Pages

Senin, 23 Agustus 2010

0 Variasi cinta - 2

Kurang lebih 20 menit Chal telah merangsang sekujur tubuh Gina sementara baju Gina telah terlepas membuat dia leluasa menggerayangi sekujur tubuh putih mulus itu. Terlihat Gina tersenyum puas dan memasrahkan diri sepenuhnya untuk diraba dan diremas oleh jari Chal dan Chal pun menciumi seluruh tubuh Gina yang telah polos sampai ke punggung pun dia ciumi dengan penuh gairah. Suatu pemandangan yang eksotik dan luar biasa, kupandangi kekasihku digerayangi dan dilumat habis seluruh badannya dan wajahnya tapi aku tidak cemburu, malah terasa puas dan bernafsu sendiri melihat adegan tersebut.

Sungguh sensasi luar biasa. Gina sudah bugil setengah badan ke atas tanpa sehelai benang pun di tubuh atasnya terlihat tonjolan buah dadanya yang putih bulat penuh mengeras dengan puting merah jambu dan sementara itu celana panjang Gina telah merosot sampai ke bawah dengkulnya sehingga dengan makin leluasa jemari bule tersebut meremas gumpalan daging kemaluan Gina dan jari tengahnya terus menggesek belahan kemaluan tersebut. Chal terus membelai belahan kemaluan Gina tanpa dia berusaha memasukkan jari tengah tersebut ke dalam kemaluan Gina yang telah terpampang dengan pasrah. Sementara Gina telah dalam posisi setengah rebahan dengan kaki terbuka atau bisa disebut mengangkangkan kakinya.

Chal melihat Gina sudah pasrah dan seluruh badannya bergetar seperti menahan sesuatu segera merubah posisi badannya menghadap ke Gina. Dia berlutut di depan Gina yang telah mengangkangkan kakinya sehingga posisi badannya sekarang telah berada di antara kedua kaki Gina yang mengangkang lebar dan lubang kemaluannya yang telah terlihat jelas telah basah. Karena posisi yang sempit di belakang mobil maka Chal mendorong dan melipat kursi di sampingku ke depan.

Wah aku takut juga kalau sampai batang kemaluan Chal yang panjang dan besar itu telah siap-siap mengarahkan ke belahan kemaluan Gina yang telah menantikan dengan mata terpejam dan mulut yang terbuka dengan desahan, "Jangan Chal.." desah Gina.
"Takuut.." erang Gina.
"Tidak apa-apa.. sakitnya hanya sebentar", desah Chal sambil mengambil posisi sementara tangannya terus merayap di sekujur tubuh Gina.
"Tapi aku takut tidak muaat.. nanti kemaluanku robeek.." kata Gina sambil ketakutan melihat batang kemaluan Chal yang benar-benar luar biasa besarnya telah berada di depan permukaan kemaluannya.

"Kamu harus mencobanya Gin.. pelan-pelan saja.." desah Chal sambil mulai mengarahkan batang kemaluannya ke lubang kemaluan Gina yang telah terbuka sedikit akibat jari-jari Chal yang terus membelai belahan kemaluan Gina. Rupanya Gina benar-benar takut dan membuatku juga ketakutan. Wah, bahaya nih kalau sampai ada apa-apa aku juga yang ketimpa pulungnya, kami berdua juga nanti menanggung resikonya. Mobil segera kupinggirkan di sisi jalan yang agak gelap dan kuhentikan secara perlahan. Setelah kurasa aman di sekitar jalan aku segera membalikkan tubuhku ke belakang untuk melihat lebih jelas lagi.

"Kamu jangan takut, saya tempelkan saja dahulu batang kemaluan ini sampai kamu nanti mau.." kata Chal merayu sambil lidahnya menjilati sekitar kuping Gina. Gina yang keenakan lalu membiarkan Chal melanjutkan aksinya, dengan menjepit pinggang Chal dengan kedua kakinya, Gina melihat batang kemaluan Chal yang besar itu ditempelkan tepat di belahan kemaluan Gina yang telah basah hanya setengah ke bawah menempel tepat di lubang kemaluan Gina sedangkan setengah lagi berada di atas belahan Gina, Gina merasa dengan posisi yang aman menerima kuluman Chal dan merasakan batang kemaluan besar milik Chal mulai secara perlahan menggeser di belahan kemaluannya.

"Oohh.. Chal.. enaakk.. emmhh.." erang Gina.
"Uuuff.." desah Chal keenakan.
"Yaa enakk Gin.." kata Chal.
"Teruss digeseek dan ditekan Chal.." pinta Gina.
"Ya sayang.." kata Chal mulai mempercepat gesekan di belahan kemaluan Gina. Dengan cara naik turun posisi badan Chal terlihat seperti ingin naik dan tidak.
"Tekan teruuss Chal.." erang Gina yang makin lama semakin keenakan.
"Enaakk.. oohh.. puasin aku Chal.. ahkk.." desah Gina dengan suara yang telah parau.

Posisi kaki Gina telah mengangkang dengan lebar membuat Chal lebih leluasa menggerakkan badannya kadang naik-turun dan kadang mendorongkan batang kemaluannya ke depan sehingga lebih menekan belahan kemaluan Gina. Kulihat kemaluan Gina telah terbelah bibir kemaluannya karena tekanan batang kemaluan Chal yang terus bergerak menekan belahan bibir kemaluan Gina, sementara terlihat batang kemaluan Chal mulai mengambil posisi setengah ke atas, batangnya yang menggeser belahan bibir kemaluan Gina dengan sedikit tekanan yang terus menerus. Kepala batang kemaluan Chal mulai secara beraturan menyentuh dan mendorong klitoris Gina yang telah terbuka.

"Aahh.. aduuhh.. ennaakk.. sshh", desah Gina sementara tangan Gina telah berada di belakang punggung Chal dan sambil menekan pantat Chal, Gina membetulkan arah gerakan batang kemaluan Chal yang terus berusaha mendobrak klitoris Gina.
"Emh.. uff.." erang Chal menahan sesuatu. Aku tahu dia sudah ingin menerobos masuk ke dalam lubang kemaluan Gina tapi kerena Gina tidak mengatakannya dia berusaha menahan keinginannya yang telah di kepalanya.

"Chal.. Chal.. eeng.." Gina bergumam, aku tahu kalau Gina telah siap dimasuki oleh batang kemaluan besar itu. Terlihat tangan Gina gerakannya sekarang mendorong dan menarik pantat Chal sedangkan posisi kepala batang kemaluan Chal telah terbenam melewati klitoris Gina. Terlihat batang kemaluan itu mulai bergerak mengikuti arahan Gina mencoba untuk terus menerobos liang kemaluan Gina yang terasa sempit sekali untuk ukuran batang kemaluan sebesar Chal. Kepala Gina sudah menengadah ke atas dengan mata terbelalak tinggal putihnya, sementara mulutnya terbuka mengerang, "Ahhkk.. sakiitt.. ahh.." Chal menahan aksinya dengan mulai menarik kepala batang kemaluannya yang telah terbenam di dalam kemaluan Gina. Dia melihat Gina dan ada perasaan sedikit takut dan ragu untuk meneruskan aksinya.

"Ginaa.. Ginnaa.. akhh", desah Chal meminta kepastian kesiapan Gina apakah seluruh batang kemaluannya dapat menerobos masuk ke dalam kemaluan Gina. Tapi Gina sudah tidak dapat berkata-kata karena mulutnya hanya dapat menganga terbuka.
"Ekhh.. akkhh.. oohkk", dengan keraguan Chal terus melanjutkan aksinya dengan posisi sama seperti sebelumnya. Terlihat batang kemaluan Chal terus berusaha menekan lubang kemaluan Gina dengan kepala batang kemaluannya yang besar itu, tapi dia menarik kembali ketika Gina mulai seperti orang tercekik dan mulutnya yang mengerang kesakitan.

"Uuff.. uff.. uuff.." desah Chal sambil terus memajukan dan menarik pantatnya dan makin lama semakin cepat dan terlihat begitu liar gerakan keduanya. Kepala batang kemaluan Chal terus menekan klitoris Gina berulang-ulang kadang masuk kadang di luar bibir kemaluan. "Akhh.. akhh.. akhh.. engg.. engg.. aakhh.. eengg.." Gina mencengkeram pantat Chal kuat-kuat dan akibat sundulan kepala batang kemaluan, "Oohh.. akuu.. keluaarr.. Chal.. uuff.. aahh.. enaak.." erang Gina kelonjotan dan bergetar seluruh badan Gina di dalam pelukan Chal. Chal merasakan siraman air hangat dari dalam lubang kemaluan Gina yang terus mengalir membasahi batang dan kepala batang kemaluannya, membuat batang kemaluan itu menjadi mengkilap dan basah.

"Kamuu.. keluar Giinn.. sayaa.. jugaa mauu.. uuff.. uuff.. aahh.. aahh.." desah Chal dengan nafas berirama, nafasnya terdengar keras.
"Eeennakk.. oohh akuu.. puaass", Gina terus mengerang karena terus merasakan sundulan kepala batang kemaluan Chal di dalam kemaluan dan gesekan batang kemaluan Chal di bibir dan dinding luar kemaluannya. Ternyata hanya sebatas leher kepala batang kemaluan Chal yang dapat terbenam di dalam lubang kemaluan Gina dan terasa terus menggesek dinding kemaluan Gina terus menerus.
"Teruss.. Chal.. tekan teruuss.. oohh.. oohh.. benar enak.. ahh.." Gina tersenyum puas melihat Chal masih terus berusaha memberikan rangsangan di sekitar dinding kemaluannya. Chal melihat Gina tersenyum dan ikut tersenyum puas.
"Kamu puass.. Gin.. enak.. kan.." senyum Chal sambil menjilat bibirnya sendiri dengan lidahnya.
"Biar kamuu.. puaas Ginn.." kata Chal sambil terus menghujamkan sepertiga batang kemaluannya ke dalam liang kemaluan Gina.

Terdengar bunyi, "Sleepp.. ahhkk.. sleepp.. brreet.." rupanya kemaluan Gina terus semakin basah dan semakin licin untuk batang kemaluan Chal yang terjepit di lubang kemaluan Gina.
"Gilaa.. kamuu rapat sekali lubangnya.. uuffhh.. susah.. Ginn.. untuk masuk.." Chal penasaran sekali dengan kemaluan Gina yang terlalu sempit. Gila memang, batang kemaluan Chal yang besar itu berhasil menggelosor keluar masuk di lubang kemaluan Gina, posisi Gina sudah ditindih oleh badan Chal. Kulihat mereka berdua telah telanjang bulat saling merapatkan dan menggesekkan badannya. Sementara kulihat juga pantat Chal melakukan irama naik turun dan kadang diselingi gerakan mendorong dan menarik.

Benar-benar membuat penasaran karena gerakan Chal, aku merubah posisi duduk ke belakang mereka, tanpa mereka sadari aku melihat dengan jelas batang kemaluan Chal yang besar dan panjang itu sebagian telah keluar masuk di dalam kemaluan Gina, sementara gerakan mereka makin lama semakin lincah karena kemaluan Gina terus mengeluarkan cairan yang membuat batang kemaluan Chal terus dapat menerobos dinding kemaluan Gina.

"Aakkhh.. uuff.. eennak.. aahh.. teruuss.. tekan.. sayang.. aahh.. ngg.. aku mau batang kemaluan gedee.. ahh enaak ngentot.." Gina kelojotan dihujami batang kemaluan bule walaupun belum semua batang kemaluan Chal masuk menembus kemaluan Gina. Tangan Gina terus memberikan remasan di pantat Chal dan kadang menekan pantat itu ke bawah.

"Kamuu kuat.. Ginaa.. kemaluan kamu masih sempit.. sayang.. oohh.. nikmatnya.. kemaluan.. kamuu.. enak.. adduuhh batang kemaluan sayaa.. dijepit aah enak.. haa.. haa.. mhh.. ennak.." Chal tersenyum melihat Gina merem-melek keenakan. "Sleep.. poof.. sleep.. poof.. breett.. aahh.. sleep.. breet.. breet.." gerakan pantatnya menekan dua kali dan memutar dua kali pada saat posisinya menekan, terlihat pantatnya kempes memberikan tekanan agar batang kemaluannya lebih masuk lagi ke dalam kemaluan Gina setelah 2 sampai 3 kali menekan batang kemaluannya ke dalam pada saat menekan terakhir, pantat Chal memutar ke kiri dua dan ke kanan dua kali.

Gila, Gina sudah tidak sempat lagi bergerak, posisinya hanya mengangkangkan kakinya lebar-lebar terlihat jari-jari kakinya menegang dan tangannya hanya dapat memegang punggung Chal dan sekali menjambak rambut Chal kadang-kadang seperti orang kehilangan pegangan menggapai-gapai mencari pegangan. Sementara nafasnya terdengar tidak beraturan yang ada hanya lenguhan dan lenguhan disertai erangan panjang.

Dengan gerakan itu Chal telah melakukan gerakan menghujamkan kemaluan Gina yang tadinya hanya menggesek-gesek bibir kemaluan Gina, sekarang batang kemaluannya telah masuk menembus dinding kemaluan Gina yang sempit dan basah. Terlihat bibir kemaluan Gina tertarik keluar dan terdorong masuk mengikuti gerakan batang kemaluan Chal, tiga puluh menit mereka berdua saling menerima dan memberikan kepuasan. Terlihat keringat telah membasahi badan mereka berdua.

"Kamuu berbalik Gina.." desah Chal, lalu Chal menarik batang kemaluannya, terdengar bunyi "Plooff.." dan Gina mengambil posisi menunggingkan pantatnya (gaya anjing) dengan satu kaki di atas jok dan satu kaki di karpet mobil sementara tangannya memegang sandaran jok belakang ini, posisi yang disukai bule dan tentunya kami juga. Melihat bibir kemaluan Gina dengan jelas telah terbuka sehingga terlihat cairan di pinggiran kemaluan Gina yang telah banyak mengeluarkan air kewanitaannya. Sementara klitorisnya terus bergerak mencari sesuatu untuk digesekkan, Chal mengambil posisi tepat di belakang pantat Gina setelah lima kali meremas bongkahan daging pantat Gina dengan remasan penuh nafsu. Sekali menguakkan kemaluan Gina dengan jarinya terlihat daging dalam kemaluan Gina yang berwarna merah karena terlalu lama digesekkan batang kemaluan Chal. Dengan sedikit demi sedikit Chal mulai menempelkan kepala batang kemaluannya dibelahan kemaluan Gina dan terus menggesekkan kepala batang kemaluan tersebut ke atas dan ke bawah belahan kemaluan Gina.

"Aahh.. ennaak.. Chal.." desah Gina terpejam.
"Nikmatnya batang kemaluan kamuu.. enak.. Chal.." setelah delapan gesekan naik turun Gina mendesah.
"Masukin Chal.. aku mau ngentot.. yang enak.. aahhk", dengan sedikit hentakan kepala batang kemaluan Chal mulai menerobos dinding kemaluan Gina. Perlahan melakukan gerakan maju mundur dan makin lama semakin terasa gerakan pantat Chal. Terlihat mulai membuat batang kemaluan Chal sebagian tenggelam di dalam kemaluan Gina.
"Ahhk.. aakhh.. uuff.. ahkk.. enaak.. aahh.. oohhkk.. yaa.. teruus.. akhh.. haak! haak! hak!" Chal terlihat mengeram dengan nafas yang memburu begitu juga Gina.
"Ookk.. yak.. yak.." Chal mulai dengan gerakan sepenuhnya tangannya memegang pinggul Gina untuk menahan gerakan akibat dorongan batang kemaluan Chal yang menghujam semakin dalam ke dalam kemaluan Gina.

"Hee.. aakhh.. okh.." nafas Chal memburu dengan cepat sementara gerakan batang kemaluannya di dalam kemaluan Gina terus keluar masuk dan kadang berputar seperti mengebor kemaluan Gina.
"Akhh.. aakhh.. eennak.. giila.. gila.. aakhh.. aduh.. duh.. gila.. mentok.. ahh.. batangnya mentook.. aahk ennak mmffhh.. terus.. yaa terus.." erang Gina. Sementara kepalanya terdorong dan berputar menambah makin seksi dilihat oleh Chal.

"Giinaa.. enak.. aahk.. akhh.. gilaa.. masuk.. semuaa.. Ginn.. enaak.. mmffhh aakhh puas, gilaa.. kamu.. kuat aakh.." Chal terus menghujamkan batang kemaluannya dalam-dalam ke lubang kemaluan Gina. Sementara Gina hanya bisa mengerang dan menjerit ketika kepala batang kemaluan Chal mentok di dinding rahimnya.
"Aku keluarr lagi.. Chal.. aahk ah.. ahk enak.." erang Gina terpejam.

Telah 20 menit Chal memainkan batang kemaluannya di dalam kemaluan Gina, keringatnya telah menetes ke punggung Gina. Sementara punggung Gina telah terdapat lima bekas gigitan Chal, tiga di pundak Gina dua di leher belakang Gina. Sungguh buas si Chal ini kalau sedang bersetubuh, kadang-kadang tangannya meremas buah dada Gina dan meremas serta menarik ke bawah sehingga memberikan dorongan lebih menekan batang kemaluan Chal. Gina benar-benar sudah lemas dan tidak bertenaga lagi. Kepalanya sudah rebah ke jok mobil, sementara tangannya terkulai lemas, terlihat rambutnya telah basah semua dan badannya telah bermandikan keringat.

"Aahk Chal, aku.. lemes.. gila.. keluarin Chal.." pinta Gina memelas.
"Yaa.. akh yak.. duh.. yaa.. Ginn.. aku keluarin.. huu.. huuf.. aakh.. enaak kemaluan kamu.. akh aku mau keluarr.. aakh akh gila! Enaak.. ahh.. aku mamu keluaar.. aahh.. hak.. haakk.. uuff.. oohk.. kamu hebat Ginn.." Chal melakukan gerakan sangat cepat menghentakkan batang kemaluannya sampai berbunyi, "Cepaak.. cepakk.." beradu pantat Gina dengan paha Gina dan bunyi peraduan kemaluan dan batang kemaluan.
"Breet.. bret.. plooff.. broot.. ploof.. brot.. broot.. poof.. broot.. ahk.. ya.." Gina yang mengetahui Chal mulai menghentakkan batang kemaluannya dalam-dalam melakukan gerakan liar memutar dan menghisap serta memijat batang kemaluan Chal dengan lubang kemaluannya.
"Akuu juga.. mau keluar.. ahh.. lagi.. Chal.. gila.. aahh.. ahh.. keluaar.. haa.. enak.." Chal tersenyum puas sambil tangannya meremas payudara Gina dan mulutnya mencium bibir Gina yang telah terkulai lemas di jok mobilku.

Keadaan menjadi hening lebih kurang lima menit, Chal tetap dalam posisi memeluk Gina dari belakang kudengar mereka berbisik dan berbicara perlahan sementara batang kemaluan Chal walaupun sudah mengeluarkan maninya di dalam kemaluan Gina terlihat masih berada di dalam kemaluan Gina, belum menyusut mengecil dan terlepas. Setelah saling membersihkan keringat dengan tissue, kami pulang dengan perasaan masing-masing puas telah saling memberikan kepuasan kepada pasangannya.

Tamat

0 VCD time

Nama saya Joe dan saya telah banyak mengirimkan cerita-cerita kepada Rumah Seks. Jika anda ingin mengirim e-mail (terutama wanita), anda bisa mengirimkannya kepada saya. Cerita-cerita yang telah saya kirim antara lain: "ASMARA CEWEK BEIJING", "KISAH PETUGAS ASURANSI" dan "KISAH KASIH mIRC". Sekarang saya akan menceritakan sesuatu yang benar-benar beda karena ini terjadi pada saya ketika saya berada di Australia untuk melanjutkan kuliah saya.

Ketika saya berada di Australia untuk pertama kalinya, saya diharuskan untuk mengikuti program untuk memfasihkan bahasa Inggris saya sehingga saya menjadi lancar dalam berbicara bahasa Inggris. Ketika saya sedang berada di program bahasa Inggris tersebut, saya mengenal seorang cewek Jepang yang cantik sekali. Namanya adalah Kaori Uehada. Suaranya bagus sekali bagaikan penyanyi Jepang asli dan tubuhnya elok sekali. Kulitnya putih dan berambut panjang. Yang paling saya sukai darinya adalah dadanya yang kira-kira berukuran 36B karena setiap kali dia berada di kelas, saya melihat bahwa sebagian dari payudaranya sempat keluar karena BH-nya tidak cukup untuk menutupi payudaranya yang terlalu besar.

Perkenalan saya dengan Kaori dimulai ketika jam istirahat, saya sekedar iseng-iseng menanyakan segala sesuatu kepadanya, tentunya sekalian saya mempraktekkan bahasa Inggris saya. Kami bercerita mengenai asal-usul kami bahkan kadang-kadang Kaori menanyakan mengenai kehidupan seks saya dan hal itu membuat kami bertambah akrab. Saya dan Kaori sering berjalan bersama-sama dan banyak orang yang menganggap saya adalah pacar Kaori walaupun sesungguhnya kami adalah teman akrab saja. Saya dan Kaori sering pergi berduaan ke sebuah kasino Burswood yang sangat terkenal di sebuah kota di Australia.

Suatu hari saya berada di apartement sendirian. Saat itu saya masih tinggal di boarding di universitas saya dan saya masih belum memiliki banyak teman. Hari itu adalah hari minggu dan saya sedang membersihkan rumah sekaligus menyetrika pakaian. Ketika saya sudah menyelesaikan pekerjaan saya dan saya ingin mandi, tiba-tiba saya dikejutkan oleh ketukan pintu dan saya sangat kaget ternyata Kaori sudah di depan pintu. Saya mempersilakan Kaori masuk dan Kaori duduk di sebuah bangku yang cukup sederhana.

Kami bercerita banyak mengenai keadaan negara masing-masing. Ketika saya sedang asyik menceritakan keadaan Indonesia, Kaori secara tidak sengaja melihat sebuah VCD yang berada di atas meja belajar saya. Tiba-tiba dia bangkit meninggalkan saya dan mendekati meja belajar saya. Setelah itu, dia meminta saya untuk memutar VCD tersebut. Saya sempat malu dan tidak menuruti kemauannya tetapi dia terus-menerus memegang tangan saya dan menarik tangan saya serta menyuruh saya untuk memutarnya. Akhirnya saya menuruti kemauannya dan saya mengajaknya ke tempat tidur saya karena saya selalu menonton VCD di komputer yang berada di kamar tidur saya.

Saya kemudian menyalakan Power komputer dan setelah semuanya siap, saya memasukkan VCD ke dalam CD-ROM dan kami nonton bersama-sama. Kaori duduk di atas ranjang sementara saya duduk di bangku yang terletak di dekat komputer. Saat pertengahan film, saya sangat terangsang dan sekilas saya melihat Kaori yang tengah menyelinapkan tangannya ke dalam celana dalamnya sambil mendesah-desah. Saya sempat kaget karena saya melihat Kaori sedang masturbasi sambil menonton VCD Jepang tersebut. Saya sempat berpikir mungkin dia mengerti maksud film tersebut tetapi walaupun saya tidak mengerti bahasa Jepang, saya juga terangsang saat menonton adegan panas di komputer tersebut apalagi saat itu batang kemaluan saya sudah menegang sehingga orang yang mendekati saya pasti dapat melihat batang kemaluan saya yang menegang di dalam celana pendek yang saya pakai.

Kemudian saya mendekati Kaori yang sedang mengelus-elus dirinya sambil menutup matanya. Saya mulai membuka pakaian Kaori dan saya kaget bercampur senang karena tidak ada perlawanan dari dalam diri Kaori dan saya yakin dia juga membutuhkannya karena dia sudah terangsang hebat. Setelah saya melepaskan seluruh busana Kaori, saya mulai mendekati liang kemaluannya dan mulai menjilatinya bagaikan orang kesetanan. Saya tidak memperdulikan komputer yang masih menyala bahkan suara desahan-desahan dari komputer bercampur desahan alami dari Kaori membuat saya menjadi bertambah semangat dan menjadi semakin gila dalam menyedot dan menjilat klitoris Kaori. Saya sempat merasakan cairan kewanitaan cewek jepang ini membasahi wajah saya yang sedang asyik mencium dan menjilat-jilat liang kenikmatan Kaori.

Setelah Kaori mencapai masa klimaksnya, giliran Kaori yang menyuruh saya berbaring dan sekali-sekali Kaori juga menghisap kedua biji peler saya bergantian dengan gigitan-gigitan kecil. Dan perlahan turun ke bawah menjilati lubang pantat saya dan membuat lingkaran kecil dengan ujung lidahnya yang terasa sangat liar dan hangat. Saya hanya dapat berpegangan erat ke bantal, sembari mencoba menahan rintihan. Saya dekap muka saya dengan bantal, setiap sedotannya terasa begitu nikmat sehingga membuat saya seperti di awang-awang. Nafas saya tidak dapat diatur lagi, pinggul saya menegang, kepala saya mulai pening akibat dari kenikmatan yang terkonsentrasi tepat di antara selangkangan saya. Mendadak saya merasa kemaluan saya seperti akan meledak. Karena rasa takut dan panik, saya menarik pinggul saya ke belakang. Dengan seketika, kemaluan saya seperti layaknya benda hidup, berdenyut dan menyemprot cairan putih yang lengket dan hangat ke wajah dan rambut Kaori.

Saya masih belum puas karena saya belum menikmati liang kenikmatan cewek Jepang itu, maka saya langsung bangkit dengan penuh gairah dan tanpa menunggu jawabannya saya segera mengatur posisi badannya. Kedua kakinya saya angkat ke ranjang. Kini dia tampak telentang pasrah. Batang kemaluan saya sudah tak sabar lagi untuk mendarat di sasaran. Namun saya harus hati-hati. Dia masih perawan sehingga harus sabar agar tidak kesakitan. Mulut saya kembali bermain-main di liang kemaluannya. Setelah kebasahannya saya anggap cukup, batang kemaluan saya yang telah tegak sempurna saya tempelkan ke bibir kemaluannya.

Beberapa saat saya gesek-gesekkan batang kemaluan saya di sekeliling liang kenikmatannya sampai Kaori makin terangsang. Kemudian saya coba memasukkan perlahan-lahan ke celah yang masih sempit itu. Sedikit demi sedikit saya maju-mundurkan sehingga makin melesak ke dalam. Butuh waktu lima menit lebih agar kepala kemaluan saya masuk seluruhnya. Lalu kami istirahat sebentar karena dia tampak menahan nyeri dan tiba-tiba keluarlah darah dari dalam liang kenikmatannya dan saya yakin bahwa itu adalah darah perawannya dan saya bangga sekali karena saya dapat mengambil perawan cewek Jepang.

Beberapa jam saya menggosok-gosokkan batang kemaluan saya di dalam liang kenikmatannya, dia menyukainya dan nampaknya dia hampir mendekati klimaks dan saya sendiri tidak tahu itu klimaksnya yang keberapa dan begitu juga saya. Saya mempercepat goyangan, lalu saya menyemprotkan cairan mani saya di dalam liang kenikmatan Kaori dan di saat yang bersamaan, Kaori berteriak dan saya merasakan batang kemaluan saya seperti dipijat-pijat oleh liang kenikmatannya dan tak lama kemudian, batang kemaluan saya seperti dialiri oleh cairan kewanitaannya. Kemudian saya memeluk Kaori dengan erat sambil mencium bibirnya dan memainkan lidah saya dalam mulut Kaori.

Kami bermain seharian penuh karena tidak lama setelah permainan kami, saya menjadi terangsang ketika melihat wajahnya yang seperti wajah bintang film dan saya tidak perduli walaupun dia sudah berumur 27 tahun dan tentunya umurnya 5 tahun di atas saya. Saya sangat mencintainya dan sampai sekarang saya merindukan belaiannya. Kaori, kapan kita bisa bercinta lagi?

Tamat

0 Unchained melody

Seminar tentang management terkadang merupakan refreshing dari kesibukan di kantor, apa lagi kalau pembicaranya menarik. Meskipun sebenarnya aku tidak terlalu berminat, tapi karena tugas dari kantor maka mau tidak mau harus berangkat juga. Session pertama tidaklah terlalu menarik, topiknya bagus tapi pembicaranya terlalu datar dalam menyampaikan, begitu juga pembicara kedua tidak ada yang istimewa hingga acara makan siang. Session ketiga adalah paling berat, dimana serangan kantuk datang, pembicaranya haruslah pintar membawa suasana.

Begitu session ketiga, berjalanlah ke podium seorang wanita cantik dengan anggunnya, menyihir pesona peserta seminar. Dengan santai dan penuh percaya diri dia duduk di deretan pembicara dan moderator, lalu sang moderator membacakan Curiculum Vitae dia, namanya Natasya Kusumawati. Tersentak aku mendengarnya setelah semua CV dibaca. Kupandang lebih seksama, aku hampir yakin bahwa dia adalah Nana, teman SMA dulu, wanita pertama kepada siapa aku jatuh cinta dan wanita pertama pula yang membuatku patah hati karena cintaku yang tidak terbalas.

Selama session dia, aku tidak dapat mengkonsentrasikan pada materi seminar, kunikmati penampilan Bu Natasya, nama resminya, hingga tidak terasa session dia sudah habis dan dilanjutkan dengan coffea break.

Bu Natasya dikelilingi banyak peserta seminar untuk melanjutkan tanya jawab yang tidak terakomodir di forum seminar. Dengan tangkasnya dia menjawab semua pertanyaan. Hingga pada suatu kesempatan dimana dia sendirian saat mengambil kue, kusapa dia dengan nama akrabnya.
Nana ya..? sapaku agak ragu.
Langsung Bu Natasya membalikkan badannya, rambutnya yang terurai menebarkan harum semerbak.

Haii.., Hendra ya..? sapa Nana terkejut.
Kamu sekarang lain, tidak seperti waktu dulu masih SMA, jauh berubah.. lanjut Nana, ada binar kebahagiaan di matanya.
Kamu juga lain, congratulation good presentation, banyak kemajuan baik penampilan maupun kedewasaan.. balasku.
Gimana kabarmu dan dimana aja kamu selama ini..? lanjutku.
Aku di sekitaran sini aja setelah dari Australia, sekarang aku nginap di hotel ini, habis ini mampir ya, aku udah kangen pingin tahu cerita lainnya.. jawab Nana kegirangan.
Oke, abis acara ini bagaimana..? usulku.
Oke aku di kamar 806, langsung aja ke kamar setelah acara.. katanya sambil meninggalkanku karena acara berikutnya segera dimulai.

Sisa session sudah tidak kuperhatikan lagi, bayangan Nana masih terbayang di mataku, sungguh anggun dan dewasa penampilannya. Setelan jas dan baju kerjanya tidak dapat menutupi postur tubuhnya yang dari dulu kuimpikan, malah lebih seksi, dan penampilannya yang penuh percaya diri menambah keanggunan dan inner beauty-nya.

Pukul 4.30 sore acara sudah selesai, bergegas aku menuju lantai 8 kamar 06 yang ternyata letaknya di pojok. Agak ragu kupencet bell di pintu. Tidak lama kemudian muncullah Nana dari balik pintu, dengan mengenakan pakaian santai t-shirt dan celana pendek sungguh jauh berbeda dengan penampilan saat di podium. Sekarang kulihat Nana yang kukenal dulu, tidak jauh berbeda, dengan make-up tipis nyaris tidak kelihatan, dia begitu cantik alami.

Sorry agak lama ya, abis aku tadi ketiduran sih, masuk Hend, santai saja.., anggap rumah sendiri.., sapanya sambil mempersilakan aku masuk.
Ah nggak apa.. jawabku.
Baru bangun tidur saja cantiknya seperti itu, pikirku.
Nggak ada yang marah nih kalau kita berdua saja di kamar..? kataku mulai memancing.
Ah nggak ada, paling juga bini kamu.., jawabnya.

Akhirnya kami mengobrol dan bernostalgia, kemudian aku tahu kalau dia tidak punya anak dan sudah berpisah dengan suaminya sekitar tiga tahun yang lalu, karena mereka sama-sama mengejar karier, dan suaminya punya affair dengan rekan sekantornya. Untuk menghibur diri dan pelarian, Nana melanjutkan study managemant di Australia, dan sekarang inilah dia, seorang wanita karier dan consultant management yang sedang menanjak.

Aku permisi ke kamar mandi, tanpa sengaja melihat benda aneh di tumpukan handuk setelah kuperhatikan, ternyata sebuah set vibrator dengan berbagai ukuran dan model, pikiranku mulai menebak-nebak dan memaklumi perbuatannya, sebagai seorang wanita normal kebutuhan sex memang perlu, apalagi sudah beberapa tahun tanpa lelaki pendamping. Lagi asyik aku memperhatikan vibrator itu, tiba-tiba pintu diketuk dari luar.

Hend, mandi aja sekalian.. teriak Nana dari luar.
Eh.., anu.. emm.. emang aku ingin mandi kok..! jawabku gugup dan sekenanya.
Segera kubuka pakaianku sambil mengamati peralatan toiletrees miliknya, ternyata kutemukan juga lubricant alias pelumas, mungkin pasangan vibrator pikirku lagi.

Setelah aku selesai mandi, gantian Nana mandi, ternyata dia sudah menyiapkan kimono untukku. Tidak lama kemudian dia selesai mandi dan hanya berbalut handuk di tubuhnya. Nana keluar kamar mandi, takjub aku dibuatnya, tubuhnya begitu mulus dan seksi.

Hend, kamu tadi lihat ini ya..? katanya penuh selidik sambil mempertunjukkan vibratornya.
Eh.., anu.., nggak sengaja kok, maaf ya, sunguh aku nggak sengaja, jangan marah ya.., kataku membela diri takut dia marah karena privacy-nya terganggu.
Nggak apa kok, kita sama-sama dewasa. Selama ini alat inilah yang memuaskan kebutuhanku. katanya tanpa ada nada sungkan, tapi kulihat kepedihan di matanya.

Kupegang tangannya dan kutarik Nana ke pelukanku, dia tidak melawan dan membalas pelukanku, kepalanya disandarkan di bahuku, harum rambutnya membuat birahiku naik.
Hend, temani aku malam ini, Ill do everything for you, demi masa lalu kita, ya, please..! bisiknya meminta dan merajuk.
Tanpa menjawab, kucium keningnya, pipinya dan kulumat bibir manisnya, terasa begitu lembut dan penuh getaran-getaran yang aku sendiri tidak tahu. Jantungku berdegub kencang, aliran darah serasa mencapai ubun-ubun, dan dengan sedikit gemetar tanganku membelai rambutnya.

Aku tidak tahu harus berbuat apa lagi, berhadapan dengan Nana, kepada siapa aku pertama kali fall in love, membuatku menjadi begitu nervous. Aku hanya berani mencium pipi dan bibirnya saja, tidak ada keberanian untuk lebih jauh, meskipun nafsu sudah meninggi. Ternyata Nana salah pengertian, dia melepaskan pelukanku.

Hend, kalau kamu keberatan temani aku nggak apa kok, aku mengerti dan nggak marah, katanya sambil memandang mataku dengan tajam.
Bukan itu Na, terus terang aku nervous berhadapan sama kamu, mengingat masa lalu cinta yang nggak kesampaian, jelasku.
Nana langsung menerjang ke pelukanku hingga kami berdua terjatuh ke ranjang. Kembali mulut kami memadu kasih, permainan lidah yang sungguh indah karena bukan hanya sekedar nafsu, tapi ada feeling yang tidak terlukiskan.

Sepertinya kami saling melepas rindu yang sudah jauh terpendam. Kugulingkan tubuh kami hingga sekarang aku menindih tubuh Nana, ciumanku langsung mendarat di lehernya yang jenjang, tanganku menarik handuk penutup tubuhnya hingga terlepas, dan ternyata dia sudah tidak memakai pakaian dalam lagi. Kulepas kimono dan celana dalamku, sambil menikmati keindahan tubuh Nana yang sudah telanjang, ternyata jauh lebih indah dan lebih seksi dari imajinasiku.

Badannya yang putih mulus sangat menggoda, buah dadanya yang tidak tampak menonjol di balik jas dan blasernya tadi siang ternyata cukup montok dan kencang, paling tidak 34C. Perutnya rata seperti halnya seorang peragawati, dan yang paling seksi adalah bulu rambut bawahnya dirapihkan hingga membentuk V, pemandangan yang tiada duanya.

Aku kembali naik ke atas tubuhnya, kucium dan kujilati lehernya, terus turun hingga ke belahan buah dadanya, kunaiki bukit itu hingga putingnya yang masih kemerahan. Jilatanku menggoda dan mengundang kegelian pada Nana, dibelainya rambutku.
Ssshh.. sshh.., trus sayang..! Yaa.. he.. emm..! desahnya.
Jilataan dan sedotanku berpindah dari puncak satu ke lainnya, sambil tanganku mengusap bibir vaginanya yang ternyata sudah basah.

Nana menggelinjang, entah sudah berapa lama tidak dicumbu oleh laki-laki, cengkeraman di rambutku makin kencang dan desahannya semakin keras. Lidahku sudah menjelajah ke daerah perut, berlanjut hingga paha. Kupermainkan jilatan di lututnya, membuat dia menggeliat-geliat, kemudian betis, terakhir kukulum jari-jari kakinya kiri dan kanan.
Hend, kamu sungguh romantis.., katanya sambil melihatku menjilati jari kakinya.

Giliran selanjutnya adalah selangkangan, aromanya sungguh merangsang, kujilati dari bibir luar hingga masuk ke dalam.
Aaagghh.., sshh.. hhmm.. yess..! desah Nana ketika kujilat sambil kumasukkan jari tanganku ke vagina dan mengocoknya.
Kumainkan lidahku menjelajahi bibir dan luar vagina, jilatan terus turun hingga ke lubang anus dan kembali lagi ke bibir vagina. Tidak tahan diperlakukan seperti itu lebih lama, Nana memintaku untuk telentang, kemudian dia bersimpuh di antara kakiku.

Ini adalah penis kedua yang kupegang setelah suamiku, jauh lebih besar dari punya dia, dan aku tak pernah malakukan ini. kata Nana langsung menjilati ujung kejantananku.
Sambil mengocok, dimasukkan kepala kejantananku ke mulutnya, tanpa kesulitan yang berarti dia mengulum lebih dari setengah batang 17 cm penisku (mungkin biasa dengan dildo), lalu dikocoknya keluar masuk dengan mulut mungilnya. Takut keterusan, kutarik tubuhnya hingga dia telentang, kemudian kembali kutindih tubuh sexy-nya.

Kali ini kami sama-sama telanjang, bagitu hangat. Kami berciuman lagi, sementara tangan Nana menuntun kejantananku ke vaginanya, disapukan ke seluruh permukaan bibir vagina dan dengan sekali dorong amblaslah kejantananku ke vagina yang pertama kali kuimpikan, masuk semua.
Aaahh.. sshh.. yaa.. oeh.., yaa..! desahnya.
Kubiarkan sesaat, kami berdua sama-sama tidak bergerak, saling menikmati saat-saat indah yang sudah lama kudambakan. Kupandangi wajahnya dengan penuh kasih, sorotan matanya memancarkan kerinduan yang dalam.

Hend, I miss you soo much..! katanya sambil mencium bibirku.
Perlahan kutarik keluar, tapi Nana menahannya, memintaku untuk tetap diam.
Biarkan aku menikmati saat indah ini.., katanya lagi, hingga terasa denyutan ringan dari dalam vaginanya, kuanggap sebagai tanda.
Maka pelan-pelan kutarik keluar, kemudian pelan-pelan pula kudorong masuk lagi.
Ooouugghh.. yess.., Hend.. fuck mee..! desahnya.
Pinggulku makin cepat turun naik, kocokanku bertambah cepat dan keras aku menyodoknya.
Fuck mee..! Pleaassee.., harder.. harder.., yess.. begitu.., teruss..! Nana mulai mengerang.

Berulang kali dia mencium dan mengigit ringan bibirku karena gemas, tangannya mencengkeram tanganku, sementara satunya meremas ujung bantal. Kaki Nana menjepit pinggangku sehingga pinggulnya sedikit terangkat, lebih memudahkan aku untuk mendorong lebih dalam dan lebih cepat. Erangan dan desahan Nana makin keras, sepertinya dia meluapkan rasa dahaganya, pinggulnya ikut bergoyang mengimbangi goyanganku.

Tiba-tiba Nana terdiam, remasan di tanganku makin kencang.
Sayang, aa.. kuke.. ke.., lu.. aarrgghh.., yaa.. yess..! Oh my god.., yess.., Heenn..! teriak Nana ketika kurasakan denyutan berkepanjangan seirama dengan teriakan Nana, kemudian tubuhnya melemas.
Kuhentikan gerakanku untuk memberi dia waktu, tapi sepertinya Nana tidak mau berhenti, pinggulnya kembali bergoyang.
Ayo sayang, keluarkan di dalam, aku sudah lama tidak merasakan semprotan sperma di vaginaku.., pinta Nana mempercepat goyangannya.

Kunaikkan kembali tempo goyanganku dan makin keras, apalagi setelah Nana menaikkan kakinya ke pundakku, kejantananku serasa menyentuh dinding rahimnya. Desahan demi desahan keluar dari mulut Nana, goyangan dan gelinjangan tubuh Nana membuatku tidak dapat bertahan lebih lama, ditambah perasaan kangen yang mendalam sehingga pertahananku runtuh, maka menyemburlah spermaku di vaginanya.

Ooouuhh.., yess.. oohh my god yess, ya Sayang.., terus.., yess.. oh.., I like it.., yess.. oohh.., desahnya ketika semburanku menghantam dinding vaginanya.
Denyut demi denyut mengalir di liang vaginanya, ternyata teriakannya lebih histeris dibandingkan kalau dia sendiri yang orgasme. Dapat dimaklumi, karena vibrator maupun dildo tidak dapat memberikan sensasi denyutan yang seperti itu, dan hal itu mengisi dahaga Nana. Kami berciuman lagi, hingga kejantananku melemas dengan sendirinya.

Thank you Hend.., kamu telah mengisi kedahagaanku, I love you.., katanya sambil kembali menciumku dan kami telentang sambil berpelukan, kepalanya direbahkan di dadaku.
Sesaat kami terdiam mengenang peristiwa indah yang baru terjadi, impian yang menjadi kenyataan setelah lebih dari sepuluh tahun terpendam.

Tamat

0 Utang uang dibayar istri

Aku sebenarnya tidak tega menagih utang pada kawanku yang satu ini. Namun, karena keadaanku juga sangat mendesak, aku memberanikan diri dengan harapan temanku bisa membayar; minimal separuhnya dulu. Sayang sekali, Darta, kawanku yang baru menikah enam bulan yang lalu ini, tak bisa membayar barang sedikit pun. Memang aku mengerti keadaannya. Ia menikah pun karena desakan orang tua Mila, yang kini jadi istrinya. Darta sendiri, sampai saat ini belum punya pekerjaan.

Karena hari sudah larut, aku tahu diri, segera permisi pada Darta.

"Gua jadi enggak enak nih.."
"Sudahlah Ta. Gua gak apa-apa koq. Gua cuma nyoba aja, barangkali ada," aku menukasnya, takut membuatnya jadi beban pikiran.
"Ma, gua mau bisikin sesuatu..' tiba-tiba Darta mendekatkan mulutnya ke arah telingaku. Dan aku benar-benar terkejut, ketika Darta menawarkan istrinya untuk kutiduri.
"Gila lu.. Sialan.." ucapku.
"Sstt.. Jangan berisik. Gua juga kan ingin balas budi sama elu. Soalnya eu udah banyak berbuat baik sama gua. Gak ada salahnya kan, kalau kita saling berbagi kesenangan.." begitulah ucap Darta dengan serius.

Memang diam-diam sudah sejak lama aku selalu memperhatikan Mila. Bahkan aku pun memuji Darta, bisa mendapatkan gadis secantik Mila. Selain posturnya yang tinggi, Mila memiliki kulitnya yang putih dan mulus. Tubuhnya menggairahkan. Memang selalu terbungkus rapat, dengan baju yang longgar. Namun aku dapat membayangkan, betapa kenyalnya tubuh Mila.

Baru melihat wajah dan jemari tangannya pun, aku memang suka langsung berpantasi; membayangkan Mila jika berada di hadapanku tanpa busana. Lalu Mila kugumuli dengan sesuka hati. Namun untuk berbuat macam-macam, rasanya kubuang jauh-jauh. Karena aku sangat tahu, Mila itu orang baik-baik, dan keturunan orang baik-baik pula. Lihat saja penampilannya, yang selalu terbungkus sopan dan rapi.

"Lu serius, Ta? Bagaimana dengan Mila? Apa dia mau?" aku pun akhirnya mulai terbuka.
"Kita pasang strategi, donk! Kalau secara langsung, jelas istri gua kagak bakalan mau," jawabnya.
"Gimana caranya?" aku penasaran.

Darta kembali membisikan lagi rencana gilanya. Aku memang sangat menginginkan hal itu terjadi. Sudah kubayangkan, betapa nikmatnya bersetubuh dengan perempuan aduhai seperti Mila.

"Mila..! Mila..! Milaa..!" Darta memanggil istrinya.

Dan tanpa selang waktu lama, Mila ke luar dari dalam kamarnya dengan dandanan yang tetap rapat.

"Ada apa, Bang?" tanya Mila.
"Tolong belikan rokok ke warung..!" kata Darta sambil merogoh uang ribuan ke dalam sakunya.
"Baik, Bang," Mila menerima uang itu, lalu ke luar.

Darta segera menyuruhku masuk ke dalam kamarnya, seraya masuk ke kolong ranjang. Aku mau saja, berbaring di tembok dingin, di bawah ranjang. Lalu Darta ke luar lagi. Pintu kamar, tampak masih terbuka.

Tidak lama kemudian, terdengar suara Mila yang datang. Mereka bercakap-cakap di ruang tamu. Dan Darta mengatakan kalau aku sudah pulang, karena ada ditelepon sama bos-ku. Mila kedengarannya tidak banyak tanya. Dia tak terlalu mempedulikan kehadiranku. Hingga suara pintu yang dikunci pun, bisa terdengar dengan jelas.

Kulihat dua pasang kaki memasuki kamar. Pintu ditutup. Dikunci pula. Bahkan termasuk lampu pun dimatikan, sehingga mataku tak melihat apa-apa lagi. Yang kudengar hanya suara ranjang yang berderit dan suara kecupan bibir, entah siapa yang mengecup. Lalu ada juga yang terdengar suara seleting celana, dan nafas Mila yang mulai tak beraturan. Pluk, pluk, pluk.. Sepertinya pakaian mereka mulai dilemparkan ke lantai, satu persatu.

"Emh.. Ah.. Uh.. Oh.." Jelas, itu suara milik Mila.
"Euh.. He.. Euh.." nah kalau itu, suara Darta.

Tampaknya mereka sudah mulai bercumbu dengam hebatnya. Ranjang pun sampai bergoyang-goyang begitu dahsyat.

"Emh.. Akh.. Ayo Bang.. Aduuh ss.." suara Mila membuat nafasku bergerak lebih kencang dari biasanya.

Aku bisa merasakan, Mila sedang ada dalam puncak nafsunya. Aku sudah tidak tahan mendengar suara dengusan nafas kedua insan yang tengah memadu berahi ini. Hingga aku mulai membuka celanaku, bajuku dan celana dalamku. Aku sudah telanjang bulat. Lalu aku bergerak perlahan, ke luar dari tempat persembunyian, kolong tempat tidur.

Meski keadaan sangat gelap, namun aku masih bisa melihat dua tubuh yang bergumul. Terutama tubuh Mila, yang putih mulus. Darta sudah memasukan penisnya, dan sedang memompanya turun naik, diiringi desahan nafas yang tersengal-sengal. Konvensional. Mila sepertinya lebih menikmati berada di posisi bawah, sambil kedua tangannya memeluk erat tubuh Darta, dan kakinya menjepit pantat Darta. Aku mulai tidak tahan.

Tiba-tiba Darta semakin mempercepat pompaannya. Ranjang bergoyang lebih ganas lagi. Dan suara erangan tertahan Mila semakin menjadi-jadi.

"Emh, emh, emh, emh.. Ah.. Oh.." Hanya itu yang keluar dari mulut Mila, karena mulutnya disumpal oleh mulut Darta. Dan akhirnya.
"Agh.. Agh..!" suara Darta mengakhiri pendakian itu.

Namun tampaknya Mila belum selesai. Terbukti, kakinya masih menyilang erat, mengunci paha Darta, agar tak segera mencabut penisnya. Tetapi apa hendak dikata, Darta sudah lemas. Ia tergolek dengan nafas yang lemah-lunglai.

Kesempatan inilah, saatnya aku harus masuk. Demikian yang direncanakan Darta tadi. Maka tanpa ragu lagi, aku segera melompat ke atas ranjang. Meraih tubuh Mila dan langsung menindihnya. Tentu saja Mila terpekik kaget.

"Siapa Kau..! Kurang ajar..! Pergi..! Ke luar..! jangan..! setaan..!" Mila berontak. Ia sangat marah tampaknya.
"Mila, aku punya hutang pada kawanku. Berilah ia sedikit kesempatan.." Darta yang menjawab, sambil mengelus rambutnya.
"Biadab..! Aku tidak mau..! Lepaskan..! bangsat..!" Mila mendorong tubuhku.

Namun karena nafsuku sudah memuncak, aku tak mungkin menyerah. Kutekan lebih keras tubuhnya, sambil tanganku berusaha menuntun agar penisku segera masuk. Mila tetap meronta. Mila berkali-kali meludahi mukaku. Tetapi aku diam-diam menikmatinya. Bahkan ludahnya malah kusedot dari bibirnya, dan kutelan.

Meskipun liang vagina Mila sudah licin, namun penisku tetap agak seret untuk segera menembusnya. Mila terpekik, ketika aku menekan dan memaksakannya sekaligus. Bles..! Akhirnya masuk juga. Kudiamkan beberapa saat, karena aku ingin mencumbu dulu bibirnya. Mila tetap berontak, sampai akhirnya kehabisan tenaga. Akhirnya ia hanya diam.

Kurasakan ada air mata yang mengalr dari kedua kelopak matanya. Tetapi aku semakin bernafsu. Kuremas-remas payu daranya yang ternyata memang cukup besar dan begitu kenyal. Lalu aku mulai memompa penisku. Mila terpekik kembali. Kasihan juga, aku melihatnya. Sehingga aku bergerak perlahan-lahan, sampai akhirnya vagina Mila bisa beradaptasi dengan penisku. Mila tidak bereaksi. Ia diam saja. Namun aku sangat menikmatinya.

Walaupun Mila diam, tentunya jauh lebih nikmat dari pada melakukannya dengan patung. Aku terus memompanya, sampai napasku mulai ngos-ngosan. Kucoba menyalurkan nafasku ke arah telinga Mila. Dan hasilnya cukup bagus. Lama kelamaan, di sela isakan tangisnya, diam-diam kurasakan vaginanya diangkat, seakan Mila ingin menerima hunjaman penisku lebih dalam. Tentu saja aku semakin bersemangat. Kupompa lebih cepat lagi. Tiba-tiba isakan tangisnya berhenti, diganti dengan nafasnya yang kian memburu. Dan yang lebih mengagetkan lagi, kakinya tiba-tiba mengunci pantatku. Aku tersenyum, sambil mencumbui telinganya.

"Kau menikmatinya, sayang?" bisikku.
"Diam..!" dia membentakku. Namun aku yakin, Mila hanya tidak mau mengakui kekalahan dirinya. Buktinya, ketika penisku kucabut, Mila menekan pantatku. Tangannya pun memeluk tubuhku, agar aku merapatkannya kembali.

Lalu ada suara erangan dari bibirnya yang tertahan. Bersamaan erangan itu, kedua kakinya semakin erat menekan pantatku. Dan vaginanya ditekan pula ke atas. Aku pun sangat terangsang. Hingga detik-detik akhir pun akan segera tiba. Kupeluk erat pula tubuh Mila. Kugenjot lebih cepat dan lebih keras. Sampai akhirnya tiba pada genjotan yang terakhir. Aku tekan sangat kuat. Kugigit pelan lehernya.

"Agh.. Agh.. Agh.." Maniku keluar di dalam vaginanya. Begitupun Mila.
"Akh.. Akh.. Akh.. Ss.." begitulah yang keluar dari mulut Mila.

Lalu kemudian Mila mendorong tubuhku dan seakan menyesali dan tak mau lagi bersentuhan denganku.


Tamat

0 Variasi cinta - 1

Ini cerita kejadian pada waktu aku sedang ada masalah dengan pacarku, namanya Gina, tinggi badannya 160 cm, berat 57 kg, kulit putih bersih, bra 36B. Namaku panggil saja Andi. Pacarku itu sangat seksi karena bokongnya menonjol ke belakang dan pinggangnya kecil jadi kata temanku dia sangat montok.

Masalahnya kami sedang bosan satu sama lain, karena hubungan kami sudah 2 tahun sementara untuk pikiran menikah masih dibahas tidak kunjung selesai karena ada faktor X diantara kami. Untuk menghilangkan kebosanan pada saat kami berhubungan badan dia sering membayangkan yang melakukan hal ini dengan batang kemaluan yang besar dan hot, batang kemaluanku sendiri panjangnya 15 cm dan diameter 2,5 cm, katanya kurang? dan karena saat itu aku sedang sibuk kerja di kantor maka kalau sedang berhubungan badan, biasanya bisa 30 menit di luar pemanasan, pemanasan biasanya 30 menit juga mulai dari atas sampai menjilat liang kemaluan, sekarang pemanasan 15 menit dan hubungan badan 5 menit. Wah, dia protes setiap selesai berhubungan badan, sudah pasti saya keluar duluan sementara dia naik saja belum. Sementara saya juga tidak terpikir untuk menyeleweng dan dia juga menjaga perasaan saya dengan tidak menyeleweng, tapi yang terjadi kami sering berantem kecil-kecilan dan dia kalau diajak berhubungan badan sering malas.

Ceritanya sendiri kami jalan-jalan malam itu kurang lebih jam 9.00 malam berkeliling di daerah Thamrin. Sambil jalan kami membicarakan masalah hubungan badan, dia protes karena kondisiku yang tidak berubah. Dia bicara begini, "Andi, aku bosen nih kamu kalau hubungan sekarang cepet banget, kan Gina belum puas", katanya merengek.
"Habis aku lagi capai sih.." kataku.
"Ah, gitu terus alasannya.." katanya.
"Yaa bukan gitu dong.. tapi lagi bener tidak fit", kataku.
"Tapi aku kan jadi suntuk nih, kepalaku sering nyut-nyutan, aku jadi kepengen banget badanku digerayangin sama cowok lain! Aku pengen gituan yang hot yang lama 2 jam dan batang kemaluannya gede", kata Gina.
"Enak kali ya.. sama bule", katanya menyambung.
"Memang kamu berani Gin.." kataku sedikit cemburu tapi ada perasaan lain ingin menantang dia.
"Yaa, iyalah.. tapi aku kan tidak enak sama kamu", katanya.
"Memang kamu pengen batang kemaluan yang gede dan yang hot?" tanyaku.
"Yaa.. habis kamu kalau hubungan sepertinya sudah tidak full lagi tegangnya dan mana cepet lagi. Pusing aku, tahu!" katanya.
"Yaa.. sudah kalau gitu sini kamu tiduran biar tidak pusing."
Kemudian jok kursinya dia mundurkan dan dia rebahan di pangkuanku, tangan kiriku langsung membelai rambutnya.

Terus kupijat kepalanya dan ternyata dia keenakan, lalu merem pelan-pelan. Tanganku turun ke leher, pundak dan ke dadanya. Kuremas perlahan, dia diam saja, kancing bajunya satu persatu kubuka sambil mobil jalan terus berputar di sekitar Monas dan Sabang. Perlahan tanganku meremas buah dadanya ternyata sudah mengeras. Dadanya montok, bentuknya bulat penuh dengan puting berwarna merah jambu. Ketika kusuruh melepas branya, dia langsung membuka kancing branya dan melepas bra tersebut sehingga buah dadanya yang montok itu menantang keluar kedua-duanya karena bajunya sudah kupinggirkan ke samping. Dengan leluasa tangan dan jari-jariku bermain meremas dan memijat pelan putingnya yang telah mengeras.

"Akkhh.." desah Gina keenakan.
"Mhh.. enak Gin.." tanyaku.
"Iyyaa.." desahnya keenakan.
Jari tanganku lalu turun ke bawah mengusap perut dan pusarnya, terus ke bawah membuka kancing celana jeans-nya dan menarik reitsletingnya. Srett.. terbuka sudah dan perlahan jari ini menyentuh bulu-bulu halus di atas bibir kemaluannya. Kemudian kuremas perlahan dan kuusap.
"Aakhh.. Andii.." keenakan rupanya dia dan.., "Aduuhh, aku pengen batang kemaluan yang gede Ndii.." Wah mulai deh dia ingin berhubungan badan.
"Yang lamaa.. yang hot.. akhh.." desah dia keenakan.

Jariku naik turun dari dada ke sekitar liang kemaluannya, dengan perasaan cemburu aku bertanya kepadanya, "Kamu mau sama yang gede kayak bule Gin..?" tanyaku.
"Mauu.." desahnya sambil badannya bergetar.
Wah, kepalang tanggung nih pikiranku jadi kotor.
"Kamu pengen yang hot yaa?" tanyaku lagi.
"Akhh.. aahh iyaa.." katanya.
"Ya sudah kamu cari aja.." kataku penasaran ingin membuktikan kepadanya.
Pikir-pikir dari pada dia main di belakang lebih baik terus terang kalau memang berani.

Ketika di jalan sekitar McDonald, kulihat ada bule sendirian di pinggir jalan sedang berdiri, badannya besar dan tinggi. Aku melihat dia sedang mencari bantuan. Ketika kulihat, dia juga melihat. Setelah sekali putar kulihat dia masih di tempat, sementara jariku sedang merayap di sekitar bibir kemaluan Gina, kemudian mobil kupinggirkan. Ehh, bule itu mendekati mobil kami, Gina tidak tahu kalau kaca jendela kubuka. Dia pikir aku ke pinggir karena capai keliling terus, jadi dia biarkan saja dadanya terbuka dengan putingnya yang mengeras dan bulu-bulu halus yang terlihat dari luar. Bule tersebut mendekat dari sisi pintu Gina dan melihat ke dalam sambil berbicara,
"Maukah anda menolong saya.. ups.. maaf.." katanya sambil terbelalak matanya.
Dia kaget melihat posisi Gina terlihat buah dadanya yang putih mulus keluar dengan puting yang telah mengeras dan bulu halus kemaluan Gina terpampang tepat di wajahnya. Karena badannya menjorok ke dalam pada saat berbicara.

Gina tidak kalah kaget. "Lhoo?" dia segera bangkit dari tidurnya dan merapikan kemejanya.
"Kok kamu tidak bilang kalau ada orang sih.." wajahnya merah karena malu.
"Sudah tidak apa-apa.." kataku tersenyum, lalu aku bilang ke bulenya, "Ma'af, ini pacar saya. Apa yang bisa saya bantu."
Setelah tenang sedikit sambil melihat ke Gina dia bilang, "Mobil saya rusak dan tidak ada bantuan", kata si bule.
"Mobil saya rusak dan saya sudah minta tolong teman saya tapi teman saya sedang pergi jadi saya tunggu di sini", katanya lagi.
"Ya sudah, anda masuk saja ke belakang", kataku.
"Ooh ya, terima kasih.." katanya sambil melirik ke arah Gina.
Dia naik dan duduk di belakang. Sementara Gina masih kaget sedikit tapi melihat bule itu ganteng (katanya) dia perlahan protes, "Aku kan malu.." katanya.
"Katanya pengen bule", kataku berbisik.
"Tapi kan tidak begini dong.." katanya merajuk.
Kulihat dia tidak marah berarti dia juga kemungkinan suka.

"Aah ya, saya Andi", kataku bersalaman, "Dan ini Gina.."
Sambil tersenyum mereka berdua bersalaman dan terus mengobrol basa-basi dari mana dan seterusnya. Setelah basa-basi selesai lalu dia bilang, "Kamu punya body bagus Gin.."
Gina mencubit pahaku, "Aku kan maluu.."
Terus aku bilang, "Katanya kamu pengen tahu Gin, gedenya seberapa", kataku.
"Yaa, aku kan cuma.." kata dia tidak meneruskan karena si bule (namanya Chalued) menyeletuk.
"Kalau kamu pengen tahu, kamu lihat saja", katanya sambil tersenyum.
"Tidak apa-apa kok.." kata si bule.

Aku yang sudah penasaran sejak tadi oleh keinginan Gina terus menimpali, "Ya sudah Gin.. kamu ke belakang saja Gin.." kataku.
"Aakhh, tidak ahh. Gila kali.." kata Gina tersenyum.
"Ya tidak, kan cuma lihat saja biar kamu tidak penasaran", kataku.
Eeh, si bule bilang mengenai hal tersebut tidak jadi masalah kalau di negaranya (Prancis) di sana mereka sudah bebas kalau suka ya bilang suka.

"Kalau kamu penasaran ya lihat saja", katanya tersenyum.
Karena terus diajak bicara dan Gina antusias mendengarnya akhirnya dia mau juga ke belakang.
"Lihat saja yaa.." kata Gina tersenyum malu.
Kemudian kujalankan mobil ke jalan Menteng, sementara Chal kulihat segera membuka kancing celananya dan reitsletingnya terus menarik ke bawah celananya. Gina yang duduk di sampingnya melihat keluar jendela sampai Chal mengeluarkan batang kemaluannya yang besar walaupun belum tegang sekali.
"Hai.. lihat ini", katanya sambil tangan kirinya memegang batang kemaluannya sendiri dan tangan kanannya memegang tangan kiri Gina.
Gina melihat batang kemaluan bule itu dan terlihat wajahnya menegang terpaku melihat batang kemaluan yang besar berwarna putih dengan kepala batang kemaluan seperti topi baja. Sementara aku menyetir terus dan dapat melihat melalui spion atas kelakuan mereka berdua di belakang.

"Kamu lihat ini dan pegang saja!" kata Chal.
"Wihh takut akhh.." desah Gina dengan suara serak.
"Tidak apa-apa biar kamu tidak penasaran lagi", kata Chal.
Gina terpaku melihat batang kemaluan Chal di samping tangannya. Chal mengambil inisiatif, langsung dia mencium pipi Gina perlahan, karena Gina diam saja maka wajah Gina dipegangnya dan.. Gila dia mencium bibir Gina dengan perlahan dan perlahan kulihat Gina membalas ciuman itu dengan membuka bibirnya serta merta Chal melumat bibir itu dan memasukkan lidahnya.

"Emmhh.." desah Gina perlahan.
"Kamu suka Gin.." bisik Chal di kuping Gina.
Melihat reaksi positif dari Gina, tangan kiri Gina diarahkan untuk memegang batang kemaluan besar yang telah menyembul dari atas celananya. Ternyata Chal sudah melepaskan celananya berikut celana dalamnya sampai di paha. Walaupun belum keras tapi sudah berdiri tegak batang kemaluan itu berikut bijinya yang ditutupi rambut kemaluan. Gina mulai memegang batang kemaluan itu dan ternyata walaupun masih lemas jari telunjuk dan ibu jarinya tidak dapat bersentuhan (membuat bentuk huruf O) membuat Gina penasaran dan melihat secara jelas bentuk batang kemaluan bule tersebut dan mendesah, "Aakkhh gedee bangeet.." desahnya dengan suara parau dan wajah memerah.

Wah, kudengar dia sudah birahi, panik juga aku. Kemudian Chal sambil mencium telinga Gina berbisik, "Kamu kocokin dong.." desah si bule tidak tahan keenakan.
Wah sudah lupa mereka berdua, katanya hanya lihat saja, kok minta dipegangi dan dikocok lagi. Eeh, ternyata Gina menuruti permintaan Chal dan perlahan jari-jari tangannya meremas dan mulai mengurut ke atas dan ke bawah dan dalam relatif singkat batang kemaluan bule tersebut berdiri dengan kokohnya di tangan Gina. Panjangnya lebih dari batang kemaluanku atau lebih kurang 22 cm dan diameternya sekitar 4 sampai 5 cm.

"Emmhh.. akhh.." desah mereka berdua di jok belakang.
Makin lama semakin hot saja mereka berdua, sementara tangan Gina terus mengocok kejantanan Chal. Chal pun dengan nafsunya mengulum bibir Gina dan jemarinya dengan cepat membuka kancing kemeja Gina, karena Gina belum mengancingkan semua kancingnya (sengaja barangkali) maka kemeja tersebut dengan cepat terbuka semua dan dengan sigap tangan dan jari Chal langsung meremas susu Gina yang ternyata telah mengeras dan menonjol.

"Akhh enak Chal.." desah Gina menggelinjang. Baju itu disingkirkan ke samping dan begitu bibir Gina dilepas ciumannya maka mulut Chal langsung mendekat ke dada Gina sambil terus meremas perlahan. Puting Gina dihisap sambil dijilat, gundukan daging dada berganti-ganti sehingga, "Akhh.. uuff.." erang Gina keenakan. Wajah Gina sudah menengadah ke atas dengan posisi pasrah, sementara tangan kirinya terus mengocok batang kemaluan Chal yang besar dan penuh digenggamannya dengan makin cepat, kadang-kadang diremas batang kemaluan itu dengan kuat tanda dia sudah tidak tahan karena rangsangan yang ada pada sekujur tubuhnya dan bergetar badannya.

"Ooohh.. Anndii.." desahnya keenakan lupa kalau yang sedang bersamanya itu si Chal. Tangan kanan Gina menekan kepala Chal ke dadanya sementara tangan kirinya sudah tidak beraturan mengocok batang kemaluan besar dan menariknya ke atas seakan-akan ingin digesekkan atau dimasukkan ke dalam liang kemaluannya sendiri dan seakan-akan memaksa untuk segera dituntaskan semuanya.

Chal menyadari yang diminta Gina dan tangan kiri Chal segera membuka kancing celana Gina dan menarik ke bawah reitsleting celana Gina. Tahu atau pura-pura tidak tahu Gina membiarkan tangan itu membuka reitsleting dan dengan mengangkat sedikit pantat Gina tangan Chal itu berhasil meloloskan celana panjang berikut celana dalam Gina yang berwarna hitam tipis terbawa tertarik ke bawah. Celana itu tertarik hingga di tengah paha Gina di atas dengkul Gina sedikit. Tersembul sudah batang paha Gina yang putih mulus dan gundukan kemaluan Gina yang ditutupi oleh rambut kemaluannya yang halus berwarna hitam ikal.

"Kamu mulus sekali Ginn.." bisik Chal sambil tangannya mengusap paha jenjang milik Gina.
"Ahh kamuu.." Gina tersenyum keenakan dan mata memerah. Keadaan mereka berdua sudah sama-sama dengan celana yang telah merosot dan posisi celana mereka berdua telah berada di atas dengkul masing-masing. Gina hanya mendesah dan menggelinjangkan pinggulnya sambil merenggangkan paha atasnya ketika jari-jari Chal itu mulai merayap perlahan, mengelus dan menekan sekitar atas kemaluan Gina yang ditumbuhi bulu-bulu halus dan menyebarkan aroma yang khas dari kemaluan Gina. Mereka benar-benar telah tidak memperhatikanku yang membawa mobil dengan perlahan sekali dan terus memperhatikan kelakuan mereka berdua yang sudah seperti orang kepanasan.

Mereka sama-sama mendesah dan mengerang perlahan.
"Saya suka sekali wanita Indonesia.." desah Chal.
"Wanginya sangat enak sekali", kata Chal sambil mendesah.
"Emmhh.." desah Gina sambil mengerakkan pinggulnya ke kiri dan ke kanan. Sementara batang kemaluanku sendiri sudah kukeluarkan sejak tadi dan perlahan kukocok sendiri, "Sialan", makiku dalam hati, cemburu tapi enak juga aku melihatnya serasa menonton film BF beneran di depan mata lagi. Jari bule itu mulai menyentuh belahan kemaluan dan mengusap perlahan terus dari atas ke bawah. Belahan kemaluan Gina sudah terlihat basah dan menjadi licin di sekitar belahan tersebut dan semakin lama menyebarkan aroma yang membuat Chal dan aku menjadi makin terangsang. Tangan Gina sudah terlepas dari mengocok batang kemaluan itu dan kedua tangan itu terkulai lemas meremas kepala Chal dan kadang-kadang mengusap punggung Chal dengan sangat merangsang sekali. Chal sabar sekali sementara tangan kiri dan jarinya terus membelai belahan kemaluan Gina, tangan kanannya terlihat meremas buah dada Gina, sementara itu mulutnya menghisap puting Gina yang telah mengeras serta menjilati permukaan dari gundukan buah dada Gina atau mengulum bibir Gina dengan emosi yang teratur.

Bersambung . . .

0 Tukang lulur istriku

Kring.., kring..!, Telepon di ruang kerjaku berdering. "Hallo, pap. Mamah pulangnya agak malam, Istri pemilik usaha ini, minta di temani jalan." Dan bla-bla-bla, istriku ngoceh terus. Tapi yang penting buatku, katanya dia tidak enak dan kasihan sama Bu Eka (tukang lulur). Daripada ngebatalin, ya udah.., akhirnya aku yang menggantikan istriku luluran.

Jam 04.00 sore aku sampai di rumah. Rupanya Bu Eka belum datang. Jadi aku sempat makan sedikit. Belum habis makanannya, Bu Eka sudah berada di muka pintu gerbang. Karena sudah biasa, dia langsung masuk dan membereskan kamar olah raga (biasanya di pakai istriku untuk senam dan luluran). Sebelumnya pembantuku, Ning namanya sudah aku beritahu, kalau istriku tidak luluran, yang luluran aku. Sambil membawa air putih, pembantuku menyampaikan, kalau Bu Eka sudah menungguku untuk luluran.

"Sore Bu..", sapaku sambil membuka baju dan celana panjang. Tinggal memakai celana dalam saja. Mestinya seperti istriku, kalau luluran tidak memakai apa-apa. Tetapi karena aku cowok dan baru kali ini luluran, tidak enak juga rasanya, kalau ikutan polos. Bisa dibilang baru kali ini aku ngobrol banyak dengan Bu Eka. Katanya, dia sudah lama menjadi tukang lulur. Kira-kira 10 tahun dan menjadi tulang punggung keluarga. Dia bercerai dengan suaminya sudah 5 tahunan dengan menanggung 2 anak remaja. Sambil tiduran (karena di lulur), aku perhatikan Bu Eka. Umurnya kira-kira 45 thn. Kulitnya putih (turunan chinese), tingginya kira-kira 165 cm, beratnya 60 kg, dan berwajah menarik. Sekali-kali Bu Eka menunduk, sambil menggosok badanku dengan lulur, wah.., tangan Bu Eka ini termasuk lembut juga. Mungkin karena tiap hari ngelulurin, jadi lembut kali. Aku benar-benar tidak menyangka kalau Bu Eka memiliki payudara yang besar. BH-nya berukuran kira-kira 38D. Sampai-sampai brung di bawah pusarku bergetar, terangsang. Ingin rasanya memasukkannya ke dalam lubang kemaluan Bu Eka. Tapi aku tidak mempunyai keberanian untik itu, takut ketahuan istri, bisa gawat! Sambil nyoba-nyoba aku pancing-pancing Bu Eka.

"Bu.., pernah nggak ngelulur laki-laki?", sambil bertanya aku sibakkan celana dalam. Maksudnya supaya dia ngelulur juga selangkaanku.
"Sering Pak, Malah ada anak remaja, beberapa langganan saya suaminya juga sering luluran".
"Nggak malu Bu? Kalau sampe ada yang buka celana, trus ibu pasti liat barang terlarang khan?", Coba-coba kupancing dia. Nah.., kelihatannya dia sudah mulai terbawa suasana hot.
Sambil ketawa dia bilang, "Ya.., nggak dong Pak, khan ngeliat aja, nggak di apain, paling dipegang aja". Nah.., feelingku mulai merasa ini bisa dimainkan juga. Pikiran kotorku mulai beraksi.
"Kalau gitu, saya buka celana dalamnya ya.., bu? Biar bisa di lulur di selangkangan, kan dakinya banyak di situ". Tanpa banyak ba.., bi.., bu.., celana dalam kulepas, kini aku bugil di depan Bu Eka, dengan penisku yang mendongak ke atas. Berdiri tegak dengan jantannya. Kulihat ekspresi mukanya sedikit, entah kaget atau takjub, melihat penisku yang besar dan panjang.

"Lho.., kog? Udah gede.., Pak, adik kecilnya" katanya, tapi matanya tetap tidak berkedip memandang penisku. Mulai terbakar birahinya.
"Wah.., ini sih belum apa-apa Bu, kalo dipanasi bisa tambah greng lho?, kataku sambil tangannya kupegang dan aku letakkan di atas penisku. Tapi Bu Eka bukannya mengelak, malah tangannya mulai memain-mainkan penisku. Gila.., acara lulurannya jadi berubah..! Tangan Bu Eka benar-benar lembut dan halus. Di mainkannya kemaluanku dengan mesranya. Diremeess, diusap-usap, sedikit kocokan.., membuat kepala penisku kian membesar. Kulihat juga Bu Eka makin terangsang.

"Aah.., mhemm..", Tidak kusia-siakan kesempatan ini, kulepas tangannya dari penisku, langsung kumasukkan ke mulut Bu Eka. Bibir seksinya mencium dan mulai mengulum penisku, "Whoom.., oopp.., whoomm.., whoop.., oopp!" Bunyi mulutnya tatkala mengocok penisku.
"Besar sekali.. Pak, sampe nggak muat ke mulut saya", Sambil senyum Bu Eka kembali beraksi. Masuk.., keluar.., maju.., mundur.., penisku masuk ke mulut Bu Eka.
"Uuhh.., oohh.., nikmat skali.., Bu.., trus.., Bu.., aduh.., nggak tahan saya!"

Aku benar-benar merasakan kenikmatan. Aku tahan spermaku yang mau keluar, aku ingin keluar di dalam lubang vaginan Bu Eka. Sambil aku tahan, Bu Eka makin menjadi-jadi memainkan penisku di mulutnya. Mulai aku buka bajunya, kupegang payudaranya yang besar, kuremas dengan lembut, Bu Eka tambah terangsang. Dari rintihan kecilnya, aku tahu, dia sudah dibawah kendaliku. Aku maki bernafsu.., dengan bangun pelan-pelan, kulepas bajunya sambil bibirnya dan big boobnya kucium, aku dan Bu Eka seperti lepas kendali.., saling cium.., peluk. Badanku yang masih berisi lulur menambah hangatnya pergumulan. Payudaranya yang besar menempel di badanku. Bergetar nafsuku.

"aah.." Bu Eka sedikit mengerang, sewaktu payudaranya kucium dan kugigit-gigit. Posisinya sekarang di bawah, telentang! Dari payudaranya kutelusuri (aku jilati) perutnya "cup.., csrut..", lidahku mulai bermain. Semua detial payudaranya kucium, kujilati.., meluncur ke bawah, perutnya.., ke bawah lagi.., waah.., luar biasa.., bau badan Bu Eka begitu harum. Tinggal selangkah lagi lidahku bermain, hingga kutemukan bulu-bulu halusnya yang menyembul dari celana dalamnya. Sedikit usaha terlepas sudah celana dalamnya. Kelihatan bulu-bulu hitam menyembul makin lebat. Aku melongok ke bawahnya, bulu-bulu hitamnya kusibakkan.., terlihat lubang kenikmatan yang berwarna merah muda menantang. Aku tidak tahan! Kujilati semuanya.., bulu-bulunya.., clitorisnya.., lubang vaginanya. Sisi-sisi vagina Bu Eka memang sedikit keluar, aku hisap, "Sruup.., cuupp.." semuanya!

"Aahh.., Oooh.., aduh nggak tahan.., Pak..!" Erangannya menambah nafsu liarku, tidak henti-hentinya kujilati vaginanya dan clitorisnya aku kulum, kugigit-gigit kecil, sampai akhirnya, "aah.., aduh.., saya keluar..", sambil berusaha duduk menghadap ke arahku. Akupun langsung berdiri. Kuarahkan penisku ke arah bibirnya, "Slup.., mhom..", dikulumnya sekali lagi penisku.
"Oooh.., bagus Bu.., trus masukin semuanya.., hisaap.., Bu.." kulumannya membuatku semakin mabuk kepayang. Dari ujung penis hingga ke biji pelerku semua bersih.., dihisep.., dikulum.., masuk.., keluar, "oohh.." Karena kita sudah makin memuncak, aku tarik penisku, kucium Bu Eka sambil tiduran, kakinya menjulur ke bawah tempat tidur. Pahanya kubuka, lubang kenikmatannya sedikit terbuka.

Pelan tapi pasti penisku mulai masuk, "Bleep..", sedikit basah.., Sreet.., bleep.., penisku maju mundur menembus lubang kenikmatan Bu Eka. Semakin lama semakin dalam aku benamkan penisku, hingga menembus bagian dalamnya.., cairan Bu Eka makin banyak keluar.

"Oohh.., saya keluar.., pak!", Sambil badannya mengelinjang orgasme. Aku benar-benar seperti kuda liar, lepas kendali. Aku suruh Bu Eka nungging, lubang pantatnya kelihatan jelas, aku gosok-gosokan penisku di lubang duburnya, sambil penisku turun ke bawah mencari lubang kenikmatan Bu Eka. Kuintip lubang vaginanya, gila! Bagaikan sumur dalam yang tidak ada ujungnya.
"aahh.., aduh.., Pak..? Bu Eka menjerit kecil. "Sreet.., bleep.., penisku masuk ke lubang vaginanya. Lalu kupompa Bu Eka.., "Bleepp.., sreet..", bunyi penisku dan vagina Bu Eka, bersatu padu.
"Aahh.., oohh.., keluar.., Bu..!" Bersamaan dengan air maniku keluar, Bu Eka juga mengerang, "aahh..". Croot.., crot! air maniku keluar dari dalam lubang Bu Eka. Hangat.., penisku masih terbenam. Terasa disedot. Bu Eka sengaja memainkan lubangnya, sambil berbalik memciumiku, kupeluk Bu Eka, Mesra!

Jam 09.00 malam istriku sampai di rumah, diantar sopir kantornya. Panjang lebar dia cerita tentang kegiatannya dengan ibu pemilik perusahaan. Sambil muji badanku, "tambah putih dan bersih lho.., Pap..? Pinter ya.., Bu eka ngelulur." Aku hanya mengangguk saja, no comment! Padahal dalam hati, pikiranku melayang membayangkan lubang Bu Eka!

Tamat