kamu, Von..!" ujar Jenny sambil masih memilin-milin puting saya.
Saya membuka mata dan susah payah mengangkat kepala melihat ke arah dada saya. Astaga! Puting-puting saya yang selama ini coklat tua, kini jadi berwarna merah daging, dan begitu besar. Tidak pernah saya melihat puting saya sendiri berdiri begitu tingginya. Dua susu saya pun terasa agak membengkak.

"Ohh, Jenny.. kamu apain susuku..?" desah saya naif.
"Belum pernah ya?" bisiknya menggoda, "Tapi enak kan?"
Saya mengangguk lemah sambil berusaha tersenyum. Tangan saya meraih susunya dari balik kaos, tapi ia menepiskannya.
"Eits, mau balas dendam ya? Nggak boleh!" godanya nakal.
God, saya merasa jatuh cinta padanya, pada kenakalannya, pada kedewasaannya.

Tanpa banyak bicara, Jenny lalu melucuti celana dan celana dalam saya. Sudah tidak ada lagi rasa takut, malu, atau risih di hadapannya, malah saya merasa tidak sabar menanti permainan berikutnya. Dilemparkannya celana panjang saya jauh-jauh. Lalu ia menciumi paha saya.
"Wow, paha kamu halus banget! Aku jadi iri!" ujarnya sambil menciumi.
Saya agak malu, karena paha dan kakinya jelas-jelas lebih panjang dan lebih indah.
"Kangkangin dong, aku pengen lihat lebih jauh!" katanya lagi.
Saya mengangkangkan paha saya lebar-lebar, membiarkannya melihat jelas-jelas kemaluan saya. Saya agak heran melihatnya menggeleng-gelengkan wajah cantiknya sambil menatap kemaluan saya.

"Kenapa, Jen?" tanya saya ragu.
"Aghh.." saya terhenyak sedikit ketika ia mencolek kemaluan saya.
"Lihat nih!" Jenny menunjukkan jarinya yang dibasahi oleh lendir kental bening, banyak sekali, "Kamu udah terangsang banget ya, Von?"
"Gimana nggak terangsang?" tanya saya balik, "Abis kamu gituin sih."
Jenny tersenyum sekilas, lalu membenamkan wajahnya di selangkangan saya. Dan saat itulah saya merasakan hal terindah dalam hidup saya.

"Ngghh.. Jennyy.." saya memekik keras menyebutkan namanya saat Jenny mulai menggerakkan lidah dan bibirnya di kemaluan saya.
Ohh, saya tidak tahu apa yang dilakukannya di bawah sana, tapi rasanya sungguh nikmat. Saya terhentak-hentak merasakannya, wajah saya meringis keenakan, menggeliat-geliat untuk menahan rasa nikmat yang luar biasa ini. Saya seperti bingung, berusaha meraih dan mencengkeram apapun yang dapat saya raih, sprei, bantal, tiang ranjang, apapun. Sementara mulut Jenny di bawah sana mengeluarkan bunyi berkecipak.

Kemaluan saya terasa seperti digosok keras-keras oleh benda lunak dan lembab, enak sekali. Tiap gesekannya terasa nyetrum ke seluruh badan ini. Kepala saya terangkat-angkat dari ranjang, paha saya menghimpit kepala Jenny. Tiak lama kemudian, Jenny memasukkan jarinya ke lubang kemaluan saya. Uhh, pada saat yang sama, saya mencapai klimaks kenikmatan.
"Aduhh Jennyy.. Oughh.." serasa ada yang menyembur keluar dari kemaluan saya, begitu deras dan nikmat.
Saya sampai meremas sendiri dua susu saya untuk menambah kenikmatan, hingga semuanya sempurna. Lalu saya merasa lemas sekali. Terkulai dan terengah-engah kelelahan. Saya memejamkan mata, menikmati sisa-sisa orgasme pertama yang saya rasakan. Terasa Jenny meninggalkan ranjang, mengecup kening saya, lalu saya tertidur di tengah kenikmatan maha dahsyat ini.

Pagi berikutnya, saya baru terbangun dari tidur panjang saya yang begitu nikmat. Badan terasa segar dan nyaman, meski kedua kaki saya terasa agak pegal. Saya bangkit duduk, dan cepat-cepat menarik selimut untuk menutupi badan telanjang saya. Betapa tidak, di ruangan itu, Jenny tidak sendiri bersama saya. Wanita itu tampak sedang berbicara dengan seorang pria berwajah Italia. Bukan salah satu dari centengnya kemarin, tapi seorang pemuda ganteng berkaca mata, dengan dandanan yang rapih.

"Wah, pacarmu sudah bangun rupanya." ujar si pria Italia saat melihat saya terjaga.
"Ya, dan itu berarti waktumu untuk pergi." jawab Jenny dengan dialek British yang amat sempurna.
"Oke, aku pergi." jawab pria Italia itu sambil tersenyum.
"Hey, suatu saat aku ingin bertukar tempat denganmu!" seru pria itu sambil menatap ke arah saya dengan senyuman ramah.
"Kalau aku mau, nanti malam juga bisa!" canda Jenny sambil menepuk bahu pria itu, mengantarkannya keluar kamar.

Aku agak tertegun setengah marah mengetahui Jenny membiarkan orang lain masuk ruangan saat aku masih tertidur dalam kondisi telanjang bulat. Namun aku seperti tidak tega mengutarakan perasaan itu. Aku melihat Jenny membawa nampan berisi sarapan pagi ke dekat ranjang dan mempersilakanku makan. Aku menurut saja, karena memang permainan semalam membuatku kelaparan pagi ini. Jenny berdiri bersandar di dinding sambil melihatku makan.

Pagi itu ia tampak segar dan cantik. Rambutnya yang pendek seleher diikat ke belakang hingga tengkuknya yang jenjang terlihat begitu indah. Ia mengenakan kaos T-Shirt hijau tua dan celana pendek putih, memamerkan kaki-kakinya yang bagus itu. Ia melihatku makan dengan tatapan bahagia. Sejujurnya, aku amat terharu dengan sikap manisnya padaku.

"Von.." ujarnya lirih.
"Kenapa, Jen?"
"Maaf ya, semalam aku kurang ajar sama kamu." sambungnya, "Maaf juga soalnya aku biarin temanku tadi masuk."
"Nggak apa-apa Jen." jawab saya berusaha maklum, "Semalam itu.. indah sekali."
Jenny tersenyum. Senyum yang ramah, hangat, dan bersahabat. Namun.., hanya itu. Senyuman seorang sahabat, bukannya senyuman mesra seorang kekasih. Melihat senyumnya, saya merasa agak patah hati juga, karena sudah merasa jatuh cinta kepadanya. Saya terdiam, dan tanpa sadar air mata mengalir di pipi saya.

"Aku tahu apa yang ada di hati kamu, Von." ujar Jenny membaca situasi.
"Tapi aku juga ngerti, kamu nggak mungkin bisa hidup bareng aku." lanjutnya lagi.
Ia lalu melangkah menghampiri saya dan mengangkat nampan sarapan pagi dari pangkuan saya. Setelah meletakkan nampan itu di meja, ia kembali naik ke ranjang di sisi saya.
"Aku sayang sama kamu, kok!" ujarnya sambil mengecup kening saya, "Itu sebabnya aku nggak ingin kamu terlibat jauh di hidupku."
Saya memeluknya erat-erat, tanpa tahu harus berkata apa pada seorang yang baru saja 'memerawani' saya ini.
"Kamu ngerti maksudku kan?" tanyanya lagi dengan penuh harap.

Semula saya merasa sedih. Saya benar-benar ingin melewatkan hidup saya bersamanya terus. Tidak pernah ada orang yang membuat saya merasa begitu aman, tenang, nyaman, dan membuat saya merasa begitu dicintai dan dikagumi. Hanya dia, Jenny, yang memberikan semuanya pada saya. Namun saya melihat sekeliling, lemari pakaiannya kebetulan terbuka, memamerkan gaun-gaunnya yang mahal dan berwarna warni, sederet sepatu yang menjadi impian tiap wanita, laptop dan ponsel yang menunjukkan tingkat kemapanan hidupnya, lalu.. ah.. pistol keperakan itu.

Bagaimana saya dapat hidup damai dan bermesraan dengan seorang yang berkeliaran di lorong-lorong gelap London dengan menenteng pistol kemana-mana? Yang bergaul dengan preman-preman dan penjahat? Yang dengan entengnya mengobrak-abrik kantor atau toko seseorang karena telat membayar tagihan? Semuanya berkecamuk dalam otak saya.

Namun, hey. Ivon sekarang sudah dewasa! Pikir saya. Sekarang saya lebih percaya diri, dan sadar bahwa hidup ini indah dan tidak menakutkan. Mungkin saya bisa setegar Jenny, atau lebih dari dia? Mungkin juga saya dapat menemukan peluang lain yang membuat hidup saya lebih berarti daripada sekedar karyawan admin di sebuah perusahaan kecil? Rasa cinta dan kagum bercampur dengan haru dan terimakasih berkecamuk di dada saya. Namun saya juga sadar, jika saya harus melanjutkan kehidupan saya tanpa Jenny.

"Hey, cool dong!" hiburnya, "Kita bisa ketemu lagi kapan-kapan kalau kamu mau. Saat liburan kayak gini kan bisa juga?"
Saya mencoba tersenyum nakal. Ia membalas senyuman saya dengan nakal juga. Iseng-iseng saya meraih dan meremas susunya yang kanan, sambil menjentik-jentik putingnya dari balik bajunya. Jenny menatap saya. Pelan-pelan matanya meredup, lalu setengah memejam. Saya melepaskan susunya dari tangan saya.
"Kok berhenti?" tanyanya sambil kembali membuka mata.
"Emang boleh?" tanya saya.
"Kenapa enggak?" tanya Jenny balik sambil melucuti pakaiannya sendiri.

Jenny segera telanjang bulat berdiri di samping ranjang. Indah sekali tubuhnya, kulitnya halus mulus dan putih bersih. Kakinya panjang indah, begitupula lehernya. Wajahnya amat cantik, berkesan cerdas namun dingin. Kedua buah susunya tidak besar, namun kencang dan indah. Puting-putingnya berwarna merah jambu kecoklatan, dan tampak agak terangsang oleh sentuhan saya tadi. Saya duduk di sisi ranjang, wajah saya tepat menghadap ke dua putingnya. Tanpa banyak basa-basi, saya mendekap pinggangnya, dan mengisap puting susunya. Mmm.., puting susu hangat itu terasa lucu dalam mulut saya. Saya jilati, saya hisap-hisap.

Terdengar rintih erangan Jenny setiap kali lidah saya menyentuh puting itu. Terasa sekali puting itu mengencang, membengkak dalam mulut saya. Kami berbagi kehangatan dengan sangat mesra pagi itu, dan kejadian itu sempat terulang beberapa kali lagi di hari-hari setelahnya, sampai kemudian saya mendapati apartemennya kosong dan teleponnya tidak diangkat. Ia benar-benar telah pergi jauh dari kehidupan saya. Mungkinkah ia telah mencapai cita-citanya? Mungkinkah ia sudah berada 2 meter di bawah tanah? Saya tidak tahu. Saya tetap akan mengenangnya, karena dia adalah yang pertama bagi saya.

Tamat