Pages

Selasa, 05 April 2011

0 Antara nafsu dan cinta

Kejadiannya dimulai 4 atau 5 tahun yang lalu. Waktu itu produksi di perusahaanku sedang booming sehingga diadakan penerimaan karyawati baru. Diantara sekian banyak pelamar ada satu yang jelas kulihat sangat berbeda. Kulitnya putih bersih, raut wajahnya cantik, dan bulu-bulu halus tampak jelas hitam kontras dengan warna kulitnya. Aku segera ke bagian personalia meminta data-datanya, setelah kulihat CV-nya yang cukup baik, aku meminta kepada personalia untuk dijadikan asistenku, akhirnya setelah melewati proses yang cukup rumit dia menjadi asistenku.

Mula pertama dia bekerja, aku sudah dapat melihat kecerdasannya dalam menangani pekerjaan, semua pekerjaan yang kuberikan dapat diselesaikannya dengan baik. Seperti pepatah Jawa bilang "Witing tresno jalaran soko kulino" Kebersamaan akan menumbuhkan rasa sayang, begitu pula yang terjadi denganku. Aku yang pada mulanya sudah tertarik pada pandangan pertama kian jatuh dalam perangkap asmaranya. Kucoba mengakrabkan diri dengannya, keluar makan bareng sering kami lakukan, tapi sampai saat itu aku belum berani macam-macam kepadanya, karena dia pernah mengungkapkan bahwa dia sudah mempunyai pacar. Memang sejak saat dia mengungkapkan bahwa dia sudah punya pacar, keinginanku untuk menjadikannya sebagai kekasih sudah hilang.

Setelah melewati masa pendekatan yang cukup panjang, akhirnya aku bisa mengajaknya Weekend. Karena saat itu katanya pacarnya sedang ditugaskan ke luar kota. Aku membawanya menuju pantai Ancol yang romantis. Sambil menyantap nasi goreng kami mengobrol panjang lebar, dari situ kuketahui bahwa ternyata dia berasal dari keluarga Broken, ayahnya kawin lagi saat usianya baru 3 tahun, hingga dia merasakan kurang kasih sayang dari ayahnya.

Kurengkuh dia dalam pelukanku, kubelai rambutnya yang hitam. Ombak di laut semakin beriak menyaksikan kemesraan kami. Perlahan kukecup keningnya, dia memejamkan matanya, bibirnya yang sensual sedikit terbuka seakan mengundangku untuk melumatnya, namun aku tidak berani gegabah, aku hanya mencium pipinya.

"San, boleh Bapak mengekspresikan rasa sayang Bapak", bisikku lembut di telinganya. Dia hanya diam mungkin masih mencerna arti kalimatku.
"Kalau Bapak memang sayang sama Santi, jangan sekali-kali Bapak mengecewakan Santi", jawabnya manja.
"Bapak tidak pernah mengecewakan wanita, Sayang" jawabku lembut. Kurapikan rambutnya yang diterpa angin laut dengan jari-jariku, tiba-tiba Dia mengambil tanganku dari keningnya dan mencium dengan bibirnya.
"Santi sayang sama Bapak! Santi nggak mau kehilangan Bapak", air matanya terasa hangat di jari-jariku. Kuseka air matanya dengan sapu tanganku.
"Bapak tidak akan meninggalkan Santi", janjiku. Bibirnya tersenyum tipis mendengar janjiku.

Perlahan kudaratkan bibirku di bibirnya, terasa hangat menjalar ke seluruh tubuhku, aku melumat bibirnya dengan perlahan.
"Kenapa Santi tidak membalas ciuman Bapak.."
"Santi tidak mengerti, Pak!"
Aku hanya diam dan berfikir, benarkah anak jaman sekarang belum mengenal arti ciuman.
"Memangnya Santi tidak pernah melakukannya dengan pacar Santi?"
"Belum, Ppak.."

Akhirnya setelah saya ajarkan secara singkat, dia mulai dapat membalas lumatan dan permainan lidahku. Tanganku mulai menjalajahi dadanya, kuremas perlahan dengan gerakan memutar, sementara bibirku mulai menjelajahi lehernya yang indah. Kubuka kancing bajunya yang paling atas, jari-jariku segera menerobos ke dalam bajunya yang sudah terbuka, aku merasakan tonjolan lembut, tidak besar namun halus sekali. Jari- jariku berputar mencari puting buah dadanya, sementara bibirku sudah sampai di belakang telinganya. Susah sekali mencari puting buah dadanya, karena masih belum tumbuh, putingnya masih mungil dan rata dengan gundukan buah dadanya, pertanda belum terjamah oleh siapa pun. Perlahan tapi pasti putingnya mulai mencuat ke atas, jari-jariku semakin aktif memilinnya dengan gerakan memutar. Sementara tangannya menekan tanganku sehingga tekanan pada buah dadanya semakin keras.

"Pak.. nikmat, teruskan.." erangan yang keluar dari mulutnya semakin membuatku semangat, tapi aku masih sadar bahwa aku di tempat terbuka. Aku segera menghentikan aktivitasku dan merapikan kancing bajunya yang terbuka.
"Kenapa, Pak?" tanya Santi keheranan.
"Ini kan tempat umum Sayang, bagaimana kalau kita sewa cottage saja."
"Tidak mau! Santi takut."
"Nggak apa, Bapak tidak akan berbuat macam-macam terhadap Santi", aku merayunya.
"Santi tidak akan mau, Pak!" tegasnya.
Aku tidak memaksa lebih lanjut, aku hanya diam.
"Bapak marah ya sama Santi."
"Tidak Sayang, Bapak hanya sedikit pusing."
Aku rengkuh dia dalam pelukanku.
"Kenapa?" tanyanya polos.
Aku sungguh bingung menjelaskannya, aku pusing karena sedang 'on', Batang kejantananku terasa berdenyut-denyut terus.
"Bagaimana kalau kita teruskan di mobil, Sayang" ajakku. Dia mengangguk.

Setelah setelan jok kurebahkan, aku kembali mencumbuinya, meneruskan kemesraan yang tadi tertunda meskipun di dalam mobil sempit tapi tidak ada seorang pun yang dapat melihat kami. Bajunya sudah kutanggalkan sehingga aku dengan bebas dapat mencumbui dadanya, saat lidahku yang hangat dan basah menjilati puting buah dadanya yang masih mungil, erangan lirih semakin sering keluar dari bibirnya. "Jangan berisik, Sayang" aku mengingatkannya, karena aku takut terdengar keluar. Tapi hanya sebentar saja, kembali mulutnya mengeluarkan erangan, terlebih saat puting buah dadanya kuhisap dan kugigit pelan. Gundukan buah dadanya yang halus kuhisap kuat-kuat sehingga meninggalkan bercak merah sesudahnya.

Tanganku segera bergerak mengangkat roknya. Aku merasakan kulit pahanya yang ditumbuhi bulu-bulu halus, kupilin-pilin pahanya yang gempal, dan saat tanganku bergerak menarik celana dalamnya, tangannya menahan tanganku. "Jangan Pak, yang satu itu jangan.." Aku yang sudah dikuasai nafsu tak mempedulikannya. Aku terus berusaha menanggalkan celana dalamnya tapi cekalan tangannya semakin kuat menahan gerakan tanganku. Aku tidak memaksa lagi.
"Kenapa?" bisikku, "Santi tidak sayang sama Bapak?"
"Bapak boleh mencumbu apa saja, tapi yang satu itu jangan, saya masih perawan, Pak!"
"Tapi dari erangan yang keluar, sepertinya Santi sudah pengalaman."
"Santi sendiri tidak sadar, Pak. Bahkan pernah saat Santi masturbasi di kamar, Ibu menegur Santi, karena erangan Santi terdengar ke luar kamar, Santi sampai malu waktu itu, Pak."
Aku hanya mengangguk, berarti erangan-erangannya yang heboh tadi hanya bawaan sifat saja.
"Ya, sudah! Santi bisa buat Bapak orgasme dengan tangan, bisa kan?" aku menyerah, pikiranku cuma satu, bagaimana melepaskan air maniku yang rasanya sudah mengumpul penuh di buah zakarku.
"Santi belum pernah, Pak!"
"Coba dulu dong, katanya Santi sayang sama Bapak."
"Iya Pak"

Aku ajarkan kepadanya cara onani yang membuat nikmat lelaki, setelah kurasa dia bisa. aku segera mengeluarkan senjataku yang sudah tegang.
"Aw.. besar banget Pak."
"Nggak apa, sini" aku bimbing tangannya ke senjataku.
Aku mulai merasakan genggamannya yang hangat, perlahan jari-jarinya yang lentik bergerak ke atas ke bawah mengocok batang kejantananku, aku mulai merasakan nikmat, sembari rebahan di jok aku memejamkan mata membayangkan bahwa saat itu senjataku sedang terbenam di dalam kemaluan Tamara Blezinky artis idolaku. Berfikir seperti itu senjataku semakin mengeras dan berdenyut-denyut.

"Pak, tangan Santi capek, Pak!" tiba-tiba saja Santi membuyarkan khayalanku. Aku yang sudah spanning langsung merengkuh lehernya dan membenamkan wajahnya ke dadaku.
"Lakukan seperti yang tadi Bapak lakukan terhadap Santi", sambil mengarahkan mulutnya yang mungil ke dadaku.
"Loh, Bapak kan lelaki"
"Sama saja, San, laki-laki juga perlu rangsangan biar cepat orgasme" Tanpa dikomando dua kali mulutnya yang mungil mulai menciumi dadaku sementara jari-jarinya terus mengocok batang kejantananku, perlahan aku merasakan nafasku semakin memburu, butir-butir keringat membasahi seluruh tubuhku.

"Terus, San.. Bapak mau keluar" Gerakan tangannya semakin cepat, kepala kemaluanku semakin mengkilat oleh pelumas yang dikeluarkan batanganku, sementara lidahnya yang runcing dan hangat terasa menggelitik puting dadaku bahkan dihisapnya, membuat sensasi tersendiri di seluruh aliran darahku.

Setengah jam berlalu, aku merasakan batang kejantananku semakin menggembung, akhirnya berbarengan dengan hisapan kuat di puting dadaku, kukeluarkan spermaku hingga muncrat dan mendarat di perutku.
"Sudah San, Bapak sudah keluar", aku melepaskan genggaman tangannya di batang kemaluanku.
"Capek sekali tangan Santi, Pak!, rasanya sudah tak sanggup lagi digerakkan."
"Bapak lama sih keluarnya."
Aku hanya diam dan mencium keningnya sebagai ungkapan rasa sayang dan puas atas segalanya.

Sepanjang perjalanan pulang, kami semakin akrab dan mesra, kami membuat perjanjian bahwa kami boleh berpacaran dengan siapa pun asalkan kebersamaan kita tidak akan hilang sampai kapan pun. Aku hanya mengangguk setuju.
Buat cewek-cewek yang mau advise atau berkenalan kirim aja e-mail.

TAMAT

0 Antara nafsu dan cinta

Kejadiannya dimulai 4 atau 5 tahun yang lalu. Waktu itu produksi di perusahaanku sedang booming sehingga diadakan penerimaan karyawati baru. Diantara sekian banyak pelamar ada satu yang jelas kulihat sangat berbeda. Kulitnya putih bersih, raut wajahnya cantik, dan bulu-bulu halus tampak jelas hitam kontras dengan warna kulitnya. Aku segera ke bagian personalia meminta data-datanya, setelah kulihat CV-nya yang cukup baik, aku meminta kepada personalia untuk dijadikan asistenku, akhirnya setelah melewati proses yang cukup rumit dia menjadi asistenku.

Mula pertama dia bekerja, aku sudah dapat melihat kecerdasannya dalam menangani pekerjaan, semua pekerjaan yang kuberikan dapat diselesaikannya dengan baik. Seperti pepatah Jawa bilang "Witing tresno jalaran soko kulino" Kebersamaan akan menumbuhkan rasa sayang, begitu pula yang terjadi denganku. Aku yang pada mulanya sudah tertarik pada pandangan pertama kian jatuh dalam perangkap asmaranya. Kucoba mengakrabkan diri dengannya, keluar makan bareng sering kami lakukan, tapi sampai saat itu aku belum berani macam-macam kepadanya, karena dia pernah mengungkapkan bahwa dia sudah mempunyai pacar. Memang sejak saat dia mengungkapkan bahwa dia sudah punya pacar, keinginanku untuk menjadikannya sebagai kekasih sudah hilang.

Setelah melewati masa pendekatan yang cukup panjang, akhirnya aku bisa mengajaknya Weekend. Karena saat itu katanya pacarnya sedang ditugaskan ke luar kota. Aku membawanya menuju pantai Ancol yang romantis. Sambil menyantap nasi goreng kami mengobrol panjang lebar, dari situ kuketahui bahwa ternyata dia berasal dari keluarga Broken, ayahnya kawin lagi saat usianya baru 3 tahun, hingga dia merasakan kurang kasih sayang dari ayahnya.

Kurengkuh dia dalam pelukanku, kubelai rambutnya yang hitam. Ombak di laut semakin beriak menyaksikan kemesraan kami. Perlahan kukecup keningnya, dia memejamkan matanya, bibirnya yang sensual sedikit terbuka seakan mengundangku untuk melumatnya, namun aku tidak berani gegabah, aku hanya mencium pipinya.

"San, boleh Bapak mengekspresikan rasa sayang Bapak", bisikku lembut di telinganya. Dia hanya diam mungkin masih mencerna arti kalimatku.
"Kalau Bapak memang sayang sama Santi, jangan sekali-kali Bapak mengecewakan Santi", jawabnya manja.
"Bapak tidak pernah mengecewakan wanita, Sayang" jawabku lembut. Kurapikan rambutnya yang diterpa angin laut dengan jari-jariku, tiba-tiba Dia mengambil tanganku dari keningnya dan mencium dengan bibirnya.
"Santi sayang sama Bapak! Santi nggak mau kehilangan Bapak", air matanya terasa hangat di jari-jariku. Kuseka air matanya dengan sapu tanganku.
"Bapak tidak akan meninggalkan Santi", janjiku. Bibirnya tersenyum tipis mendengar janjiku.

Perlahan kudaratkan bibirku di bibirnya, terasa hangat menjalar ke seluruh tubuhku, aku melumat bibirnya dengan perlahan.
"Kenapa Santi tidak membalas ciuman Bapak.."
"Santi tidak mengerti, Pak!"
Aku hanya diam dan berfikir, benarkah anak jaman sekarang belum mengenal arti ciuman.
"Memangnya Santi tidak pernah melakukannya dengan pacar Santi?"
"Belum, Ppak.."

Akhirnya setelah saya ajarkan secara singkat, dia mulai dapat membalas lumatan dan permainan lidahku. Tanganku mulai menjalajahi dadanya, kuremas perlahan dengan gerakan memutar, sementara bibirku mulai menjelajahi lehernya yang indah. Kubuka kancing bajunya yang paling atas, jari-jariku segera menerobos ke dalam bajunya yang sudah terbuka, aku merasakan tonjolan lembut, tidak besar namun halus sekali. Jari- jariku berputar mencari puting buah dadanya, sementara bibirku sudah sampai di belakang telinganya. Susah sekali mencari puting buah dadanya, karena masih belum tumbuh, putingnya masih mungil dan rata dengan gundukan buah dadanya, pertanda belum terjamah oleh siapa pun. Perlahan tapi pasti putingnya mulai mencuat ke atas, jari-jariku semakin aktif memilinnya dengan gerakan memutar. Sementara tangannya menekan tanganku sehingga tekanan pada buah dadanya semakin keras.

"Pak.. nikmat, teruskan.." erangan yang keluar dari mulutnya semakin membuatku semangat, tapi aku masih sadar bahwa aku di tempat terbuka. Aku segera menghentikan aktivitasku dan merapikan kancing bajunya yang terbuka.
"Kenapa, Pak?" tanya Santi keheranan.
"Ini kan tempat umum Sayang, bagaimana kalau kita sewa cottage saja."
"Tidak mau! Santi takut."
"Nggak apa, Bapak tidak akan berbuat macam-macam terhadap Santi", aku merayunya.
"Santi tidak akan mau, Pak!" tegasnya.
Aku tidak memaksa lebih lanjut, aku hanya diam.
"Bapak marah ya sama Santi."
"Tidak Sayang, Bapak hanya sedikit pusing."
Aku rengkuh dia dalam pelukanku.
"Kenapa?" tanyanya polos.
Aku sungguh bingung menjelaskannya, aku pusing karena sedang 'on', Batang kejantananku terasa berdenyut-denyut terus.
"Bagaimana kalau kita teruskan di mobil, Sayang" ajakku. Dia mengangguk.

Setelah setelan jok kurebahkan, aku kembali mencumbuinya, meneruskan kemesraan yang tadi tertunda meskipun di dalam mobil sempit tapi tidak ada seorang pun yang dapat melihat kami. Bajunya sudah kutanggalkan sehingga aku dengan bebas dapat mencumbui dadanya, saat lidahku yang hangat dan basah menjilati puting buah dadanya yang masih mungil, erangan lirih semakin sering keluar dari bibirnya. "Jangan berisik, Sayang" aku mengingatkannya, karena aku takut terdengar keluar. Tapi hanya sebentar saja, kembali mulutnya mengeluarkan erangan, terlebih saat puting buah dadanya kuhisap dan kugigit pelan. Gundukan buah dadanya yang halus kuhisap kuat-kuat sehingga meninggalkan bercak merah sesudahnya.

Tanganku segera bergerak mengangkat roknya. Aku merasakan kulit pahanya yang ditumbuhi bulu-bulu halus, kupilin-pilin pahanya yang gempal, dan saat tanganku bergerak menarik celana dalamnya, tangannya menahan tanganku. "Jangan Pak, yang satu itu jangan.." Aku yang sudah dikuasai nafsu tak mempedulikannya. Aku terus berusaha menanggalkan celana dalamnya tapi cekalan tangannya semakin kuat menahan gerakan tanganku. Aku tidak memaksa lagi.
"Kenapa?" bisikku, "Santi tidak sayang sama Bapak?"
"Bapak boleh mencumbu apa saja, tapi yang satu itu jangan, saya masih perawan, Pak!"
"Tapi dari erangan yang keluar, sepertinya Santi sudah pengalaman."
"Santi sendiri tidak sadar, Pak. Bahkan pernah saat Santi masturbasi di kamar, Ibu menegur Santi, karena erangan Santi terdengar ke luar kamar, Santi sampai malu waktu itu, Pak."
Aku hanya mengangguk, berarti erangan-erangannya yang heboh tadi hanya bawaan sifat saja.
"Ya, sudah! Santi bisa buat Bapak orgasme dengan tangan, bisa kan?" aku menyerah, pikiranku cuma satu, bagaimana melepaskan air maniku yang rasanya sudah mengumpul penuh di buah zakarku.
"Santi belum pernah, Pak!"
"Coba dulu dong, katanya Santi sayang sama Bapak."
"Iya Pak"

Aku ajarkan kepadanya cara onani yang membuat nikmat lelaki, setelah kurasa dia bisa. aku segera mengeluarkan senjataku yang sudah tegang.
"Aw.. besar banget Pak."
"Nggak apa, sini" aku bimbing tangannya ke senjataku.
Aku mulai merasakan genggamannya yang hangat, perlahan jari-jarinya yang lentik bergerak ke atas ke bawah mengocok batang kejantananku, aku mulai merasakan nikmat, sembari rebahan di jok aku memejamkan mata membayangkan bahwa saat itu senjataku sedang terbenam di dalam kemaluan Tamara Blezinky artis idolaku. Berfikir seperti itu senjataku semakin mengeras dan berdenyut-denyut.

"Pak, tangan Santi capek, Pak!" tiba-tiba saja Santi membuyarkan khayalanku. Aku yang sudah spanning langsung merengkuh lehernya dan membenamkan wajahnya ke dadaku.
"Lakukan seperti yang tadi Bapak lakukan terhadap Santi", sambil mengarahkan mulutnya yang mungil ke dadaku.
"Loh, Bapak kan lelaki"
"Sama saja, San, laki-laki juga perlu rangsangan biar cepat orgasme" Tanpa dikomando dua kali mulutnya yang mungil mulai menciumi dadaku sementara jari-jarinya terus mengocok batang kejantananku, perlahan aku merasakan nafasku semakin memburu, butir-butir keringat membasahi seluruh tubuhku.

"Terus, San.. Bapak mau keluar" Gerakan tangannya semakin cepat, kepala kemaluanku semakin mengkilat oleh pelumas yang dikeluarkan batanganku, sementara lidahnya yang runcing dan hangat terasa menggelitik puting dadaku bahkan dihisapnya, membuat sensasi tersendiri di seluruh aliran darahku.

Setengah jam berlalu, aku merasakan batang kejantananku semakin menggembung, akhirnya berbarengan dengan hisapan kuat di puting dadaku, kukeluarkan spermaku hingga muncrat dan mendarat di perutku.
"Sudah San, Bapak sudah keluar", aku melepaskan genggaman tangannya di batang kemaluanku.
"Capek sekali tangan Santi, Pak!, rasanya sudah tak sanggup lagi digerakkan."
"Bapak lama sih keluarnya."
Aku hanya diam dan mencium keningnya sebagai ungkapan rasa sayang dan puas atas segalanya.

Sepanjang perjalanan pulang, kami semakin akrab dan mesra, kami membuat perjanjian bahwa kami boleh berpacaran dengan siapa pun asalkan kebersamaan kita tidak akan hilang sampai kapan pun. Aku hanya mengangguk setuju.
Buat cewek-cewek yang mau advise atau berkenalan kirim aja e-mail.

TAMAT

0 Antara nafsu dan cinta

Kejadiannya dimulai 4 atau 5 tahun yang lalu. Waktu itu produksi di perusahaanku sedang booming sehingga diadakan penerimaan karyawati baru. Diantara sekian banyak pelamar ada satu yang jelas kulihat sangat berbeda. Kulitnya putih bersih, raut wajahnya cantik, dan bulu-bulu halus tampak jelas hitam kontras dengan warna kulitnya. Aku segera ke bagian personalia meminta data-datanya, setelah kulihat CV-nya yang cukup baik, aku meminta kepada personalia untuk dijadikan asistenku, akhirnya setelah melewati proses yang cukup rumit dia menjadi asistenku.

Mula pertama dia bekerja, aku sudah dapat melihat kecerdasannya dalam menangani pekerjaan, semua pekerjaan yang kuberikan dapat diselesaikannya dengan baik. Seperti pepatah Jawa bilang "Witing tresno jalaran soko kulino" Kebersamaan akan menumbuhkan rasa sayang, begitu pula yang terjadi denganku. Aku yang pada mulanya sudah tertarik pada pandangan pertama kian jatuh dalam perangkap asmaranya. Kucoba mengakrabkan diri dengannya, keluar makan bareng sering kami lakukan, tapi sampai saat itu aku belum berani macam-macam kepadanya, karena dia pernah mengungkapkan bahwa dia sudah mempunyai pacar. Memang sejak saat dia mengungkapkan bahwa dia sudah punya pacar, keinginanku untuk menjadikannya sebagai kekasih sudah hilang.

Setelah melewati masa pendekatan yang cukup panjang, akhirnya aku bisa mengajaknya Weekend. Karena saat itu katanya pacarnya sedang ditugaskan ke luar kota. Aku membawanya menuju pantai Ancol yang romantis. Sambil menyantap nasi goreng kami mengobrol panjang lebar, dari situ kuketahui bahwa ternyata dia berasal dari keluarga Broken, ayahnya kawin lagi saat usianya baru 3 tahun, hingga dia merasakan kurang kasih sayang dari ayahnya.

Kurengkuh dia dalam pelukanku, kubelai rambutnya yang hitam. Ombak di laut semakin beriak menyaksikan kemesraan kami. Perlahan kukecup keningnya, dia memejamkan matanya, bibirnya yang sensual sedikit terbuka seakan mengundangku untuk melumatnya, namun aku tidak berani gegabah, aku hanya mencium pipinya.

"San, boleh Bapak mengekspresikan rasa sayang Bapak", bisikku lembut di telinganya. Dia hanya diam mungkin masih mencerna arti kalimatku.
"Kalau Bapak memang sayang sama Santi, jangan sekali-kali Bapak mengecewakan Santi", jawabnya manja.
"Bapak tidak pernah mengecewakan wanita, Sayang" jawabku lembut. Kurapikan rambutnya yang diterpa angin laut dengan jari-jariku, tiba-tiba Dia mengambil tanganku dari keningnya dan mencium dengan bibirnya.
"Santi sayang sama Bapak! Santi nggak mau kehilangan Bapak", air matanya terasa hangat di jari-jariku. Kuseka air matanya dengan sapu tanganku.
"Bapak tidak akan meninggalkan Santi", janjiku. Bibirnya tersenyum tipis mendengar janjiku.

Perlahan kudaratkan bibirku di bibirnya, terasa hangat menjalar ke seluruh tubuhku, aku melumat bibirnya dengan perlahan.
"Kenapa Santi tidak membalas ciuman Bapak.."
"Santi tidak mengerti, Pak!"
Aku hanya diam dan berfikir, benarkah anak jaman sekarang belum mengenal arti ciuman.
"Memangnya Santi tidak pernah melakukannya dengan pacar Santi?"
"Belum, Ppak.."

Akhirnya setelah saya ajarkan secara singkat, dia mulai dapat membalas lumatan dan permainan lidahku. Tanganku mulai menjalajahi dadanya, kuremas perlahan dengan gerakan memutar, sementara bibirku mulai menjelajahi lehernya yang indah. Kubuka kancing bajunya yang paling atas, jari-jariku segera menerobos ke dalam bajunya yang sudah terbuka, aku merasakan tonjolan lembut, tidak besar namun halus sekali. Jari- jariku berputar mencari puting buah dadanya, sementara bibirku sudah sampai di belakang telinganya. Susah sekali mencari puting buah dadanya, karena masih belum tumbuh, putingnya masih mungil dan rata dengan gundukan buah dadanya, pertanda belum terjamah oleh siapa pun. Perlahan tapi pasti putingnya mulai mencuat ke atas, jari-jariku semakin aktif memilinnya dengan gerakan memutar. Sementara tangannya menekan tanganku sehingga tekanan pada buah dadanya semakin keras.

"Pak.. nikmat, teruskan.." erangan yang keluar dari mulutnya semakin membuatku semangat, tapi aku masih sadar bahwa aku di tempat terbuka. Aku segera menghentikan aktivitasku dan merapikan kancing bajunya yang terbuka.
"Kenapa, Pak?" tanya Santi keheranan.
"Ini kan tempat umum Sayang, bagaimana kalau kita sewa cottage saja."
"Tidak mau! Santi takut."
"Nggak apa, Bapak tidak akan berbuat macam-macam terhadap Santi", aku merayunya.
"Santi tidak akan mau, Pak!" tegasnya.
Aku tidak memaksa lebih lanjut, aku hanya diam.
"Bapak marah ya sama Santi."
"Tidak Sayang, Bapak hanya sedikit pusing."
Aku rengkuh dia dalam pelukanku.
"Kenapa?" tanyanya polos.
Aku sungguh bingung menjelaskannya, aku pusing karena sedang 'on', Batang kejantananku terasa berdenyut-denyut terus.
"Bagaimana kalau kita teruskan di mobil, Sayang" ajakku. Dia mengangguk.

Setelah setelan jok kurebahkan, aku kembali mencumbuinya, meneruskan kemesraan yang tadi tertunda meskipun di dalam mobil sempit tapi tidak ada seorang pun yang dapat melihat kami. Bajunya sudah kutanggalkan sehingga aku dengan bebas dapat mencumbui dadanya, saat lidahku yang hangat dan basah menjilati puting buah dadanya yang masih mungil, erangan lirih semakin sering keluar dari bibirnya. "Jangan berisik, Sayang" aku mengingatkannya, karena aku takut terdengar keluar. Tapi hanya sebentar saja, kembali mulutnya mengeluarkan erangan, terlebih saat puting buah dadanya kuhisap dan kugigit pelan. Gundukan buah dadanya yang halus kuhisap kuat-kuat sehingga meninggalkan bercak merah sesudahnya.

Tanganku segera bergerak mengangkat roknya. Aku merasakan kulit pahanya yang ditumbuhi bulu-bulu halus, kupilin-pilin pahanya yang gempal, dan saat tanganku bergerak menarik celana dalamnya, tangannya menahan tanganku. "Jangan Pak, yang satu itu jangan.." Aku yang sudah dikuasai nafsu tak mempedulikannya. Aku terus berusaha menanggalkan celana dalamnya tapi cekalan tangannya semakin kuat menahan gerakan tanganku. Aku tidak memaksa lagi.
"Kenapa?" bisikku, "Santi tidak sayang sama Bapak?"
"Bapak boleh mencumbu apa saja, tapi yang satu itu jangan, saya masih perawan, Pak!"
"Tapi dari erangan yang keluar, sepertinya Santi sudah pengalaman."
"Santi sendiri tidak sadar, Pak. Bahkan pernah saat Santi masturbasi di kamar, Ibu menegur Santi, karena erangan Santi terdengar ke luar kamar, Santi sampai malu waktu itu, Pak."
Aku hanya mengangguk, berarti erangan-erangannya yang heboh tadi hanya bawaan sifat saja.
"Ya, sudah! Santi bisa buat Bapak orgasme dengan tangan, bisa kan?" aku menyerah, pikiranku cuma satu, bagaimana melepaskan air maniku yang rasanya sudah mengumpul penuh di buah zakarku.
"Santi belum pernah, Pak!"
"Coba dulu dong, katanya Santi sayang sama Bapak."
"Iya Pak"

Aku ajarkan kepadanya cara onani yang membuat nikmat lelaki, setelah kurasa dia bisa. aku segera mengeluarkan senjataku yang sudah tegang.
"Aw.. besar banget Pak."
"Nggak apa, sini" aku bimbing tangannya ke senjataku.
Aku mulai merasakan genggamannya yang hangat, perlahan jari-jarinya yang lentik bergerak ke atas ke bawah mengocok batang kejantananku, aku mulai merasakan nikmat, sembari rebahan di jok aku memejamkan mata membayangkan bahwa saat itu senjataku sedang terbenam di dalam kemaluan Tamara Blezinky artis idolaku. Berfikir seperti itu senjataku semakin mengeras dan berdenyut-denyut.

"Pak, tangan Santi capek, Pak!" tiba-tiba saja Santi membuyarkan khayalanku. Aku yang sudah spanning langsung merengkuh lehernya dan membenamkan wajahnya ke dadaku.
"Lakukan seperti yang tadi Bapak lakukan terhadap Santi", sambil mengarahkan mulutnya yang mungil ke dadaku.
"Loh, Bapak kan lelaki"
"Sama saja, San, laki-laki juga perlu rangsangan biar cepat orgasme" Tanpa dikomando dua kali mulutnya yang mungil mulai menciumi dadaku sementara jari-jarinya terus mengocok batang kejantananku, perlahan aku merasakan nafasku semakin memburu, butir-butir keringat membasahi seluruh tubuhku.

"Terus, San.. Bapak mau keluar" Gerakan tangannya semakin cepat, kepala kemaluanku semakin mengkilat oleh pelumas yang dikeluarkan batanganku, sementara lidahnya yang runcing dan hangat terasa menggelitik puting dadaku bahkan dihisapnya, membuat sensasi tersendiri di seluruh aliran darahku.

Setengah jam berlalu, aku merasakan batang kejantananku semakin menggembung, akhirnya berbarengan dengan hisapan kuat di puting dadaku, kukeluarkan spermaku hingga muncrat dan mendarat di perutku.
"Sudah San, Bapak sudah keluar", aku melepaskan genggaman tangannya di batang kemaluanku.
"Capek sekali tangan Santi, Pak!, rasanya sudah tak sanggup lagi digerakkan."
"Bapak lama sih keluarnya."
Aku hanya diam dan mencium keningnya sebagai ungkapan rasa sayang dan puas atas segalanya.

Sepanjang perjalanan pulang, kami semakin akrab dan mesra, kami membuat perjanjian bahwa kami boleh berpacaran dengan siapa pun asalkan kebersamaan kita tidak akan hilang sampai kapan pun. Aku hanya mengangguk setuju.
Buat cewek-cewek yang mau advise atau berkenalan kirim aja e-mail.

TAMAT

0 Antara nafsu dan cinta

Kejadiannya dimulai 4 atau 5 tahun yang lalu. Waktu itu produksi di perusahaanku sedang booming sehingga diadakan penerimaan karyawati baru. Diantara sekian banyak pelamar ada satu yang jelas kulihat sangat berbeda. Kulitnya putih bersih, raut wajahnya cantik, dan bulu-bulu halus tampak jelas hitam kontras dengan warna kulitnya. Aku segera ke bagian personalia meminta data-datanya, setelah kulihat CV-nya yang cukup baik, aku meminta kepada personalia untuk dijadikan asistenku, akhirnya setelah melewati proses yang cukup rumit dia menjadi asistenku.

Mula pertama dia bekerja, aku sudah dapat melihat kecerdasannya dalam menangani pekerjaan, semua pekerjaan yang kuberikan dapat diselesaikannya dengan baik. Seperti pepatah Jawa bilang "Witing tresno jalaran soko kulino" Kebersamaan akan menumbuhkan rasa sayang, begitu pula yang terjadi denganku. Aku yang pada mulanya sudah tertarik pada pandangan pertama kian jatuh dalam perangkap asmaranya. Kucoba mengakrabkan diri dengannya, keluar makan bareng sering kami lakukan, tapi sampai saat itu aku belum berani macam-macam kepadanya, karena dia pernah mengungkapkan bahwa dia sudah mempunyai pacar. Memang sejak saat dia mengungkapkan bahwa dia sudah punya pacar, keinginanku untuk menjadikannya sebagai kekasih sudah hilang.

Setelah melewati masa pendekatan yang cukup panjang, akhirnya aku bisa mengajaknya Weekend. Karena saat itu katanya pacarnya sedang ditugaskan ke luar kota. Aku membawanya menuju pantai Ancol yang romantis. Sambil menyantap nasi goreng kami mengobrol panjang lebar, dari situ kuketahui bahwa ternyata dia berasal dari keluarga Broken, ayahnya kawin lagi saat usianya baru 3 tahun, hingga dia merasakan kurang kasih sayang dari ayahnya.

Kurengkuh dia dalam pelukanku, kubelai rambutnya yang hitam. Ombak di laut semakin beriak menyaksikan kemesraan kami. Perlahan kukecup keningnya, dia memejamkan matanya, bibirnya yang sensual sedikit terbuka seakan mengundangku untuk melumatnya, namun aku tidak berani gegabah, aku hanya mencium pipinya.

"San, boleh Bapak mengekspresikan rasa sayang Bapak", bisikku lembut di telinganya. Dia hanya diam mungkin masih mencerna arti kalimatku.
"Kalau Bapak memang sayang sama Santi, jangan sekali-kali Bapak mengecewakan Santi", jawabnya manja.
"Bapak tidak pernah mengecewakan wanita, Sayang" jawabku lembut. Kurapikan rambutnya yang diterpa angin laut dengan jari-jariku, tiba-tiba Dia mengambil tanganku dari keningnya dan mencium dengan bibirnya.
"Santi sayang sama Bapak! Santi nggak mau kehilangan Bapak", air matanya terasa hangat di jari-jariku. Kuseka air matanya dengan sapu tanganku.
"Bapak tidak akan meninggalkan Santi", janjiku. Bibirnya tersenyum tipis mendengar janjiku.

Perlahan kudaratkan bibirku di bibirnya, terasa hangat menjalar ke seluruh tubuhku, aku melumat bibirnya dengan perlahan.
"Kenapa Santi tidak membalas ciuman Bapak.."
"Santi tidak mengerti, Pak!"
Aku hanya diam dan berfikir, benarkah anak jaman sekarang belum mengenal arti ciuman.
"Memangnya Santi tidak pernah melakukannya dengan pacar Santi?"
"Belum, Ppak.."

Akhirnya setelah saya ajarkan secara singkat, dia mulai dapat membalas lumatan dan permainan lidahku. Tanganku mulai menjalajahi dadanya, kuremas perlahan dengan gerakan memutar, sementara bibirku mulai menjelajahi lehernya yang indah. Kubuka kancing bajunya yang paling atas, jari-jariku segera menerobos ke dalam bajunya yang sudah terbuka, aku merasakan tonjolan lembut, tidak besar namun halus sekali. Jari- jariku berputar mencari puting buah dadanya, sementara bibirku sudah sampai di belakang telinganya. Susah sekali mencari puting buah dadanya, karena masih belum tumbuh, putingnya masih mungil dan rata dengan gundukan buah dadanya, pertanda belum terjamah oleh siapa pun. Perlahan tapi pasti putingnya mulai mencuat ke atas, jari-jariku semakin aktif memilinnya dengan gerakan memutar. Sementara tangannya menekan tanganku sehingga tekanan pada buah dadanya semakin keras.

"Pak.. nikmat, teruskan.." erangan yang keluar dari mulutnya semakin membuatku semangat, tapi aku masih sadar bahwa aku di tempat terbuka. Aku segera menghentikan aktivitasku dan merapikan kancing bajunya yang terbuka.
"Kenapa, Pak?" tanya Santi keheranan.
"Ini kan tempat umum Sayang, bagaimana kalau kita sewa cottage saja."
"Tidak mau! Santi takut."
"Nggak apa, Bapak tidak akan berbuat macam-macam terhadap Santi", aku merayunya.
"Santi tidak akan mau, Pak!" tegasnya.
Aku tidak memaksa lebih lanjut, aku hanya diam.
"Bapak marah ya sama Santi."
"Tidak Sayang, Bapak hanya sedikit pusing."
Aku rengkuh dia dalam pelukanku.
"Kenapa?" tanyanya polos.
Aku sungguh bingung menjelaskannya, aku pusing karena sedang 'on', Batang kejantananku terasa berdenyut-denyut terus.
"Bagaimana kalau kita teruskan di mobil, Sayang" ajakku. Dia mengangguk.

Setelah setelan jok kurebahkan, aku kembali mencumbuinya, meneruskan kemesraan yang tadi tertunda meskipun di dalam mobil sempit tapi tidak ada seorang pun yang dapat melihat kami. Bajunya sudah kutanggalkan sehingga aku dengan bebas dapat mencumbui dadanya, saat lidahku yang hangat dan basah menjilati puting buah dadanya yang masih mungil, erangan lirih semakin sering keluar dari bibirnya. "Jangan berisik, Sayang" aku mengingatkannya, karena aku takut terdengar keluar. Tapi hanya sebentar saja, kembali mulutnya mengeluarkan erangan, terlebih saat puting buah dadanya kuhisap dan kugigit pelan. Gundukan buah dadanya yang halus kuhisap kuat-kuat sehingga meninggalkan bercak merah sesudahnya.

Tanganku segera bergerak mengangkat roknya. Aku merasakan kulit pahanya yang ditumbuhi bulu-bulu halus, kupilin-pilin pahanya yang gempal, dan saat tanganku bergerak menarik celana dalamnya, tangannya menahan tanganku. "Jangan Pak, yang satu itu jangan.." Aku yang sudah dikuasai nafsu tak mempedulikannya. Aku terus berusaha menanggalkan celana dalamnya tapi cekalan tangannya semakin kuat menahan gerakan tanganku. Aku tidak memaksa lagi.
"Kenapa?" bisikku, "Santi tidak sayang sama Bapak?"
"Bapak boleh mencumbu apa saja, tapi yang satu itu jangan, saya masih perawan, Pak!"
"Tapi dari erangan yang keluar, sepertinya Santi sudah pengalaman."
"Santi sendiri tidak sadar, Pak. Bahkan pernah saat Santi masturbasi di kamar, Ibu menegur Santi, karena erangan Santi terdengar ke luar kamar, Santi sampai malu waktu itu, Pak."
Aku hanya mengangguk, berarti erangan-erangannya yang heboh tadi hanya bawaan sifat saja.
"Ya, sudah! Santi bisa buat Bapak orgasme dengan tangan, bisa kan?" aku menyerah, pikiranku cuma satu, bagaimana melepaskan air maniku yang rasanya sudah mengumpul penuh di buah zakarku.
"Santi belum pernah, Pak!"
"Coba dulu dong, katanya Santi sayang sama Bapak."
"Iya Pak"

Aku ajarkan kepadanya cara onani yang membuat nikmat lelaki, setelah kurasa dia bisa. aku segera mengeluarkan senjataku yang sudah tegang.
"Aw.. besar banget Pak."
"Nggak apa, sini" aku bimbing tangannya ke senjataku.
Aku mulai merasakan genggamannya yang hangat, perlahan jari-jarinya yang lentik bergerak ke atas ke bawah mengocok batang kejantananku, aku mulai merasakan nikmat, sembari rebahan di jok aku memejamkan mata membayangkan bahwa saat itu senjataku sedang terbenam di dalam kemaluan Tamara Blezinky artis idolaku. Berfikir seperti itu senjataku semakin mengeras dan berdenyut-denyut.

"Pak, tangan Santi capek, Pak!" tiba-tiba saja Santi membuyarkan khayalanku. Aku yang sudah spanning langsung merengkuh lehernya dan membenamkan wajahnya ke dadaku.
"Lakukan seperti yang tadi Bapak lakukan terhadap Santi", sambil mengarahkan mulutnya yang mungil ke dadaku.
"Loh, Bapak kan lelaki"
"Sama saja, San, laki-laki juga perlu rangsangan biar cepat orgasme" Tanpa dikomando dua kali mulutnya yang mungil mulai menciumi dadaku sementara jari-jarinya terus mengocok batang kejantananku, perlahan aku merasakan nafasku semakin memburu, butir-butir keringat membasahi seluruh tubuhku.

"Terus, San.. Bapak mau keluar" Gerakan tangannya semakin cepat, kepala kemaluanku semakin mengkilat oleh pelumas yang dikeluarkan batanganku, sementara lidahnya yang runcing dan hangat terasa menggelitik puting dadaku bahkan dihisapnya, membuat sensasi tersendiri di seluruh aliran darahku.

Setengah jam berlalu, aku merasakan batang kejantananku semakin menggembung, akhirnya berbarengan dengan hisapan kuat di puting dadaku, kukeluarkan spermaku hingga muncrat dan mendarat di perutku.
"Sudah San, Bapak sudah keluar", aku melepaskan genggaman tangannya di batang kemaluanku.
"Capek sekali tangan Santi, Pak!, rasanya sudah tak sanggup lagi digerakkan."
"Bapak lama sih keluarnya."
Aku hanya diam dan mencium keningnya sebagai ungkapan rasa sayang dan puas atas segalanya.

Sepanjang perjalanan pulang, kami semakin akrab dan mesra, kami membuat perjanjian bahwa kami boleh berpacaran dengan siapa pun asalkan kebersamaan kita tidak akan hilang sampai kapan pun. Aku hanya mengangguk setuju.
Buat cewek-cewek yang mau advise atau berkenalan kirim aja e-mail.

TAMAT

Selasa, 29 Maret 2011

0 Pesiar bersama Grace - 1

Kisah nyata ini bermula ketika saya mengikuti test penerimaan karyawan sebuah perusahaan di kota Mataram. Pada hari Sabtu jam 10.20 yang telah ditentukan, saya diinterview pada session terakhir.

"Saudara Andi, silakan" panggil resepsionis cewek itu mengajak saya ke sebuah ruangan.

Di ruangan itu sudah duduk seorang wanita yang cantik, seperti artis mandarin yang ternyata adalah seorang Manager HRD. Memakai setelan hem, dalamnya berwarna putih dan jasnya merah serta dipadu rok mini merah, kulitnya putih bersih karena masih ada keturunan tionghoa. Saya perkirakan umurnya masih muda sekitar 26 tahunan.

"Permisi Bu.."
"Selamat pagi, silakan duduk" sapanya ramah mempersilakan saya duduk di sofa yang cuma dibatasi dengan meja kecil hingga kami saling berhadapan.
"Oh ya, kenalkan saya Grace"
"Andi Bu" jawab saya sambil bersalaman dengannya.
"Panggil Mbak aja ya"
"Iya.. Mbak"

Setelah acara tanya jawab mengenai bidang yang saya lamar dan bagaimana tanggapan dari perusahaan, akhirnya sampailah pada pertanyaan yang terakhir.

"Dulu apa pekerjaannya, Andi?" tanya Grace sambil menopangkan sebelah kakinya yang putih itu.

Duh cantiknya cewek ini, udah putih, cantik lagi seperti artis Mandarin di Hongkong itu, pikirku. Kuperkirakan tingginya 170 cm/56 kg dengan pinggang yang langsing, pokoknya seksi deh.

"Sampai sekarang sih masih sebagai free guide" jawab saya jujur.
"Maksudnya..?"
"Pemandu tour lepasan untuk turis domestik, begitu"
"Oh gitu, sebetulnya perusahaan ini membutuhkan orang yang berkualitas tinggi"
"Jadi maaf ya, Andi belum bisa memenuhi syarat yang ditentukan perusahaan"
"Nggak apa-apa kok Mbak, saya bisa menerimanya"
"Oh ya, saya cuma sebentar di Lombok ini, kira-kira dua mingguan"
"Maksud Mbak..?" tanya saya nggak ngerti.
"Kalo saya minta Andi menjadi tour guide saya selama dua minggu, berapa biayanya?"
"Terserah Mbak aja, pokoknya ditanggung puas deh jalan-jalan ke pulau Lombok" jawab saya senang, meskipun tidak dapat pekerjaan tapi ada order nih, cantik lagi.
"Besok ya, jam 09.00 di hotel Senggigi Beach, saya tunggu"
"Ya Mbak, pasti saya datang"
"Permisi Mbak"
"Ya, silakan" jawab Mbak Grace mengantar saya keluar ruangan.

*****

Tepat jam 09.20 esoknya, saya sampai di hotel Senggigi Beach tempat Mbak Grace menginap.

"Selamat pagi Mbak, kamar Mbak Grace yang mana ya?" tanya saya pada recepsionis hotel itu.
"Oh, Pak Andi ya, sudah ditunggu di lobi hotel sama Ibu Grace"
"Terima kasih Mbak"
"Sama-sama"

Ternyata Mbak Grace sudah menunggu di lobi dengan kaos ketat berwarna biru hingga samar-samar kelihatan payudaranya yang masih terbungkus BH menonjol di balik kaos gaulnya dan dipadu celana panjang jins, kelihatannya jauh sekali dari formalitas.

"Maaf Mbak, kelamaan nunggu ya?"
"Nggak apa-apa kok, tapi panggil Grace aja ya"
"Ya Mbak.. E.. Eh.. Grace"
"Andi, bisa nyopir khan?"
"Bisa.. emangnya kenapa"
"Tadi saya pinjam mobil kantor untuk jalan-jalan"
"Oh, bisa kok Mbak, jadi kita nggak perlu pake taksi"
"Grace pengin liat tempat gerabah dulu ya"
"Ya, ayo kita berangkat sekarang" ajak saya sambil menggandeng tangannya, rupanya Grace tidak keberatan saya gandeng tanggannya yang putih mulus itu.

Pada jam 09.40 kami berangkat ke desa Banyumulek, tempat gerabah khas Lombok yang luarnya memakai anyaman rotan itu, jaraknya di luar kota Mataram. Setelah sampai, Grace membeli beberapa gerabah hingga jam 12.10 dan kami kembali lagi ke Mataram untuk makan siang.

"Terus mau kemana lagi Grace?" tanya saya padanya dalam mobil yang akan menuju hotel.
"Temenin saya berenang yuk"
"Ayo, tapi saya nggak bawa baju renang nich"
"Ah, gampang nanti saya beliin, gimana?"
"OK boss"

Maka sampailah kami di hotel Senggigi Beach, ternyata kolam renang tidak begitu ramai dengan orang, cuma ada beberapa bule sedang berjemur.

"Tunggu di sini ya Ndi, saya mau ganti baju dulu" celoteh Grace sambil berlalu ke ruang ganti.

Setelah beberapa saat, wow.. Grace sudah berganti dengan baju renang yang seksi sekali, berwarna putih selaras dengan kulitnya dan payudaranya menonjol dari balik baju renangnya.

"Ayo Ndi, kok bengong aja" katanya mengagetkan saya dan kami pun berenang di dalam kolam yang cukup besar itu.

Kami berenang sampai jam 17.10 sore dan lalu Grace mengajak saya mengakhiri dulu acara renangnya.

"Sampai besok ya Ndi"
"Ya, sampai besok Grace" jawab saya sambil menelan ludah karena membayangkan betapa putih dan seksinya Grace memakai pakaian renangnya itu.

Beruntung sekali jika saya bisa memeluk atau bahkan making love dengannya. Ah tapi itu cuma angan-angan saya saja. Hari berikutnya saya antar Grace ke pemandian alam Suranadi, tempat air awet muda di Narmada, dan beberapa tempat wisata lainnya.

"Kita ke mall yuk" ajak Grace sambil menggandeng tangan saya mesra bagai sepasang kekasih saja.
"Ada acara apa nich ke mall?" tanya saya sambil melirik Grace yang duduk dengan santai dan seenaknya, bahkan kadang-kadang rok mininya memperlihatkan hampir separuh lebih pahanya yang putih mulus hingga si boy jadi tidak tenang, kapan ya bisa bergesekan dengannya, pasti sedap, pikirku.
"Saya mau beli pakaian atas nich" jawabnya.

Selama sepuluh hari berlalu, kami sudah menjadi akrab sekali. Siang itu Grace mengenakan kaos ketat putih bergambar panda yang dipadu dengan rok jins mini berwarna biru dengan sabuknya yang besar, saya tidak tahu apakah ini model baju gaul jaman sekarang atau kreasi Grace sendiri. Mall Cilinaya itu sungguh ramai pada saat hari Minggu, hingga saya bisa menggandeng pinggang Grace yang ramping itu dan wangi tubuhnya sungguh harum sekali. Rupanya Grace tidak keberatan saya peluk pinggangnya. Ini baru lumayan, pelan-pelan ada kesempatan nih, pembaca.

"Kita cari baju yuk" ajaknya ke toko baju dalam mall tersebut.
"Okey.."
"Ini bagus nggak Ndi?" tanyanya sambil memperlihatkan hem merah.
"Bagus juga kok Grace, cobain aja" jawabku.
"Iya deh" jawabnya sambil menuju ruang ganti.

Tentu saja saya mengikutinya dan membantu menutup kain tempat mencoba baju itu, namun yang membuat saya berdebar-debar, ternyata ada celah sedikit untuk mengintip ruang ganti itu, mungkin saja Grace tidak tahu atau pura-pura tidak tahu. Pertama-tama Grace membuka kaos ketat warna putihnya hingga sekarang tampak kelihatan BH warna kuningnya yang sungguh indah, membuat si boy langsung berdiri, kemudian ia mencoba hem merah itu dan ternyata pas sekali dengan bentuk tubuh Grace. Setelah cocok dan membayar harganya, saya mengajak Grace mencoba naik cidomo (semacam dokar yang ditarik oleh kuda), sedangkan mobil masih diparkir di Mall supaya aman.

"Gimana Grace, rasanya naik cidomo?" tanya saya sambil memperhatikan rok mininya yang tadi agak tersingkap pada saat naik cidomo hingga kelihatan sedikit celana dalamnya yang berwarna putih polos. Si boy langsung berdiri hingga celana jins saya jadi sesak.
"Lucu ya, naik cidomo begini"
"Ya, ini namanya kendaraan tradisional khas daerah sini"
"Oh, gitu.."

Setelah bolak balik naik cidomo, kami kembali ke hotel supaya Grace bisa beristirahat.

"Ndi, kamu tadi ngintip saya ya?" tanya Grace tiba-tiba sambil menatap saya lekat.
"E.. Eh.. Ya.. Nggak sengaja kok" kata saya tergagap-gagap karena kaget bahwa Grace tahu tadi saya memperhatikan wilayah pribadinya. Saya pasrah saja kalau akan dimaki atau bahkan diusir.
"Mmh.. Gitu ya"
"Maaf ya Grace, saya nggak sengaja kok, kalo Grace nggak suka saya bisa pergi sekarang kok" jawab saya sambil akan meninggalkannya.
"Tunggu.. Ndi, sebetulnya Grace nggak apa-apa kok"
"Terima kasih kalo begitu" jawab saya yang tidak jadi meninggalkannya, bahkan sempat duduk di hadapannya kembali.
"Gimana badannya Grace?" tanyanya lagi dengan antusias.

Wah ada kesempatan lagi, saya ingin berusaha membujuk Grace supaya mau making love dengan saya siang ini, paling-paling ditolak atau diusir, itu resikonya.

"Seksi sekali" jawabku.
"Yang bener" tanyanya memastikan.
"Abis bodinya Grace seksi sich, rajin fitness ya"
"Iya, ini akibat latihan fitness"
"Ndi, masuk kamar yuk, soalnya panas di luar" ajak Grace tiba-tiba sambil menggandeng tangan saya masuk kamar kelas VIP itu, sungguh kamar yang bagus sekali.

Tiba-tiba HP Grace berdering, dan Grace menjawab HP-nya sambil duduk di sofa. Wow, sekarang dengan jelas sekali kelihatan CD-nya yang berwarna putih karena duduknya yang agak membuka kedua pahanya itu. Sungguh pemandangan yang indah sekali. Setelah Grace menutup HP-nya, Grace menatap saya dengan pandangan yang lain.

"Ada apa Grace?" tanya saya sambil duduk di sampingnya.
"Mungkin satu atau dua hari lagi saya kembali ke Jakarta" jawabnya sambil menyandarkan kepalanya pada pundak saya.
"Lho, kok cepat sekali" tanya saya sambil mengelus pundak kirinya pelan.
"Biasa, panggilan dari bos besar.." jawabya sambil mengusap-ngusap paha kiri saya dengan mesra.
"Gimana kalo sekarang, Andi kasih hadiah"
"Hadiah apa, pasti asyik nih?" celoteh Grace penasaran sambil menatap saya serius.
"Gimana, kalo hadiahnya berupa ciuman"
"Hush, ngawur kamu, khan udah kukasih liat" celotehnya sambil nyengir.
"Lho, ini khan ada rasanya" jawab saya nggak mau kalah sambil tangan kanan saya mengusap-usap pipinya yang putih mulus.
"Geli tau.." tolaknya manja.
"Lama-lama enak kok" rayu saya sambil mencium lehernya, bahkan menjilatinya sedikit demi sedikit supaya Grace merasakan rangsangan.
"Jang.. An.. Ndi.. Kamu.. Nakal.." sentak Grace sambil mendorong tubuh saya, namun dorongannya malah membuat kami berdua jatuh ke sofa dengan posisi saya menindih Grace.

Kesempatan itu tak saya sia-siakan karena langsung saja saya cium bibirnya yang merah basah. Beberapa saat Grace masih memberontak lemah dan pergumulan itu semakin membuat tangan kanan saya menekan-nekan payudaranya yang masih terbungkus kaos dan tangan kiri saya memegang kepalanya.

"Mmh.." guman Grace karena mulutnya penuh oleh lidah saya yang berusaha membelitnya dan kembali ke lehernya yang putih bersih, terus menjilatinya dengan gemas.
"Sst.. Jann.. Ngan.. Sst.." celotehan dan sedikit rintihan Grace membuat saya tahu bawah Grace sekarang agak terangsang, dan perlawanannya sudah mulai semakin lemah.
"Aduh.. Sst.. Ndi.. Pelan-pelan.." rintihnya sambil memegang tangan saya yang sedang meremas payudaranya.

Bersambung . . . .

0 Pesiar bersama Grace - 1

Kisah nyata ini bermula ketika saya mengikuti test penerimaan karyawan sebuah perusahaan di kota Mataram. Pada hari Sabtu jam 10.20 yang telah ditentukan, saya diinterview pada session terakhir.

"Saudara Andi, silakan" panggil resepsionis cewek itu mengajak saya ke sebuah ruangan.

Di ruangan itu sudah duduk seorang wanita yang cantik, seperti artis mandarin yang ternyata adalah seorang Manager HRD. Memakai setelan hem, dalamnya berwarna putih dan jasnya merah serta dipadu rok mini merah, kulitnya putih bersih karena masih ada keturunan tionghoa. Saya perkirakan umurnya masih muda sekitar 26 tahunan.

"Permisi Bu.."
"Selamat pagi, silakan duduk" sapanya ramah mempersilakan saya duduk di sofa yang cuma dibatasi dengan meja kecil hingga kami saling berhadapan.
"Oh ya, kenalkan saya Grace"
"Andi Bu" jawab saya sambil bersalaman dengannya.
"Panggil Mbak aja ya"
"Iya.. Mbak"

Setelah acara tanya jawab mengenai bidang yang saya lamar dan bagaimana tanggapan dari perusahaan, akhirnya sampailah pada pertanyaan yang terakhir.

"Dulu apa pekerjaannya, Andi?" tanya Grace sambil menopangkan sebelah kakinya yang putih itu.

Duh cantiknya cewek ini, udah putih, cantik lagi seperti artis Mandarin di Hongkong itu, pikirku. Kuperkirakan tingginya 170 cm/56 kg dengan pinggang yang langsing, pokoknya seksi deh.

"Sampai sekarang sih masih sebagai free guide" jawab saya jujur.
"Maksudnya..?"
"Pemandu tour lepasan untuk turis domestik, begitu"
"Oh gitu, sebetulnya perusahaan ini membutuhkan orang yang berkualitas tinggi"
"Jadi maaf ya, Andi belum bisa memenuhi syarat yang ditentukan perusahaan"
"Nggak apa-apa kok Mbak, saya bisa menerimanya"
"Oh ya, saya cuma sebentar di Lombok ini, kira-kira dua mingguan"
"Maksud Mbak..?" tanya saya nggak ngerti.
"Kalo saya minta Andi menjadi tour guide saya selama dua minggu, berapa biayanya?"
"Terserah Mbak aja, pokoknya ditanggung puas deh jalan-jalan ke pulau Lombok" jawab saya senang, meskipun tidak dapat pekerjaan tapi ada order nih, cantik lagi.
"Besok ya, jam 09.00 di hotel Senggigi Beach, saya tunggu"
"Ya Mbak, pasti saya datang"
"Permisi Mbak"
"Ya, silakan" jawab Mbak Grace mengantar saya keluar ruangan.

*****

Tepat jam 09.20 esoknya, saya sampai di hotel Senggigi Beach tempat Mbak Grace menginap.

"Selamat pagi Mbak, kamar Mbak Grace yang mana ya?" tanya saya pada recepsionis hotel itu.
"Oh, Pak Andi ya, sudah ditunggu di lobi hotel sama Ibu Grace"
"Terima kasih Mbak"
"Sama-sama"

Ternyata Mbak Grace sudah menunggu di lobi dengan kaos ketat berwarna biru hingga samar-samar kelihatan payudaranya yang masih terbungkus BH menonjol di balik kaos gaulnya dan dipadu celana panjang jins, kelihatannya jauh sekali dari formalitas.

"Maaf Mbak, kelamaan nunggu ya?"
"Nggak apa-apa kok, tapi panggil Grace aja ya"
"Ya Mbak.. E.. Eh.. Grace"
"Andi, bisa nyopir khan?"
"Bisa.. emangnya kenapa"
"Tadi saya pinjam mobil kantor untuk jalan-jalan"
"Oh, bisa kok Mbak, jadi kita nggak perlu pake taksi"
"Grace pengin liat tempat gerabah dulu ya"
"Ya, ayo kita berangkat sekarang" ajak saya sambil menggandeng tangannya, rupanya Grace tidak keberatan saya gandeng tanggannya yang putih mulus itu.

Pada jam 09.40 kami berangkat ke desa Banyumulek, tempat gerabah khas Lombok yang luarnya memakai anyaman rotan itu, jaraknya di luar kota Mataram. Setelah sampai, Grace membeli beberapa gerabah hingga jam 12.10 dan kami kembali lagi ke Mataram untuk makan siang.

"Terus mau kemana lagi Grace?" tanya saya padanya dalam mobil yang akan menuju hotel.
"Temenin saya berenang yuk"
"Ayo, tapi saya nggak bawa baju renang nich"
"Ah, gampang nanti saya beliin, gimana?"
"OK boss"

Maka sampailah kami di hotel Senggigi Beach, ternyata kolam renang tidak begitu ramai dengan orang, cuma ada beberapa bule sedang berjemur.

"Tunggu di sini ya Ndi, saya mau ganti baju dulu" celoteh Grace sambil berlalu ke ruang ganti.

Setelah beberapa saat, wow.. Grace sudah berganti dengan baju renang yang seksi sekali, berwarna putih selaras dengan kulitnya dan payudaranya menonjol dari balik baju renangnya.

"Ayo Ndi, kok bengong aja" katanya mengagetkan saya dan kami pun berenang di dalam kolam yang cukup besar itu.

Kami berenang sampai jam 17.10 sore dan lalu Grace mengajak saya mengakhiri dulu acara renangnya.

"Sampai besok ya Ndi"
"Ya, sampai besok Grace" jawab saya sambil menelan ludah karena membayangkan betapa putih dan seksinya Grace memakai pakaian renangnya itu.

Beruntung sekali jika saya bisa memeluk atau bahkan making love dengannya. Ah tapi itu cuma angan-angan saya saja. Hari berikutnya saya antar Grace ke pemandian alam Suranadi, tempat air awet muda di Narmada, dan beberapa tempat wisata lainnya.

"Kita ke mall yuk" ajak Grace sambil menggandeng tangan saya mesra bagai sepasang kekasih saja.
"Ada acara apa nich ke mall?" tanya saya sambil melirik Grace yang duduk dengan santai dan seenaknya, bahkan kadang-kadang rok mininya memperlihatkan hampir separuh lebih pahanya yang putih mulus hingga si boy jadi tidak tenang, kapan ya bisa bergesekan dengannya, pasti sedap, pikirku.
"Saya mau beli pakaian atas nich" jawabnya.

Selama sepuluh hari berlalu, kami sudah menjadi akrab sekali. Siang itu Grace mengenakan kaos ketat putih bergambar panda yang dipadu dengan rok jins mini berwarna biru dengan sabuknya yang besar, saya tidak tahu apakah ini model baju gaul jaman sekarang atau kreasi Grace sendiri. Mall Cilinaya itu sungguh ramai pada saat hari Minggu, hingga saya bisa menggandeng pinggang Grace yang ramping itu dan wangi tubuhnya sungguh harum sekali. Rupanya Grace tidak keberatan saya peluk pinggangnya. Ini baru lumayan, pelan-pelan ada kesempatan nih, pembaca.

"Kita cari baju yuk" ajaknya ke toko baju dalam mall tersebut.
"Okey.."
"Ini bagus nggak Ndi?" tanyanya sambil memperlihatkan hem merah.
"Bagus juga kok Grace, cobain aja" jawabku.
"Iya deh" jawabnya sambil menuju ruang ganti.

Tentu saja saya mengikutinya dan membantu menutup kain tempat mencoba baju itu, namun yang membuat saya berdebar-debar, ternyata ada celah sedikit untuk mengintip ruang ganti itu, mungkin saja Grace tidak tahu atau pura-pura tidak tahu. Pertama-tama Grace membuka kaos ketat warna putihnya hingga sekarang tampak kelihatan BH warna kuningnya yang sungguh indah, membuat si boy langsung berdiri, kemudian ia mencoba hem merah itu dan ternyata pas sekali dengan bentuk tubuh Grace. Setelah cocok dan membayar harganya, saya mengajak Grace mencoba naik cidomo (semacam dokar yang ditarik oleh kuda), sedangkan mobil masih diparkir di Mall supaya aman.

"Gimana Grace, rasanya naik cidomo?" tanya saya sambil memperhatikan rok mininya yang tadi agak tersingkap pada saat naik cidomo hingga kelihatan sedikit celana dalamnya yang berwarna putih polos. Si boy langsung berdiri hingga celana jins saya jadi sesak.
"Lucu ya, naik cidomo begini"
"Ya, ini namanya kendaraan tradisional khas daerah sini"
"Oh, gitu.."

Setelah bolak balik naik cidomo, kami kembali ke hotel supaya Grace bisa beristirahat.

"Ndi, kamu tadi ngintip saya ya?" tanya Grace tiba-tiba sambil menatap saya lekat.
"E.. Eh.. Ya.. Nggak sengaja kok" kata saya tergagap-gagap karena kaget bahwa Grace tahu tadi saya memperhatikan wilayah pribadinya. Saya pasrah saja kalau akan dimaki atau bahkan diusir.
"Mmh.. Gitu ya"
"Maaf ya Grace, saya nggak sengaja kok, kalo Grace nggak suka saya bisa pergi sekarang kok" jawab saya sambil akan meninggalkannya.
"Tunggu.. Ndi, sebetulnya Grace nggak apa-apa kok"
"Terima kasih kalo begitu" jawab saya yang tidak jadi meninggalkannya, bahkan sempat duduk di hadapannya kembali.
"Gimana badannya Grace?" tanyanya lagi dengan antusias.

Wah ada kesempatan lagi, saya ingin berusaha membujuk Grace supaya mau making love dengan saya siang ini, paling-paling ditolak atau diusir, itu resikonya.

"Seksi sekali" jawabku.
"Yang bener" tanyanya memastikan.
"Abis bodinya Grace seksi sich, rajin fitness ya"
"Iya, ini akibat latihan fitness"
"Ndi, masuk kamar yuk, soalnya panas di luar" ajak Grace tiba-tiba sambil menggandeng tangan saya masuk kamar kelas VIP itu, sungguh kamar yang bagus sekali.

Tiba-tiba HP Grace berdering, dan Grace menjawab HP-nya sambil duduk di sofa. Wow, sekarang dengan jelas sekali kelihatan CD-nya yang berwarna putih karena duduknya yang agak membuka kedua pahanya itu. Sungguh pemandangan yang indah sekali. Setelah Grace menutup HP-nya, Grace menatap saya dengan pandangan yang lain.

"Ada apa Grace?" tanya saya sambil duduk di sampingnya.
"Mungkin satu atau dua hari lagi saya kembali ke Jakarta" jawabnya sambil menyandarkan kepalanya pada pundak saya.
"Lho, kok cepat sekali" tanya saya sambil mengelus pundak kirinya pelan.
"Biasa, panggilan dari bos besar.." jawabya sambil mengusap-ngusap paha kiri saya dengan mesra.
"Gimana kalo sekarang, Andi kasih hadiah"
"Hadiah apa, pasti asyik nih?" celoteh Grace penasaran sambil menatap saya serius.
"Gimana, kalo hadiahnya berupa ciuman"
"Hush, ngawur kamu, khan udah kukasih liat" celotehnya sambil nyengir.
"Lho, ini khan ada rasanya" jawab saya nggak mau kalah sambil tangan kanan saya mengusap-usap pipinya yang putih mulus.
"Geli tau.." tolaknya manja.
"Lama-lama enak kok" rayu saya sambil mencium lehernya, bahkan menjilatinya sedikit demi sedikit supaya Grace merasakan rangsangan.
"Jang.. An.. Ndi.. Kamu.. Nakal.." sentak Grace sambil mendorong tubuh saya, namun dorongannya malah membuat kami berdua jatuh ke sofa dengan posisi saya menindih Grace.

Kesempatan itu tak saya sia-siakan karena langsung saja saya cium bibirnya yang merah basah. Beberapa saat Grace masih memberontak lemah dan pergumulan itu semakin membuat tangan kanan saya menekan-nekan payudaranya yang masih terbungkus kaos dan tangan kiri saya memegang kepalanya.

"Mmh.." guman Grace karena mulutnya penuh oleh lidah saya yang berusaha membelitnya dan kembali ke lehernya yang putih bersih, terus menjilatinya dengan gemas.
"Sst.. Jann.. Ngan.. Sst.." celotehan dan sedikit rintihan Grace membuat saya tahu bawah Grace sekarang agak terangsang, dan perlawanannya sudah mulai semakin lemah.
"Aduh.. Sst.. Ndi.. Pelan-pelan.." rintihnya sambil memegang tangan saya yang sedang meremas payudaranya.

Bersambung . . . .