Pages

Tampilkan postingan dengan label Setengah Baya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Setengah Baya. Tampilkan semua postingan

Senin, 05 April 2010

1 Nilaiku ditentukan oleh keperkasaanku

Benar apa yang diucapkan para orangtua dulu, bahwa segala sesuatu terjadi tanpa kita akan menyadarinya. Begitu juga dengan diriku para pembaca, segala sesuatu yang kualami begitu terjadi tanpa aku dapat menyadari sebelumnya. Dari sinilah aku akan memulai kisahku.

*****

Aku dilahirkan di kota M di propinsi Jawa Timur, kota yang panas karena terletak di dataran rendah. Selain tinggi badan seukuran orang-orang bule, kata temanku wajahku lumayan. Mereka bilang aku hitam manis. Sebagai laki-laki, aku juga bangga karena waktu SMA dulu aku banyak memiliki teman-teman perempuan. Walaupun aku sendiri tidak ada yang tertarik satupun di antara mereka. Mengenang saat-saat dulu aku kadang tersenyum sendiri, karena walau bagaimanapun kenangan adalah sesuatu yang berharga dalam diri kita. Apalagi kenangan manis.

Sekarang aku belajar di salah satu perguruan tinggi swasta di kota S, mengambil jurusan ilmu perhotelan. Aku duduk di tingkat akhir. Sebelum berangkat dulu, orangtuaku berpesan harus dapat menyelesaikan studi tepat pada waktunya. Maklum, keadaan ekonomi orangtuaku juga biasa-biasa saja, tidak kaya juga tidak miskin. Apalagi aku juga memiliki 3 orang adik yang nantinya juga akan kuliah seperti aku, sehingga perlu biaya juga. Aku camkan kata-kata orangtuaku. Dalam hati aku akan berjanji akan memenuhi permintaan mereka, selesai tepat pada waktunya.

Tapi para pembaca, sudah kutulis di atas bahwa segala sesuatu yang terjadi padaku tanpa aku dapat menyadarinya, sampai saat ini pun aku masih belum dapat menyelesaikan studiku hanya gara-gara satu mata kuliah saja yang belum lulus, yaitu mata kuliah yang berhubugan dengan hitung berhitung. Walaupun sudah kuambil selama empat semester, tapi hasilnya belum lulus juga. Untuk mata kuliah yang lain aku dapat menyelesaikannya, tapi untuk mata kuliah yang satu ini aku benar-benar merasa kesulitan.

"Coba saja kamu konsultasi kepada dosen pembimbing akademis..," kata temanku Andi ketika kami berdua sedang duduk-duduk dalam kamar kost.
"Sudah, Di. Tapi beliau juga lepas tangan dengan masalahku ini. Kata beliau ini ditentukan oleh dirimu sendiri." kataku sambil menghisap rokok dalam-dalam.
"Benar juga apa yang dikatakan beliau, Gi, semua ditentukan dari dirimu sendiri." sahut Andi sambil termangu, tangannya sibuk memainkan korek api di depannya.
Lama kami sibuk tenggelam dalam pikiran kami masing-masing, sampai akhirnya Andi berkata, "Gini saja, Gi, kamu langsung saja menghadap dosen mata kuliah itu, ceritakan kesulitanmu, mungkin beliau mau membantu." kata Andi.

Mendengar perkataan Andi, seketika aku langsung teringat dengan dosen mata kuliah yang menyebalkan itu. Namanya Ibu Eni, umurnya kira-kira 35 tahun. Orangnya lumayan cantik, juga seksi, tapi banyak temanku begitu juga aku mengatakan Ibu Eni adalah dosen killer, banyak temanku yang dibuat sebal olehnya. Maklum saja Ibu Eni belum berkeluarga alias masih sendiri, perempuan yang masih sendiri mudah tersinggung dan sensitif.

"Waduh, Di, bagaimana bisa, dia dosen killer di kampus kita..," kataku bimbang.
"Iya sih, tapi walau bagaimanapun kamu harus berterus terang mengenai kesulitanmu, bicaralah baik-baik, masa beliau tidak mau membantu..," kata Andi memberi saran.
Aku terdiam sejenak, berbagai pertimbangan muncul di kepalaku. Dikejar-kejar waktu, pesan orang tua, dosen wanita yang killer.
Akhirnya aku berkata, "Baiklah Di, akan kucoba, besok aku akan menghadap beliau di kampus."
"Nah begitu dong, segala sesuatu harus dicoba dulu," sahut Andi sambil menepuk-nepuk pundakku.

Siang itu aku sudah duduk di kantin kampus dengan segelas es teh di depanku dan sebatang rokok yang menyala di tanganku. Sebelum bertemu Ibu Eni aku sengaja bersantai dulu, karena bagaimanapun nanti aku akan gugup menghadapinya, aku akan menenangkan diri dulu beberapa saat. Tanpa aku sadari, tiba-tiba Andi sudah berdiri di belakangku sambil menepuk pundakku, sesaat aku kaget dibuatnya.

"Ayo Gi, sekarang waktunya. Bu Eni kulihat tadi sedang menuju ke ruangannya, mumpung sekarang tidak mengajar, temuilah beliau..!" bisik Andi di telingaku.
"Oke-oke..," kataku singkat sambil berdiri, menghabiskan sisa es teh terakhir, kubuang rokok yang tersisa sedikit, kuambil permen dalam saku, kutarik dalam-dalam nafasku.
Aku langsung melangkahkan kaki.
"Kalau begitu aku duluan ya, Gi. Sampai ketemu di kost," sahut Andi sambil meninggalkanku.
Aku hanya dapat melambaikan tangan saja, karena pikiranku masih berkecamuk bimbang, bagaimana aku harus menghadapai Ibu Eni, dosen killer yang masih sendiri itu.

Perlahan aku berjalan menyusupi lorong kampus, suasana sangat lengang saat itu, maklum hari Sabtu, banyak mahasiswa yang meliburkan diri, lagipula kalau saja aku tidak mengalami masalah ini lebih baik aku tidur-tiduran saja di kamar kost, ngobrol dengan teman. Hanya karena masalah ini aku harus bersusah-susah menemui Bu Eni, untuk dapat membantuku dalam masalah ini.

Kulihat pintu di ujung lorong. Memang ruangan Bu Eni terletak di pojok ruangan, sehingga tidak ada orang lewat simpang siur di depan ruangannya. Kelihatan sekali keadaan yang sepi.
Pikirku, "Mungkin saja perempuan yang belum bersuami inginnya menyendiri saja."
Perlahan-lahan kuketuk pintu, sesaat kemudian terdengar suara dari dalam, "Masuk..!"
Aku langsung masuk, kulihat Bu Eni sedang duduk di belakang mejanya sambil membuka-buka map. Kutup pintu pelan-pelan. Kulihat Bu Eni memandangku sambil tersenyum, sesaat aku tidak menyangka beliau tersenyum ramah padaku. Sedikit demi sedikit aku mulai dapat merasa tenang, walaupun masih ada sedikit rasa gugup di hatiku.

"Silakan duduk, apa yang bisa Ibu bantu..?" Bu Eni langsung mempersilakan aku duduk, sesaat aku terpesona oleh kecantikannya.
Bagaimana mungkin dosen yang begitu cantik dan anggun mendapat julukan dosen killer. Kutarik kursi pelan-pelan, kemudian aku duduk.
"Oke, Yogi, ada apa ke sini, ada yang bisa Ibu bantu..?" sekali lagi Bu Eni menanyakan hal itu kepadaku dengan senyumnya yang masih mengembang.
Perlahan-lahan kuceritakan masalahku kepada Bu Eni, mulai dari keinginan orangtua yang ingin aku agak cepat menyelesaikan studiku, sampai ke mata kuliah yang saat ini aku belum dapat menyelesaikannya.

Kulihat Bu Eni dengan tekun mendengarkan ceritaku sambil sesekali tersenyum kepadaku. Melihat keadaan yang demikian aku bertambah semangat bercerita, sampai pada akhirnya dengan spontan aku berkata, "Apa saja akan kulakukan Bu Eni, untuk dapat menyelesaikan mata kuliah ini. Mungkin suatu saat membantu Ibu membersihkan rumah, contohnya mencuci piring, mengepel, atau yah, katakanlah mencuci baju pun aku akan melakukannya demi agar mata kuliah ini dapat saya selesaikan. Saya mohon sekali, berikanlah keringanan nilai mata kuliah Ibu pada saya."

Mendengar kejujuran dan perkataanku yang polos itu, kulihat Bu Eni tertawa kecil sambil berdiri menghampiriku, tawa kecil yang kelihatan misterius, dimana aku tidak dapat mengerti apa maksudnya.
"Apa saja Yogi..?" kata Bu Eni seakan menegaskan perkataanku tadi yang secara spontan keluar dari mulutku tadi dengan nada bertanya.
"Apa saja Bu..!" kutegaskan sekali lagi perkataanku dengan spontan.

Sesaat kemudian tanpa kusadari Bu Eni sudah berdiri di belakangku, ketika itu aku masih duduk di kursi sambil termenung. Sejenak Bu Eni memegang pundakku sambil berbisik di telingaku.
"Apa saja kan Yogi..?"
Aku mengangguk sambil menunduk, saat itu aku belum menyadari apa yang akan terjadi. Tiba-tiba saja dari arah belakang, Bu Eni sudah menghujani pipiku dengan ciuman-ciuman lembut, sebelum sempat aku tersadar apa yang akan terjadi. Bu Eni tiba-tiba saja sudah duduk di pangkuanku, merangkul kepalaku, kemudian melumatkan bibirnya ke bibirku. Saat itu aku tidak tahu apa yang harus kulakukan, seketika kedua tangan Bu Eni memegang kedua tanganku, lalu meremas-remaskan ke payudaranya yang sudah mulai mengencang.

Aku tersadar, kulepaskan mulutku dari mulutnya.
"Bu, haruskah kita.."
Sebelum aku menyelesaikan ucapanku, telunjuk Bu Eni sudah menempel di bibirku, seakan menyuruhku untuk diam.
"Sudahlah Yogi, inilah yang Ibu inginkan.."
Setelah berkata begitu, kembali Bu Eni melumat bibirku dengan lembut, sambil membimbing kedua tanganku untuk tetap meremas-remas payudaranya yang montok karena sudah mengencang.

Akhirnya timbul hasrat kelelakianku yang normal, seakan terhipnotis oleh reaksi Bu Eni yang menggairahkan dan ucapannya yang begitu pasrah, kami berdua tenggelam dalam hasrat seks yang sangat menggebu-gebu dan panas. Aku membalas melumat bibirnya yang indah merekah sambil kedua tanganku terus meremas-remas kedua payudaranya yang masih tertutup oleh baju itu tanpa harus dibimbing lagi. Tangan Bu Eni turun ke bawah perutku, kemudian mengusap-usap kemaluanku yang sudah mengencang hebat. Dilanjutkan kemudian satu-persatu kancing-kancing bajuku dibuka oleh Bu Eni, secara reflek pula aku mulai membuka satu-persatu kancing baju Bu Eni sambil terus bibirku melumat bibirnya.

Setelah dapat membuka bajunya, begitu pula dengan bajuku yang sudah terlepas, gairah kami semakin memuncak, kulihat kedua payudara Bu Eni yang memakai BH itu mengencang, payudaranya menyembul indah di antara BH-nya. Kuciumi kedua payudara itu, kulumat belahannya, payudara yang putih dan indah. Kudengar suara Bu Eni yang mendesah-desah merasakan kenikmatan yang kuberikan. Kedua tangan Bu Eni mengelus-elus dadaku yang bidang. Lama aku menciumi dan melumat kedua payudaranya dengan kedua tanganku yang sesekali meremas-remas dan mengusap-usap payudara dan perutnya.

Akhirnya kuraba tali pengait BH di punggungnya, kulepaskan kancingnya, setelah lepas kubuang BH ke samping. Saat itu aku benar-benar dapat melihat dengan utuh kedua payudara yang mulus, putih dan mengencang hebat, menonjol serasi di dadanya. Kulumat putingnya dengan mulutku sambil tanganku meremas-remas payudaranya yang lain. Puting yang menonjol indah itu kukulum dengan penuh gairah, terdengar desahan nafas Bu Eni yang semakin menggebu-gebu.
"Oh.., oh.., Yogi.. teruskan.., teruskan Yogi..!" desah Bu Eni dengan pasrah dan memelas.
Melihat kondisi seperti itu, kejantananku semakin memuncak. Dengan penuh gairah yang mengebu-gebu, kedua puting Bu Eni kukulum bergantian sambil kedua tanganku mengusap-usap punggungnya, kedua puting yang menonjol tepat di wajahku. Payudara yang mengencang keras.

Lama aku melakukannya, sampai akhirnya sambil berbisik Bu Eni berkata, "Angkat aku ke atas meja Yogi.., ayo angkat aku..!"
Spontan kubopong tubuh Bu Eni ke arah meja, kududukkan, kemudian dengan reflek aku menyingkirkan barang-barang di atas meja. Map, buku, pulpen, kertas-kertas, semua kujatuhkan ke lantai dengan cepat, untung lantainya memakai karpet, sehingga suara yang ditimbulkan tidak terlalu keras.

Masih dalam keadaan duduk di atas meja dan aku berdiri di depannya, tangan Bu Eni langsung meraba sabukku, membuka pengaitnya, kemudian membuka celanaku dan menjatuhkannya ke bawah. Serta-merta aku segera membuka celana dalamku, dan melemparkannya ke samping.
Kulihat Bu Eni tersenyum dan berkata lirih, "Oh.. Yogi.., betapa jantannya kamu.. kemaluanmu begitu panjang dan besar.. Oh.. Yogi, aku sudah tak tahan lagi untuk merasakannya."
Aku tersenyum juga, kuperhatikan tubuh Bu Eni yang setengah telanjang itu.

Kemudian sambil kurebahkan tubuhnya di atas meja dengan posisi aku berdiri di antara kedua pahanya yang telentang dengan rok yang tersibak sehingga kelihatan pahanya yang putih mulus, kuciumi payudaranya, kulumat putingnya dengan penuh gairah, sambil tanganku bergerilya di antara pahanya. Aku memang menginginkan pemanasan ini agak lama, kurasakan tubuh kami yang berkeringat karena gairah yang timbul di antara aku dan Bu Eni. Kutelusuri tubuh Bu Eni yang setengah telanjang dan telentang itu mulai dari perut, kemudian kedua payudaranya yang montok, lalu leher. Kudengar desahan-desahan dan rintihan-rintihan pasrah dari mulut Bu Eni.

Sampai ketika Bu Eni menyuruhku untuk membuka roknya, perlahan-lahan kubuka kancing pengait rok Bu Eni, kubuka restletingnya, kemudian kuturunkan roknya, lalu kujatuhkan ke bawah. Setelah itu kubuka dan kuturunkan juga celana dalamnya. Seketika hasrat kelelakianku semakin menggebu-gebu demi melihat tubuh Bu Eni yang sudah telanjang bulat, tubuh yang indah dan seksi, dengan gundukan daging di antara pahanya yang ditutupi oleh rambut yang begitu rimbun.
Terdengar Bu Eni berkata pasrah, "Ayolah Yogi.., apa yang kau tunggu..? Ibu sudah tak tahan lagi."

Kurasakan tangan Bu Eni menggenggam kemaluanku, menariknya untuk lebih mendekat di antara pahanya. Aku mengikuti kemauan Bu Eni yang sudah memuncak itu, perlahan tapi pasti kumasukkan kemaluanku yang sudah mengencang keras layaknya milik kuda perkasa itu ke dalam vagina Bu Eni. Kurasakan milik Bu Eni yang masih agak sempit. Akhirnya setelah sedikit bersusah payah, seluruh batang kemaluanku amblas ke dalam vagina Bu Eni.
Terdengar Bu Eni merintih dan mendesah, "Oh.., oh.., Yogi.. terus Yogi.. jangan lepaskan Yogi.. aku mohon..!"
Tanpa pikir panjang lagi disertai hasratku yang sudah menggebu-gebu, kugerakkan kedua pantatku maju-mundur dengan posisi Bu Eni yang telentang di atas meja dan aku berdiri di antara kedua pahanya.

Mula-mula teratur, seirama dengan goyangan-goyangan pantat Bu Eni. Sering kudengar rintihan-rintihan dan desahan Bu Eni karena menahan kenikmatan yang amat sangat. Begitu juga aku, kuciumi dan kulumat kedua payudara Bu Eni dengan mulutku.
Kurasakan kedua tangan Bu Eni meremas-remas rambutku sambil sesekali merintih, "Oh.. Yogi.. oh.. Yogi.. jangan lepaskan Yogi, kumohon..!"
Mendengar rintihan Bu Eni, gairahku semakin memuncak, goyanganku bertambah ganas, kugerakkan kedua pantatku maju-mundur semakin cepat.
Terdengar lagi suara Bu Eni merintih, "Oh.. Yogi.. kamu memang perkasa.., kau memang jantan.. Yogi.. aku mulai keluar.. oh..!"
"Ayolah Bu.., ayolah kita mencapai puncak bersama-sama, aku juga sudah tak tahan lagi," keluhku.

Setelah berkata begitu, kurasakan tubuhku dan tubuh Bu Eni mengejang, seakan-akan terbang ke langit tujuh, kurasakan cairan kenikmatan yang keluar dari kemaluanku, semakin kurapatkan kemaluanku ke vagina Bu Eni. Terdengar keluhan dan rintihan panjang dari mulut Bu Eni, kurasakan juga dadaku digigit oleh Bu Eni, seakan-akan nmenahan kenikmatan yang amat sangat.
"Oh.. Yogi.. oh.. oh.. oh.."
Setelah kukeluarkan cairan dari kemaluanku ke dalam vagina Bu Eni, kurasakan tubuhku yang sangat kelelahan, kutelungkupkan badanku di atas badan Bu Eni dengan masih dalam keadan telanjang, agak lama aku telungkup di atasnya.

Setelah kurasakan kelelahanku mulai berkurang, aku langsung bangkit dan berkata, "Bu, apakah yang sudah kita lakukan tadi..?"
Kembali Bu Eni memotong pembicaraanku, "Sudahlah Yogi, yang tadi itu biarlah terjadi karena kita sama-sama menginginkannya, sekarang pulanglah dan ini alamat Ibu, Ibu ingin cerita banyak kepadamu, kamu mau kan..?"
Setelah berkata begitu, Bu Eni langsung menyodorkan kartu namanya kepadaku. Kuterima kartu nama yang berisi alamat itu.

Sejenak kutermangu, kembali aku dikagetkan oleh suara Bu Eni, "Yogi, pulanglah, pakai kembali pakaianmu..!"
Tanpa basa-basi lagi, aku langsung mengenakan pakaianku, kemudian membuka pintu dan keluar ruangan. Dengan gontai aku berjalan keluar kampus sambil pikiranku berkecamuk dengan kejadian yang baru saja terjadi antara aku dengan Bu Eni. Aku telah bermain cinta dengan dosen killer itu. Bagaimana itu bisa terjadi, semua itu diluar kehendakku. Akhirnya walau bagaimanapun nanti malam aku harus ke rumah Bu Eni.

Kudapati rumah itu begitu kecil tapi asri dengan tanaman dan bunga di halaman depan yang tertata rapi, serasi sekali keadannya. Langsung kupencet bel di pintu, tidak lama kemudian Bu Eni sendiri yang membukakan pintu, kulihat Bu Eni tersenyum dan mempersilakan aku masuk ke dalam. Kuketahui ternyata Bu Eni hidup sendirian di rumah ini. Setelah duduk, kemudian kami pun mengobrol. Setelah sekian lama mengobrol, akhirnya kuketahui bahwa Bu Eni selama ini banyak dikecewakan oleh laki-laki yang dicintainya. Semua laki-laki itu hanya menginginkan tubuhnya saja bukan cintanya. Setelah bosan, laki-laki itu meninggalkan Bu Eni. Lalu dengan jujur pula dia memintaku selama masih menyelesaikan studi, aku dimintanya untuk menjadi teman sekaligus kekasihnya. Akhirnya aku mulai menyadari bahwa posisiku tidak beda dengan gigolo.

Kudengar Bu Eni berkata, "Selama kamu masih belum wisuda, tetaplah menjadi teman dan kekasih Ibu. Apa pun permintaanmu kupenuhi, uang, nilai mata kuliahmu agar lulus, semua akan Ibu penuhi, mengerti kan Yogi..?"
Selain melihat kesendirian Bu Eni tanpa ada laki-laki yang dapat memuaskan hasratnya, aku pun juga mempertimbangkan kelulusan nilai mata kuliahku. Akhirnya aku pun bersedia menerima tawarannya.

Akhirnya malam itu juga aku dan Bu Eni kembali melakukan apa yang kami lakukan siang tadi di ruangan Bu Eni, di kampus. Tetapi bedanya kali ini aku tidak canggung lagi melayani Bu Eni dalam bercinta. Kami bercinta dengan hebat malam itu, 3 kali semalam, kulihat senyum kepuasan di wajah Bu Eni. Walau bagaimanapun dan entah sampai kapan, aku akan selalu melayani hasrat seksualnya yang berlebihan, karena memang ada jaminan mengenai kelulusan mata kuliahku yang tidak lulus-lulus itu dari dulu.


Tamat

1 Nor, Si betina yang tak pernah terpuaskan

Perkenalanku dengan Norhamidah berawal dari emailnya yang menanggapi tentang cerita 'Love in Malaysia' dan 'Ganasnya Gairah Cinta Michiko' yang aku tulis di Rumah Seks. Sejak saat itu, secara rutin kami saling bertukar cerita dan saling curhat, dan bahkan pembicaraan kami sudah sampai menjurus kepada masalah-masalah pribadi, terutama tentang keluhannya yang merasa tidak pernah mencapai orgasme waktu bersanggama dengan suaminya.

"Sejak saya menikah dan kini telah mempunyai dua orang anak, saya sama sekali tidak pernah merasakan bagaimana nikmatnya orgasme ketika berhubungan intim dengan suami. Orgasme justru saya dapatkan setelah 'melancap' (dalam bahasa indonesia melakukan masturbasi) sambil membaca cerita di Rumah Seks," tulisnya.

Nor, begitu ia dipanggil, berusia 40 tahun dan berprofesi sebagai seorang guru fisika pada salah satu SPM di negara bagian Selangor Malaysia (sama dengan SMU di Indonesia). Sebagai seorang cikgu (guru), dalam kesehariannya ia selalu memakai baju kurung. Namun dari foto yang dikirimkannya ke emailku, wajahnya justru masih seperti berusia 25 tahun. Padahal ia mengaku foto tersebut diambil dua bulan sebelumnya.

Dalam email berikutnya, aku mulai memancing Norhamidah untuk mau diajak bercerita yang menjurus ke masalah seks, dan bahkan aku tanpa ragu-ragu menyatakan dengan terus terang bahwa aku selalu coba membayangkan bersanggama dengan dirinya. Ternyata, balasan email aku itu mendapat respon darinya, sehingga tiada hari dalam email yang kami tulis berbau seks. Ia bahkan tidak sungkan-sungkan menanyakan tentang panjang penis saya, dan kemudian iapun menyatakan bahwa panjang penis suaminya jauh lebih pendek dari penis saya.

Iapun mengaku, selalu mengangan-angankan bagaimana rasanya jika penis saya (butoh dalam bahasa Malaysia) bisa menembus 'cipap' (vagina dalam bahasa Indonesia) dia.

"Tapi rasanya itu tak mungkin, mengingat posisi saya yang sulit keluar rumah tanpa suami dan tempat tinggal kita yang berlainan negara," tulisnya.

Namun ternyata apa yang tak terbayangkan olehnya itu justru jadi kenyataan. Waktu itu, tanggal 1 Mei 2004 lalu aku kembali mendapat kesempatan untuk berkunjung ke Malaysia untuk menjalankan tugas kantor. Di Kuala Lumpur, aku ditempatkan di Quality Hotel yang lokasinya tak begitu jauh dari dataran Merdeka dan di depannya terdapat pula sebuah plaza.

Ketika aku hendak menuju kamar di lantai 18 setelah check in, di depan pintu lift aku terpana melihat seorang wanita memakai baju kurung berwarna merah. Aku merasa mengenal wajah ayu tersebut. Merasa ada sepasang mata yang mengawasinya, wanita itupun menolehkan pandangannya tepat ke wajahku. Iapun terlihat kaget.

"Nor..?" aku coba asal sapa.
"Sandy..?" ia terlihat gugup, dan kemudian ia buru-buru masuk ke dalam

Lift yang telah terbuka pintunya. Di dalam lift yang kebetulan hanya kami berdua saja, ia menanyakan nomor kamarku. Di lantai 8, ia lalu buru-buru keluar lift dan berjanji akan menghubungiku melalui telepon ke kamarku. Setelah hampir 20 menit aku menunggu, barulah Nor menelpon ke kamarku.

"Sandy, maafkan Nor tadi ya. Nor tadi takut dilihat orang, soalnya di hotel ini Nor bersama suami, dan baru saja suami Nor pergi keluar untuk ikut mesyuarat (musyawarah)," ujarnya dari balik gagang telepon dari kamarnya.
"Tak apa, saya mengerti kok," jawabku.

Dalam pembicaraan telepon itu, Nor menyatakan sangat kaget sekali begitu mengetahui aku menginap di hotel itu. Ia menyatakan bahwa ia berada di hotel itu mulai hari itu selama dua malam mengikuti suaminya yang sedang mengikuti mesyuarat. Iapun bertanya kenapa aku sampai berada pula di Malaysia tanpa memberi khabar lebih dahulu kepadanya melalui email.

"Saya ke Kuala Lumpur untuk suatu urusan kantor. Saya tak bisa bagi tahu kamu, karena memang saya berangkat mendadak," jawabku.

Lalu aku menceritakan tentang aku yang ditugaskan kantor untuk suatu urusan, karena memang aku dipandang mampu untuk melaksanakannya. Dan ketika akan berangkat, aku menghubungi salah seorang teman yang bergerak dalam bisnis kayu di Kuala Lumpur, dan ternyata teman tersebut menempatkan aku di Quality Hotel.

"Dan ketika saya hendak menuju kamar tadi, saya sedikit terkejut memandang wajahmu yang mirip dengan foto yang kamu kirim ke email saya. Dan ternyata kamu, saya lihat juga sedikit kaget, makanya saya beranikan menyapa nama kamu. Eh, nyatanya benar kamu yang ada di hadapan saya waktu hendak naik lift tadi," ujarku.

Kami lalu bercerita tentang pekerjaan dan keluarga kami masing-masing. Ia juga menceritakan bahwa hingga nanti malam suaminya ikut mesyuarat hingga dia kesepian berada di kamar hotel. Setelah merasa akrab, apalagi selama ini pembicaraan kami sudah sangat lancar dan tidak ada lagi rahasia, lalu aku coba merayunya agar mau bertandang ke kemarku. Namun ia menyatakan ragu-ragu disebabkan takut nanti suaminya datang dan melihat ia tidak berada di dalam kamar.

"Memang biasanya suami kamu ikut mesyuarat sampai jam berapa?" aku coba menyelidiki.
"Biasanya paling cepat jam 10 pm. (maksudnya jam 22.00 malam). Tapi saya takut nanti dia telepon ke bilik," katanya.
"Apa suamimu selalu begitu setiap dia tinggalkan kamu di bilik?" tanyaku.
"Tidak juga, tapi saya kuatir saja," jawabnya.
"Ya sudah, sekarang baru jam 7.15 p.m, kamu ke bilik saya saja, nanti sebelum jam 10 p. M kamu balik lagi ke bilik kamu," rayu saya.

Lama Nor berpikir, lalu tiba-tiba menyatakan akan segera datang ke kamar saya di lantai 18. Dalam desahannya di balik gagang telepon kamarnya, Nor menyatakan sudah tidak tahan lagi untuk merasakan dahsyatnya gempuran penisku, seperti yang dibacanya dalam ceritaku di Rumah Seks.

"Tak apalah, nanti kalau suami Nor telepon, Nor jawab saja lagi pergi cari makan ke depan plaza. Nor sudah tak tahan ingin merasakan butuh Sandy yang perkasa itu," katanya, dan tak lama kemudian dia meletakkan gagang teleponnya.

Tak lama kemudian, terdengar bunyi bell di kamarku. Aku yang hanya memakai handuk karena baru selesai mandi, langsung saja membuka pintu kamar. Begitu pintu dibuka, Nor langsung mendorongnya dan masuk ke dalam kamar, sehingga aku ikut terdorong dan hampir terjatuh. Untung secara reflek aku memegang pinggang Nor, sehingga tanpa disadari kami jadi berpelukan.

"Maafkan Nor ya, habis Nor takut dilihat orang lain kerana masuk ke bilik kamu. Ini Malaysia dan bukan di Indonesia Kamu paham kan..?," ujarnya dengan nafas memburu.
"Iya, aku mengerti..," jawabku.

Hembusan nafasnya yang harum membuat libidoku jadi naik. Dengan masih memeluk pinggangnya yang ramping, perlahan aku tarik semakin merapat ke tubuhku, sehingga wajah kami sudah begitu dekatnya. Aku lihat, Nor memejamkan matanya, dan kesempatan itu aku artikan jika ia sudah pasrah dengan apa yang akan aku lakukan terhadap dirinya. Perlahan, aku cium bibirnya dengan lembut.

"Ah..," dia mendesah.

Perlahan aku bopong tubuhnya yang masih dibungkus baju kurung itu. Dengan lembut kembali aku cium bibirnya yang merekah itu, meskipun usianya sudah berkepala empat dan punya anak dua. Lagi-lagi Nor mendesah sehingga semakin membuat aku jadi sangat terangsang.

Bibirku terus melumat bibirnya, dan kali ini aku rasakan Nor membalas lumatan bibirku itu. Sambil tetap tidak melepaskan pagutan bibirku pada bibirnya, tanganku mulai bekerja. Rambutnya yang panjang hampir mencapai pinggang itu langsung tergerai. Tanganku terus bekerja menarik resluiting baju kurungnya yang terletak di bagian belakang tubuhnya. Setelah lepas, perlahan aku tarik baju kurung yang dipakainya ke atas, dan Nor membantu dengan mengangkat punggungnya, sehingga dengan mudah aku berhasil melepas baju kurung yang melekat di badannya.

Kini di hadapanku terpampang tubuh sintal yang seksi. Kulit tubuhnya yang begitu halus dan lembut, kurasakan masih kencang bagaikan kulit gadis berusia 20 tahun. Tanpa membuang waktu lagi, segera aku tindih tubuh mulus yang putih itu, dan menciuminya mulai dari bibir, pangkal telinga terus turun ke lehernya yang jenjang. Sementara tanganku sibuk mencari pengait bra di belakang tubuhnya. Begitu berhasil melepas pengaitnya, maka terpampanglah dua bukit kembar yang menantang dengan ukuran 36B di hadapanku.

Segera aku isap puting payudaranya yang mulai mengeras, sehingga membuat Nor makin mendesah menahan rasa nikmat yang tiada tara.

"Ah, Sandy. Te.. Rus..," katanya sambil menekan kepalaku di salah satu bukit kembarnya yang ranum itu.

Dengan masih mengulum puting susunya, tanganku terus menjalar ke bawah, dan berusaha membuka pengait rok panjang yang dipakainya, dan dilanjutkan dengan memelorotkan resluitingnya. Sekali tarik, maka lepaslah rok yang dipakai Nor.

Kini Nor tinggal memakai CD warna putih yang masih menutupi bagian paling vital pada tubuhnya yang ramping dan padat itu. Sementara Nor sendiri terlihat tidak sabar dan tangannya langsung menarik handuk yang masih melilit di tubuhku. Kini, kami berdua sama-sama hanya mengenakan CD saja.

"Please, Sandy. Fuck me..," desah Nor sambil mendorong tubuhku ke pinggir ranjang.

Tanpa menunggu lagi, segera aku ciumi bibirnya yang ranum, terus turun ke dadanya yang membusung dan menantang itu. Disini, bibirku berhenti sejenak, dan kemudian mulai mengulum serta menjilati sekitar putingnya yang berwarna kemerah-merahan itu. Sementara tangan kiriku terus berusaha menarik CD yang masih menutupi alat vitalnya yang indah itu. Sementara menarik CD milik Nor turun ke bawah, akupun mengiringinya dengan menurunkan ciumanku hingga ke pusarnya, dan akhirnya mendapatkan sebuah goa yang ditumbuhi bulu-bulu hitam yang lebat namun tertata dengan rapi.

Lidahku langsung mencari klitoris diantara bibir vaginanya. Dengan pengalamanku bercinta selama ini, aku mulai mempermainkan sekitar bibir vaginanya, terutama klitorisnya, sehingga membuat Nor menggelinjang menahan nikmat yang tiada tara.

"Oh, Sandy.., jangan berhenti," desahnya.

Aku terus mempermainkan klitorisnya, dan sekali-sekali lidahku menyeruak memasuki liang vaginanya yang harum itu. Ceracau Nor menahan nikmat seperti tak terbendung lagi. Dan tiba-tiba, aku merasakan kakinya mengejang dan langsung menjepit erat kepalaku yang masih bermain di sekitar vaginanya.

"Ogh, aku keluar..," desahnya.

Aku menghentikan sejenak aktivitas bibir dan lidahku di vaginanya, untuk memberi kesempatan kepada Nor menikmati orgasmenya yang pertama. Setelah itu, aku kemudian melepas CD ku yang masih melekat menutupi alat vitalku sambil merangkak menaiki tubuh Nor yang sudah pasrah menunggu apa yang akan aku lakukan terhadap dirinya.

Perlahan, begitu penisku yang lumayan panjang itu menyentuh bibir vaginanya, secara perlahan-lahan aku tekan untuk menembus vagina Nor yang sudah basah dan licin.

"Ogh, slowly honey..," rengeknya begitu merasakan penisku mulai menembus vaginanya.

Ketika ia ikut menolong mengarahkan penisku ke vagina miliknya, Nor sedikit tersentak.

"Wow, ternyata kamu tidak berbohong. Punyamu benar-benar raksasa dan jauh lebih besar dari milik suamiku," ujarnya.

Aku tidak menghiraukan celotehnya, dan terus coba menembus lubang vaginanya yang kurasakan masih sempit dan seret itu. Bless..! Setelah kurasakan hampir semua batang penisku menembus vaginanya, aku mulai menggoyang pinggul sambil tetap menekan penis. Dan tiba-tiba..

"Oh, nikmatnya. Baru kali ini aku merasakan nikmat seperti ini, sayang..," serunya tertahan, ketika ujung penisku menyentuh G-spot di dasar vaginanya.

Dengan penuh kosentrasi, aku mulai memaju mundurkan penisku yang tertancap di vaginanya. Sementara bibirku, tetap beraksi menciumi bibir dan kadang pindah ke puting susunya yang makin mengejang. Lima belas menit berlalu, aku rasakan tubuh Nor mulai mengejang dan ia memelukku kuat-kuat.

"Oh, Sandy. Aku sampai lagi..," erangnya.

Dan tanpa dicegah, aku rasakan di sekitar batang penisku ada cairan panas menyembur berulang kali. Aku yakin, Nor baru saja mengalami orgasme yang berulang-ulang. Aku lihat, wajahnya memancarkan sinar kepuasan yang tiada tara.

Karena aku masih merasakan belum apa-apa, lalu aku tarik tubuhnya untuk membelakangiku dan memainkan gaya doggy style kesukaanku. Setelah penisku amblas ke lubang vaginanya, perlahan-lahan aku mengocok vaginanya dengan penisku dari belakang, sedangkan tanganku sibuk meremas payudaranya yang tergantung bebas.

Setelah hampir dua puluh menit pula aku mengoyang Nor dari belakang, tiba-tiba aku merasakan suatu desakan hebat hendak melesat dari pangkal batang penisku.

"Oh, sayang. Aku mau keluar.. Shott dimana sayang..," aku minta persetujuan dari Nor.
"Di dalam saja sayang, rasanya aku saat ini sedang subur. Aku ingin punya anak dari benihmu yang jantan ini. Kita keluarkan sama-sama ya, aku juga mau keluar," katanya.

Dan tanpa dapat kutahan lagi, akhirnya batang penisku menyemburkan lahar panas bening di rahim Nor, dan bersamaan dengan itu aku rasakan Nor juga kembali mengalami orgasmenya yang ketiga.

"Oh, kamu benar-benar luar biasa sayang. Bahkan, keperkasaanmu bercinta ternyata jauh diluar bayanganku. Oh, hal ini tak akan mudah aku lupakan, sayang waktu kita bercinta terlalu singkat," katanya sambil mengecup bibirku.

Aku menjangkau jam tangan milikku yang terletak di atas meja di samping ranjang. Ternyata waktu telah menunjukkan jam 21.20 waktu setempat (istilah Malaysia jam 9.20 pm.) Aku lalu mengajak Nor untuk membersihkan diri di kamar mandi berdua.

Ketika sedang membersihkan diri di kamar mandi, aku kembali coba untuk merangsang Nor. Namun ia mengelak dan menyatakan maaf karena tidak bisa melayaniku, karena sebelum jam 21.45 harus sudah berada kembali di kamarnya.

"Maaf Sandy, saya harus kembali ke bilik sebelum suami saya tiba. Besok malam, kalau saya dan kamu masih punya kesempatan, saya ingin peristiwa ini diulang lagi. Saya sepertinya tak bisa melupakan kejadian ini, meskipun saya tahu kita telah berbuat dosa," katanya sambil mengecup bibirku.

Dan esok harinya, kami kembali mendapat kesempatan bercinta hingga pukul 21.30 malam. Nor mengaku, bahwa pada malam pertama suaminya ternyata tidak pernah meneleponnya ke kamar, sehingga ia memberanikan diri untuk datang lagi ke kamarnya guna mereguk kenikmatan yang selama ini tak pernah diraih bila bercinta dengan suaminya.

Untuk Nor di Selangor, inilah kisah cinta kita yang aku tulis di Rumah Seks, sesuai perrmintaanmu. Semoga saja suamimu tak pernah curiga bahwa cerita ini adalah menyangkut tentang kita, jika dia juga membaca situs ini. Aku tulis ini begitu aku sampai di Indonesia, Selasa 4 Mei 2004.

Tamat

1 Birahi di tengah samudera

Namaku Ryan (bukan nama yang sebenarnya), pangilan akrabku kuanggap bagus dan selalu membawa kehokian yang baik dan ditunjang dengan postur tubuhku yang sangat atletis, tinggi 167 cm dengan berat badan 58 kg sangatlah membantuku dalam segala kegiatan. Keramahan serta rendah hati adalah senjataku karena aku berprinsip banyak teman banyak rejeki dan tidak kelewatan pula pasti banyak wanita yang tergoda. Dengan formasi yang begitu, tentu anda tahu seleraku. Aku sangat menyukai wanita yang berumur sekitar 30 hingga 37 tahun dimana mereka umumnya sangatlah cantik, dewasa dan terlihat sangat anggun. Entah mengapa Tuhan memberi anugerah kecantikan wanita yang sempurna bila mereka berumur sekitar yang kusebutkan di atas.

Aku bekerja di perusahaan P**** (edited) yang sangat syarat berhubungan langsung dengan pelayanan masyarakat dengan posisi yang lumayan srategis.

Diawali dengan perkenalanku dengan seorang pramuniaga yang sangat cantik, umurnya sekitar 33 tahun dan mempunyai anak satu. Henny namanya, sangat mudah diingat dan sangat enak terdengar di telinga. Perkenalanku berawal ketika aku sedang berlibur ke Kalimanatan (Banjarmasin). Perkenalan itu sangat indah dan romantis, disaat matahari tenggelam tertelan air laut di atas dek ferry kulihat seorang wanita bersandar di tiang besi dengan rambut yang tergerai melambai-lambai tertiup sepoi-sepoi angin laut, sungguh cantik dan sexy lekuk tubuh dan dadanya membusung ke depan, sweter unggu serta span warna hitam tak dapat menyembunyikan keindahan tubuhnya.

Dengan langkah yang pasti kuhampiri dengan sedikit sapaan dan percakapan yang sopan mulailah ia terbawa oleh obrolanku yang sedikit humor dan kadang menimbulkan gelak tawa yang memunculkan lesung pipinya, ya ampun cantik betul mahluk ini. Setelah puas dengan ngobrol ini itu dan matahari pun malu menampakkan wajahnya ternyata sudah pukul 19:00 WIB, tak terasa sudah perkenalan yang begitu lama di atas dek dan kami memutuskan untuk kembali ke bangku masing-masing. Kami berjanji akan bertemu kembali jam 21:30 di tiang besi saksi perkenalan kami.

Setelah mandi dan merapikan diri, tak sadar handphone-ku berdering, alarm yang sengaja kupasang telah memanggilku untuk segera naik ke dek karena sudah waktunya kujemput bidadariku di atas dek. "Hai Ryan.." sapa merdu Henny menyapaku dengan menepuk punggungku saat aku memandang lautan.
"Hai, Hen.." sedikit taktik, kubelai rambutnya.
"Maaf Hen.." kataku mesra.
"Ada apa Ryan.." balasnya manja.
"Nih benang bikin rusak pemandangan," jawabku, padahal benang itu sejak tadi ada di tanganku.
"Oh kamu ini bisa aja Ryan.." bisiknya manja.

Henny sudah bercerai 3 tahun yang lalu dikarenakan suaminya suka berjudi dan mabuk-mabukan yang membuatnya banyak dililit hutang dan kehidupan rumah tangganya selalu tak terhindar akan keributan.

"Kenapa kamu tak cari suami lagi, Hen.." tanyaku untuk memecahkan keheningan.
"Ah.. nantilah," jawabnya, "Aku masih suka sendiri dan masih kunikmati peran gandaku sebagai ibu dan ayahnya Ranny (anaknya, red) toh masih cukup gajiku untuk membiayainya."
"Hebat kamu Hen, bagitu tegar dalam keadaan begitu. Kurang apa coba.. kamu mandiri, cantik, sexy dan masih muda lagi, akupun mau mendaftar kalo masih ada lowongan.. ahahaha.." aku sengaja tertawa untuk meriuhkan suasana karena kulihat dia diam dengan wajah agak memerah.
"Hahahhaha.." ternyata dia tertawa, "Ach kamu ini pantesnya jadi adikku," jawabnya melecehkan.
"Hahahaha.. aku malah," terbahak-bahak karenanya, "Lho meskipun adik tapi bisa buat adik si Ranny lho."
"Mana mungkin," jawabnya.
"Lha kok nggak percaya.. jangan ketagihan ya nanti," jawabku.
"Yee.. siapa yang mau," godanya manja.
"Aku yang mau," jawabku.
Kamipun tertawa riang.
"Dasar buaya," jawabnya.

Tanpa sadar kapal bergoyang dan angin semakin kencang dan Henny sudah ada di pelukanku, karena terombang-ambing kapal kudekap tubuh sintalnya dan tak luput kupengang buah dadanya yang besar, ternyata diapun diam saja. Kutahan goyangan kapal dan tak kulewatkan kesempatan itu dengan sedikit fantasiku goyangkan pantatku dan.., "Ach.. nakalnya kamu.." ternyata diapun menyadari makin nekadnya aku mengambil kesempatan dalam kesempitan sambil mencubit pinggangku, "Menggoda ya.." bisiknya.
"Ach masa, tapi suka kan," jawabku.
"Hahahaa.." gelak tawapun tak terhindarkan lagi.
"Hen turun yuk, bahaya nich.. kayaknya angin semakin kencang dan goyangan kapal semakin garang kalo aku yang goyang kamu sich nggak masalah, lha ini kapal yang goyang.. hehehe.." ajakku mesra.
"Dasaar.. dasaar, bener-bener buaya kamu Ryan," balasnya manja.
"Pppsst.. bukan buaya tapi biawak.. hahahha.." balasku.

Kamipun menuju anak tangga, satu persatu anak tangga kami lalui dengan tangan yang melingkari perutnya dan diapun melingkarkan tangannya di pinggangku. Dengan berani kucium telinganya, dia diam saja hanya reaksi tangannya saja yang menggenggam perutku dan kamipun sudah sampai di depan pintu yang bertuliskan staff only lalu kutarik pinggangnya untuk masuk, diapun tidak menolak. Dengan luas ruangan 2 X 4 m2 sangatlah luas bagi kami berdua. Dalam keremangan lampu kulumat bibir tipisnya, nafas kamipun semakin menderu. Ternyata dia pengalaman sekali dalam french kiss.

Kami berciuman 5 menit lamanya dan dia mulai membuka sweternya sedang aku membuka jaket kulitku dan kami jadikan alas hingga tiada benang sehelaipun yang melekat di tubuh kami berdua. Sungguh indah tubuhnya, dengan ukuran payudara 36B dan belum turun kuanggap sangatlah sempurna. Dalam keadaan berdiri, kulumat bibirnya dan mulailah turun ke tengguk hingga payudaranya dengan puting yang merah muda, "Seperti masih ABG saja," pikirku. Kulumat yang kanan dan kupiin-pilin yang kiri membuat suaranya, "Hmm.. ach.. hmm.. sppt.. Ryan teruskan Ryan.. aacch, enak Ryan.." Kepalaku pun ditekannya ke dadanya, tak kupedulikan dia, kuhisap, kugigit-gigit kecil putingnya hingga ia makin menjambak rambutku. Dengan jenggot yang baru kucukur 2 hari yang lalu kugesek-gesekan daguku di gunung kembarnya. "Oooh Ryan.. please masukin dong.. sstt.." Tak kupedulikan ocehannya hingga kulumat perutnya, pusarnya dan akhirnya sampailah di gundukan surga dunia, sungguh indah.

Mataku terbelalak ternyata tidak ada sehelai rambutpun di sekelilingnya, harum dan wangi yang khas. Wajahnya yang cantik tersenyum manis padaku, kuturunkan wajahku sambil terus menjulurkan lidah di permukaan perutnya terus turun dan sampai di daerah yang paling kusukai, wangi sekali baunya. Tak perlu ragu. "Ohh.. apa yang akan kau lakukan.. akh.." desahnya sambil memejamkan mata menahan kenikmatan yang dirasakannya.

Beberapa saat kemudian tangannya malah mendorong kepalaku semakin bawah dan, "Nyam-nyam.." Nikmat sekali kemaluan Henny. Oh, bukit kecil yang berwarna merah merangsang birahiku. Kusibakkan kedua bibir kemaluannya dan, "Creep.." ujung hidungku kupaksakan masuk ke dalam celah kemaluan yang sudah sejak tadi becek. "Aaahh.. kamu nakaal," jeritnya cukup keras. Terus terang kemaluannya adalah terindah yang pernah kucicipi, bibir kemaluannya yang merah merekah dengan bentuknya yang gemuk dan lebar itu membuatku semakin bernafsu saja. Secara bergantian, kutarik kecil kedua belah bibir kemaluan itu dengan mulutku. "Ooohh lidahmu.. ooh nikmatnya Ryan.." lirih Henny. "Ryan, udah dong Ryan masukin aja.. Ryan oohh.. aku udah nggak tahan nich, please setubuhi aku.." pinta Henny lirih. Tanpa banyak mulut kumasukkan batang kemaluanku yang panjang dan tegak itu, dia tersentak, "Ach pelan dong Say.. sstt.." Kugenjot dengan penuh perasaan, sementara tanganku tidak tinggal diam, kupilin-pilin puting susunya yang mungil.

Hanya sepuluh menit setelah itu goyangan tubuh Henny terasa menegang, aku mengerti kalau itu adalah gejala orgasme yang akan segera diraihnya. "Ryann.. aahh.. aku nggaak.. nggak kuaat aahh.. aahh.. oohh.." desahnya tertahan. "Tahan Hen.. tunggu saya dulu ngg.. ooh enaknya.. tahan dulu.. jangan keluarin dulu.." Tapi sia-sia saja, tubuh Henny menegang kaku, tangannya mencengkram erat di pundakku, dadanya menjauh dari wajahku hingga kedua telapak tanganku semakin leluasa memberikan remasan pada buah dadanya. Aku sadar sulitnya menahan orgasme itu, mungkin karena lamanya ku-oral kemaluannya yang enak itu.

"Ooo.. ngg.. aahh.. Ryan sayang.. Ryan.. ooh enaak.. aku kelauaar.. oohh.. oohh.." teriaknya panjang mengakhiri babak permainan itu. Aku merasakan jepitan kemaluannya di sekeliling burungku mengeras dan terasa mencengkram erat sekali, sementara itu batang kemaluanku masih tegak berdiri sedangkan dia sudah 4 atau 5 kali orgasme.
"Ryan, ayo dong Say aku udah nggak tahan nich.. Ryan keluarin dong.. aku hisap aja ya, biar cepat keluar.." Tanpa kusuruh dia sudah melumat dan menyedot kemaluanku.
"Astaga.." kurasakan tekanan dari dalam batangku sepertinya akan keluar. "Hen.. Hen.. stop Hen.. aku mau keluar nich.." desahku tertahan.
"Ya udah Ryan, masukin aja ke memekku.. aku juga ingin merasakan pejumu membajiri memekku.. aku kangen, udah lama nggak ada yang membanjiri memekku dengan peju.." balas Henny dengan nada manja dan sedikit genit.
"Aach.. Hen, aku mau keluar nich Hen.. ach.. achh.." aku lemas lunglai tak berdaya di atas tubuh Henny yang sexy itu.
"Makasih ya Ryan.." Kamipun tertidur dan aku terkejut ketika terbangun sudah pukul 04:00, untung saja tidak ada yang memergoki perbuatan kami. Setelah merapikan diri, kamipun kembali di kursi masing-masing dan kami berjanji akan bertemu kembali di kota, kebetulan kami satu kota. Sampai saat ini kamipun masih sering berhubungan dengan komitmen kebebasan yang menghargai serta menjunjung seks yang sehat.

Tamat

1 Cahaya hidup seorang pemuda - 1

Saat masih SMA aku mempunyai sifat yang keras, pemberontak dan nekat. Orang bilang aku ini seorang pemuda yang tidak tahu aturan. Tapi sebenarnya tidak, aku cuma ingin mengembangkan diriku sendiri. Pada waktu itu aku punya teman kampung yang sebaya denganku, dia sekolah di SMA swasta. Dalam berteman kami sangat cocok dan sering melakukan sesuatu bersama. Kami tidak berpikir lama untuk melakukan sesuatu yang ekstrim, menantang atau bahkan melanggar aturan atau hukum. Ya benar, mulai dari naik gunung, panjat tebing, melancong ke luar pulau, memancing di laut, sampai yang ini; kebut-kebutan, judi, pengguna dan pengedar ganja, mabuk-mabukan atau bahkan yang ini; mengutil di plaza, mencuri dan banyak lagi. Singkatnya kami ini adalah persekongkolan. Namun ulah kami yang satu ini adalah yang paling berkesan bagi kami walaupun kami sama sekali tidak menduganya: mengintip.

Aku tinggal di perumahan dengan bangunannya kuno dan besar, ruang-ruangnya yang luas, langit-langitnya yang tinggi dan temboknya yang tebal. Kuno seperti bangunan jaman Belanda. Nah, aku punya tetangga yang bentuk rumahnya sama persis dengan rumahku, rumahku dengan rumah tetanggaku itu menyambung. Meski di tengahnya ada tembok, tapi menyambung di atasnya. Ya, ruangan di atas asbes di bawah genteng, yang ada rangka kayu besar itu di disain los. Kalau ada seorang yang berada di atas, jelas dia dapat bebas menjelajah dari rumahku ke rumah tetanggaku tanpa di ketahui orang di dalam rumah yang ada di bawah. Tentunya dia harus melakukannya dengan tanpa suara. Nah, itulah yang akan aku dan temanku lakukan bersama. Kenapa? karena tetanggaku itu, sebut saja keluarga Darwin, mereka punya dua orang anak perempuan, satu masih TK dan satu lagi SMP kelas dua, sebut saja Wanda. Wanda walaupun masih SMP tapi tubuhnya tinggi seperti ibunya, ramping dan cantik, menurutku.

Kami sering menggodanya. Terkadang kalau dia punya PR, aku dan temanku yang mengajarinya, jelas lebih sering aku sendiri. Tapi bukan Wanda yang menjadi sasaran pengintipan kami, melainkan ibunya. Ya benar, Ibu Darwin ini lebih cantik, wajahnya mirip model Larasati. Umurnya mungkin 35-an, tubuhnya putih mulus, seksi, dan pakaian yang dikenakannya sering tidak lengkap, "ini"-nya yang kelihatanlah, "itu"-nya yang terbukalah, pokoknya benar-benar menggoda. Aku dan temanku sering kepergok mengamati dia kalau dia sedang membersihkan halaman dan dia hanya tersenyum pada kami. Suaminya? oh suami Ibu Darwin kerja di luar pulau dan hanya pulang mungkin 2 kali dalam sebulan, dan beliau sering ke luar negeri untuk waktu yang tidak sebentar. Akibatnya Pak Darwin selalu memberi pesan padaku supaya aku mengawasi, menjaga atau membantu anak-isteri yang ditinggalkannya. Benar-benar suatu skenario yang baik, pikirku.

Pada suatu malam kami naik ke atas, kami mempersiapkan segalanya, obeng, bor kecil, pisau bergerigi, sapu tangan penutup muka dan senter, karena di atas gelap dan berdebu. Kami naik ke atas dan langsung menuju ruang kamar mandi, kira-kira hampir 2 jam kami merekayasa atap asbes yang ternyata bukan terbuat dari asbes, untung kami membawa bor. Bor ini bukan bor listrik tapi sebuah bor manual tangan jadi tidak ada suaranya. Beres sudah, 2 lubang persegi tepat berada di atas kamar mandi sebesar 5x5 meter yang bisa ditutup telah selesai.

Kami pulang dan pada esoknya sekitar pukul 05.00 pagi, kami kembali ke atas dan menunggu Ibu Darwin untuk mandi. Lalu terjadilah, dia masuk sedangkan kami mengamatinya dari atas. Ketika dia mengusap dadanya yang padat dengan sabun, kemudian membersihkan selangkangannya dengan gerakan tangan naik-turun lalu menggosok pantatnya yang seksi, kami benar-benar terangsang. Bu Darwin tidak mungkin atau kecil kemungkinan untuk menoleh ke atas, karena dengan ukuran kamar mandi yang kecil kalau dia memandang ke depan sudut pandangnya maksimal hanya sampai ke dinding tembok tidak mencapai ke langit-langit yang tinggi. Kecuali kalau ada sesuatu dari atas yang jatuh atau kalau kami lagi sial dan tiba-tiba dia menoleh ke atas, itu resiko kami. Selanjutnya kami pulang untuk bersiap berangkat ke sekolah masing-masing.

Kami mengulangi pengintipan kami saat sore dan pagi sampai selama 5 hari. Berikutnya hari ke-6 kami "habis", kami kepergok. Sore itu, demi Tuhan yang ada di sorga, entah dari mana asalnya tiba-tiba aku bersin, bahkan sampai dua kali. Ibu Darwin menoleh ke atas dan melihat lubang kami, dia menjerit. Dengan cepat kami menutup lubang-lubang tersebut dan langsung turun untuk melarikan diri. Kemudian aku berpikir, hei kenapa melarikan diri? suami Ibu Darwin tidak ada, jadi kenapa takut? Kami nekat mendatangi rumahnya lalu mendapati Ibu Darwin yang masih basah buru-buru hendak keluar dari rumah. Kami bertemu di pintu depan rumahnya.

"Ada apa Ibu Darwin kok masih basah?" aku berpura-pura.
"Andre, ada orang yang mengintip saya di kamar mandi. Dia ngintip dari atas."
Aku dan temanku saling berpandangan.
"Haah, jadi kalian yang mengintip saya, kurang ajar."
"Plaak!" Ibu Darwin menamparku.
Buru-buru temanku menyela, "Maaf Bu, soalnya Ibu cantik, seksi lagi, kami jadi penasaran, dan sebenarnya ini semua ide Andre, maafkan kami."
Sepintas kulihat senyum di bibir Ibu Darwin yang merah. Lalu temanku dengan santai ngeloyor pergi.
"Benar Bu, ini tangung jawab saya, maafkan saya, saya, ehh.."
Dengan nada rendah, "Sudah Andre, sekarang kamu pergi saja, saya muak melihat kamu."

Empat hari berikutnya aku nekat mendatangi Ibu Darwin yang sedang bergurau di teras dengan Wanda. "Wanda, masuk ke kamarmu Ibu mau bicara berdua dengan Kak Andre, ada perlu apa Andre?" Aku tidak merasa takut sedikitpun tapi lidah ini terasa beku dan tak bisa bergerak, tak tahu mau mulai dari mana. Lalu hanya ibu itu yang bicara mengenai apa saja. Aku hanya mendengarkan sambil tersenyum, dan dia membalas senyumanku. Sepertinya dia sudah melupakan kejadian 4 hari lalu. Kemudian topik pembicaraan beralih menyangkut suaminya. Segera aku menimpali, "Ibu pasti kesepian ditinggal terus oleh suami." Dia memandangku dengan tajam, "Iya!" Lalu Ibu Darwin terdiam lama dan tiba-tiba,
"Suami macam dia Andre, pasti punya simpanan lain di sana. Kalau dia pulang saya nggak dapat apa-apa, cuma si kecil dan Wanda yang diurusin, saya enggak."
"Oooh begitu rupanya," aku menimpali.
Gila kesempatanku nih.

Lama kami terdiam dan sesekali pandangan kami bertemu dan dia tersenyum padaku lagi. Hari menjelang gelap, tiba-tiba dia memegang tanganku dan berkata,
"Andre, temanmu mana?"
"Oh si Rahmat, saya akan bertemu dengan dia besok siang, kenapa Bu?"
"Kalian kan sudah melihat Ibu di kamar mandi, sekarang giliran Ibu harus melihat kalian."
Aku tersentak kaget bagai seorang yang baru saja tahu kalau dia kecopetan.
"Besok siang kalau kalian sempat, Ibu tunggu di rumah ya, Wanda masuk siang dan baru pulang jam 6 sore."
Lalu Ibu Darwin melepaskan genggamannya dan segera masuk ke dalam rumah sambil tersenyum. Dengan perasaan kaget bercampur bingung aku pergi ke rumah Rahmat dan menceritakan semua apa yang baru saja terjadi.

Siang itu pukul 11.00 aku bolos sekolah dan bertemu rahmat yang juga bolos, di warung.
"Kita berangkat sekarang Ndre, aku sudah nggak tahan nih."
"Boleh, ayo!"
Kami langsung menuju rumah Bu Darwin, sepi, tapi pintu tak terkunci, kami berdua langsung masuk dan menguncinya dari dalam.
"Eh.. jadi juga kalian datang."
Kulihat Ibu Darwin berpakaian rapi.
"Ibu Darwin mau kemana?"
"Hei, jangan panggil Ibu Darwin, panggil Lisa saja, itu nama saya. Oh, kalau kalian tadi nggak datang dalam 15 menit saya mau pergi jalan-jalan ke mall dengan si kecil."
Dari sini rasa hormat hormatku kepada tetanggaku ini mulai hilang.

Aku mulai berubah jahat dan aku mulai bertanya dalam hati, dimana Pak Darwin sekarang? Apa yang beliau pikirkan atau lakukan sekarang? Beliau memberiku kepercayaan tetapi lihat, setan dalam diriku telah menguasaiku 100%. Kalau pun apa yang kami bayangkan tidak terjadi atau Ibu Darwin membohongi kami, kami akan terus maju, kami akan memaksanya. Dan ternyata benar, pikiran jahatku hilang..berubah menjadi panik. Aku melihat mobil ayahku, yang adalah seorang perwira menengah TNI datang. Dan ayahku membawa serta seorang anak buahnya yang tinggi besar, Provost mungkin, dan mereka menuju kemari ke arah kami. Gawat!

"Hei, ternyata Ibu menipu kami, ini lebih menyakitkan dari apa yang kami lakukan terhadap Ibu!"
"Andre, saya ingin sifat kamu berubah, kamu sudah tidak kecil lagi.." kami tidak menggubrisnya lagi, kami berlari dan lompat lewat pintu belakang, kabur.
Sempat kudengar ayahku berteriak, "Andre jangan lari, ayah hanya ingin menyiksamu! Kembali kau, pengecut!"
Aku mendegar kata terakhir ini. Sambil berlari, aku sedih dan kecewa, seluruh tubuhku ini terasa lemas.

Kami lari tanpa tujuan. Sesampai di persimpangan jalan besar, temanku mulai bicara, "Andre, aku sudah tidak punya waktu lagi dengan segala kegilaan kita ini, kejadian barusan sudah cukup bagiku, 4 bulan lagi kita Ebtanas, aku punya rencana panjang setelah aku lulus nanti, aku tidak ingin gagal, aku ingin kita sukses!" Aku terbelalak kaget seperti orang yang menemukan uang 1 juta di jalan. Kami terdiam dan aku hanya memandang ke bawah dan mulai merenung dan berpikir, keras sekali. Tidak kusangka, temanku ini punya semangat baja dan pantang menyerah, semangatku mulai bangkit dan pikiranku terasa bergerak ke satu arah, tobat. "Thanks Mat, aku bangga punya teman seperti kamu, aku tahu sekarang waktunya kita berubah. Masa remaja telah berlalu dan aku juga tidak ingin gagal."

"Andre, saatnya telah tiba bagi kita dan.."
"Rahmat, aku setuju denganmu dan sebaiknya kita berpisah sekarang dan kita ketemu saat kita lulus nanti, oke man?"
"Oke, boss.."
Kami saling pandang lalu seperti ada yang menggerakkan dalam diri kami, sambil tertawa masam kami berangkulan singkat sekali, kami berpisah. Kulihat dia berlari menuju terminal untuk pulang ke rumah. Lalu aku berbalik arah menuju rumah namun tiba-tiba aku berbelok arah menuju warung yang sering aku dan Rahmat datangi. Di warung itu kembali aku merenung dan memikirkan semua yang telah aku lakukan selama SMA, aku melamun, kemudian terdengar suara kecil dari dalam pikiranku dan sepertinya berkata, "Satu kali lagi, Andre, satu kali lagi Andre, satu kali lagi Andre.." terus berulang-berulang. Aku terbangun dari lamunan, oke kalau begitu.

Bersambung . . . .

1 Cahaya hidup seorang pemuda - 2

Kemudian, buru-buru aku pulang ke rumah, dan kebetulan ayahku sudah tidak ada di situ lagi, aku langsung masuk masuk ke kamar, mengganti baju lalu mengambil semua simpanan uangku, dan terakhir mengambil semua perlengkapan naik gunungku. Yap, Aku memutuskan akan naik gunung untuk yang terakhir kalinya sendirian. Kemudian, ibuku berusaha untuk mencegahku dan mengatakan kalau ayahku mencariku. "Ibu, katakan pada Ayah kalau aku akan kembali." Ibuku menangis sejadi-jadinya, tetapi aku tetap pergi. Dan sementara aku keluar dari rumah aku berpapasan dengan Ibu Darwin. Dia memegang tanganku, "Andre, kamu mau kemana, apa yang akan kamu lakukan, Andre, jangan minggat, saya.." aku tidak menggubrisnya. Aku pergi menuju terminal, aku cabut.

Selama 3 hari aku berjalan mendaki gunung itu sampai ke puncak lalu berjalan turun ke utara. Satu malam aku terjebak hujan di tengah perjalanan turun. Sepi, tidak ada satu nafas manusia pun kecuali aku. Sekarang aku telah sampai di bawah, terminal bus Ngawi pukul 09.00 malam, hari Minggu. Aku pulang. Sesampai di rumah ternyata ayah dan ibuku telah menunggu. Tanpa sepatah kata mereka merangkulku. Lalu kami semua tidur. Besok paginya aku berangkat ke sekolah, kali ini aku diberi kepercayaan oleh ayahku membawa mobilnya. Sebelum pergi, aku sempat berbicara serius dengan Ibu Darwin dan dia memberiku surat. Dalam perjalanan ke sekolah aku memaksakan untuk membaca surat itu, isinya ternyata sebuah permintaan maaf, pernyataan pribadi terhadapku, dan sebuah perjanjian..yang sangat penting.

Tiga bulan berlalu, aku lulus dari SMA dengan nilai terbaik, mereka bilang kalau aku termasuk dalam 10 besar terbaik tingkat nasional dan aku tidak percaya. Setelah itu aku bertekad untuk melanjutkan karier ayahku, aku sudah puas sekaligus bosan dengan pendidikan formal dan aku tidak akan membuang waktuku percuma hanya untuk kuliah, sekarang waktunya untuk sesuatu yang lain. Aku mendaftar akademi tentara, syukur ternyata aku lolos ujian lokal.

Waktu berjalan cepat, tiba saatnya kini aku harus berpisah dengan orang tuaku. Tapi sebelum itu, pada suatu malam pukul 19.00, aku menelepon Ibu Darwin dan dia menyuruhku untuk datang ke rumahnya pada pukul 22.00. Selama 3 jam aku menunggu di rumah aku benar-benar tidak tahan, serasa 3 tahun lamanya. Waktunya tiba, belum, pada pukul 21.20 aku nekat ke rumah Ibu Darwin, lewat pintu belakang tentunya. Waktu itu kedua putrinya sudah tidur di kamarnya masing-masing, mungkin, harus. Aku langsung menuju kamar Ibu Darwin yang berada di samping belakang rumah. Aku mengetok 2 kali, "Masuk Andre, kami sudah menunggumu." Aku tersentak kaget seperti orang tertimpa tangga dengan tiba-tiba, "Hah, kamu siapa?" aku membuka pintu kamar itu dengan cepat. Kamar itu terang, jadi aku dapat melihat jelas Ibu Darwin yang tergolek di ranjang, dia memakai daster mini warna hitam, kontras dengan warna kulitnya yang putih. Lekuk-lekuk tubuhnya tergambar jelas ketika dia memiringkan badan sambil menyangga kepala dengan tangannya.

Ibu Darwin memang perempuan sejati, dia begitu cantik. Tapi aku begitu kaget untuk yang kedua kalinya ketika melihat pemuda yang berdiri di samping ranjang, Rahmat! Sambil tertawa aku tersedak,
"Rahmat! Jadi, jadi, perjanjian ini juga berlaku buat kamu?"
"Hehehe, benar Andre, tapi kamu tenang saja, aku dan Ibu Darwin belum mulai kok, kami menunggu kamu."
Akhirnya Aku dan Rahmat tertawa bersama.

"Eh sst, kalian ini kenapa? Tunggu apa lagi? Saya sudah tidak tahan lagi."
"Hehehe.. sama," kami menimpali.
Dengan masih berpakaian lengkap aku menerkam Ibu Darwin dan menindihnya. Kulumat habis bibirnya sambil kuremas-remas dadanya yang kecil padat dan dia memelukku dengan erat. Sementara itu Rahmat dengan pelan menelanjangi dirinya sendiri. Setelah beberapa menit kami bercumbu, Rahmat naik ke ranjang dan mengangkangi Ibu Darwin di kepalanya, lalu Rahmat menyerahkan rudalnya yang baru setengah berdiri itu ke mulut Ibu Darwin dan perempuan itu melahapnya. Aku sendiri langsung menuju bagian bawah pinggang Ibu Darwin, kutarik celana dalamnya dan kujilati pahanya yang empuk, lalu menurun sampai ke pangkal paha. Dari sini aku mencium bau aneh, sembab. Tapi aku tidak memperdulikannya, aku mengamati belahan daging lembut yang berwarna coklat kemerahan yang sudah basah itu. Aku mulai menciuminya, kusibakkan bulu-bulu halus di sekitarnya lalu kujilati area kewanitaan itu, dan anu-ku sudah tidak terkontrol lagi bentuknya.

Beberapa saat kemudian Rahmat sudah tidak tahan dengan perlakuan Ibu Darwin, perempuan itu benar-benar kuat mengoral Rahmat selama itu, kini Rahmat meledak, dia semprotkan seluruh spermanya ke mulut dan wajah Ibu Darwin. "Oh.. oh.. ssh, ayo keluarkan semua Mat.. ayo, oh.." Kini wajah Ibu Darwin penuh dengan lelehan sperma Rahmat, Rahmat rebah di sisi kiri Ibu Darwin sambil tersenyum. Sementara itu aku masih menjilati vagina Ibu Darwin dengan rakus. "Eeeh.. mmh, Andree aahk.. ooh.." sambil menjilat kulihat wajah Ibu Darwin sedang dibersihkan dengan selimut oleh Rahmat. "Rahmat, kamu jangan kecewakan saya. Buktikan kalau kamu perkasa, ayo bangun lagi ayoo!" sambil tangannya mengocok dan memainkan rudal si Rahmat.

Setelah puas bahkan bosan menjilat, aku merebahkan diri di sisi kanan Ibu Darwin. Tanpa kuperintah Ibu Darwin mengerti maksudku, dia bergerak menuju ke bawah, melepas celana jeansku dan celana dalamku, lalu mengulum dan menhisap benda yang ada di baliknya. Aku benar-benar melayang seraya tanganku memeras rambutnya. "Aduuh Ibu Darwin, anda hebat sekali ooh." Setelah beberapa saat lamanya kemudian, penisku mulai bertingkah, kurasakan seperti suatu cairan di dalamnya akan segera keluar. Aku terbangun dari posisi rebah, dan berlutut di ranjang. Sementara Ibu Darwin masih menelan dan mongocok penisku dengan mulutnya, lalu kupegang erat kepalanya dengan kedua tanganku sementara Ibu Darwin melingkarkan tangannya di pantatku. Lalu kubenamkan seluruh batang penisku ke mulutnya dan akhirnya.. "Oooh, aduuh uhhs, Ibu Darwiin anda, anda.. hebat.." spermaku keluar bagai air bah, dan membanjiri mulut dan rongga tenggorokan Ibu Darwin.

Kulihat Ibu Darwin dengan terpejam menelan semua spermaku tanpa sisa. Membuatku jadi jijik melihatnya. Aku melepaskan cengkeraman tanganku di kepalanya dan kembali rebah di ranjang. Lalu Ibu Darwin pergi ke kamar mandi yang ada di dalam kamar itu juga dan membersihkan diri. Waktu itu pukul 23.45. Begitulah, kami meneruskan pesta kami sampai puas. Kami melakukan semua gerakan, posisi dan teknik dari semua imajinasi kami. Benar-benar tanpa batas.

Sampai menjelang pukul 06.00 pagi hari Minggu, ketika 2 putri Ibu Darwin bangun, khususnya si Wanda, kami mengunci diri di kamar tersebut sambil membersihkan diri, mandi. Kira-kira pukul 07.30, paman mereka, adik Pak Darwin datang dan menjemput keduanya, si kecil dan Wanda, tamasya ke luar kota. Hebatnya, ibu mereka tidak ikut serta dengan mereka walaupun dia merasa berat. Ibu Darwin ternyata menepati perjanjiannya dengan kami untuk selama 2 hari melayani nafsu kotor kami. Akhirnya kami melakukannya lagi dimanapun dan kapanpun kami suka. Ibu Darwin benar-benar adalah perempuan yang kuat meskipun tak sekuat kami tentunya. Dia membuktikannya dengan melayani kami secara bergantian dari mulai pagi hingga malam hari.

Seperti pada sekitar pukul 13.00, 1 jam seteleh dia senggama dengan Rahmat dia menuju ke dapur dan makan, lalu mandi. Tepat pada saat itu nafsu birahiku mulai bangkit dan kuputuskan untuk melampiaskannya di kamar mandi. Kuketok pintu kamar mandi, dengan tanpa bertanya pintu langsung dibukanya. Kulihat pemandangan yang indah, Ibu Darwin berdiri dengan kondisi persis seperti Hawa saat dia baru diciptakan, telanjang bulat.
"Oh kamu Andre, kenapa? minta lagi? kalian ini memang perkasa, tapi saya masih lelah. Kamu bisa tunggu 1 jam lagi nggak?"
"Haa? 1 jam? Nggak, aku maunya sekarang."
Lalu kuremas pantat Ibu Darwin dan mulai kusapukan lidahku ke liang peranakannya. Ibu Darwin hanya bisa mendesah dan mulai bereaksi menyandarkan dirinya ke dinding kamar mandi.
"Auuh, ooh, sshaa.. lebih cepat Andre, lebih cepat, ookh.."
Aku puas menikmati vagina Ibu Darwin yang masih berbau harum sabun.

Lalu sambil berdiri kudorong Ibu Darwin untuk berlutut dan menghisap kemaluanku. Dan Ibu Darwin melayaniku dengan baik, dia menghisap penisku dengan gerakan cepat kelihatan seperti rakus. Setelah hampir setengah jam menghisap, dengan masih menelan penisku tiba-tiba dia berhenti. "Eeemmh, oockh," Ibu Darwin baru saja meminum semua spermaku yang kutembak dalam mulutnya. Kemudian Ibu Darwin membalikkan dirinya membelakangiku, sambil masih berdiri dia membungkuk. Lalu kupeluk dia dan kutelusupkan penisku yang sudah tegang itu dari belakang. Kami berdua menikmatinya dengan santai. Kami bahkan bercerita dan tertawa sambil aku tetap mengocoknya dari belakang. Dan saat yang paling nikmat tiba, Ibu Darwin mulai merintih tegang dan aku mulai merasakan kontraksi dalam penisku. "Oh oh oh oh, Andree, eehk, eehk, eehk, saya sudah nggak kuat lagi Andre, ssaya habiss.. oohh!" berbarengan dengan itu spermaku kembali keluar. Lalu kami terkulai lemas dan bersandar di dinding sambil berangkulan.

Itulah perjanjian kami dengan Ibu Darwin yang ditulisnya di dalam surat 3 bulan lalu. Kini kami semua berpisah. Aku berhasil masuk tes tingkat nasional pendidikan akademi di Jawa Tengah, Rahmat meneruskan pendidikannya di perguruan tinggi negeri di Bandung, dan akhirnya Pak Darwin memboyong keluarganya pindah ke Kalimantan. 5 tahun berlalu, kedua orang tuaku pindah ke Sulawesi, aku ditugaskan di Jakarta ketika aku menerima surat dari Rahmat dan menceritakan bahwa dia akan berangkat ke Jerman untuk semacam pendidikan khusus. Raih cita-citamu setinggi mungkin kawan, semoga sukses.

Tamat

1 Asmara toko buku

Pada suatu siang sekitar jam 12-an aku berada di sebuah toko buku Gramedia di Gatot Subroto untuk membeli majalah edisi khusus, yang katanya sih edisi terbatas. Hari itu aku mengenakan kaos t-shirt putih dan celana katun abu-abu.

Sebenarnya potongan badanku sih biasa saja, tinggi 170 cm berat 63 kg, badan cukup tegap, rambut cepak. Wajahku biasa saja, bahkan cenderung terkesan sangar. Agak kotak, hidung biasa, tidak mancung dan tidak pesek, mataku agak kecil selalu menatap dengan tajam, alisku tebal dan jidatku cukup pas deh. Jadi tidak ada yang istimewa denganku.

Saat itu keadaan di toko buku tersebut tidak terlalu ramai, meskipun saat itu adalah jam makan siang, hanya ada sekitar 7-8 orang. Aku segera mendatangi rak bagian majalah. Nah, ketika aku hendak mengambil majalah tersebut ada tangan yang juga hendak mengambil majalah tersebut. Kami sempat saling merebut sesaat (sepersekian detik) dan kemudian saling melepaskan pegangan pada majalah tersebut hingga majalah tersebut jatuh ke lantai. "Maaf.." kataku sambil memungut majalah tersebut dan memberikannya kepada orang tersebut yang ternyata adalah seorang wanita yang berumur sekitar 37 tahun (dan ternyata tebakanku salah, yang benar 36 tahun), berwajah bulat, bermata tajam (bahkan agak berani), tingginya sama denganku (memakai sepatu hak tinggi), dan dadanya cukup membusung. "Busyet! molek juga nih ibu-ibu", pikirku.

"Nggak pa-pa kok, nyari majalah X juga yah.. saya sudah mencari ke mana-mana tapi nggak dapet", katanya sambil tersenyum manis.
"Yah, edisi ini katanya sih terbatas Mbak.."
"Kamu suka juga fotografi yah?"
"Nggak kok, cuma buat koleksi aja kok.."
Lalu kami berbicara banyak tentang fotografi sampai akhirnya, "Mah, Mamah.. Ira sudah dapet komiknya, beli dua ya Mah", potong seorang gadis cilik masih berseragam SD.
"Sudah dapet Ra.. oh ya maaf ya Dik, Mbak duluan", katanya sambil menggandeng anaknya.
Ya sudah, nggak dapat majalah ya nggak pa-pa, aku lihat-lihat buku terbitan yang baru saja.

Sekitar setengah jam kemudian ada yang menegurku.
"Hi, asyik amat baca bukunya", tegur suara wanita yang halus dan ternyata yang menegurku adalah wanita yang tadi pergi bersama anaknya. Rupanaya dia balik lagi, nggak bawa anaknya.
"Ada yang kelupaan Mbak?"
"Oh tidak."
"Putrinya mana, Mbak?
"Les piano di daerah Tebet"
"Nggak dianter?
"Oh, supir yang nganter."
Kemudian kami terlibat pembicaraan tentang fotografi, cukup lama kami berbicara sampai kaki ini pegal dan mulut pun jadi haus. Akhirnya Mbak yang bernama Maya tersebut mengajakku makan fast food di lantai bawah. Aku duduk di dekat jendela dan Mbak Maya duduk di sampingku. Harum parfum dan tubuhnnya membuatku konak. Dan aku merasa, semakin lama dia semakin mendekatkan badannya padaku, aku juga merasakan tubuhnya sangat hangat.

Busyet dah, lengan kananku selalu bergesekan dengan lengan kirinya, tidak keras dan kasar tapi sehalus mungkin. Kemudian, kutempelkan paha kananku pada paha kirinya, terus kunaik-turunkan tumitku sehingga pahaku menggesek-gesek dengan perlahan paha kirinya. Terlihat dia beberapa kali menelan ludah dan menggaruk-garukkan tangannya ke rambutnya. Wah dia udah kena nih, pikirku. Akhirnya dia mengajakku pergi meninggalkan restoran tersebut.

"Ke mana?" tanyaku.
"Terserah kamu saja", balasnya mesra.
"Kamu tahu nggak tempat yang privat yang enak buat ngobrol", kataku memberanikan diri, terus terang aja nih, maksudku sih motel.
"Aku tahu tempat yang privat dan enak buat ngobrol", katanya sambil tersenyum.
Kami menggunakan taksi, dan di dalam taksi itu kami hanya berdiam diri lalu kuberanikan untuk meremas-remas jemarinya dan dia pun membalasnya dengan cukup hot. Sambil meremas-remas kutaruh tanganku di atas pahanya, dan kugesek-gesekkan. Hawa tubuh kami meningkat dengan tajam, aku tidak tahu apakah karena AC di taksi itu sangat buruk apa nafsu kami sudah sangat tinggi.

Kami tiba di sebuah motel di kawasan kota dan langsung memesan kamar standart. Kami masuk lift diantar oleh seorang room boy, dan di dalam lift tersebut aku memilih berdiri di belakang Mbak Maya yang berdiri sejajar dengan sang room boy. Kugesek-gesekan dengan perlahan burungku ke pantat Mbak Maya, Mbak Maya pun memberi respon dengan menggoyang-goyangkan pantatnya berlawanan arah dengan gesekanku. Ketika room boy meninggalkan kami di kamar, langsung kepeluk Mbak Maya dari belakang, kuremas-remas dadanya yang membusung dan kucium tengkuknya. "Mmhh.. kamu nakal sekali deh dari tadi.. hhm, aku sudah tidak tahan nih", sambil dengan cepat dia membuka bajunya dan dilanjutkan dengan membuka roknya. Ketika tangannya mencari reitsleting roknya, masih sempat-sempatnya tangannya meremas batanganku.

Dia segera membalikkan tubuhnya, payudaranya yang berada di balik BH-nya telah membusung. "Buka dong bajumu", pintanya dengan penuh kemesraan. Dengan cepat kutarik kaosku ke atas, dan celanaku ke bawah. Dia sempat terbelalak ketika melihat batang kemaluanku yang sudah keluar dari CD-ku. Kepala batangku cuma 1/2 cm dari pusar. Aku sih tidak mau ambil pusing, segera kucium bibirnya yang tipis dan kulumat, segera terjadi pertempuran lidah yang cukup dahsyat sampai nafasku ngos-ngosan dibuatnya.

Sambil berciuman, kutarik kedua cup BH-nya ke atas (ini adalah cara paling gampang membuka BH, tidak perlu mencari kaitannya). Dan bleggh.., payudaranya sangat besar dan bulat, dengan puting yang kecil warnanya coklat dan terlihat urat-uratnya kebiruan. Tangan kananku segera memilin puting sebelah kiri dan tangan kiriku sibuk menurunkan CD-nya. Ketika CD-nya sudah mendekati lutut segera kuaktifkan jempol kaki kananku untuk menurunkan CD yang menggantung dekat lututnya, dan bibirku terus turun melalui lehernya yang cukup jenjang. Nafas Mbak Maya semakin mendengus-dengus dan kedua tangannya meremas-remas buah pantatku dan kadang-kadang memencetnya.

Akhirnya mulutku sampai juga ke buah semangkanya. Gila, besar sekali.. ampun deh, kurasa BH-nya diimpor secara khusus kali. Kudorong tubuhnya secara perlahan hingga kami akhirnya saling menindih di atas kasur yang cukup empuk. Segera kunikmati payudaranya dengan menggunakan tangan dan lidahku bergantian antara kiri dan kanan. Setelah cukup puas, aku segera menurunkan ciumanku semakin ke bawah, ketika ciumanku mencapai bagian iga, Mbak Maya menggeliat-geliat, saya tidak tahu apakah ini karena efek ciumanku atau kedua tanganku yang memilin-milin putingnya yang sudah keras. Dan semakin ke bawah terlihat bulu kemaluannya yang tercukur rapi, dan wangi khas wanita yang sangat merangsang membuatku bergegas menuju liang senggamanya dan segera kujilat bagian atasnya beberapa kali.

Kulihat Mbak Maya segera menghentak-hentakkan pinggulnya ketika aku memainkan klitorisnya. Dan sekarang terlihat dengan jelas klitorisnya yang kecil. Dengan rakus kujilat dengan keras dan cepat. Mbak Maya bergoyang (maju mundur) dengan cepat, jadi sasaran jilatanku nggak begitu tepat, segera kutekan pinggulnya. Kujilat lagi dengan cepat dan tepat, Mbak Maya ingin menggerak-gerakkan pinggulnya tapi tertahan. Tenaga pinggulnya luar biasa kuatnya. Aku berusaha menahan dengan sekuat tenaga dan erangan Mbak Maya yang tadinya sayup-sayup sekarang menjadi keras dan liar. Dan kuhisap-hisap klitorisnya, dan aku merasa ada yang masuk ke dalam mulutku, segera kujepit diantara gigi atasku dan bibir bawahku dan segera kugerak-gerakkan bibir bawahku ke kiri dan ke kanan sambil menarik ke atas. Mbak Maya menjerit-jerit keras dan tubuhnya melenting tinggi, aku sudah tidak kuasa untuk menahan pinggulnya yang bergerak melenting ke atas. Terasa liang kewanitaannya sangat basah oleh cairan kenikmatannya. Dan dengan segera kupersiapkan batanganku, kuarahkan ke liang senggamanya dan, "Slebb.." tidak masuk, hanya ujung batanganku saja yang menempel dan Mbak Maya merintih kesakitan.

"Pelan-pelan Ndi", pintanya lemah.
"Ya deh Mbak", dan kuulangi lagi, tidak masuk juga. Busyet nih cewek, sudah punya anak tapi masih kayak perawan begini. Segera kukorek cairan di dalam liang kewanitaannya untuk melumuri kepala kemaluanku, lalu perlahan-lahan tapi pasti kudorong lagi senjataku. "Aarrghh.. pelan Ndi.." Busyet padahal baru kepalanya saja, sudah susah masuknya. Kutarik perlahan, dan kumasukan perlahan juga. Pada hitungan ketiga, kutancap agak keras. "Arrhhghh.." Mbak Maya menjerit, terlihat air matanya meleleh di sisi matanya.

"Kenapa Mbak, mau udahan dulu?" bisikku padda Mbak Maya setelah melihatnya kesakitan.
"Jangan Ndi, terus aja", balasnya manja.
Kemudian kumainkan maju mundur dan pada hitungan ketiga kutancap dengan keras. Yah, bibir kemaluannya ikut masuk ke dalam. Wah sakit juga, habis sampai bulu kemaluannya ikut masuk, bayangkan aja, bulu kemaluan kan kasar, terus menempel di batanganku dan dijepit oleh bibir kewanitaan Mbak Maya yang ketat sekali.

Dengan usaha tiga hitungan tersebut, akhirnya mentok juga batanganku di dalam liang senggama Mbak Maya. Terus terang saja, usahaku ini sangat menguras tenaga, hal ini bisa dilihat dari keringatku yang mengalir sangat deras.

Setelah Mbak Maya tenang, segera senjataku kugerakkan maju mundur dengan perlahan dan Mbak Maya mulai menikmatinya. Mulai ikut bergoyang dan suaranya mulai ikut mengalun bersama genjotanku. Akhirnya liang kewanitaan Mbak Maya mulai terasa licin dan rasa sakit yang diakibatkan oleh kasar dan lebatnya bulu kemaluannya sedikit berkurang dan bagiku ini adalah sangat nikmat.

Baru sekitar 12 menitan menggenjot, tiba-tiba dia memelukku dengan kencang dan, "Auuwww..", jeritannya sangat keras, dan beberapa detik kemudian dia melepaskan pelukannya dan terbaring lemas.
"Istirahat dulu Mbak", tanyaku.
"Ya Ndi.. aku ingin istirahat, abis capek banget sich.. Tulang-tulang Mbak terasa mau lepas Ndi", bisiknya dengan nada manja.
"Oke deh Mbak, kita lanjutkan nanti aja..", balasku tak kalah mesranya.
"Ndi, kamu sering ya ginian sama wanita lain..", pancing Mbak Maya.
"Ah nggak kok Mbak, baru kali ini", jawabku berbohong.
"Tapi dari caramu tadi terlihat profesional Ndi, Kamu hebat Ndi.. Sungguh perkasa", puji Mbak Maya.
"Mbak juga hebat, lubang surga Mbak sempit banget sich.., padahal kan Mbak udah punya anak", balasku balik memuji.
"Ah kamu bisa aja, kalau itu sich rahasia dapur", balasnya manja.
Kamipun tertawa berdua sambil berpelukan.

Tak terasa karena lelah, kami berdua tertidur pulas sambil berpelukan dan kami kaget saat terbangun, rupanya kami tertidur selama tiga jam. Kami pun melanjutkan permainan yang tertunda tadi. Kali ini permainan lebih buas dan liar, kami bercinta dengan bermacam-macam posisi. Dan yang lebih menggembirakan lagi, pada permainan tahap kedua ini kami tidak menemui kesulitan yang berarti, karena selain kami sudah sama-sama berpengalaman, ternyata liang senggama Mbak Maya tidak sesempit yang pertama tadi, mungkin karena sudah ditembus oleh senjataku yang luar biasa ini sehingga kini lancarlah senjataku memasuki liang sorganya. Tapi permainan ini tidak berlangsung lama karena Mbak Maya harus cepat-cepat pulang menemui anaknya yang sudah pulang dari les piano. Tapi sebelum berpisah kami saling memberikan alamat dan nomer telepon sehingga kami bisa bercinta lagi di lain saat dengan tenang dan damai.

Tamat

1 Bercinta dengan istri orang

Sebelum memulai ceritaku, aku akan memberikan sedikit gambaran mengenai diriku. Namaku adalah Ivan, bekerja sebagai karyawan swasta asing di kawasan Sudirman, Jakarta. Aku adalah seorang pria berusia 29 tahun, aku keturunan chinese, wajahku lumayan ganteng, kulitku putih bersih. Tinggiku 165 cm dan berat badanku 70 kg, sedikit kumis menghiasi bibirku.

Kejadian ini adalah sebagian dari kisah nyataku, yang terjadi kurang lebih 4 tahun yang lalu. Terus terang, aku sangat menyukai wanita yang berusia 30-40 tahun, dengan kulit mulus. Bagiku wanita ini sangat menarik, apalagi jika 'jam terbangnya' sudah tinggi, sehingga pandai dalam bercinta. Namun sebagai pegawai swasta yang bekerja, aku memiliki keterbatasan waktu, tidak mudah bagiku untuk mencari wanita tersebut. Hal ini yang mendorong aku untuk mengiklankan diriku pada sebuah surat kabar berbahasa Inggris, untuk menawarkan jasa 'full body massage'. Uang bagiku tidak masalah, karena aku berasal dari keluarga menengah dan gajiku cukup, namun kepuasan yang ku dapat jauh dari itu. Sehingga aku tidak memasang tarif untuk jasaku itu, diberi berapapun kuterima.

Sepanjang hari itu, sejak iklanku terbit banyak respon yang kudapat, sebagian dari mereka hanya iseng belaka, atau hanya ingin ngobrol. Di sore hari, kurang lebih pukul 18.00 seorang wanita menelponku.
"Hallo dengan Ivan?" suara merdu terdengar dari sana.
"Ya saya sendiri" jawabku.
Dan seterusnya dia mulai menanyakan ciri-ciriku. Selanjutnya, "Eh ngomong-ngomong, berapa sich panjangnya kamu punya?" katanya.
"Yah normal sajalah sekitar 18 cm dengan diameter 6 cm." jawabku.
"Wah lumayan juga yach, lalu apakah jasa kamu ini termasuk semuanya," lanjutnya.
"Apa saja yang kamu butuhkan, kamu pasti puas dech.." jawabku. Dan yang agak mengejutkan adalah bahwa dia meminta kesediaanku untuk melakukannya dengan ditonton suaminya. Namun kurasa, wah ini pengalaman baru buatku.

Akhirnya dia memintaku untuk segera datang di sebuah hotel "R" berbintang lima di kawasan Sudirman, tak jauh dari kantorku. Aku menduga bahwa pasangan ini bukanlah sembarang orang, yang mampu membayar tarif hotel semahal itu. Dan benar dugaanku, sebuah president suite room telah ada di hadapanku. Segera kubunyikan bel di depan kamarnya. Dan seorang pria, dengan mengenakan kimono, berusia tak lebih dari 40 tahun membukakan pintu untukku.

"Ivan?" katanya.
"Ya saya Ivan," jawabku. Lalu ia mencermatiku dari atas hingga bawah sebelum ia mempersilakan aku masuk ke dalam. Pasti dia tidak ingin sembarang orang menyentuh istrinya, pikirku.
"OK, masuklah" katanya. Kamar itu begitu luas dan gelap sekali. Aku memandang sekeliling, sebuah TV berukuran 52" sedang memperlihatkan blue film.

Lalu aku memandang ke arah tempat tidur. Seorang wanita yang kutaksir umurnya tak lebih dari 30 tahun berbaring di atas tempat tidur, badannya dimasukkan ke dalam bed cover tersenyum padaku sambil menjulurkan tangannya untuk menyalamiku. "Kamu pasti Ivan khan? Kenalkan saya Donna" katanya lembut.
Aku terpana melihatnya, rambutnya sebahu berwarna pirang, kulitnya mulus sekali, wajahnya cantik, pokoknya perfect! Aku masih terpana dan menahan liurku, ketika dia berkata "Lho kok bingung sich".
"Akh enggak.." kataku sambil membalas salamnya.
"Kamu mandi dulu dech biar segar, tuch di kamar mandi," katanya.
"Oke tunggu yach sebentar," jawabku sambil melangkah ke kamar mandi. Sementara, suaminya hanya menyaksikan dari sofa dikegelapan. Cepat-cepat kubersihkan badanku biar wangi. Dan segera setelah itu kukenakan celana pendek dan kaos.

Aku melangkah keluar, "Yuk kita mulai," katanya.
Dengan sedikit gugup aku menghampiri tempat tidurnya. Dan dengan bodohnya aku bertanya, "Boleh aku lepaskan pakaianku?", dia tertawa kecil dan menjawab, "terserah kau saja..".
Segera kulepaskan pakaianku, dia terbelalak melihatku dalam keadaan polos, "Ahk.. ehm.." dan segera mengajakku masuk ke dalam bed cover juga. "Kamu cantik sekali Donna" kataku lirih.
Aku tak habis pikir ada wanita secantik ini yang pernah kulihat dan suaminya memperbolehkan orang lain menjamahnya, ah.. betapa beruntungnya aku ini. "Ah kamu bisa saja," kata Donna.

Segera aku masuk ke dalam bed cover, kuteliti tubuhnya satu persatu. Kedua bulatan payudaranya yang cukup besar dan berwarna putih terlihat menggantung dengan indahnya, diantara keremangan aku masih dapat melihat dengan sangat jelas betapa indah kedua bongkah susunya yang kelihatan begitu sangat montok dan kencang. Samar kulihat kedua puting mungilnya yang berwarna merah kecoklatan. "Yaa aammpuunn.." bisikku lirih tanpa sadar, "Ia benar-benar sempurna" kataku dalam hati.

"Van.." bisik Tante Donna di telingaku.
Aku menoleh dan terjengah. Ya Ampuun, wajah cantiknya itu begitu dekat sekali dengan wajahku. Hembusan nafasnya yang hangat sampai begitu terasa menerpa daguku. Kunikmati seluruh keindahan bidadari di depanku ini, mulai dari wajahnya yang cantik menawan, lekak-lekuk tubuhnya yang begitu seksi dan montok, bayangan bundar kedua buah payudaranya yang besar dan kencang dengan kedua putingnya yang lancip, perutnya yang ramping dan pantatnya yang bulat padat bak gadis remaja, pahanya yang seksi dan aah.., kubayangkan betapa indah bukit kemaluannya yang kelihatan begitu menonjol dari balik bed cover. Hmm.., betapa nikmatnya nanti saat batang kejantananku memasuki liang kemaluannya yang sempit dan hangat, akan kutumpahkan sebanyak mungkin air maniku ke dalam liang kemaluannya sebagai bukti kejantananku.

"Van.. mulailah sayang.." bisik Tante Donna, membuyarkan fantasi seks-ku padanya. Sorotan kedua matanya yang sedikit sipit kelihatan begitu sejuk dalam pandanganku, hidungnya yang putih membangir mendengus pelan, dan bibirnya yang ranum kemerahan terlihat basah setengah terbuka, duh cantiknya. Kukecup lembut bibir Tante Donna yang setengah terbuka. Begitu terasa hangat dan lunak. Kupejamkan kedua mataku menikmati kelembutan bibir hangatnya, terasa manis.

Selama kurang lebih 10 detik aku mengulum bibirnya, meresapi segala kehangatan dan kelembutannya. Kuraih tubuh Tante Donna yang masih berada di hadapanku dan kubawa kembali ke dalam pelukanku.
"Apa yang dapat kau lakukan untukku Van.." bisiknya lirih setengah kelihatan malu.
Kedua tanganku yang memeluk pinggangnya erat, terasa sedikit gemetar memendam sejuta rasa. Dan tanpa terasa jemari kedua tanganku telah berada di atas pantatnya yang bulat. Mekal dan padat. Lalu perlahan kuusap mesra sambil kuberbisik, "Tante pasti tahu apa yang akan Ivan lakukan.. Ivan akan puaskan Tante sayang.." bisikku pelan. Jiwaku telah terlanda nafsu.

Kuelus-elus seluruh tubuhnya, akhh.. mulus sekali, dengan sedikit gemas kuremas gemas kedua belah pantatnya yang terasa kenyal padat dari balik bed cover. "Oouuhh.." Tante Donna mengeluh lirih.
Bagaimanapun juga anehnya aku saat itu masih bisa menahan diri untuk tidak bersikap over atau kasar terhadapnya, walau nafsu seks-ku saat itu terasa sudah diubun-ubun namun aku ingin sekali memberikan kelembutan dan kemesraan kepadanya. Lalu dengan gemas aku kembali melumat bibirnya. Kusedot dan kukulum bibir hangatnya secara bergantian dengan mesra atas dan bawah. Kecapan-kecapan kecil terdengar begitu indah, seindah cumbuanku pada bibir Tante Donna. Kedua jemari tanganku masih mengusap-usap sembari sesekali meremas pelan kedua belah pantatnya yang bulat pada dan kenyal. Bibirnya yang terasa hangat dan lunak berulang kali memagut bibirku sebelah bawah dan aku membalasnya dengan memagut bibirnya yang sebelah atas. ooh.., terasa begitu nikmatnya. Dengusan pelan nafasnya beradu dengan dengusan nafasku dan berulang kali pula hidungnya yang kecil membangir beradu mesra dengan hidungku. Kurasakan kedua lengan Tante Donna telah melingkari leherku dan jemari tangannya kurasakan mengusap mesra rambut kepalaku.

Batang kejantananku terasa semakin besar apalagi karena posisi tubuh kami yang saling berpelukan erat membuat batang kejantananku yang menonjol dari balik celanaku itu terjepit dan menempel keras di perut Tante Donna yang empuk, sejenak kemudian kulepaskan pagutan bibirku pada bibir Tante Donna.

Wajahnya yang cantik tersenyum manis padaku, kuturunkan wajahku sambil terus menjulurkan lidah di permukaan perutnya terus turun dan sampai di daerah yang paling kusukai, wangi sekali baunya. Tak perlu ragu.
"Ohh apa yang akan kau lakukan.. akh.." tanyanya sambil memejamkan mata menahan kenikmatan yang dirasakannya. Beberapa saat kemudian tangan itu malah mendorong kepalaku semakin bawah dan.., "Nyam-nyam.." nikmat sekali kemaluan Tante Donna. Oh, bukit kecil yang berwarna merah merangsang birahiku.

Kusibakkan kedua bibir kemaluannya dan, "Creep.." ujung hidungku kupaksakan masuk ke dalam celah kemaluan yang sudah sedari tadi becek itu.
"Aaahh.. kamu nakaal," jeritnya cukup keras. Terus terang kemaluannya adalah terindah yang pernah kucicipi, bibir kemaluannya yang merah merekah dengan bentuk yang gemuk dan lebar itu membuatku semakin bernafsu saja. Bergiliran kutarik kecil kedua belah bibir kemaluan itu dengan mulutku. "Ooohh lidahmu.. ooh nikmatnya Ivan.." lirih Tante Donna.

Sementara aku asyik menikmati bibir kemaluannya, ia terus mendesah merasakan kegelian, persis seorang gadis perawan yang baru merasakan seks untuk pertama kali, kasihan wanita ini dan betapa bodohnya suaminya yang hanya memandangku dari kegelapan.

"Aahh.. sayang.. Tante suka yang itu yaahh.. sedoot lagi dong sayang oogghh," ia mulai banyak menggunakan kata sayang untuk memanggilku. Sebuah panggilan yang sepertinya terlalu mesra untuk tahap awal ini.
Lima menit kemudian.. "Sayang.. Aku ingin cicipi punya kamu juga," katanya seperti memintaku menghentikan tarian lidah di atas kemaluannya.
"Ahh.. baiklah Tante, sekarang giliran Tante," lanjutku kemudian berdiri mengangkang di atas wajahnya yang masih berbaring. Tangannya langsung meraih batang kemaluan besarku dan sekejap terkejut menyadari ukurannya yang jauh di atas rata-rata.
"Okh Van.. indah sekali punyamu ini.." katanya padaku, lidahnya langsung menjulur kearah kepala kemaluanku yang sudah sedari tadi tegang dan amat keras itu.
"Mungkin ini nggak akan cukup kalau masuk di.. aah mm.. nggmm," belum lagi kata-kata isengnya keluar aku sudah menghunjamkan burungku kearah mulutnya dan, "Croop.." langsung memenuhi rongganya yang mungil itu. Matanya menatapku dengan pandangan lucu, sementara aku sedang meringis merasakan kegelian yang justru semakin membuat senjataku tegang dan keras.
"Aduuh enaak.. oohh enaknya Tante oohh.." sementara ia terus menyedot dan mengocok batang kemaluanku keluar masuk mulutnya yang kini tampak semakin sesak. Tangan kananku meraih payudara besarnya yang menggelayut bergoyang kesana kemari sembari tangan sebelah kiriku memberi rabaan di punggungnya yang halus itu. Sesekali ia menggigit kecil kepala kemaluanku dalam mulutnya, "Mm.. hmm.." hanya itu yang keluar dari mulutnya, seiring telapak tanganku yang meremas keras daging empuk di dadanya.

"Crop.." ia mengeluarkan kemaluanku dari mulutnya. Aku langsung menyergap pinggulnya dan lagi-lagi daerah selangkangan dengan bukit berbulu itu kuserbu dan kusedot cairan mani yang sepertinya sudah membanjir di bibir kemaluannya.
"Aoouuhh.. Tante nggak tahan lagi sayang ampuun.. Vann.. hh masukin sekarang juga, ayoo.." pintanya sambil memegang pantatku. Segera kuarahkan kemaluanku ke selangkangannya yang tersibak di antara pinggangku menempatkan posisi liang kemaluannya yang terbuka lebar, pelan sekali kutempelkan di bibir kemaluannya dan mendorongnya perlahan, "Ngg.. aa.. aa.. aa.. ii.. oohh masuuk.. aduuh besar sekali sayang, oohh.." ia merintih, wajahnya memucat seperti orang yang terluka iris.

Aku tahu kalau itu adalah reaksi dari bibir kemaluannya yang terlalu rapat untuk ukuran burungku. Dan Tante Donna merupakan wanita yang kesekian kalinya mengatakan hal yang sama. Namun jujur saja, ia adalah wanita setengah baya tercantik dan terseksi dari semua wanita yang pernah kutiduri. Buah dadanya yang membusung besar itu langsung kuhujani dengan kecupan-kecupan pada kedua putingnya secara bergiliran, sesekali aku juga berusaha mengimbangi gerakan turun naiknya diatas pinggangku dengan cara mengangkat-angkat dan memiringkan pinggul hingga membuatnya semakin bernafsu, namun tetap menjaga ketahananku dengan menghunjamkan kemaluanku pada setiap hitungan kelima.

Tangannya menekan-nekan kepalaku kearah buah dadanya yang tersedot keras sementara burungku terus keluar masuk semakin lancar dalam liang senggamanya yang sudah terasa banjir dan amat becek itu. Puting susunya yang ternyata merupakan titik nikmatnya kugigit kecil hingga wanita itu berteriak kecil merintih menahan rasa nikmat sangat hebat, untung saja kamar tidur tersebut terletak di lantai dua yang cukup jauh untuk mendengar teriakan-teriakan kami berdua. Puas memainkan kedua buah dadanya, kedua tanganku meraih kepalanya dan menariknya kearah wajahku, sampai disitu mulut kami beradu, kami saling memainkan lidah dalam rongga mulut secara bergiliran. Setelah itu lidahku menjalar liar di pipinya naik kearah kelopak matanya melumuri seluruh wajah cantik itu, dan menggigit daun telinganya. Genjotan pinggulnya semakin keras menghantam pangkal pahaku, burungku semakin terasa membentur dasar liang senggama.

"Ooohh.. aa.. aahh.. aahh.. mmhh gelii oohh enaknya, Vann.. ooh," desah Tante Donna.
"Yaahh enaak juga Tante.. oohh rasanya nikmat sekali, yaahh.. genjot yang keras Tante, nikmat sekali seperti ini, oohh enaakk.. oohh Tante oohh.." kata-kataku yang polos itu keluar begitu saja tanpa kendali. Tanganku yang tadi berada di atas kini beralih meremas bongkahan pantatnya yang bahenol itu. Setiap ia menekan ke bawah dan menghempaskan kemaluannya tertusuk burungku, secara otomatis tanganku meremas keras bongkahan pantatnya. Secara refleks pula kemaluannya menjepit dan berdenyut seperti menyedot batang kejantananku.

Hanya sepuluh menit setelah itu goyangan tubuh Tante Donna terasa menegang, aku mengerti kalau itu adalah gejala orgasme yang akan segera diraihnya, "Vann.. aahh aku nngaak.. nggak kuaat aahh.. aahh.. oohh.."
"Taahaan Tante.. tunggu saya dulu ngg.. ooh enaknya Tante.. tahan dulu .. jangan keluarin dulu.." Tapi sia-sia saja, tubuh Tante Donna menegang kaku, tangannya mencengkeram erat di pundakku, dadanya menjauh dari wajahku hingga kedua telapak tanganku semakin leluasa memberikan remasan pada buah dadanya. Aku sadar sulitnya menahan orgasme itu, hingga aku meremas keras payudaranya untuk memaksimalkan kenikmatan orgasme itu padanya. "Ooo.. ngg.. aahh.. sayang sayang.. sayang.. ooh enaak.. Tante kelauaar.. oohh.. oohh.." teriaknya panjang mengakhiri babak permainan itu. Aku merasakan jepitan kemaluannya disekeliling burungku mengeras dan terasa mencengkeram erat sekali, desiran zat cair kental terasa menyemprot enam kali di dalam liang kemaluannya sampai sekitar sepuluh detik kemudian ia mulai lemas dalam pelukanku.

Sementara itu makin kupercepat gerakanku, makin terdengar dengan jelas suara gesekan antara kemaluan saya dengan kemaluannya yang telah dibasahi oleh cairan dari kemaluan Tante Donna. "Aaakhh.. enakk!" desah Tante Donna sedikit teriak.
"Tante.. saya mau keluar nich.. eesshh.." desahku pada Tante Donna.
"Keluarkanlah sayang.. eesshh.." jawabnya sambil mendesah.
"Uuugghh.. aaggh.. eenak Tante.." teriakku agak keras dengan bersamaannya spermaku yang keluar dan menyembur di dalam kemaluan Tante Donna.

"Hemm.. hemm.." suara itu cukup mengagetkanku. Ternyata suaminya yang sedari tadi hanya menonton kini telah bangkit dan melepas kimononya. "Sekarang giliranku, terima kasih kau telah membangkitkanku kau boleh meninggalkan kami sekarang," katanya seraya memberikan segepok uang padaku.

Aku segera memakai pakaianku, dan melangkah keluar. Tante Donna mengantarkanku kepintu sambil sambil menghadiahkanku sebuah kecupan kecil, katanya "Terima kasih yach.. sekarang giliran suamiku, karena ia butuh melihat permainanku dengan orang lain sebelum ia melakukannya."
"Terima kasih kembali, kalau Tante butuh saya lagi hubungi saya saja," jawabku sambil membalas kecupannya dan melangkah keluar.

"Akh.. betapa beruntungnya aku dapat 'order' melayani wanita seperti Tante Donna," pikirku puas. Ternyata ada juga suami yang rela mengorbankan istrinya untuk digauli orang lain untuk memenuhi hasratnya.

Demikianlah sekelumit kisahku, apabila ada diantara pembaca yang juga membutuhkanku, seperti ciri-ciri wanita yang sangat kusukai, yaitu berusia 30-40 tahun. Silakan hubungi aku via e-mail.

Tamat

1 Apotik 24 jam

Sudah lebih dari 4 jam Tedi bersama 2 rekannya menunggu didepan pintu kamar UGD (Unit Gawat Darurat) sebuah rumah sakit di kota metropolitan. Rudi teman mereka bersama pacarnya mengalami kecelakaan mobil yang lumayan parah tadi pagi sehingga harus dirawat secara intensif di ruang UGD. Tedi dan 2 rekannya merasa berkewajiban untuk membantu teman karibnya karena pihak keluarga Rudi belum ada satupun yang muncul di rumah sakit. Rudi merupakan anak tunggal dan kedua orang tuanya berada di sebuah negara Eropa Timur sebagai staf kedutaan besar. Sedangkan keluarga-keluarga dekat Rudi masih belum tiba karena tinggal di luar pulau Jawa seperti Pontianak, Tarakan dan Manado. Beruntunglah Rudi memiliki karib seperti Tedi dan 2 rekannya yang lain untuk mengurus keperluannya sewaktu dirawat di UGD.

Seorang perawat keluar dari ruang UGD dan menuju ke arah Tedi sambil membawa sebuah kertas di tangannya. "Mas, ini resep dokter yang harus segera dibelikan obatnya agar teman Mas besok pagi dapat langsung disuntik dengan obat itu.", ungkap perawat tersebut kepada 3 pemuda yang sudah kelihatan lelah.
"Kira-kira di apotik rumah sakit ini obat itu ada nggak, Mbak?", tanya seorang rekan Tedi.
"Kalau ada saya nggak akan minta tolong pada kalian", jawab perawat singkat.
"Yuk, dicari!", ajak Tedi pada 2 temannya.
"Sebentar Mas", cegah perawat itu.
"Kalian yang mempunyai golongan darah sama dengan Rudi sebaiknya tinggal disini, jaga-jaga kalau teman kalian membutuhkan darah lagi dan persedian kami habis", meneruskan keterangannya.
Akhirnya 3 pemuda itu berembuk dan memutuskan agar Tedi saja yang mencari obat dan 2 temannya tetap tinggal.

Tedi mengeluh dalam hati sambil mengendarai mobil, "Cari apotik yang buka jam 1 pagi ini pasti susah, aku nggak seberapa hapal jalan Jakarta lagi".
Setelah berkendaraan selama 10 menit akhirnya dia menemukan sebuah apotik yang masih buka tapi setelah dimasukinya pegawai apotik tersebut menyatakan kalau obat yang dicari Tedi tak ada. Kejadian tersebut berulang sampai 4 kali dengan alasan yang mirip, "obat itu habis", "besok siang baru siap", dan sebagainya. Demi teman yang saat ini tergolek di ranjang UGD, Tedi tak berputus asa meskipun tubuhnya sudah lelah dan ngantuk.

Tanpa berharap banyak Tedi memarkir mobilnya didepan apotik kecil di ujung jalan yang sempit. "Paling-paling nggak ada lagi", pikir Tedy sambil menyerahkan resep obat yang dicarinya kepada pegawai apotik itu, seorang wanita berumur 30-an.
"Silakan tunggu dulu, saya carikan", ucap wanita itu dengan sopan.
Dia mencek dengan komputernya, lalu masuk ke ruangan berdiding kaca transparan yang terlihat penuh laci obat, keluar lagi dan terus masuk ke ruangan tertutup. Wanita itu keluar bersama seorang pria berumur 50-an dengan wajah masih ngantuk.
Sambil mengenakan kaca matanya pria itu berkata pada Tedi, "Dik, obat ini agak langka, menyiapkannya butuh waktu 1 jam dan yang bisa menyiapkan cuma cabang kami yang berada di Depok. Sebaiknya adik langsung aja mendatangi kesana atau kalau adik mau nunggu biar pegawai kami yang ngantar kesini, gimana?".
Langsung dijawab Tedi, "Saya tunggu aja disini, Pak! Capek Pak saya putar-putar carinya! Berapa, Pak?".
Dijawab oleh wanita disebelah pria itu, "Totalnya Rp 536.500,-".
Dalam hati Tedi menggerutu, "Busyet, habis nih sisa gajianku!".

Jam di dinding apotik menunjukkan setengah dua, hawa sejuk pagi masuk melalui jendela apotik membuat Tedi yang baru saja duduk beberapa menit di ruang tunggu menjadi ngantuk. Matanya yang agak sayu mulai menatap wanita yang sibuk di kounter apotik itu, sementara itu pegawai pria yang tadi sudah tak terlihat lagi. Dalam hati Tedi mulai berdialog dengan dirinya sendiri untuk menghilangkan kebosanan, "Kalau diperhatikan cewek itu cakep juga ya, rambutnya hitam panjang, kulitnya sawo matang, wajahnya mirip siapa? oh iya kayak penyanyi yang namanya Memes, tingkah lakunya anggun dan sopan, persis deh, bodinya juga kelihatan oke, bego sekali aku baru menyadarinya sekarang". Tatapan mata Tedi yang semula sayu menjadi berbinar-binar seolah memandang hidangan lezat sewaktu lapar. Rasa ngantuknya lenyap dalam keheningan ruangan apotik yang hanya ada dia dan pegawai wanita itu. Dengan mulai berkurangnya aktifitas pegawai wanita itu, ia mulai merasa kalau sedang diperhatikan. Sedikit curi pandang ke arah Tedi, perasaannya terbukti benar. Pemuda langsing tinggi, 25-an tahun tapi lumayan tampan yang duduk didepannya memandang ke arahnya tanpa berkedip. Tedi akhirnya merasa kalau tatapannya dirasakan oleh wanita itu.

Perhatian Tedi beralih ke barang-barang yang ada di outlet apotik itu. Bangkit dari tempat duduknya sambil membungkukkan badan ia melihat satu persatu barang dalam etalase kaca. Dengan penasaran pegawai wanita itu bertanya pada Tedi, "Mencari apa, Mas?"
"Hanya lihat-lihat kok Mbak!", jawab Tedi, tapi pandangannya tertuju pada sederet kotak kondom dengan berbagai merk dan hal ini tak luput dari perhatian wanita itu.
Perhatian Tedi pada deretan kotan kondom itu begitu nampak karena dia benar-benar lagi membandingkan kelebihan setiap merk kondom dengan lainnya melalui tulisan-tulisan yang ada pada kotaknya. Tanpa malu-malu Tedi bertanya pada pegawai wanita itu, "Mbak, yang merk "A" ini harganya berapa?" yang dijawab pula oleh wanita itu. "Kalau yang "B"?" "Kalau yang "C"?" Semua pertanyaan itupun dijawab oleh pegawai wanita itu. Dengan wajah bingung Tedi menegakkan kembali badannya sambil mendekat ke arah pegawai itu. "Mbak, yang bagus yang mana?" tanyanya lirih dengan wajah lugu. Pegawai wanita itu menjawab dengan menggelengkan kepalanya serta tersenyum malu. Dengan wajah kecewa tak memperoleh jawaban, Tedi membalikkan badan lalu keluar dari apotik itu dan mengambil kotak rokoknya dari sakunya.

Bersandar pada kusen pintu apotik, Tedi menikmati setiap sedotan asap rokoknya. Tanpa disadarinya pegawai wanita tadi sudah ada disampingnya dan mengagetkannya dengan permintaannya, "Mas, boleh minta rokoknya?" Bagai orang dihipnotis Tedi menghulurkan kotak rokok dan koreknya kepada wanita. Tedi merasa kaget campur bingung dan heran menatap wanita disampingnya sedang menikmati sedotan pertama pada sebatang rokok.

"Nggak usah bengong Mas, emangnya kenapa?", tanya wanita itu.
"Ah, Nggak, nggak heran kok, sehari habis berapa Pak biasanya, Mbak?", tanya Tedi sedikit menggoda.
"Saya merokok kadang-kadang aja kok, Mas!", jawab wanita itu.
Setelah itu mereka mengobrol akrab bak 2 orang yang telah lama berkenalan.
"Mas, tadi tanya soal kondom, apa sudah menikah?", tanya wanita itu.
"Belum, makanya saya bertanya, Mbak sudah?", jawab Tedi dan berbalik bertanya.
"Sudah 5 tahun", jawab wanita sambil menunjukkan kekecewaan di wajahnya.
"Wah, sudah pengalaman dong, jadi menurut Mbak, sewaktu suami Mbak pakai kondom yang enak rasanya yang merk apa?", tanya Tedi seakan hal itu menjadi teka-tekinya.
"Apa kamu sudah punya pacar?", tanya balik wanita itu.
Dengan menggelengkan kepala, Tedi menunduk malu seolah sadar bahwa dia menunjukkan keluguannya, lalu dia berusaha menutupinya dengan berkata, "Tapi gini-gini pengalamanku nggak kalah sama Mbak! cuman saya nggak pernah pakai kondom"
"Oh, ya? saya percaya kok", sindir wanita itu.
"Kalau nggak percaya boleh dicoba!", tantang Tedi.

Dengan wajah yang memerah dan tersenyum, wanita itu membuka pintu apotik lalu masuk kembali setelah membuang puntung rokoknya, meninggalkan Tedi seorang diri. Dengan menggeleng-gelengkan kepala Tedi merasa sangat tolol setelah menyadari kalau dia baru saja mengeluarkan kata-kata yang paling bodoh sepanjang pengalamannya berkenalan dengan cewek. Bahkan saat ini dia belum mengetahui nama dan alamat wanita yang baru saja bercakap-cakap dengannya selama 30 menit. Sebuah hasil yang dapat menjatuhkan pamor yang dikenal teman-temannya sebagai seorang yang ahli memperoleh data tentang cewek dalam berkenalan.

Tak lama kemudian Tedi juga kembali masuk kedalam apotik dan mendapati pegawai pria apotik itu telah duduk dimeja counter. Merasa ingin buang air kecil, Tedi menanyakan letak toilet kepada pria itu. Sesuai petunjuk pria tadi, tedi memasuki lorong panjang dalam apotik itu dan akhirnya menemukan kamar mandi setengah terbuka yang kelihatan sangat bersih. Dengan terburu-buru Tedi masuk dan langsung membuka resleting celana jeansnya dan segera mengeluarkan penisnya dari dalam CDnya lalu, "Ah.. Lega rasanya!"

Rupanya Tedi melupakan menutup pintu kamar mandi. Dan karena lagi menikmati buang air kecil dia tak merasakan kalau di belakangnya sudah berdiri pegawai wanita tadi sambil mengamati bentuk dan ukuran penis Tedi yang lagi menyemburkan cairan urine bak ujung selang. Setelah membersihkan penisnya dengan tissu yang ada disampingnya, ia terkejut setengah mati merasakan pundaknya dipegang tangan halus dan punggungnya merasakan geseran dengan 2 benda tumpul yang lunak. Menoleh ke belakang ia melihat wajah pegawai wanita tadi.
Dengan napas lega Tedi berkata, "Kukira hantu, sampai hampir pingsan rasanya!".
"Aku mau buktikan ucapan Mas diluar tadi!", ucap wanita itu sambil tangan kanannya bergerilya memegang pangkal penis Tedi.

Tanpa dikomando burung Tedi langsung mendongkak keatas memberi penghormatan atas rangsangan genggaman halus tangan wanita itu. Diikuti helaan napas yang dalam wanita itu menggeser-geserkan daerah vitalnya yang masih berada dibalik rok dan CDnya ke pantat Tedi. Dengan serta merta Tedi memutar bagian tubuhnya hingga berhadapan dengan wanita itu. Lepaslah genggaman wanita itu pada penis Tedi, tapi pantatnya jadi gantinya, diremas dan ditariknya kearah tubuh wanita itu. Dua bibir saling bertautan, cumbuan dibalas cumbuan, keduanya saling bercumbu dengan gairah yang luar biasa. Dua tangan Tedi menemukan pantat wanita itu dan meremasnya sambil menarik ketubuhnya. Penis Tedi terhimpit dan bergesek dengan bagian depan rok wanita itu tepat pada daerah sekitar alat vitalnya, sementara buah dadanya terhimpit dada Tedi. Di bagian bawah gesek menggesek 2 alat vital yang berlainan jenis menimbulkan efek yang semakin menjadi-jadi meskipun masih terhalang oleh rok dan CD wanita itu. Di bagian tengah dimana gesekan payudara yang semakin mengeras pada dada Tedi juga terhalang oleh BH, pakaian wanita itu dan kaos Tedi. Bagian ataslah yang baru bebas dari segala penghalang, lidah Tedi masuk dalam mulutnya dan mengusap lidah wanita itu dengan liarnya dan dibalas dengan sedotan dari mulut wanita itu, hal ini terjadi silih berganti sementara kedua bibir saling melekat satu sama lainnya.

Selang beberapa waktu terjadi genjatan senjata. Kedua pihak saling melepas halangan yang ada. Pakaian terusan wanita itu sekarang sudah terlepas semua kancing depannya hingga bagian depan tubuhnya terbuka bebas. Celana jeans dan CD Tedi juga sudah sampai kebawah, juga kaosnya yang benar-benar lepas tersampir di gagang pintu kamar mandi sempit yang tertutup. Wanita itu kemudian melingkarkan tangannya kebelakan untuk melepas kancing BHnya, Tedi memanfaat momen itu dengan berjongkok dan mencumbu perut wanita itu sambil melorotkan CD wanita itu hingga lepas. Bersamaan dengan lepasnya BH wanita itu, cumbuan bibir Tedi juga bertemu bibir vaginanya. Desahan dan erangannya merasuki otak Tedi, sedotan mulutnya pada vagina wanita itu diikuti dengan permainan lidah di klitoris.

Kedua tangan bebas wanita itu segera menangkap dan menarik bagian belakang kepala Tedi ke arahnya hingga muka Tedi terhimpit diselakangannya. Sedotan mulut Tedi bertambah kuat bak pompa air yang lagi menyedot sumur. Sesekali wanita itu agak menjongkok dan dengan tarikan kuat pada kepala Tedi hingga juluran lidah Tedi dapat masuk kedalam lubang vaginanya yang paling dalam. Rangsangan hebat yang diberikan Tedi menghasilkan gelombang kejut pada wanita itu, denyut-denyut dinding vaginanya mengantarkan keluarnya cairan kental. Bergelinjang dalam keadaan berdiri membuatnya terhuyung lemas namun beruntung dinding kamar mandi itu telah dekat dengan punggungya hingga tersandarlah punggungnya di dinding. Dekapan Tedi setelah bangkit dari jongkoknya juga membantu wanita itu untuk tetap berdiri sambil bersandar pada dinding kamar mandi.

Dalam dekapan Tedi, mata wanita itu terpejam merasakan kepuasan sesaat, payudaranya menempel pada dada Tedi yang berbulu tipis, dan napasnya yang tadinya terengah-engah mulai teratur kembali. Penis Tedi menempel ketat pada daerah kemaluan wanita itu hingga merasakan kehangatan yang basah. Tedi mulai mencumbu mulut wanita itu dan sedikit demi sedikit diber jalan hingga pergumulan kedua mulut tak dapat dihindarkan kembali. Diikuti gerakan pinggul dan pantat, mengakibatkan geseran penis Tedi pada bibir vagina wanita mulai terasa nikmatnya bagi kedua belah pihak. Lalu wanita itu membuat rangkulan tangan serta usapan di punggung dan belakang kepala Tedi. Terprovokasi oleh rangsangan yang diberikan wanita itu, Tedi mulai sedikit berjongkok hingga ujung penisnya menempel bagian depan lubang vagina lalu dengan gerakan meluruskan kembali kakinya, naik dan masuklah seluruh batang kemaluannya kedalam liang kenikmatan wanita itu yang telah licin dengan tiba-tiba. Kaget oleh sentakan Tedi, keduanya melepaskan ciuman mulut, "Akh..!", jerit wanita itu dengan mulut terbuka dan diikuti dengan desahan, "Ah.. ah.. ah.." ketika Tedi memompa batang kemaluannya kebawah dan keatas. Dua insan berlainan jenis telah memulai hubungan sebadan sambil berdiri dalam kamar mandi apotik yang sempit.

Mulut Tedi mulai menghisap bagian kiri leher wanita itu lalu sesekali pada telinga kirinya. Dengan berputarnya waktu dan berbagai rangsangan yang saling diterima keduanya, wanita itu semakin merasa lemas pada bagian kakinya karena memaksakan diri untuk merengguk kepuasan meskipun telah berorgasme 2 kali. Akhirnya dengan tetap menyandarkan punggungya pada dinding kamar mandi ia meminta tangan Tedi untuk menahan pantatnya lalu mengaitkan kedua kakinya pada bagian belakang kaki Tedi. Sambil membopong wanita itu Tedi tetap melakukan pemompaan batang kemaluannya pada vagina wanita itu. Kekuatan Tedi ada batasnya, akhirnya dilepaskannya kaki kanan wanita itu agar dapat menopang tubuh wanita itu sendiri. Dengan tangan kanan tetap memegang paha kiri wanita itu, Tedi mempercepat gerakan pompanya.
"Aduh Mas aku mau keluar lagi, ssh..", ucap wanita itu sambil menggigit bibir atasnya.
Tedipun segera melepas beban yang sedari tadi ditahannya, penisnya berdenyut hebat dalam liang kenikmatan, menyemprotkan cairan sperma bagai semburan ular berbisa. Merasakan semburan cairan hangat dalam liangnya, wanita itu pun tak kuasa menahan orgasmenya. Keduanya saling berangkulan sampai penis Tedi keluar dari liang kenikmatan dalam keadaan kosong dan lemas. Diakhiri dengan saling ciuman bibir, keduanya membersihkan diri, mengenakan kembali pakaian yang lepas, dan keluar dari kamar mandi.

Tedi melihat waktu pada jam dinding apotik menunjukkan pukul 3 pagi dan setelah menerima obat pesanannya yang baru tiba itu dari pegawai pria apotik itu, dia langsung keluar menuju mobilnya dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi hingga sampai rumah sakit tempat kawannya dirawat. Kemudian dia memberikan obat serta kopi resepnya itu pada perawat jaga lalu duduk termenung di ruang tunggu sambil berusaha mengingat kejadian sensasional di apotik tadi. Lalu dari kejauhan lorong rumah sakit didepannya dia melihat Joni dan Rio, kedua kawannya, keluar dari sebuah ruangan dengan wajah suka cita, diikuti 2 perawat, yang seorang berumur 40-an dan satunya 20-an. Kedua perawat yang berjalan dibelakang Joni dan Rio terlihat sedang membetulkan seragamnya dan berusaha menutup kancing bagian atasnya. Pemandangan ini tak luput dari penglihatan Tedi.

Kira-kira apa yang telah dilakukan Joni dan Rio? Donor darah merah atau putih? Kenapa mereka kelihatan senang sekali? Itulah semua pertanyaan dalam benak Tedi.

Tamat