Pages

Senin, 02 Mei 2011

7 Mbak Siska dan Mbak Lisa

Suasana rumah waktu itu sangat sepi. Keluargaku pergi berlibur ke daerah. Di rumahku hanya ada Mbak Siska dan Lisa yang ikut orang tuaku dari daerah dan pembantuku sri. Wajah dan tubuh Mbak Siska dan Lisa seperti pemandangan yang indah, mereka sangat mm. Terkadang kawan atau kenalanku yang datang suka memuji wajah dan tubuh mereka. Beberapa temanku ingin berpacaran dengan mereka tapi tak dapat. Sering mereka dikira saudaraku. Pacarku kadang cemburu dengan mereka. Memang banyak kelebihan mereka dibanding pacarku.

Waktu itu aku pulang kuliah dan pulang ke rumah bersama pacarku. Ya tentu saja peluang ini kumanfaatkan. Kunikmati tubuh pacarku. Tapi ada yang kurang. Milikku tak ia ijinkan menikmati tubuhnya. Kunikmati tubuh polos pacarku berjam-jam. Tapi kurasa aku kecewa. Sebenarnya aku ingin merasakan bersengsama. Aku berharap pacarku dapat memberikannya. Tapi apa boleh buat, karena hari sudah sore kuantar dia pulang.

Setiba di rumah lagi, sekilas aku lihat Mbak Siska baru selesai mandi. Ia terkaget karena tak menyangka aku ada di rumah. Cepat-cepat dia masuk ke kamar. Birahiku terangsang melihat tubuhnya yang hanya tertutup handuk, rasanya kuingin menikmati tubuhnya. Kulihat pintu kamarnya tertutup. Karena hasratku menginginkannya. Maka kucoba masuk ke kamarnya. Ternyata pintunya tidak terkunci dan segera kumasuk. Melihat kehadiranku, Mbak Siska terkaget. Lalu ia bertanya padaku,"Ada apa Mas Geri, Mas Geri nyari apa?" dengan canggung karena hanya mengenakan handuk.Kulihat tubuhnya dari ujung rambut sampai ujung kaki. Wajahnya cantik, dewasa dan lembut. Kulitnya bersih, putih mulus dan terlihat lembut. Lipatan dadanya sangat dalam. Kedua buah dadanya yang terhimpit handuk memang besar dan kelihatan benar-benar mulus, baru kulihat seperti ini. Pinggulnya membentuk dan lingkaran perutnya terlihat lebih kecil. Pahanya terlihat semua dan hampir selangkangannya terlihat tapi sayang tertutup handuk. Betisnya bagus.

Aku tak tahan melihat tubuh Mbak Siska. Perlahan kuhampiri. Lalu tanganku meraih handuk Mbak Siska dan sesaat handuknya kulepaskan. Mbak Siska benar-benar kaget. "Geri kamu kenapa?" jawab Mbak Siska dengan takut. Lalu kedua tangannya menutupi kemaluan dan dadanya. "Tubuh Mbak bagus," sahutku. Terlihat tadi keindahan tubuhnya yang polos. Kupeluk Mbak Siska. Mbak Siska berusaha menghindar. Tapi kurasakan cara menolak Mbak Siska halus. Tanpa pikir kudekap pantat Mbak Siska dengan tanganku. Dada Mbak Siska yang tertutup tangannya segera kuraih, kuremas dan kadang putingnya kupelintir-pelintir sedikit. Kurasakan padat dan kenyal di kedua tanganku. "Jangan Ger!" ucap Mbak Siska dengan lembut. Tak kuindahkan ucapannya. Segera bibirku mengecup bibirnya yang kulitnya terlihat tipis dan lembut. Kulahap bibir Mbak Siska. Terkadang Mbak Siska menolaknya tapi terkadang ia malah membalasnya.

Kugiring tubuhnya ke tempat tidur. Rasanya kuingin merasakan bersetubuh. Kemudian salah satu tanganku melepaskan resleting dan mengeluarkan milikku. Segera kudorong tubuhnya dengan tubuhku ke tempat tidur. Akhirnya tubuhnya terbaring dan kutindih. Kutempelkan milikku di bibir vagina Mbak Siska. Sesaat Mbak Siska melepaskan bibirnya dari bibirku. "Jangan Ger!" ucapnya sesaat.Tanpa pikir lagi kulahap bibirnya lagi. Rasanya inilah kesempatanku merasakan kenikmatan tubuh wanita. Dan milikku sesaat mencoba menerobos masuk. Mbak Siska melepaskan bibirku lagi."Jangan Ger!" ucapnya mengingatkanku. Kutakperdulikan ucapan Mbak Siska. Sesaat kurasakan penisku berhasil masuk dan tertelan di liang vagina Mbak Siska. "Oouuhh," ucap Mbak Siska sekeras-kerasnya. Akhirnya kurasakan kenikmatan tubuh wanita. Rasa liang vagina Mbak Siska tidak terlalu licin. Tapi kurasakan lembutnya liang vagina Mbak Siska. Kunikmati dan perlahan kukeluar masukkan. "Geri.. kamu.." ucap Mbak Siska sesaat. Beberapa lama kemudian kurasakan liang vagina Mbak Siska licin dan membuat penisku agak basah sampai ke buluku. Akhirnya kukeluar-masukkan milikku di liang vagina Mbak Siska. Kulihat dagu dan dada Mbak Siska terangkat tinggi. Desahan demi desahan ia keluarkan. Terkadang kulihat wajah Mbak Siska menghadap ke kanan dan kiri.

Aku menyukai kejadian ini, sampai-sampai milikku memuncratkan cairan di dalam tubuh Mbak Siska. "Aahh.. oouuhh.." sambil Mbak Siska ucapkan seiring semburanku. Rasanya benar-benar nikmat. Kuterdiam karena nikmat. Selang berapa saat kemudian kurasakan liang vagina Mbak Siska mendekap rapat milikku. Seakan-akan milikku digigit. Kurasakan kedua tangan Mbak Siska menarik punggungku dan segera memelukku rapat. Kurasakan badannya benar-benar menegang. Setelah itu ia terdiam lemas dan pasrah. Kurasakan aku masih pingin dan masih kuat. Tanpa basa-basi aku nikmati lagi liangnya. Matanya menatap mataku dengan lembut. Desahan pun ia keluarkan lagi. Dan akhirnya kusemburkan cairan lagi. Kusengaja di dalam, karena aku tahu Mbak Siska pernah nikah dan ia bercerai karena mandul.

Akhirnya kuselesai dan membungkus kembali milikku. Dan kududuk di pinggir tempat tidur. Kulihat Mbak Siska perlahan duduk. Sesaat dia terdiam. Kali ini kebanggaannya tidak ia tutupi dari mataku tampaknya ia sudah tidak canggung denganku. Rambut panjangnya yang agak menutupi dada ia uraikan dan rapikan ke belakang sehingga buah dadanya terlihat jelas. Tanganku memegang lagi salah satu buah dadanya. "Geri.." sahut Mbak Siska dengan raut wajah yang sudah agak memucat dari tadi. "Nggak apa-apa kan Mbak Siska?" ucapku sambil kuraba-raba dadanya dan kadang kuremas dan kumainkan putingnya. Kali ini Mbak Siska tidak menolak. Kukecup bibirnya dan kurasakan cara Mbak Lisa berciuman dan perlahan kupelajari dan akhirnya kumengerti.

Kami kali ini kami saling membalas bibir, lidah dan berebutan menghisap liur. Setelah berapa lama aku keluar dari kamar Mbak Siska. Beberapa saat kumenuju ke kamarku. Aku bersapa dengan Lisa. Lalu aku ajak ia mengobrol dan menonton di ruang TV. Kami duduk berdekatan. Terkadang kuperhatikan wajah Lisa dan memang ia manis. Kuperhatikan sosoknya dan kurasa tubuhnya bagus. Wajahnya sangat menarik. Lisa mengenakan kaos tanpa lengan dan celana pendek. Kuperhatikan satu persatu. lehernya putih bersih dan mulus memang merangsang. Pundaknya, lengannya, putih bersih dan mulus juga merangsang. Dadanya berbentuk juga berukuran. Pinggangnya yang ramping seakan enak untuk dirangkul. Pinggulnya yang berbentuk. Celana pendeknya membuat paha yang bersih dan putih mulus merangsang mata. Betisnya bagus. Tingginya lumayan.

Kudekati tubuhnya saat duduk bersamaan. Kurangkul, kupeluk. Tampaknya ia tidak menolak. Kubuai rambutnya. "Mas.. aku jadi merinding," ucap Lisa dengan agak manja. "Kenapa..? nggak apa-apa kan?" sahutku. Kurasa kehangatan dirinya melebihi pacarku. Tampaknya aku terangsang. Salah satu tanganku yang membuai rambutnya kemudian mengelus pundaknya. Satu tanganku lagi menyentuh pahanya yang merangsang. Rupanya Lisa tak menolak. Perlahan kuelus dan meraba-raba pahanya. Kulitnya halus dan lembut. Perlahan tanganku menuju ke selangkangannya dan perlahan mengelus belahannya yang tertutup celana. Kulihat Lisa membiarkanku dan wajahnya agak menegang dan grogi. Bibir bawahnya terkadang ia gigit dengan lembut. Tanganku kemudian merangkul pundaknya. Pelan-pelan tanganku berjalan ke arah dadanya. Kurasakan ia hanya diam. Lalu perlahan kudekap buah dadanya yang cukup besar dan kuraba-raba.

"Mas.." ucap Lisa pelan. Kulihat bibirnya yang mengucap. Terlihat lembut dan merangsang. Rasanya bibirku bergerak otomatis menghampiri bibir Lisa. Lalu kukecup, rasanya memang lembut. Nikmat rasanya dan langsung kulahap bibirnya dengan nafsuku. Lisa diam tak bergerak. Dia terdiam pasrah melayaniku. Lalu kupeluk Lisa secara berhadapan. Kurasakan empuk buah dadanya di dadaku. Kuraba-raba punggungnya. Perlahan tanganku turun ke pinggang Lisa lalu menyusup di dalam kaosnya. Kurasakan kulit yang lembut dan halus. Kuraih tali BH Lisa, kubuka kaitannya. Akhirnya kuelus-elus dengan leluasa punggungnya karena tak terhalang tali BH-nya. Kurasakan Lisa mengikuti keinginanku. Tanganku bergerak ke arah ketiaknya. Terasa tubuhnya goyang dan perlahan kuhampiri dadanya. Kurasakan bulatan yang besar. Tanganku tak cukup mendekap buah dadanya. Masih ada bagian yang tersisa. Akhirnya aku dapat merasakan tubuh wanita yang selama ini hanya gambar khayalan.

Lisa terdiam seakan sedang melayaniku. Perlahan kedua tanganku turun ke pinggangnya lalu kuangkat kaos dan BH-nya. Kulihat kedua buah dadanya. Akhirnya mataku dapat melihat ukuran dada yang selama ini hanya dapat kulihat di gambar-gambar. Kutatap dengan kedua mataku dan tanganku meraba-raba dan menikmati bentuknya. Kulihat Lisa hanya diam dan tegang. Wajahnya agak memucat. Kulahap bibirnya dan kuremas dadanya. Kurasakan Lisa diam pasrah. Tanganku turun dari dadanya dan turun menusup celananya. Kurasakan "hutan" Lisa di dalam celana dalamnya. Kurasakan belahan dan kumainkan tonjolan Lisa. Secara bertahap kurasakan tanganku basah dan licin. Kemudian Lisa melepaskan kecupan bibirku. "Mas Geri, jangan yang itu Mas, aku masih.." ucap Lisa. Ternyata ucapan Lisa malah merangsangku. Perlahan tanganku menyusup di liang vagina Lisa. "Aaahh.. Mas Geri," rintih Lisa seiring jariku yang tertelan di liangnya.

Secara bertahap kukeluar-masukkan jariku di liangnya sampai cepat. Kulihat dagu Lisa terangkat. Matanya terpejam. Mulutnya perlahan terbuka dan kemudian bibir bawahnya ia gigit halus. Melihat ini wajahku menghampiri salah satu buah dadanya. Kubuka mulutku. Lalu kutelan dan kuhisap putingnya. Sesaat ia membusungkan dadanya. Serasa aku diberikan menu pilihan oleh Lisa. Kemudian kuberhenti dan kami berhenti sesaat.

Kurasakan birahiku menginginkan senggama. Kuajak Lisa ke kamarku. Kami duduk di pinggir tempat tidur. Kami berpelukan berciuman dan kedua tanganku menggerayangi tubuhnya. Sesaat satu persatu kain yang menyeliuti tubuh kami terlepas. Bibir, leher, telinga, pundak, punggung, buah dada, perut, pinggang, belahan selangkangannya, pahanya kunikmati dengan mulut dan tanganku. Sesaat posisinya terlentang. Kedua pahanya kubuat mengangkang lebar. Terlihat dengan jelas bagian demi bagian kenikmatan di belahan Lisa. Milikku kuhunuskan di bibir vagina Lisa. Perlahan kumasukkan milikku. Kurasakan kepala milikku agak tertelan. Sesaat Lisa menahan nafas merasakan milikku menyusup sesaat. Dagunya terangkat dan dadanya mengusung. Kudiamkan milikku tertahan. Kupeluk tubuhnya. Kuciumi dagunya yang terangkat kemudian seluruh lehernya. Kurasakan bibir vagina Lisa basah dan licin. Perlahan kumasukkan penisku ke dalam liang Lisa yang lebih mendekap ke rahim Mbak Siska. Kurasakan kelembutan liang Lisa. Sesaat kumerasakan kenikmatan wanita yang memiliki ciri khas masing-masing.

Kulihat mulut Lisa terbuka. Bibir dan mulutnya bergetar. Seakan mendesah tanpa suara. Matanya setengah terpejam. Wajahnya terkadang berpindah-pindah hadapan. Kurasakan ganjalan buah dada Lisa di saat aku memeluknya. Desahan demi desahan akhirnya terdengar jelas dari bibir Lisa. Kurasakan puncakku tiba. Kucabut milikku dan sesaat bagian perut sampai wajah Lisa terkena semburanku.

Sesaat kulihat Lisa menjilat cairanku yang menepel di bibirnya. Tampaknya ia menyukainya dan kemudian ia telan. Melihat ini kuhampiri wajah Lisa dan milikku kutempelkan ke bibirnya. Awalnya ia canggung. Kemudian ia buka mulutnya. Kemudian kumasukkan milikku ke mulutnya. Ia pun melahapnya juga. Sesaat kurasakan milikku di dalam mulut Lisa yang lembut. Kurasakan milik dan cairanku ditelan habis. Tampaknya aku masih sanggup menyetubuhinya. Tanpa pikir lagi kubuat posisi bersetubuh. Kutancapkan milikku lagi di liang vagina Lisa. Sesaat ia menegang lagi. Kunikmati lagi liang Lisa. Dan kurasakan liang Lisa, kemudian mendekap dan seakan menggigit milikku. Tangannya meremas pantatku dengan kuat. Ah, tanpa bisa terkontrol aku melepaskan cairanku di dalam tubuh Lisa. Aku terdiam sesaat. Kurasakan nikmat dan bingung. Semoga Lisa tidak hamil. Lalu kemudian kami mandi dan di sana kami juga sempat melakukannya lagi. Rasanya aku ketagihan.

Selesai mandi Mbak Siska kulihat di dalam kamar. Aku dan Lisa keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang polos.
"Kalian kenapa?" tanya Mbak Lisa kepada kami.
"Nggak kenapa-napa kok Mbak," sahutku.
"Kamu nggak kenapa-napa Lis?" tanya Mbak Siska.
"Nggak kenapa-napa kok Mbak," jawab Lisa.
Mbak Siska heran melihat keadaan kami. Kulihat Lisa mengambil pakaiannya kembali dan ia pakai. Kemudian Mbak Siska menghampiri Lisa dan menanyakan sesuatu. Saat itu aku sedang mengenakan pakaianku.

Setelah beberApa lama mereka selesai berbincang.
"Mas Geri aku keluar ya," sahut Lisa.
"Ya Lis," sahutku.
"Mbak Siska tadi bingung ngeliat rumah sepi, Mbak kira kalian pada kemana," tanya Mbak Siska kepadaku.
"Kami di sini lagi.." sahutku dengan nada bingung.
"Lisa nggak kenapa-napa kan Ger?" tanya Mbak Siska.
"Nggak kenapa-napa Mbak, Cuma.." sahutku sambil aku mendekatinya.

Kedua tanganku memeluk pinggangnya. "Ada apa Ger?" tanya Mbak Siska sambil membuai rambutku.Kemudiam aku mengecup bibir Mbak Siska dan kami berciuman sesaat. Kemudian Mbak Siska melepaskan kecupanku. "Ger udah ya.. Mbak mau keluar," sahut Mbak Siska.
Tampaknya aku ketagihan terhadap mereka. Kejadian ini terus berulang dan untung Lisa tidak hamil. Aku sempat berhubungan bersamaan dengan Mbak Siska dan Lisa. Beberapa lama kemudian aku juga melakukan hubungan seperti ini dengan beberapa teman perempuan. Akhirnya aku juga berhubungan dengan pacarku. Tapi ini bukan pertama buat dia. Hubungan kami hanya sesaat dan kami tidak cocok. Kurasakan ia lebih banyak kekurangan dibanding Mbak Siska dan Lisa. Akhirnya ia nikah dengan orang lain. Setelah aku berhasil akhirnya menikah dengan Lisa. Dan hubungan aku dengan Mbak Siska berkurang semenjak ia menikah dengan duda beranak. Lisa mengetahui hal ini dan tidak mempermasalahkannya. Akhirnya aku memiliki anak. Dan entah kehidupan selanjutnya.

TAMAT

7 Permainan binal

Cerita ini adalah cerita sebenarnya mengenai pengalaman hidup saya ketika saya masih kuliah di Bandung. Saat ini saya sudah bekerja di salah satu perusahaan BUMN terkenal di dekat Gedung sate. Di dalam cerita ini saya mengubah nama dan settingnya untuk menjaga identitas asli orang-orang yang terkait di dalam cerita ini tanpa mengurangi jalannya cerita.

Semuanya dimulai ketika saya masih menjalani usaha jual-beli komputer. Kegiatan saya cukup banyak menyita waktu kuliah saya dan menyebabkan kuliah saya sedikit terbelengkalai. Saya sering dipanggil dengan nama Boby, dan rekan kerja saya Martin. Pada suatu sore saya dan Martin mampir ke tempat penjualan Komputer milik rekan usaha kami juga. Sampai di sana kami hanya membicarakan masalah penjualan komputer saja hingga tokopun ditutup. Yang menjaga toko di situ terkenal suka main wanita, padahal dia sudah memiliki istri dan anak, saya memanggilnya Jefri. Ketika saya dan Martin ingin pulang, Jefri ternyata ingin ikut kami, maka kamipun tanpa keberatan menyetujuinya. Hari itu kami pulang naik mobil saya yang tidak menggunakan kaca film, jadi kalau orang di jalan melihat kami seperti ikan di dalam aquarium.

Di dalam perjalan pulang tiba-tiba Jefri mengajak kami untuk jalan-jalan dulu, alasannya malam ini adalah malam minggu. Kamipun setuju-setuju saja, soalnya saya dan Martin lagi kosong (lagi tidak punya pacar), jadi tidak punya kegiatan ngapel malam minggu.
"Daripada kami bengong di rumah, mendingan kami main-main aja ke tempat cewek kenalan gue." kata Jefri dengan wajah mesumnya.
"Kalo gue sih ok-ok aja, gimana lu, Tin?" Tanya saya ke Martin.
"Jekas gue sih ok aja, gue udah BT seminggu ini," katanya sambil mengiyakan.

Agak lama kami sampai juga ke tempat kosnya Mira kenalan Jefri di daerah Tubagus Ismail. Waktu itu sudah jam 8 malam, jadi jalanan macet karena malam minggu di Jl. Juanda ramai orang menimati malam. Ternyata kos-nya Mira adalah kos-kosan khusus wanita yang ramai dengan gadis cantik. Saya senang sekali dan pasti sama dengan Martin, soalnya kami sudah lama tidak dekat dengan gadis setelah putus hubungan dengan pacar kami masing-masing.

Ketika sampai di depan kamarnya Mira yang lumayan besar itu kami tertegun sebentar karena melihat pemandangan yang indah di depan mata kami. Ada 3 orang gadis cantik dan seksi sedang bermain monopoli sambil tiduran di atas ranjang springbed yang lumayan besar.
"Hai, jeff.. udah lama ngga ke sini, tumben, ehh siapa tuh? Temen lu?" kata Mira dari dalam kamarnya.
"Biasa, gue kan sekarang lagi sibuk, nah kebetulan mampir. Kenalin nih temen gue. Boby dan yang satunya Martin."
"Ehh, ngomong, ngomong siapa tuh temen lu berdua yang cantik di dalam?" tanya Jefri yang melihat ada dua cewek yang cantik dan sexsi lagi tidur-tiduran di ranjangnya Mira sambil tersenyum ke arah kami.
"O..ya, temen gue, Mona sama Jeni." Kata Mira.
"Gila." dalam hati kata saya, rupanya kedua temennya tidak beda dengan Mira yang memiliki tubuh yang sensual dengan buah dada ukuran 36B dan kulitnya yang putih mulus. Saat itu saya sempat membayangkan kalau tangan saya merabanya, pasti akan asyik. Mira berbeda sedikit dengan kedua temannya karena tubuhnya sedikit lebih tinggi dan rambutnya digerai laksana perempuan nakal yang saat itu hanya menggunakan daster merah yang lipatan dasternya hanya 15 cm di atas lututnya. Pamandangan seperti itu membuat kami terutama saya terangsang. Sedangkan Jeni dan Mona hanya memakai tentop dan celana pendek jeans belel yang semakin memamerkan paha mereka yang putih mulus itu.

Setelah diajak masuk ke kamarnya, kami langsung pura-pura akrab dan kami mengambil posisi pasang-pasangan, saya dengan Mona, Martin dengan Jeni dan tentunya Jefri dengan Mira. Kami saat itu sedang bermain monopoli. Rupanya kebiasaan Jefri yang suka datang ke kamar Mira itu sudah dianggap biasa sama Jeni dan Mona dan mereka sepertinya sudah mengetahui kalau di antara Jefri dan Mira sering bercinta di situ. Jeni dan Mona sepertinya tidak malu-malu dan bahkan mereka langsung merangkul kami sambil tertawa karena menikmati permainan monopoli tersebut.

Tidak lama, mungkin sekitar 10 menit lamanya kami bermain, Jefri menawarkan permainan baru kepada kami.
"Wah seru banget nih kalau kita mainnya pake aturan baru." Kata Jefri.
"Kaya apa Jef?" Tanya Jeni.
"Gimana kalau yang kalah buka baju," kata Jefri yang dari tadi tangannya sibuk meraba pantatnya Mira.
"Ok, setuju." Kami kompakan menjawab.
Rupanya hasrat seperti itu sudah dari tadi kami pendam, dan untungnya Jefri pintar mengambil situasi dan permainanpun dimulai dengan timnya Jeni dulu yang pertama membuka pakaian. Permainan terus berlanjut sampai kepada timnya Jefri dan Mira yang sudah telanjang bulat ternyata masih kalah lagi, dan kami minta hukumannya saling ciuman. Mereka memang sudah biasa, tapi hal itu membuat kami semua yang menontonnya menjadi terangsang, apalagi ciuman mereka sambil meraba-raba begitu. Pemandangan saat itu merangsang saya yang saat itu hanya tinggal CD membuat burung saya menegang hingga kepalanya keluar dari CD karena kebetulan burung saya kalau sudah menegang bisa sampai 17 cm. Rupanya tidak beda dengan Martin yang dari tadi terlihat sudah mesra sekali dengan Jeni yang saat bermain mencium pipinya terus. Gelagat menegangnya burung kami terlihat Mona dan Jeni yang cekikikan melihatnya, tetapi dengan nakalnya mereka memegang burung saya dan Martin dengan penuh gairah. Awalnya hanya memegang tetapi lama-kelamaan Mona mulai memainkan tangannya naik turun. Saya tidak tinggal diam, sayapun langsung meraba buah dadanya dengan belaian dan remasan mesra. Sebenarnya pengalaman saya dalam melakukan seks dengan wanita hanya baru berciuman dengan pacar saya sendiri. Hal serupa juga dialami oleh Martin dan pasangannya Jeni.

Tidak tinggal diam, saya langsung mengajak Mona yang dari raut wajahnya sudah mencapai nafsu birahi setelah memegang burung saya ke kamar mandi Mira yang kebetulan berada di dalam kamar itu juga. Tanpa ada penolakan, Mona saya tuntun ke kamar mandi sambil kami berciuman bertukar lidah. Mona yang CD-nya sudah basah langsung saya buka setelah menutup pintu kamar mandi, saya memilih kamar mandi karena saya sebenarnya baru kali ini telanjang bulat di depan gadis yang juga sudah telanjang bulat kecuali hanya tinggal CD yang menutupi badan kami. Entah kegilaan apa yang sudah saya lakukan malam itu, perasaan saya jadi sedikit ragu ketika Monapun tanpa kelihatan malu-malu membuka CD saya dan kemudian menjilati burung saya dalam posisi jongkok, tapi memang nikmatnya terasa sampai ke ubun-ubun saya waktu itu, sehingga saya tidak berpikir panjang lagi dan langsung meremas buah dadanya yang padat, putih, mencuat dengan puting merahnya yang mungil seperti buah ceri di atas es cream vanila. Permainan terus berlanjut dengan kami berganti posisi, saya awalnya ragu, karena kemaluannya yang lebat ditumbuhi bulu halus itu baru kali ini saya lihat dari jarak dekat. Saya memulainya dengan menyibakkan bulu-bulu halus itu pelan-pelan.
"Ehh.. enak Bob.. kamu.. ahh.." rintihnya.
Mendengar rintihan itu saya langsung membenamkan muka saya ke bulu-bulu halus itu dengan memainkan lidah saya di sekitar clitorisnya. Lagi-lagi Mona mendesah, dan kali ini malah meremas-remas rambut saya sambil sedikit-sedikit dia menggoyangkan pinggulnya karena kegelian nikmat. Sambil terus menjilati kemaluannya yang semakin membasah itu, saya mendudukkan Mona di pinggiran bak mandi agar Mona terasa nyaman.
"Terus Bob, terus.. saya ingin, ehh.." Kata-katanya tak sempat diteruskan karena saat itu Mona menggeliat karena orgasme dan dari kemaluannya mengalir cairan bening yang baunya tidak pernah akan saya lupakan.

Tangannya semakin keras menjambak rambut saya karena hebatnya dia mengalami orgasme. Kami bertukar posisi, kemudian dia langsung memeluk saya dan mengangkat kakinya dengan tangannya menuntun burung saya ke kemaluannya yang sudah basah itu.
"Bob, ayo kamu masukkan punya kamu ke meki gue, gue udah ngga tahan lagi.." desaknya.
"Seperti ini?" Tanya saya pura-pura polos sambil mencoba mengarahkan burung saya ke kemaluannya yang masih sempit itu.
"Ehh.. aduhh.. pelan-pelan ya Bob.. saya belum terbiasa.." Katanya lirih.
Saya mendorong pelan-pelan dan ahirnya masuk setengah burung saya yang lumayan besar untuk kemaluannya. Saya memulai dengan mendorong dan menarik pelan-pelan sambil mencium bibirnya dengan mesra dan tangan kanan saya meremas-remas halus buah dadanya.
"Ehmm.. enak Bob.. terus Bob.. tekan lagi..sam..pai masuk semua..ohh.." desahnya tak karuan karena merasa kenikmatan yang dasyat saat itu.
Saya menusukkan burung saya makin lama makin ke dalam dan semakin cepat frekuensinya. Bunyi decakan terdengar karena gerakan saya diikuti oleh gerakan pinggulnya yang ke kiri-kanan itu. 20 menit berlalu dengan posisi itu dan ahirnya saya mencapai puncak.
"Gue mau keluar nih..keluarin di dalam?" Tanya saya sambil terus memasuk-keluarkan burung saya.
"Keluarin aja di dalam bob.. gue juga kayaknya mau keluar lagi.. ohh.." Jawabnya sambil terus menggila berciuman.

Kami ahirnya mencapai puncak kenikmatan hampir bersamaan, dan tubuh kami saling berpelukan sangat erat dalam posisi berdiri. Nafas kami berdua terengah-engah dan kamipun menghentikan gerakan sambil berciuman sampai lama.
"Gue sayang sama lu Bob..gila enak banget Bob." Kata Mona di dekat telinga saya yang dari tadi juga menjadi sasaran lidahnya yang haus itu.
"Lu nggak apa-apa kan Mon..? Gue baru kali ini ngerasaain yang kaya gini.. gila enak banget Mon." Kata saya.

Kami kemudian mandi bersama dan membersihkan diri. Ketika keluar dari kamar mandi rupanya kedua pasangan Jefri-Mira dan Martin-Jeni menertawai kami berdua. Rupanya mereka juga melakukan hal yang sama seperti yang kami lakukan di kamar mandi, bedanya mereka melakukan di ranjangnya Mira dan mereka melakukannya berempat bersamaan. Sambil malu-malu saya mengambil pakaian saya dan kemudian bermesraan lagi dengan Mona. Dan perasaan saya saat itu senang sekali. Saya dan Mona bermesraan di Sofa tidak menghiraukan keberadaan teman-teman yang lain sampai ahirnya Jefri dan Martin mengajak pulang karena saat itu sudah hampir jam 12 malam. Walaupun sedikit bebas di lingkungan kosannya Mira, tapi kami masih merasa tidak enak kalau-kalau ada tetangga di situ yang menegur gara-gara kami bertamu kelewat batas.
"Bob, mau pulang sekarang..? Telpon gue yahh besok..?" Rayunya sambil mencium pipi saya yang terahir kalinya sebelum pulang.

Kami pulang dengan masing-masing menyimpan cerita dan pengalaman yang terindah malam itu. Di perjalanan kami saling menceritakan apa saja yang sudah kami lakukan tadi, dan sejak saat itu saya dan Mona berpacaran rutin sampai 2 tahun.

Tamat

4 Permainan binal

Cerita ini adalah cerita sebenarnya mengenai pengalaman hidup saya ketika saya masih kuliah di Bandung. Saat ini saya sudah bekerja di salah satu perusahaan BUMN terkenal di dekat Gedung sate. Di dalam cerita ini saya mengubah nama dan settingnya untuk menjaga identitas asli orang-orang yang terkait di dalam cerita ini tanpa mengurangi jalannya cerita.

Semuanya dimulai ketika saya masih menjalani usaha jual-beli komputer. Kegiatan saya cukup banyak menyita waktu kuliah saya dan menyebabkan kuliah saya sedikit terbelengkalai. Saya sering dipanggil dengan nama Boby, dan rekan kerja saya Martin. Pada suatu sore saya dan Martin mampir ke tempat penjualan Komputer milik rekan usaha kami juga. Sampai di sana kami hanya membicarakan masalah penjualan komputer saja hingga tokopun ditutup. Yang menjaga toko di situ terkenal suka main wanita, padahal dia sudah memiliki istri dan anak, saya memanggilnya Jefri. Ketika saya dan Martin ingin pulang, Jefri ternyata ingin ikut kami, maka kamipun tanpa keberatan menyetujuinya. Hari itu kami pulang naik mobil saya yang tidak menggunakan kaca film, jadi kalau orang di jalan melihat kami seperti ikan di dalam aquarium.

Di dalam perjalan pulang tiba-tiba Jefri mengajak kami untuk jalan-jalan dulu, alasannya malam ini adalah malam minggu. Kamipun setuju-setuju saja, soalnya saya dan Martin lagi kosong (lagi tidak punya pacar), jadi tidak punya kegiatan ngapel malam minggu.
"Daripada kami bengong di rumah, mendingan kami main-main aja ke tempat cewek kenalan gue." kata Jefri dengan wajah mesumnya.
"Kalo gue sih ok-ok aja, gimana lu, Tin?" Tanya saya ke Martin.
"Jekas gue sih ok aja, gue udah BT seminggu ini," katanya sambil mengiyakan.

Agak lama kami sampai juga ke tempat kosnya Mira kenalan Jefri di daerah Tubagus Ismail. Waktu itu sudah jam 8 malam, jadi jalanan macet karena malam minggu di Jl. Juanda ramai orang menimati malam. Ternyata kos-nya Mira adalah kos-kosan khusus wanita yang ramai dengan gadis cantik. Saya senang sekali dan pasti sama dengan Martin, soalnya kami sudah lama tidak dekat dengan gadis setelah putus hubungan dengan pacar kami masing-masing.

Ketika sampai di depan kamarnya Mira yang lumayan besar itu kami tertegun sebentar karena melihat pemandangan yang indah di depan mata kami. Ada 3 orang gadis cantik dan seksi sedang bermain monopoli sambil tiduran di atas ranjang springbed yang lumayan besar.
"Hai, jeff.. udah lama ngga ke sini, tumben, ehh siapa tuh? Temen lu?" kata Mira dari dalam kamarnya.
"Biasa, gue kan sekarang lagi sibuk, nah kebetulan mampir. Kenalin nih temen gue. Boby dan yang satunya Martin."
"Ehh, ngomong, ngomong siapa tuh temen lu berdua yang cantik di dalam?" tanya Jefri yang melihat ada dua cewek yang cantik dan sexsi lagi tidur-tiduran di ranjangnya Mira sambil tersenyum ke arah kami.
"O..ya, temen gue, Mona sama Jeni." Kata Mira.
"Gila." dalam hati kata saya, rupanya kedua temennya tidak beda dengan Mira yang memiliki tubuh yang sensual dengan buah dada ukuran 36B dan kulitnya yang putih mulus. Saat itu saya sempat membayangkan kalau tangan saya merabanya, pasti akan asyik. Mira berbeda sedikit dengan kedua temannya karena tubuhnya sedikit lebih tinggi dan rambutnya digerai laksana perempuan nakal yang saat itu hanya menggunakan daster merah yang lipatan dasternya hanya 15 cm di atas lututnya. Pamandangan seperti itu membuat kami terutama saya terangsang. Sedangkan Jeni dan Mona hanya memakai tentop dan celana pendek jeans belel yang semakin memamerkan paha mereka yang putih mulus itu.

Setelah diajak masuk ke kamarnya, kami langsung pura-pura akrab dan kami mengambil posisi pasang-pasangan, saya dengan Mona, Martin dengan Jeni dan tentunya Jefri dengan Mira. Kami saat itu sedang bermain monopoli. Rupanya kebiasaan Jefri yang suka datang ke kamar Mira itu sudah dianggap biasa sama Jeni dan Mona dan mereka sepertinya sudah mengetahui kalau di antara Jefri dan Mira sering bercinta di situ. Jeni dan Mona sepertinya tidak malu-malu dan bahkan mereka langsung merangkul kami sambil tertawa karena menikmati permainan monopoli tersebut.

Tidak lama, mungkin sekitar 10 menit lamanya kami bermain, Jefri menawarkan permainan baru kepada kami.
"Wah seru banget nih kalau kita mainnya pake aturan baru." Kata Jefri.
"Kaya apa Jef?" Tanya Jeni.
"Gimana kalau yang kalah buka baju," kata Jefri yang dari tadi tangannya sibuk meraba pantatnya Mira.
"Ok, setuju." Kami kompakan menjawab.
Rupanya hasrat seperti itu sudah dari tadi kami pendam, dan untungnya Jefri pintar mengambil situasi dan permainanpun dimulai dengan timnya Jeni dulu yang pertama membuka pakaian. Permainan terus berlanjut sampai kepada timnya Jefri dan Mira yang sudah telanjang bulat ternyata masih kalah lagi, dan kami minta hukumannya saling ciuman. Mereka memang sudah biasa, tapi hal itu membuat kami semua yang menontonnya menjadi terangsang, apalagi ciuman mereka sambil meraba-raba begitu. Pemandangan saat itu merangsang saya yang saat itu hanya tinggal CD membuat burung saya menegang hingga kepalanya keluar dari CD karena kebetulan burung saya kalau sudah menegang bisa sampai 17 cm. Rupanya tidak beda dengan Martin yang dari tadi terlihat sudah mesra sekali dengan Jeni yang saat bermain mencium pipinya terus. Gelagat menegangnya burung kami terlihat Mona dan Jeni yang cekikikan melihatnya, tetapi dengan nakalnya mereka memegang burung saya dan Martin dengan penuh gairah. Awalnya hanya memegang tetapi lama-kelamaan Mona mulai memainkan tangannya naik turun. Saya tidak tinggal diam, sayapun langsung meraba buah dadanya dengan belaian dan remasan mesra. Sebenarnya pengalaman saya dalam melakukan seks dengan wanita hanya baru berciuman dengan pacar saya sendiri. Hal serupa juga dialami oleh Martin dan pasangannya Jeni.

Tidak tinggal diam, saya langsung mengajak Mona yang dari raut wajahnya sudah mencapai nafsu birahi setelah memegang burung saya ke kamar mandi Mira yang kebetulan berada di dalam kamar itu juga. Tanpa ada penolakan, Mona saya tuntun ke kamar mandi sambil kami berciuman bertukar lidah. Mona yang CD-nya sudah basah langsung saya buka setelah menutup pintu kamar mandi, saya memilih kamar mandi karena saya sebenarnya baru kali ini telanjang bulat di depan gadis yang juga sudah telanjang bulat kecuali hanya tinggal CD yang menutupi badan kami. Entah kegilaan apa yang sudah saya lakukan malam itu, perasaan saya jadi sedikit ragu ketika Monapun tanpa kelihatan malu-malu membuka CD saya dan kemudian menjilati burung saya dalam posisi jongkok, tapi memang nikmatnya terasa sampai ke ubun-ubun saya waktu itu, sehingga saya tidak berpikir panjang lagi dan langsung meremas buah dadanya yang padat, putih, mencuat dengan puting merahnya yang mungil seperti buah ceri di atas es cream vanila. Permainan terus berlanjut dengan kami berganti posisi, saya awalnya ragu, karena kemaluannya yang lebat ditumbuhi bulu halus itu baru kali ini saya lihat dari jarak dekat. Saya memulainya dengan menyibakkan bulu-bulu halus itu pelan-pelan.
"Ehh.. enak Bob.. kamu.. ahh.." rintihnya.
Mendengar rintihan itu saya langsung membenamkan muka saya ke bulu-bulu halus itu dengan memainkan lidah saya di sekitar clitorisnya. Lagi-lagi Mona mendesah, dan kali ini malah meremas-remas rambut saya sambil sedikit-sedikit dia menggoyangkan pinggulnya karena kegelian nikmat. Sambil terus menjilati kemaluannya yang semakin membasah itu, saya mendudukkan Mona di pinggiran bak mandi agar Mona terasa nyaman.
"Terus Bob, terus.. saya ingin, ehh.." Kata-katanya tak sempat diteruskan karena saat itu Mona menggeliat karena orgasme dan dari kemaluannya mengalir cairan bening yang baunya tidak pernah akan saya lupakan.

Tangannya semakin keras menjambak rambut saya karena hebatnya dia mengalami orgasme. Kami bertukar posisi, kemudian dia langsung memeluk saya dan mengangkat kakinya dengan tangannya menuntun burung saya ke kemaluannya yang sudah basah itu.
"Bob, ayo kamu masukkan punya kamu ke meki gue, gue udah ngga tahan lagi.." desaknya.
"Seperti ini?" Tanya saya pura-pura polos sambil mencoba mengarahkan burung saya ke kemaluannya yang masih sempit itu.
"Ehh.. aduhh.. pelan-pelan ya Bob.. saya belum terbiasa.." Katanya lirih.
Saya mendorong pelan-pelan dan ahirnya masuk setengah burung saya yang lumayan besar untuk kemaluannya. Saya memulai dengan mendorong dan menarik pelan-pelan sambil mencium bibirnya dengan mesra dan tangan kanan saya meremas-remas halus buah dadanya.
"Ehmm.. enak Bob.. terus Bob.. tekan lagi..sam..pai masuk semua..ohh.." desahnya tak karuan karena merasa kenikmatan yang dasyat saat itu.
Saya menusukkan burung saya makin lama makin ke dalam dan semakin cepat frekuensinya. Bunyi decakan terdengar karena gerakan saya diikuti oleh gerakan pinggulnya yang ke kiri-kanan itu. 20 menit berlalu dengan posisi itu dan ahirnya saya mencapai puncak.
"Gue mau keluar nih..keluarin di dalam?" Tanya saya sambil terus memasuk-keluarkan burung saya.
"Keluarin aja di dalam bob.. gue juga kayaknya mau keluar lagi.. ohh.." Jawabnya sambil terus menggila berciuman.

Kami ahirnya mencapai puncak kenikmatan hampir bersamaan, dan tubuh kami saling berpelukan sangat erat dalam posisi berdiri. Nafas kami berdua terengah-engah dan kamipun menghentikan gerakan sambil berciuman sampai lama.
"Gue sayang sama lu Bob..gila enak banget Bob." Kata Mona di dekat telinga saya yang dari tadi juga menjadi sasaran lidahnya yang haus itu.
"Lu nggak apa-apa kan Mon..? Gue baru kali ini ngerasaain yang kaya gini.. gila enak banget Mon." Kata saya.

Kami kemudian mandi bersama dan membersihkan diri. Ketika keluar dari kamar mandi rupanya kedua pasangan Jefri-Mira dan Martin-Jeni menertawai kami berdua. Rupanya mereka juga melakukan hal yang sama seperti yang kami lakukan di kamar mandi, bedanya mereka melakukan di ranjangnya Mira dan mereka melakukannya berempat bersamaan. Sambil malu-malu saya mengambil pakaian saya dan kemudian bermesraan lagi dengan Mona. Dan perasaan saya saat itu senang sekali. Saya dan Mona bermesraan di Sofa tidak menghiraukan keberadaan teman-teman yang lain sampai ahirnya Jefri dan Martin mengajak pulang karena saat itu sudah hampir jam 12 malam. Walaupun sedikit bebas di lingkungan kosannya Mira, tapi kami masih merasa tidak enak kalau-kalau ada tetangga di situ yang menegur gara-gara kami bertamu kelewat batas.
"Bob, mau pulang sekarang..? Telpon gue yahh besok..?" Rayunya sambil mencium pipi saya yang terahir kalinya sebelum pulang.

Kami pulang dengan masing-masing menyimpan cerita dan pengalaman yang terindah malam itu. Di perjalanan kami saling menceritakan apa saja yang sudah kami lakukan tadi, dan sejak saat itu saya dan Mona berpacaran rutin sampai 2 tahun.

Tamat

4 Permainan gila - 1

Kami adalah sepasang suami istri yang telah menikah selama hampir 2 tahun dan belum mempunyai anak. Istriku, Lena, berusia 25 tahun, cukup seksi dan manis dengan kulit kuning langsat dan sebuah lesung pipit yang menghiasi pipi kanannya. Lena cukup tinggi untuk ukuran orang Asia, dengan tinggi 168 cm dan berat 48 kg membentuk tubuhnya yang 34C-25-34. Sedangkan aku sendiri bernama Ara, 30 tahun, 185 cm 80kg. Kulitku sedikit gelap akibat hobi golfku yang sedikit agak kelewatan. Orang bilang tubuhku atletis padahal aku malas berolah raga. Paling hanya golf saja, atau kadang-kadang renang.

Istriku bekerja di salah satu perusahaan multi nasional di Jakarta dan mempunyai karir yang cukup baik, sedangkan aku sendiri lumayan sukses berwiraswasta sebagai kontraktor jalan dan bangunan. Secara ekonomi dapat dikatakan kami berkecukupan, apalagi kami tidak ada tanggungan, baik saudara maupun orangtua. Mungkin itulah yang menyebabkan kami hobi "dugem" setiap malam minggu sekedar untuk melepas lelah pikiran dan kejenuhan hidup di Jakarta.

Namun di malam minggu itu ada sesuatu yang lain yang mengubah hidup kami. Di malam itu, sengaja atau tidak, untuk pertama kalinya istriku berselingkuh di depan mataku. Dan aku membiarkannya. Begini awal ceritanya..

"Ra, ayo dong.. Kok dandannya lama amat?!" Lena, istriku, berteriak dari lantai bawah rumah kami. Aku yang memang sedang mematut diri di depan kaca tersenyum mendengarnya, lalu membalas..
"Iya, sabar sayang, sebentar lagi!"

5 menit kemudian aku turun dan mendapatinya sedang cemberut di sofa ruang tengah kami. Lena tampak sangat "cute" dengan terusan tipis berdada agak terlalu terbuka berwarna merah marun, sedikit di atas lutut dan tanpa lengan. Sepatu hak 7 cm dengan warna senada menambah keserasian dan keseksiannya. Dengan polesan make-up sederhana, ia tampak manis. Sepertinya ia tidak mengenakan bra.

"Let's go, babe.. Senyum dong. Kan mau seneng-seneng?" demikian aku membujuknya sambil kugamit lengannya yang mulus dan halus.
"Hh.. BT nih nungguin kamu! Cium dulu, kalo nggak aku ngambek..!" Lena memonyongkan bibirnya lucu. Aku tersenyum, dan kucium pipinya lembut.
"Cup! Tuh, udah dicium. Jangan ngambek lagi dong. Yuk, kita berangkat". Sedikit kutarik lagi lengannya.
"Hei.. Di bibir. Masa di pipi? Dasar deh, nggak romantis!" Lena makin cemberut dan membuang muka, pura-pura ngambek. Maka kupegang dagunya, dan kutolehkan wajahnya ke wajahku, lalu kukecup bibirnya yang tipis itu. Tak dinyana, Lena melakukan "french kiss" yang membuat penisku agak mengeras.
"Hihihi.. Kok jadi sesak gitu, celananya? Payah deh, gitu aja napsu". Lena cekikikan sambil tangannya mengelus ringan depan celanaku. Penisku jadi makin keras. Tapi cepat kutampik hal itu karena memang kita sudah harus berangkat. Jam sudah menunjukkan pk. 11:30 malam.
"Namanya juga lelaki.. Hehe. Yuk, ah. Udah malem nih, nggak enak nanti ditungguin teman-teman". Aku menggamitnya sekali lagi dan kali ini Lena menurut. Berangkat juga kami akhirnya.

*****

Setibanya kami di sebuah Nite Club berlantai dua di bilangan Kuningan, waktu telah menunjukkan lewat tengah malam. Langsung saja kami menuju lantai 2 yang menawarkan musik bernuansa pop-jazz yang ringan dan mudah dinikmati. Dari salah satu pojokan, seorang sahabat Lena, Poppy, melambaikan tangannya memanggil kami dan bereriak agak keras, berusaha mengatasi suara hingar-bingar band yang sedang beraksi.

"Yuhuu!! Sini, sini!! Ya amplop.. Malem banget sih kalian?? Kita-kita udah pada mau pulang nih!" Poppy meledek kami sambil pura-pura menenteng tasnya dan berjalan pergi.
"Kalau jam segini udah mau pulang, kenapa loe nggak nonton bioskop aja, Neng? Ati-ati ya di jalan.." demikian sergah Lena. Aku cengar-cengir saja memperhatikan mereka.

Kulihat "gank" kami yang biasa sudah kumpul semua. Pertama ada Poppy dan pacarnya (seorang keturunan Chinese yang cukup ganteng bernama Benny). Mereka masih menunggu restu orang tua untuk menikah karena, maklum, berbeda suku/keturunan. Poppy adalah seorang gadis Sunda yang entah mengapa mirip keturunan indo. Lalu yang sedang menyalakan cerutu kesukaannya adalah sahabat kentalku Reno dan istrinya yang seorang model, Carol, yang malam itu.. Hmm.. Luar biasa dengan rok mini dari bahan kulit warna coklat tua, yang memperlihatkan hampir seluruh paha mulusnya, dipadukan dengan blouse ketat berlengan 3/4 warna putih dan cukup tipis. Ditambah dengan sepatu hak tingginya membuatku menelan ludah.

"Hi, guys. Sorry kemaleman. Abis gue dandannya lama sih. Takut Carol nggak naksir lagi, nanti. Anyway, Ren, bisa teler gue nyium bau cerutu loe, jeg!"

Aku ngomong sekenanya sambil tertawa. Carol senyam-senyum (GR kali) dan Reno pura-pura pingsan sambil memeletkan lidahnya, sambil jari tengahnya diacungkan ke arahku.

"Emang nih, genit deh Si Ara." Lena berkata seakan setuju dengan ekspresi Reno sambil mencibir ke arahku dan tangan kirinya menjewer telinga kananku keras-keras. Aaww!

Kulihat lagi duduk-duduk santai di sebelah Poppy, sambil merokok, jelalatan dengan jakun yang turun-naik karena memolototi makhluk-makhluk feminin yang berpenampilan "minimalis" alias 2/3 telanjang, dua bujang lapuk kawan-kawanku sejak SMA, Gary dan Eddy. Mereka tidak pernah membawa pasangan kalau lagi di Club.

"Ngapain kita bawa makanan kalau mau ke buffet?" demikian celetuk Eddy suatu waktu yang lalu saat kutanyakan alasannya. Benar juga, pikirku waktu itu. Hehehe.
"Jangan sampai gitu dong, prens.. Nanti bajunya pada lepas semua!" sambil terbahak Benny mendorong Gary agak keras sampai-sampai Eddy yang duduk disebelahnya ikut terdorong. Mata Benny yang agak sipit sampai tinggal segaris.. Eh, dua garis deh.
"Sial, loe, Ben. Minuman gue ampir tumpah! Gue guyur loe, ye!" Eddy mencak-mencak sambil berlagak mau menyiram Benny dengan segelas XO nya yang baru sedikit dicicipi.
"Sini, guyur ke dalam mulut gue. Hehehe." Benny mangap-mangap persis ikan koki. Kocak sekali wajahnya. Lena dan Poppy sampai tertawa keras sekali. Gary balas mendorong Benny sambil menjitaknya pelan.

Begitulah, kami berdelapan memang sangat akrab satu dengan yang lainnya, jadi memang seru kalau sudah ngumpul semua begini. Rata-rata sudah sekitar 5-10 tahun kami berteman. Ada yang dari SMA seperti aku, Gary dan Eddy, ada yang dari kuliah dan ada yang dari teman sekantor, seperti Poppy dan Lena, dan Reno & Eddy. Dari pertemanan seperti itulah kami bertemu, merasa sangat cocok satu dengan yang lainnya, dan lalu bersahabat seperti sekarang.

"Gini, gini.." Gary tiba-tiba angkat bicara dengan logat betawinya yang khas.
"Gue ade usul, dijamin seru. Tapi kagak ada yang boleh marah atawa tersinggung. Gimane, broer and sus?" Teman kita yang satu ini memang segudang idenya. Ada yang waras tapi lebih banyak yang aneh bin ajaib alias norak.
"Usul ape loe, Bang? Jangan kayak nyang kemaren ye.. Bikin gue malu abis. Sompret loe!" Eddy nggak mau kalah betawi.

Beberapa minggu yang lalu memang Gary mengajak main "truth or dare" yang mengakibatkan Eddy lari keliling lapangan parkir salah satu restoran di bilangan Kemang dengan hanya bercelana dalam. Kakinya yang kurus dan tanpa bulu itu benar-benar pas buat diteriaki oleh para pengunjung yang lain, "Wow, seksi bener nih.. Tapi kok jenggotan ya??" Hobi temanku yang satu ini memang memelihara jenggot sejak SMA, dan cukup lebat pula.

"Diem dulu loe. Lagian ini buat para cewek-cewek. Loe kan kakinya doang yang wanita, sisanya waria.." sambaran maut Gary yang demikian membuat Eddy mati kutu.
"Jadi.." lanjut Gary, "Setuju nggak?"

Kami saling berpandangan. Aku sendiri agak was-was kalau Gary yang memberi usul, karena biasanya diperlukan keberanian extra untuk "bermain" dengannya.

"Apa dulu idenya?" Lena dan Poppy bicara hampir bersamaan. Sedangkan Carol malah cuek, asik mengepulkan asap berbentuk bulatan-bulatan dari mulutnya. Mulai suka bercerutu ria juga, dia ternyata. Reno juga agak cuek sambil memeluk pinggang istrinya tersebut dengan mesra sambil menciumi tengkuk Carol yang jenjang. Sialan, pikirku. Si Reno hoki bener bisa dapet bini kayak bidadari begitu. Aku tahu Lena juga cantik, tapi yah, rumput tetangga memang selalu terlihat lebih hijau!

"Loe pade lihat itu segerombolan cowok-cowok yang di meja seberang?" Gary menyorongkan dagunya ke arah yang dimaksud.
"Yang dari tadi gue perhatiin pada jelalatan ngeliatin penyanyi cewek yang pantatnya bohai itu.. Lihat kan?" lanjutnya antusias.
"Oh itu. Mau ngapain, Gar? Loe mau suruh bini gue ke sono, terus nabokin satu-satu? Hehehe.." Si Benny nyerocos nggak jelas. Apa dia mulai mabok? Padahal cuma minum ice lemon tea doang.
"Loe juga.. Diem dulu dong, broer." Gary mulai agak kesal.
"Gue lihat mereka udah pada horny semua gara-gara ngeliatin pantat cewek penyanyi itu. Tuh, lihat sampe mau megang segala. Ck ck ck.."

Memang kulihat mereka duduk sangat dekat dengan panggung, jadi mungkin saja.


Bersambung . . . .

3 Permainan gila - 1

Kami adalah sepasang suami istri yang telah menikah selama hampir 2 tahun dan belum mempunyai anak. Istriku, Lena, berusia 25 tahun, cukup seksi dan manis dengan kulit kuning langsat dan sebuah lesung pipit yang menghiasi pipi kanannya. Lena cukup tinggi untuk ukuran orang Asia, dengan tinggi 168 cm dan berat 48 kg membentuk tubuhnya yang 34C-25-34. Sedangkan aku sendiri bernama Ara, 30 tahun, 185 cm 80kg. Kulitku sedikit gelap akibat hobi golfku yang sedikit agak kelewatan. Orang bilang tubuhku atletis padahal aku malas berolah raga. Paling hanya golf saja, atau kadang-kadang renang.

Istriku bekerja di salah satu perusahaan multi nasional di Jakarta dan mempunyai karir yang cukup baik, sedangkan aku sendiri lumayan sukses berwiraswasta sebagai kontraktor jalan dan bangunan. Secara ekonomi dapat dikatakan kami berkecukupan, apalagi kami tidak ada tanggungan, baik saudara maupun orangtua. Mungkin itulah yang menyebabkan kami hobi "dugem" setiap malam minggu sekedar untuk melepas lelah pikiran dan kejenuhan hidup di Jakarta.

Namun di malam minggu itu ada sesuatu yang lain yang mengubah hidup kami. Di malam itu, sengaja atau tidak, untuk pertama kalinya istriku berselingkuh di depan mataku. Dan aku membiarkannya. Begini awal ceritanya..

"Ra, ayo dong.. Kok dandannya lama amat?!" Lena, istriku, berteriak dari lantai bawah rumah kami. Aku yang memang sedang mematut diri di depan kaca tersenyum mendengarnya, lalu membalas..
"Iya, sabar sayang, sebentar lagi!"

5 menit kemudian aku turun dan mendapatinya sedang cemberut di sofa ruang tengah kami. Lena tampak sangat "cute" dengan terusan tipis berdada agak terlalu terbuka berwarna merah marun, sedikit di atas lutut dan tanpa lengan. Sepatu hak 7 cm dengan warna senada menambah keserasian dan keseksiannya. Dengan polesan make-up sederhana, ia tampak manis. Sepertinya ia tidak mengenakan bra.

"Let's go, babe.. Senyum dong. Kan mau seneng-seneng?" demikian aku membujuknya sambil kugamit lengannya yang mulus dan halus.
"Hh.. BT nih nungguin kamu! Cium dulu, kalo nggak aku ngambek..!" Lena memonyongkan bibirnya lucu. Aku tersenyum, dan kucium pipinya lembut.
"Cup! Tuh, udah dicium. Jangan ngambek lagi dong. Yuk, kita berangkat". Sedikit kutarik lagi lengannya.
"Hei.. Di bibir. Masa di pipi? Dasar deh, nggak romantis!" Lena makin cemberut dan membuang muka, pura-pura ngambek. Maka kupegang dagunya, dan kutolehkan wajahnya ke wajahku, lalu kukecup bibirnya yang tipis itu. Tak dinyana, Lena melakukan "french kiss" yang membuat penisku agak mengeras.
"Hihihi.. Kok jadi sesak gitu, celananya? Payah deh, gitu aja napsu". Lena cekikikan sambil tangannya mengelus ringan depan celanaku. Penisku jadi makin keras. Tapi cepat kutampik hal itu karena memang kita sudah harus berangkat. Jam sudah menunjukkan pk. 11:30 malam.
"Namanya juga lelaki.. Hehe. Yuk, ah. Udah malem nih, nggak enak nanti ditungguin teman-teman". Aku menggamitnya sekali lagi dan kali ini Lena menurut. Berangkat juga kami akhirnya.

*****

Setibanya kami di sebuah Nite Club berlantai dua di bilangan Kuningan, waktu telah menunjukkan lewat tengah malam. Langsung saja kami menuju lantai 2 yang menawarkan musik bernuansa pop-jazz yang ringan dan mudah dinikmati. Dari salah satu pojokan, seorang sahabat Lena, Poppy, melambaikan tangannya memanggil kami dan bereriak agak keras, berusaha mengatasi suara hingar-bingar band yang sedang beraksi.

"Yuhuu!! Sini, sini!! Ya amplop.. Malem banget sih kalian?? Kita-kita udah pada mau pulang nih!" Poppy meledek kami sambil pura-pura menenteng tasnya dan berjalan pergi.
"Kalau jam segini udah mau pulang, kenapa loe nggak nonton bioskop aja, Neng? Ati-ati ya di jalan.." demikian sergah Lena. Aku cengar-cengir saja memperhatikan mereka.

Kulihat "gank" kami yang biasa sudah kumpul semua. Pertama ada Poppy dan pacarnya (seorang keturunan Chinese yang cukup ganteng bernama Benny). Mereka masih menunggu restu orang tua untuk menikah karena, maklum, berbeda suku/keturunan. Poppy adalah seorang gadis Sunda yang entah mengapa mirip keturunan indo. Lalu yang sedang menyalakan cerutu kesukaannya adalah sahabat kentalku Reno dan istrinya yang seorang model, Carol, yang malam itu.. Hmm.. Luar biasa dengan rok mini dari bahan kulit warna coklat tua, yang memperlihatkan hampir seluruh paha mulusnya, dipadukan dengan blouse ketat berlengan 3/4 warna putih dan cukup tipis. Ditambah dengan sepatu hak tingginya membuatku menelan ludah.

"Hi, guys. Sorry kemaleman. Abis gue dandannya lama sih. Takut Carol nggak naksir lagi, nanti. Anyway, Ren, bisa teler gue nyium bau cerutu loe, jeg!"

Aku ngomong sekenanya sambil tertawa. Carol senyam-senyum (GR kali) dan Reno pura-pura pingsan sambil memeletkan lidahnya, sambil jari tengahnya diacungkan ke arahku.

"Emang nih, genit deh Si Ara." Lena berkata seakan setuju dengan ekspresi Reno sambil mencibir ke arahku dan tangan kirinya menjewer telinga kananku keras-keras. Aaww!

Kulihat lagi duduk-duduk santai di sebelah Poppy, sambil merokok, jelalatan dengan jakun yang turun-naik karena memolototi makhluk-makhluk feminin yang berpenampilan "minimalis" alias 2/3 telanjang, dua bujang lapuk kawan-kawanku sejak SMA, Gary dan Eddy. Mereka tidak pernah membawa pasangan kalau lagi di Club.

"Ngapain kita bawa makanan kalau mau ke buffet?" demikian celetuk Eddy suatu waktu yang lalu saat kutanyakan alasannya. Benar juga, pikirku waktu itu. Hehehe.
"Jangan sampai gitu dong, prens.. Nanti bajunya pada lepas semua!" sambil terbahak Benny mendorong Gary agak keras sampai-sampai Eddy yang duduk disebelahnya ikut terdorong. Mata Benny yang agak sipit sampai tinggal segaris.. Eh, dua garis deh.
"Sial, loe, Ben. Minuman gue ampir tumpah! Gue guyur loe, ye!" Eddy mencak-mencak sambil berlagak mau menyiram Benny dengan segelas XO nya yang baru sedikit dicicipi.
"Sini, guyur ke dalam mulut gue. Hehehe." Benny mangap-mangap persis ikan koki. Kocak sekali wajahnya. Lena dan Poppy sampai tertawa keras sekali. Gary balas mendorong Benny sambil menjitaknya pelan.

Begitulah, kami berdelapan memang sangat akrab satu dengan yang lainnya, jadi memang seru kalau sudah ngumpul semua begini. Rata-rata sudah sekitar 5-10 tahun kami berteman. Ada yang dari SMA seperti aku, Gary dan Eddy, ada yang dari kuliah dan ada yang dari teman sekantor, seperti Poppy dan Lena, dan Reno & Eddy. Dari pertemanan seperti itulah kami bertemu, merasa sangat cocok satu dengan yang lainnya, dan lalu bersahabat seperti sekarang.

"Gini, gini.." Gary tiba-tiba angkat bicara dengan logat betawinya yang khas.
"Gue ade usul, dijamin seru. Tapi kagak ada yang boleh marah atawa tersinggung. Gimane, broer and sus?" Teman kita yang satu ini memang segudang idenya. Ada yang waras tapi lebih banyak yang aneh bin ajaib alias norak.
"Usul ape loe, Bang? Jangan kayak nyang kemaren ye.. Bikin gue malu abis. Sompret loe!" Eddy nggak mau kalah betawi.

Beberapa minggu yang lalu memang Gary mengajak main "truth or dare" yang mengakibatkan Eddy lari keliling lapangan parkir salah satu restoran di bilangan Kemang dengan hanya bercelana dalam. Kakinya yang kurus dan tanpa bulu itu benar-benar pas buat diteriaki oleh para pengunjung yang lain, "Wow, seksi bener nih.. Tapi kok jenggotan ya??" Hobi temanku yang satu ini memang memelihara jenggot sejak SMA, dan cukup lebat pula.

"Diem dulu loe. Lagian ini buat para cewek-cewek. Loe kan kakinya doang yang wanita, sisanya waria.." sambaran maut Gary yang demikian membuat Eddy mati kutu.
"Jadi.." lanjut Gary, "Setuju nggak?"

Kami saling berpandangan. Aku sendiri agak was-was kalau Gary yang memberi usul, karena biasanya diperlukan keberanian extra untuk "bermain" dengannya.

"Apa dulu idenya?" Lena dan Poppy bicara hampir bersamaan. Sedangkan Carol malah cuek, asik mengepulkan asap berbentuk bulatan-bulatan dari mulutnya. Mulai suka bercerutu ria juga, dia ternyata. Reno juga agak cuek sambil memeluk pinggang istrinya tersebut dengan mesra sambil menciumi tengkuk Carol yang jenjang. Sialan, pikirku. Si Reno hoki bener bisa dapet bini kayak bidadari begitu. Aku tahu Lena juga cantik, tapi yah, rumput tetangga memang selalu terlihat lebih hijau!

"Loe pade lihat itu segerombolan cowok-cowok yang di meja seberang?" Gary menyorongkan dagunya ke arah yang dimaksud.
"Yang dari tadi gue perhatiin pada jelalatan ngeliatin penyanyi cewek yang pantatnya bohai itu.. Lihat kan?" lanjutnya antusias.
"Oh itu. Mau ngapain, Gar? Loe mau suruh bini gue ke sono, terus nabokin satu-satu? Hehehe.." Si Benny nyerocos nggak jelas. Apa dia mulai mabok? Padahal cuma minum ice lemon tea doang.
"Loe juga.. Diem dulu dong, broer." Gary mulai agak kesal.
"Gue lihat mereka udah pada horny semua gara-gara ngeliatin pantat cewek penyanyi itu. Tuh, lihat sampe mau megang segala. Ck ck ck.."

Memang kulihat mereka duduk sangat dekat dengan panggung, jadi mungkin saja.


Bersambung . . . .

4 Permainan gila - 1

Kami adalah sepasang suami istri yang telah menikah selama hampir 2 tahun dan belum mempunyai anak. Istriku, Lena, berusia 25 tahun, cukup seksi dan manis dengan kulit kuning langsat dan sebuah lesung pipit yang menghiasi pipi kanannya. Lena cukup tinggi untuk ukuran orang Asia, dengan tinggi 168 cm dan berat 48 kg membentuk tubuhnya yang 34C-25-34. Sedangkan aku sendiri bernama Ara, 30 tahun, 185 cm 80kg. Kulitku sedikit gelap akibat hobi golfku yang sedikit agak kelewatan. Orang bilang tubuhku atletis padahal aku malas berolah raga. Paling hanya golf saja, atau kadang-kadang renang.

Istriku bekerja di salah satu perusahaan multi nasional di Jakarta dan mempunyai karir yang cukup baik, sedangkan aku sendiri lumayan sukses berwiraswasta sebagai kontraktor jalan dan bangunan. Secara ekonomi dapat dikatakan kami berkecukupan, apalagi kami tidak ada tanggungan, baik saudara maupun orangtua. Mungkin itulah yang menyebabkan kami hobi "dugem" setiap malam minggu sekedar untuk melepas lelah pikiran dan kejenuhan hidup di Jakarta.

Namun di malam minggu itu ada sesuatu yang lain yang mengubah hidup kami. Di malam itu, sengaja atau tidak, untuk pertama kalinya istriku berselingkuh di depan mataku. Dan aku membiarkannya. Begini awal ceritanya..

"Ra, ayo dong.. Kok dandannya lama amat?!" Lena, istriku, berteriak dari lantai bawah rumah kami. Aku yang memang sedang mematut diri di depan kaca tersenyum mendengarnya, lalu membalas..
"Iya, sabar sayang, sebentar lagi!"

5 menit kemudian aku turun dan mendapatinya sedang cemberut di sofa ruang tengah kami. Lena tampak sangat "cute" dengan terusan tipis berdada agak terlalu terbuka berwarna merah marun, sedikit di atas lutut dan tanpa lengan. Sepatu hak 7 cm dengan warna senada menambah keserasian dan keseksiannya. Dengan polesan make-up sederhana, ia tampak manis. Sepertinya ia tidak mengenakan bra.

"Let's go, babe.. Senyum dong. Kan mau seneng-seneng?" demikian aku membujuknya sambil kugamit lengannya yang mulus dan halus.
"Hh.. BT nih nungguin kamu! Cium dulu, kalo nggak aku ngambek..!" Lena memonyongkan bibirnya lucu. Aku tersenyum, dan kucium pipinya lembut.
"Cup! Tuh, udah dicium. Jangan ngambek lagi dong. Yuk, kita berangkat". Sedikit kutarik lagi lengannya.
"Hei.. Di bibir. Masa di pipi? Dasar deh, nggak romantis!" Lena makin cemberut dan membuang muka, pura-pura ngambek. Maka kupegang dagunya, dan kutolehkan wajahnya ke wajahku, lalu kukecup bibirnya yang tipis itu. Tak dinyana, Lena melakukan "french kiss" yang membuat penisku agak mengeras.
"Hihihi.. Kok jadi sesak gitu, celananya? Payah deh, gitu aja napsu". Lena cekikikan sambil tangannya mengelus ringan depan celanaku. Penisku jadi makin keras. Tapi cepat kutampik hal itu karena memang kita sudah harus berangkat. Jam sudah menunjukkan pk. 11:30 malam.
"Namanya juga lelaki.. Hehe. Yuk, ah. Udah malem nih, nggak enak nanti ditungguin teman-teman". Aku menggamitnya sekali lagi dan kali ini Lena menurut. Berangkat juga kami akhirnya.

*****

Setibanya kami di sebuah Nite Club berlantai dua di bilangan Kuningan, waktu telah menunjukkan lewat tengah malam. Langsung saja kami menuju lantai 2 yang menawarkan musik bernuansa pop-jazz yang ringan dan mudah dinikmati. Dari salah satu pojokan, seorang sahabat Lena, Poppy, melambaikan tangannya memanggil kami dan bereriak agak keras, berusaha mengatasi suara hingar-bingar band yang sedang beraksi.

"Yuhuu!! Sini, sini!! Ya amplop.. Malem banget sih kalian?? Kita-kita udah pada mau pulang nih!" Poppy meledek kami sambil pura-pura menenteng tasnya dan berjalan pergi.
"Kalau jam segini udah mau pulang, kenapa loe nggak nonton bioskop aja, Neng? Ati-ati ya di jalan.." demikian sergah Lena. Aku cengar-cengir saja memperhatikan mereka.

Kulihat "gank" kami yang biasa sudah kumpul semua. Pertama ada Poppy dan pacarnya (seorang keturunan Chinese yang cukup ganteng bernama Benny). Mereka masih menunggu restu orang tua untuk menikah karena, maklum, berbeda suku/keturunan. Poppy adalah seorang gadis Sunda yang entah mengapa mirip keturunan indo. Lalu yang sedang menyalakan cerutu kesukaannya adalah sahabat kentalku Reno dan istrinya yang seorang model, Carol, yang malam itu.. Hmm.. Luar biasa dengan rok mini dari bahan kulit warna coklat tua, yang memperlihatkan hampir seluruh paha mulusnya, dipadukan dengan blouse ketat berlengan 3/4 warna putih dan cukup tipis. Ditambah dengan sepatu hak tingginya membuatku menelan ludah.

"Hi, guys. Sorry kemaleman. Abis gue dandannya lama sih. Takut Carol nggak naksir lagi, nanti. Anyway, Ren, bisa teler gue nyium bau cerutu loe, jeg!"

Aku ngomong sekenanya sambil tertawa. Carol senyam-senyum (GR kali) dan Reno pura-pura pingsan sambil memeletkan lidahnya, sambil jari tengahnya diacungkan ke arahku.

"Emang nih, genit deh Si Ara." Lena berkata seakan setuju dengan ekspresi Reno sambil mencibir ke arahku dan tangan kirinya menjewer telinga kananku keras-keras. Aaww!

Kulihat lagi duduk-duduk santai di sebelah Poppy, sambil merokok, jelalatan dengan jakun yang turun-naik karena memolototi makhluk-makhluk feminin yang berpenampilan "minimalis" alias 2/3 telanjang, dua bujang lapuk kawan-kawanku sejak SMA, Gary dan Eddy. Mereka tidak pernah membawa pasangan kalau lagi di Club.

"Ngapain kita bawa makanan kalau mau ke buffet?" demikian celetuk Eddy suatu waktu yang lalu saat kutanyakan alasannya. Benar juga, pikirku waktu itu. Hehehe.
"Jangan sampai gitu dong, prens.. Nanti bajunya pada lepas semua!" sambil terbahak Benny mendorong Gary agak keras sampai-sampai Eddy yang duduk disebelahnya ikut terdorong. Mata Benny yang agak sipit sampai tinggal segaris.. Eh, dua garis deh.
"Sial, loe, Ben. Minuman gue ampir tumpah! Gue guyur loe, ye!" Eddy mencak-mencak sambil berlagak mau menyiram Benny dengan segelas XO nya yang baru sedikit dicicipi.
"Sini, guyur ke dalam mulut gue. Hehehe." Benny mangap-mangap persis ikan koki. Kocak sekali wajahnya. Lena dan Poppy sampai tertawa keras sekali. Gary balas mendorong Benny sambil menjitaknya pelan.

Begitulah, kami berdelapan memang sangat akrab satu dengan yang lainnya, jadi memang seru kalau sudah ngumpul semua begini. Rata-rata sudah sekitar 5-10 tahun kami berteman. Ada yang dari SMA seperti aku, Gary dan Eddy, ada yang dari kuliah dan ada yang dari teman sekantor, seperti Poppy dan Lena, dan Reno & Eddy. Dari pertemanan seperti itulah kami bertemu, merasa sangat cocok satu dengan yang lainnya, dan lalu bersahabat seperti sekarang.

"Gini, gini.." Gary tiba-tiba angkat bicara dengan logat betawinya yang khas.
"Gue ade usul, dijamin seru. Tapi kagak ada yang boleh marah atawa tersinggung. Gimane, broer and sus?" Teman kita yang satu ini memang segudang idenya. Ada yang waras tapi lebih banyak yang aneh bin ajaib alias norak.
"Usul ape loe, Bang? Jangan kayak nyang kemaren ye.. Bikin gue malu abis. Sompret loe!" Eddy nggak mau kalah betawi.

Beberapa minggu yang lalu memang Gary mengajak main "truth or dare" yang mengakibatkan Eddy lari keliling lapangan parkir salah satu restoran di bilangan Kemang dengan hanya bercelana dalam. Kakinya yang kurus dan tanpa bulu itu benar-benar pas buat diteriaki oleh para pengunjung yang lain, "Wow, seksi bener nih.. Tapi kok jenggotan ya??" Hobi temanku yang satu ini memang memelihara jenggot sejak SMA, dan cukup lebat pula.

"Diem dulu loe. Lagian ini buat para cewek-cewek. Loe kan kakinya doang yang wanita, sisanya waria.." sambaran maut Gary yang demikian membuat Eddy mati kutu.
"Jadi.." lanjut Gary, "Setuju nggak?"

Kami saling berpandangan. Aku sendiri agak was-was kalau Gary yang memberi usul, karena biasanya diperlukan keberanian extra untuk "bermain" dengannya.

"Apa dulu idenya?" Lena dan Poppy bicara hampir bersamaan. Sedangkan Carol malah cuek, asik mengepulkan asap berbentuk bulatan-bulatan dari mulutnya. Mulai suka bercerutu ria juga, dia ternyata. Reno juga agak cuek sambil memeluk pinggang istrinya tersebut dengan mesra sambil menciumi tengkuk Carol yang jenjang. Sialan, pikirku. Si Reno hoki bener bisa dapet bini kayak bidadari begitu. Aku tahu Lena juga cantik, tapi yah, rumput tetangga memang selalu terlihat lebih hijau!

"Loe pade lihat itu segerombolan cowok-cowok yang di meja seberang?" Gary menyorongkan dagunya ke arah yang dimaksud.
"Yang dari tadi gue perhatiin pada jelalatan ngeliatin penyanyi cewek yang pantatnya bohai itu.. Lihat kan?" lanjutnya antusias.
"Oh itu. Mau ngapain, Gar? Loe mau suruh bini gue ke sono, terus nabokin satu-satu? Hehehe.." Si Benny nyerocos nggak jelas. Apa dia mulai mabok? Padahal cuma minum ice lemon tea doang.
"Loe juga.. Diem dulu dong, broer." Gary mulai agak kesal.
"Gue lihat mereka udah pada horny semua gara-gara ngeliatin pantat cewek penyanyi itu. Tuh, lihat sampe mau megang segala. Ck ck ck.."

Memang kulihat mereka duduk sangat dekat dengan panggung, jadi mungkin saja.


Bersambung . . . .

0 Permainan gila - 1

Kami adalah sepasang suami istri yang telah menikah selama hampir 2 tahun dan belum mempunyai anak. Istriku, Lena, berusia 25 tahun, cukup seksi dan manis dengan kulit kuning langsat dan sebuah lesung pipit yang menghiasi pipi kanannya. Lena cukup tinggi untuk ukuran orang Asia, dengan tinggi 168 cm dan berat 48 kg membentuk tubuhnya yang 34C-25-34. Sedangkan aku sendiri bernama Ara, 30 tahun, 185 cm 80kg. Kulitku sedikit gelap akibat hobi golfku yang sedikit agak kelewatan. Orang bilang tubuhku atletis padahal aku malas berolah raga. Paling hanya golf saja, atau kadang-kadang renang.

Istriku bekerja di salah satu perusahaan multi nasional di Jakarta dan mempunyai karir yang cukup baik, sedangkan aku sendiri lumayan sukses berwiraswasta sebagai kontraktor jalan dan bangunan. Secara ekonomi dapat dikatakan kami berkecukupan, apalagi kami tidak ada tanggungan, baik saudara maupun orangtua. Mungkin itulah yang menyebabkan kami hobi "dugem" setiap malam minggu sekedar untuk melepas lelah pikiran dan kejenuhan hidup di Jakarta.

Namun di malam minggu itu ada sesuatu yang lain yang mengubah hidup kami. Di malam itu, sengaja atau tidak, untuk pertama kalinya istriku berselingkuh di depan mataku. Dan aku membiarkannya. Begini awal ceritanya..

"Ra, ayo dong.. Kok dandannya lama amat?!" Lena, istriku, berteriak dari lantai bawah rumah kami. Aku yang memang sedang mematut diri di depan kaca tersenyum mendengarnya, lalu membalas..
"Iya, sabar sayang, sebentar lagi!"

5 menit kemudian aku turun dan mendapatinya sedang cemberut di sofa ruang tengah kami. Lena tampak sangat "cute" dengan terusan tipis berdada agak terlalu terbuka berwarna merah marun, sedikit di atas lutut dan tanpa lengan. Sepatu hak 7 cm dengan warna senada menambah keserasian dan keseksiannya. Dengan polesan make-up sederhana, ia tampak manis. Sepertinya ia tidak mengenakan bra.

"Let's go, babe.. Senyum dong. Kan mau seneng-seneng?" demikian aku membujuknya sambil kugamit lengannya yang mulus dan halus.
"Hh.. BT nih nungguin kamu! Cium dulu, kalo nggak aku ngambek..!" Lena memonyongkan bibirnya lucu. Aku tersenyum, dan kucium pipinya lembut.
"Cup! Tuh, udah dicium. Jangan ngambek lagi dong. Yuk, kita berangkat". Sedikit kutarik lagi lengannya.
"Hei.. Di bibir. Masa di pipi? Dasar deh, nggak romantis!" Lena makin cemberut dan membuang muka, pura-pura ngambek. Maka kupegang dagunya, dan kutolehkan wajahnya ke wajahku, lalu kukecup bibirnya yang tipis itu. Tak dinyana, Lena melakukan "french kiss" yang membuat penisku agak mengeras.
"Hihihi.. Kok jadi sesak gitu, celananya? Payah deh, gitu aja napsu". Lena cekikikan sambil tangannya mengelus ringan depan celanaku. Penisku jadi makin keras. Tapi cepat kutampik hal itu karena memang kita sudah harus berangkat. Jam sudah menunjukkan pk. 11:30 malam.
"Namanya juga lelaki.. Hehe. Yuk, ah. Udah malem nih, nggak enak nanti ditungguin teman-teman". Aku menggamitnya sekali lagi dan kali ini Lena menurut. Berangkat juga kami akhirnya.

*****

Setibanya kami di sebuah Nite Club berlantai dua di bilangan Kuningan, waktu telah menunjukkan lewat tengah malam. Langsung saja kami menuju lantai 2 yang menawarkan musik bernuansa pop-jazz yang ringan dan mudah dinikmati. Dari salah satu pojokan, seorang sahabat Lena, Poppy, melambaikan tangannya memanggil kami dan bereriak agak keras, berusaha mengatasi suara hingar-bingar band yang sedang beraksi.

"Yuhuu!! Sini, sini!! Ya amplop.. Malem banget sih kalian?? Kita-kita udah pada mau pulang nih!" Poppy meledek kami sambil pura-pura menenteng tasnya dan berjalan pergi.
"Kalau jam segini udah mau pulang, kenapa loe nggak nonton bioskop aja, Neng? Ati-ati ya di jalan.." demikian sergah Lena. Aku cengar-cengir saja memperhatikan mereka.

Kulihat "gank" kami yang biasa sudah kumpul semua. Pertama ada Poppy dan pacarnya (seorang keturunan Chinese yang cukup ganteng bernama Benny). Mereka masih menunggu restu orang tua untuk menikah karena, maklum, berbeda suku/keturunan. Poppy adalah seorang gadis Sunda yang entah mengapa mirip keturunan indo. Lalu yang sedang menyalakan cerutu kesukaannya adalah sahabat kentalku Reno dan istrinya yang seorang model, Carol, yang malam itu.. Hmm.. Luar biasa dengan rok mini dari bahan kulit warna coklat tua, yang memperlihatkan hampir seluruh paha mulusnya, dipadukan dengan blouse ketat berlengan 3/4 warna putih dan cukup tipis. Ditambah dengan sepatu hak tingginya membuatku menelan ludah.

"Hi, guys. Sorry kemaleman. Abis gue dandannya lama sih. Takut Carol nggak naksir lagi, nanti. Anyway, Ren, bisa teler gue nyium bau cerutu loe, jeg!"

Aku ngomong sekenanya sambil tertawa. Carol senyam-senyum (GR kali) dan Reno pura-pura pingsan sambil memeletkan lidahnya, sambil jari tengahnya diacungkan ke arahku.

"Emang nih, genit deh Si Ara." Lena berkata seakan setuju dengan ekspresi Reno sambil mencibir ke arahku dan tangan kirinya menjewer telinga kananku keras-keras. Aaww!

Kulihat lagi duduk-duduk santai di sebelah Poppy, sambil merokok, jelalatan dengan jakun yang turun-naik karena memolototi makhluk-makhluk feminin yang berpenampilan "minimalis" alias 2/3 telanjang, dua bujang lapuk kawan-kawanku sejak SMA, Gary dan Eddy. Mereka tidak pernah membawa pasangan kalau lagi di Club.

"Ngapain kita bawa makanan kalau mau ke buffet?" demikian celetuk Eddy suatu waktu yang lalu saat kutanyakan alasannya. Benar juga, pikirku waktu itu. Hehehe.
"Jangan sampai gitu dong, prens.. Nanti bajunya pada lepas semua!" sambil terbahak Benny mendorong Gary agak keras sampai-sampai Eddy yang duduk disebelahnya ikut terdorong. Mata Benny yang agak sipit sampai tinggal segaris.. Eh, dua garis deh.
"Sial, loe, Ben. Minuman gue ampir tumpah! Gue guyur loe, ye!" Eddy mencak-mencak sambil berlagak mau menyiram Benny dengan segelas XO nya yang baru sedikit dicicipi.
"Sini, guyur ke dalam mulut gue. Hehehe." Benny mangap-mangap persis ikan koki. Kocak sekali wajahnya. Lena dan Poppy sampai tertawa keras sekali. Gary balas mendorong Benny sambil menjitaknya pelan.

Begitulah, kami berdelapan memang sangat akrab satu dengan yang lainnya, jadi memang seru kalau sudah ngumpul semua begini. Rata-rata sudah sekitar 5-10 tahun kami berteman. Ada yang dari SMA seperti aku, Gary dan Eddy, ada yang dari kuliah dan ada yang dari teman sekantor, seperti Poppy dan Lena, dan Reno & Eddy. Dari pertemanan seperti itulah kami bertemu, merasa sangat cocok satu dengan yang lainnya, dan lalu bersahabat seperti sekarang.

"Gini, gini.." Gary tiba-tiba angkat bicara dengan logat betawinya yang khas.
"Gue ade usul, dijamin seru. Tapi kagak ada yang boleh marah atawa tersinggung. Gimane, broer and sus?" Teman kita yang satu ini memang segudang idenya. Ada yang waras tapi lebih banyak yang aneh bin ajaib alias norak.
"Usul ape loe, Bang? Jangan kayak nyang kemaren ye.. Bikin gue malu abis. Sompret loe!" Eddy nggak mau kalah betawi.

Beberapa minggu yang lalu memang Gary mengajak main "truth or dare" yang mengakibatkan Eddy lari keliling lapangan parkir salah satu restoran di bilangan Kemang dengan hanya bercelana dalam. Kakinya yang kurus dan tanpa bulu itu benar-benar pas buat diteriaki oleh para pengunjung yang lain, "Wow, seksi bener nih.. Tapi kok jenggotan ya??" Hobi temanku yang satu ini memang memelihara jenggot sejak SMA, dan cukup lebat pula.

"Diem dulu loe. Lagian ini buat para cewek-cewek. Loe kan kakinya doang yang wanita, sisanya waria.." sambaran maut Gary yang demikian membuat Eddy mati kutu.
"Jadi.." lanjut Gary, "Setuju nggak?"

Kami saling berpandangan. Aku sendiri agak was-was kalau Gary yang memberi usul, karena biasanya diperlukan keberanian extra untuk "bermain" dengannya.

"Apa dulu idenya?" Lena dan Poppy bicara hampir bersamaan. Sedangkan Carol malah cuek, asik mengepulkan asap berbentuk bulatan-bulatan dari mulutnya. Mulai suka bercerutu ria juga, dia ternyata. Reno juga agak cuek sambil memeluk pinggang istrinya tersebut dengan mesra sambil menciumi tengkuk Carol yang jenjang. Sialan, pikirku. Si Reno hoki bener bisa dapet bini kayak bidadari begitu. Aku tahu Lena juga cantik, tapi yah, rumput tetangga memang selalu terlihat lebih hijau!

"Loe pade lihat itu segerombolan cowok-cowok yang di meja seberang?" Gary menyorongkan dagunya ke arah yang dimaksud.
"Yang dari tadi gue perhatiin pada jelalatan ngeliatin penyanyi cewek yang pantatnya bohai itu.. Lihat kan?" lanjutnya antusias.
"Oh itu. Mau ngapain, Gar? Loe mau suruh bini gue ke sono, terus nabokin satu-satu? Hehehe.." Si Benny nyerocos nggak jelas. Apa dia mulai mabok? Padahal cuma minum ice lemon tea doang.
"Loe juga.. Diem dulu dong, broer." Gary mulai agak kesal.
"Gue lihat mereka udah pada horny semua gara-gara ngeliatin pantat cewek penyanyi itu. Tuh, lihat sampe mau megang segala. Ck ck ck.."

Memang kulihat mereka duduk sangat dekat dengan panggung, jadi mungkin saja.


Bersambung . . . .

1 Permainan gila - 3

Lena menunduk sambil masih terisak pelan. Diam seribu bahasa. Sampai akhirnya kami tiba di rumah. Kutekan klakson mobilku pendek-pendek dua kali, dan beberapa detik kemudian pembantu rumah tangga kami terlihat tergopoh-gopoh keluar sambil masih mengantuk. Kulirik jam di mobilku. Pk 2:52 dini hari, nggak heran kalau dia ngantuk.

Setibanya di kamar tidur, kubuka pakaianku satu persatu, lalu masuk ke kamar mandi yang terletak di dalam kamar. Lena menyusul tak lama kemudian, pada saat aku sedang menyabuni tubuhku. Penisku terasa menegang melihat tubuh telanjang istriku sambil masih terbayang permainannya tadi di Club.

Aku terbayang betapa erotisnya mereka bergoyang dan betapa air maniku juga hampir menyembur tatkala Lena mencapai orgasme. Hentakan dan kedutan pinggulnya yang liar saat dia mencapai puncak birahinya terus menari-nari di kepalaku membuatku tak sadar mengelus sendiri penisku yang 22 cm sudah sangat tegang.

Lena terperangah melihat ulahku itu. Lalu dia mulai mengerti dan tersenyum penuh arti. Dia mendekatiku dan melekatkan payudara montoknya ke punggungku.

"So, that was a turn-on for you, eh?" sambil berkata begitu tangannya mengusap pundakku, terus turun ke lenganku dan bergerak ke arah selangkanganku.

Sampai di sana, tangannya mengambil alih kegiatan tanganku yang sedang mengelus penisku turun naik. Merinding aku dibuatnya, pinggulku sedikit tersentak, dan napasku jadi tertahan. Kepala penisku yang keunguan dan sudah mengeluarkan "pre-cum"nya jadi semakin licin dan nikmat terasa dengan adanya sabun yang dibalurkan istriku.

"Kalau digituin terus, aku bakalan keluar, sayang." kataku setengah berbisik.
"Kamu seksi sekali tadi. Did you cum on the dance floor?"
"Ehmm.. What do you think?" Lena terus mengocok pelan penisku. Kurasakan air maniku akan segera menyembur. Aku yakin Lena juga merasakannya.
"Sayang, kontol kamu rasanya udah gede banget dan anget. Are you cumming, baby?" Namun begitu Lena malah makin perlahan mengocoknya, dan genggamannya diperlonggar.

Jarinya tiba-tiba menekan pangkal penisku untuk menahan gelombang air mani yang akan segera meluap. Aku jadi blingsatan dibuatnya.

"Aduh, aku udah hampir sampai tuh, tadi." Aku protes sambil mencoba mengocok sendiri penisku. Tapi tanganku dipegangnya.
"Eit, kamu nggak boleh ngocok sendiri. Sabar dong, sayang. Let's finish up and go to bed." Sambil mengecup bibirku ringan, Lena bergegas mandi dan setelah selesai mengeringkan rambut dan tubuhnya. Ia lalu masuk ke dalam selimut dengan tubuh polos. Aku mengikutinya dengan semangat di sebelah kanannya.

Dengan lembut Lena mengelus penisku yang sudah agak melemah di dalam selimut. Penisku tiba-tiba bangkit kembali dan berdiri dengan tegar. Lena lalu mulai mengocok penisku lagi sambil menghisap dan menjilati puting kiriku. Cairan dari penisku sanaget nikmat dijadikan pelumas oleh istriku. Kurasakan juga kedua biji pelirku dielus dan sedikit diremasnya. Benar-benar gelisah aku dibuatnya.

"Aku bilang sama Adam bahwa dia ganteng, dan aku pingin joget sama dia." Tanpa ba-bi-bu Lena mulai bercerita. Ternyata lelaki itu bernama Adam.
"Dia OK aja, lalu kugandeng dia turun." Suaranya mendesah dan setengah berbisik.

Daun telingaku dan leherku diciumi dan dijilatinya lembut. Penisku kurasakan makin tegang dan benar-benar mulai membasah.

"Waktu sedang asik-asiknya berjoget, aku ngerasa tangannya kok jadi berani dan mengelus-elus pantatku. Tapi aku diamkan saja, karena kupikir, 'Let's play the game'. Terus terang aku jadi horny digitukan." Demikian cetus Lena sambil jilatannya mulai turun ke dada dan perutku.

Agak geli rasanya saat perutku dijilatnya, tapi tak lama karena lalu kepala penisku jadi sasarannya.

"Aahh.." setengah berteriak aku merasakan kehangatan mulut istriku yang menjilati dan mulai mengulum kepala penisku.
"Masukkan sampai dalam, sayang.. Oohh.. Hisap, sayang.. Eemmhh.. Eemmhh.. Aahh.." aku mulai meracau merasakan kenikmatan yang luar biasa.

Mendadak Lena melepaskan penisku dari mulutnya, lalu meludahi kepalanya sedikit sambil terus mengocoknya pelan dan berkata.

"Adam membisikiku katanya 'kamu seksi sekali. Saya suka wanita yang memakai G-string. Very sexy!' Aku tertawa saja mendengarnya, tapi senang juga dipuji begitu."

Tangannya membuat gerakan seperti memelintir naik-turun penisku dan menggenggamnya agak keras, membuatku mendelik-delik keenakan.

"Aku bilang juga sama dia, 'kamu juga macho banget sih, bikin aku horny aja'. Suaraku kubuat seseksi mungkin supaya dia makin berani."

Setelah berkata begitu, lagi-lagi penisku jadi sasaran hisapan mulutnya dan jilatan lidahnya. Ohh, nikmatnya tidak terkira.

"Terus terang memekku basah sekali waktu itu. Apalagi waktu kita bergerak-gerak memutar. Aku bisa ngerasin kontolnya Adam menekan clit-ku. Aku jadi sadar kalau dia juga pasti merasakan juga clit-ku di kontolnya. It makes me so horny.." Kulihat jari istriku bermain di kelentitnya dalam posisi menungging. Seksi sekali. Bau kewanitaannya mulai menusuk hidungku dan menambah birahiku.

Aku tak tahan lagi, kurengkuh tubuh istriku, dan saat dia masih dalam posisi menungging, kusodokan penisku perlahan ke dalam memeknya. Ahh.. Basah, hangat dan terasa berdenyut lembut. Kukeluar-masukkan dengan mantap penisku sambil kucengkram pinggulnya erat.

"Oohh, baby.. Fuck me.. Fuck me.. Oouughh.. Enak banget sayang.." Lena terengah-engah dalam birahinya yang liar. Pinggulnya bergerak maju-mundur menambah dalam terobosan penisku dengan sangat erotis.. Buah dadanya berguncang-guncang ke depan dan ke belakang membuatku ingin menjamah dan meremasnya. Namun tanganku malah bergerak ke kelentitnya dan mengosok-gosoknya lembut dengan jari tengahku. Hal itu membuatnya makin berkelojotan.

"Shit.. Baby, aku pingin keluar.. Ooughh.. Cepetin kontol kamu, sayang.. Oohh.." Lena benar-benar mendekati puncak birahinya. Saat kepalanya menoleh kearahku, kusambut & kukulum bibirnya dan kuhentikan gerakanku. Tangan kiriku meremas buah dada kirinya dengan gemas.

"Kok stop, sayang? Ayo dong, sayang.." Lena dengan gelisah berusaha memaju-mundurkan pinggulnya, tapi kutahan dengan sekuat tenaga dengan mencengkram pinggulnya. Tapi aku tetap membiarkan penisku di dalam vaginanya. Kuperhatikan ada cairan putih kental di pangkal penisku yang adalah cairan birahi istriku yang sudah membanjir.

"Continue your story atau aku akan berhenti di sini." Sambil berkata begitu, aku terus mengosok-gosok kelentitnya pelan untuk membuatnya makin bernapsu. Kuremas lembut buah dadanya dan kumainkan pentilnya yang sudah sangat keras. Kurasakan vaginanya berdenyut pelan beberapa kali.

"Waktu sudah beberapa saat kontol menekan memekku, aku tahu kalau aku nggak akan berhenti sampai aku orgasme. Enak sekali soalnya." Lena melanjutkan ceritanya. Akupun mulai menggoyang pantatku lagi.

"Aku benar-benar nggak peduli lagi siapa yang ngelihat atau apa yang bakalan terjadi nantinya."

"Lalu aku putuskan untuk benar-benar mendapat orgasme. Ku cengkram pantatnya supaya lebih mantap dan aku bergerak naik-turun karena dengan begitu aku yakin bisa lebih cepat. Dan Adam mengerti yang aku mau kerena kurasakan dia juga menyengkram pantatku dengan erat sehingga gesekannya sangat terasa.." sambil bercerita Lena memaju-mundurkan pinggulnya menyambut kontolku.

Aku lalu mencabut kontolku dan telentang di ranjang. Lena mengerti maksudku dan dengan cepat menaiki tubuhku dan memasukkan penisku ke dalam vaginanya yang sudah sangat basah. Cairan birahinya terlihat meleleh di paha bagian dalamnya. Tubuhnya yang bergerakn naik-turun-memutar mutar sangat seksi luar biasa dan aku merasa tidak lama lagi akan menyemburkan air maniku di dalam vaginanya. Penisku terasa demikian nikmat di dalam pijatan dan gesekan vagina istriku. Kuremas kedua buah dadanya yang bergelayut manja dan bergoyang kekiri dan kekanan.

"Benar aja, nggak lama kemudian aku ngerasa orgasmeku udah makin dekat dan akupun semakin cepat ingin mencapainya." Lena melanjutkan ceritanya.
"Oouugghh.. Baby.. I'm cumming.. Oohh, I'm gonna cum.. Yess.. Aagghh..!" Lena berteriak keras saat puncak kenikmatan birahi menyergapnya.

Aku bergerak semakin cepat dan liar. Kuremas pantatnya, dan kusodok-sodokkan penisku dengan cepat ke dalam vaginanya yang berkedutan sangat kuat, berkali-kali.

"Yaahh.. Aagghh.. Oh fuck.. Aku juga mau keluar, sayaang.. Aahh.. Aarrgghh..!! Dengan beberapa kali sodokan kuat dan cepat aku mencapai orgasmeku yang tertunda begitu lama. Tubuhku terasa enteng dan melayang.. Kukeluar-masukkan terus penisku beberapa kali lagi sampai kurasakan tuntas semburan air maniku. Vagina istriku berdenyut-denyut kuat beberapa kali menambah indah orgasme kami.

Lena ambruk di atas tubuhku. Hanya napas terengah kami berdua yang terdengar bersahutan. Tubuh kami terasa licin oleh keringat yang membanjir. Kuelus-elus lembut punggung dan pantat telanjang istriku, sambil kucium kepalanya. Buah dadanya naik-turun seirama dengan napasnya terasa lembut di atas dadaku.

Amat nikmat permainan seks kami kali ini. Mungkin aku akan membuat tantangan-tantangan baru untuk istriku lagi nanti. Hmm.. But it's a different story!

Tamat

2 Permainan gila - 2

"Let's play a game. I call it, 'Seduce or be seduced' game." Wah, mulai coro Inggris, Si Gary. Gawat nih, pikirku.
"You go there, pick one or two or more guys, whatever, and then dance with him. Try to seduce him while dancing. If we see and decide that you're the one who got seduced, then you loose and you must buy all of us here a round of drinks." Waduh bagus juga Inggrisnya bocah ini ternyata, lho.
"Nyang ber-alkohol, ye!" Yah, jadi betawi lagi dia. Sambil ngomong gitu, dia melirik ke arah Benny yang masih asik dengan ice lemon tea nya sambil nyengir jahat.
"Reseh loe, kunyuk!" Merasa disindir, Benny nyolot.
"Gue lagi mau menjauhi minuman keras nih. Supaya "itu" gue bisa lebih keras. Huahahaha!"

Kami semua sampai kaget denger kerasnya tawa Benny. Orang satu ini memang dulunya jagoan minum, tapi belakangan, entah mengapa kegemarannya itu hilang tiba-tiba. Mungkin mau mengambil hati orang tua Poppy.

"Udah keras banget kok, Yang.." Poppy menggelendot manja di bahu Benny sambil memberikan ekspresi horny.
"Berasaa banget.." katanya lagi. Ya ampun..
"Eh, Gar.. Loe mau jadiin bini gue perek, apa?" kataku sedikit ketus. Sebenarnya aku deg-degan juga kalau-kalau Lena tertarik sama ide gila ini.
"Kalau bini gue digrepe-grepe orang, gue keberatan nih." kataku lagi. Sebenarnya aku sengaja supaya Lena makin tertantang. Kukedipkan mataku ke arah Gary, dan langsung dia paham. Dihisapnya rokoknya dalam-dalam tanda mengerti akan maksudku.
"Tenang, Ra. This is just a game. Belum tentu juga ada yang mau sama bini loe." tandas Gary.

That's done it. Mata Lena langsung melotot ke arah Gary dan berdiri.

"Eh, denger ya, Bang betawi.. Lelaki yang nggak suka sama gue pastilah hombreng atau buta atau yang masih bayi. Ya nggak, Pop? Rol, Carol.. Jangan nyerutu doang dong dikau." Lena menyerang membabi-buta. Tercium bau alcohol dari mulut istriku.. Hmm pasti seru nih. Lena akan sangat nekat kalau sudah fly.
"Iya nih, Si Abang. Tega nian kau berkata demikian kepada kawanku yang bohay ini.." Poppy mulai teler juga kayaknya.
"Carol.. Say something, sexy.." sambil ngomong gitu Poppy mengelus-elus paha kiri Carol yang terpampang mulus diseberangnya. Darahku berdesir melihatnya.
"Wah, mulai ada 'live show' nih. Asiikk.." Eddy tiba-tiba nimbrung sambil melihat ke arah Poppy dan Carol. Padahal sepertinya dia tadi lagi asik ngobrol sama seorang cewek ABG yang duduk di meja sebelah kami.
"Iihh, Poppy.. Ntar gue basah nih loe elus-elus gitu.." kata Carol sambil menjilat bibir sexynya dengan gaya horny yang dibuat-buat. Gila, pikirku. Bisa ngaceng berat nih gue.
"Gue rasa semua cowok di sini bakalan horny sama Lena, tapi apakah Lenanya berani?? Hmm?? Berani nggak, sayang?" Yah, Poppy malah nambah manas-manasin Lena.

Lena memandang sebentar ke arah Poppy yang langsung asik lagi dengan cerutu dan ciuman-ciuman kecil suaminya di tengkuk dan lehernya. Tanpa berkata apapun, berjalanlah dia menghampiri meja seberang yang penuh cowok-cowok horny. Ada 6 orang jumlahnya. This is one bad combination.. Satu cewek cantik nan seksi setengah mabuk yang merasa ditantang, dan sejumlah cowok-cowok keren yang sudah sangat horny. Very bad.

Setiba di meja seberang, Lena langsung pasang aksi. Aku dan teman-temanku memperhatikannya dengan sedikit tegang. Mula-mula kulihat dia berbicara dengan salah seorang dari mereka sambil bergaya agak genit namun tetap anggun. Tak berapa lama kemudian, turunlah mereka ke lantai dansa sambil bergandengan tangan. Lelaki itu berpostur sedikit lebih pendek dariku, tapi sangat atletis. I think he's a gym rat. Kekar sekali, mungkin ada keturunan Arabnya.

"Damn, beneran Si Lena. Are you OK, buddy?" Reno bertanya setengah berbisik kepadaku.
"Fine. Gue mau lihat ini arahnya kemana. Tenang aja dulu, man." Ujarku ke Reno.
"Wah, mulai ngegrepe tuh orang." Tangan lelaki itu kuperhatikan mulai mengelus lengan atas istriku yang terbuka. Terus dielus-elusnya, lalu mulai turun ke pinggang dan berhenti di sana.

Saat dipegang pinggangnya, Lena berjoget dengan seksi sambil mengangkat kedua lengannya sambil meliuk-liukan pinggulnya mengikuti irama musik pop-jazz. Liukan pinggulnya yang seksi, ditambah dengan ekspresi wajahnya, sungguh dapat membuat lelaki manapun terangsang. Lalu wajahnya sedikit didekatkan ke wajah Si lelaki sambil tersenyum kecil. Jemari kirinya mengelus wajah lelaki itu yang tampak macho dengan brewok tipisnya. Diperlakukan demikian, Si lelaki mulai berani, lalu tangan kanannya bergerak pelan ke arah pantat istriku yang padat seksi itu. Mulai dielusnya pelan pantat istriku, dan air mukanya sedikit berubah karena didapatinya istriku memakai G-string.

Kulihat ia berbisik sesuatu kepada istriku, lalu istriku tertawa menengadah sambil tangannya perlahan turun merangkul leher lelaki tersebut. Terlihat begitu mesranya, sehingga bagi orang-orang yang tidak tahu pasti mengira mereka adalah pasangan yang sedang jatuh cinta. Istriku lalu balas berbisik kepadanya, dan.. Hei! Lelaki itu mendekap pantat istriku dengan kuat sehingga dari pinggang ke bawah tubuh mereka menempel erat.

Keduanya lalu bergoyang erotis sambil meliuk-liukan pinggul mereka. Lena, istriku yang cantik, tampak semakin seksi dengan gerakan-gerakan itu. Kulihat semua teman-temanku menelan ludah, baik yang pria maupun yang wanita. Termasuk Carol, yang sudah hilang konsentrasi pada cerutunya itu.

"Gila, gue jadi horny ngeliat bini lu sama tuh cowok." begitu celetuk Poppy. Kuperhatikan wajahnya memerah dan dadanya naik turun. Mungkin benar, napsunya naik. Kuakui, aku pun demikian.
"Iya nih. Hebat! Gue akuin deh bini lu, broer!" jakun Gary naik-turun. Aku tersenyum saja sambil pura-pura tidak begitu peduli dan menyalakan rokokku. Entah yang keberapa batang.

Gerakan yang memutar itu kemudian berganti. Lena dengan antusias tampak menggosok-gosokkan selangkangannya ke selangkangan lelaki itu, naik-turun, sambil merangkul erat lehernya. Sang lelaki tak mau kalah, mulai menciumi leher mulus istriku perlahan dari atas sampai ke dekat belahan dadanya yang montok, dan sebaliknya..

Begitu terus beberapa saat. Jelas terlihat dari wajah mereka bahwa birahi keduanya sudah memuncak. Tangan kanan Lena terlihat turun ke pantat Si lelaki dan meremas-remasnya kuat. Begitu pula tangan lelaki itu menyengkram erat kedua bongkah padat pantat istriku yang masih bergerak naik turun, perlahan namun pasti.

Makin lama kulihat gerakan Lena makin kuat dan sedikit dipercepat. Wajahnya pun berubah jadi lebih liar dan agak memerah. Dadanya yang padat membusung makin dibusungkan dengan tengadahnya kepalanya ke belakang. Remasan pada pantat lelaki itu makin kuat dan sekarang ia menghisap jari tengah kirinya sendiri. Lena bergerak makin cepat, makin mantap.. Kepalanya semakin jauh terlempar ke belakang.. Hisapan pada jarinya semakin kuat.. Cengkraman pada pantatnya semakin menjadi-jadi.. Dan.. Tiba-tiba pinggulnya berhenti bergerak naik-turun. Terlihat pantat dan selangkangannya berkedutan diatas selangkangan lelaki itu, sambil bibirnya dengan liar mengulum bibir lelaki tersebut yang terlihat agak shock dengan itu semua. Lalu dengan perlahan cengkraman mereka mengendur, namun masih berciuman panjang dan mesra.

Lena, istriku yang sangat kucintai, milikku seorang, mencapai orgasme dengan lelaki lain di lantai dansa sebuah Nite Club dengan disaksikan oleh setidaknya 12 orang. Lima di meja seberang, dan tujuh di meja kami. Hatiku terasa sangat kacau, antara kaget, bingung dan napsu bercampur menjadi satu.

Kuperhatikan Lena berbisik lagi kepada lelaki itu, Si lelaki mengangguk, tersenyum, mencium pipinya. Istriku lalu kembali berjalan pelan ke arah kami. Tanpa berkata apapun ia lalu duduk bersebrangan denganku tepat di samping Poppy, lalu meletakan kepalanya di bahu gadis itu sambil menyender di sofa panjang tempat duduknya. Tak berapa lama, ia tertidur.

Tak ada satupun dari teman-temanku yang berani memandangku, kecuali Carol yang memandangku dengan dingin sekali namun menyelidik. Aku tidak tahu apa arti pandangannya itu. Yang jelas, aku mencoba sekuat tenaga seakan tak tahu apa yang terjadi barusan, walaupun cukup jelas terlihat ada noda basah di gaun Lena, tepat didepan selangkangannya.

"Pop, tolong dong bangunin Lena. Kasihan dia kayaknya capek banget. Kita duluan ya!" begitu rokokku selesai kuhisap, kuminta Poppy untuk membangunkan Lena, memberinya minum segelas air putih dingin, dan aku menggandengnya pulang setelah say goodbye pada kawan-kawanku. Tak sepatah katapun keluar dari mulut istriku.

*****

"Are you OK, babe?" tanyaku pada Lena, tanpa menoleh, dalam perjalanan pulang kami di dalam mobil.

Mobil ini adalah sebuah BMW seri 5 terbaru yang merupakan hasil kerja kerasku sendiri. This car is a testament to my success, and I'm so proud of it.

"No." ujarnya lirih. Lho, ternyata ada air mata di kedua pipinya.
"Maafin aku, sayang.. Aku keterlaluan.." tangisnya mulai keras dan terisak-isak.
"That was very wrong, I was so drunk and I am so sorry it happened." dengan terbata-bata istriku berkata.
"It's fine, babe. Aku sekarang hanya mau dengar dari kamu sendiri, dengan detail, apa yang terjadi tadi di sana?" kupertegas suaraku.
"I want you to be honest with me, and I will forget it all."


Bersambung . . . .

2 Permainan gila - 3

Lena menunduk sambil masih terisak pelan. Diam seribu bahasa. Sampai akhirnya kami tiba di rumah. Kutekan klakson mobilku pendek-pendek dua kali, dan beberapa detik kemudian pembantu rumah tangga kami terlihat tergopoh-gopoh keluar sambil masih mengantuk. Kulirik jam di mobilku. Pk 2:52 dini hari, nggak heran kalau dia ngantuk.

Setibanya di kamar tidur, kubuka pakaianku satu persatu, lalu masuk ke kamar mandi yang terletak di dalam kamar. Lena menyusul tak lama kemudian, pada saat aku sedang menyabuni tubuhku. Penisku terasa menegang melihat tubuh telanjang istriku sambil masih terbayang permainannya tadi di Club.

Aku terbayang betapa erotisnya mereka bergoyang dan betapa air maniku juga hampir menyembur tatkala Lena mencapai orgasme. Hentakan dan kedutan pinggulnya yang liar saat dia mencapai puncak birahinya terus menari-nari di kepalaku membuatku tak sadar mengelus sendiri penisku yang 22 cm sudah sangat tegang.

Lena terperangah melihat ulahku itu. Lalu dia mulai mengerti dan tersenyum penuh arti. Dia mendekatiku dan melekatkan payudara montoknya ke punggungku.

"So, that was a turn-on for you, eh?" sambil berkata begitu tangannya mengusap pundakku, terus turun ke lenganku dan bergerak ke arah selangkanganku.

Sampai di sana, tangannya mengambil alih kegiatan tanganku yang sedang mengelus penisku turun naik. Merinding aku dibuatnya, pinggulku sedikit tersentak, dan napasku jadi tertahan. Kepala penisku yang keunguan dan sudah mengeluarkan "pre-cum"nya jadi semakin licin dan nikmat terasa dengan adanya sabun yang dibalurkan istriku.

"Kalau digituin terus, aku bakalan keluar, sayang." kataku setengah berbisik.
"Kamu seksi sekali tadi. Did you cum on the dance floor?"
"Ehmm.. What do you think?" Lena terus mengocok pelan penisku. Kurasakan air maniku akan segera menyembur. Aku yakin Lena juga merasakannya.
"Sayang, kontol kamu rasanya udah gede banget dan anget. Are you cumming, baby?" Namun begitu Lena malah makin perlahan mengocoknya, dan genggamannya diperlonggar.

Jarinya tiba-tiba menekan pangkal penisku untuk menahan gelombang air mani yang akan segera meluap. Aku jadi blingsatan dibuatnya.

"Aduh, aku udah hampir sampai tuh, tadi." Aku protes sambil mencoba mengocok sendiri penisku. Tapi tanganku dipegangnya.
"Eit, kamu nggak boleh ngocok sendiri. Sabar dong, sayang. Let's finish up and go to bed." Sambil mengecup bibirku ringan, Lena bergegas mandi dan setelah selesai mengeringkan rambut dan tubuhnya. Ia lalu masuk ke dalam selimut dengan tubuh polos. Aku mengikutinya dengan semangat di sebelah kanannya.

Dengan lembut Lena mengelus penisku yang sudah agak melemah di dalam selimut. Penisku tiba-tiba bangkit kembali dan berdiri dengan tegar. Lena lalu mulai mengocok penisku lagi sambil menghisap dan menjilati puting kiriku. Cairan dari penisku sanaget nikmat dijadikan pelumas oleh istriku. Kurasakan juga kedua biji pelirku dielus dan sedikit diremasnya. Benar-benar gelisah aku dibuatnya.

"Aku bilang sama Adam bahwa dia ganteng, dan aku pingin joget sama dia." Tanpa ba-bi-bu Lena mulai bercerita. Ternyata lelaki itu bernama Adam.
"Dia OK aja, lalu kugandeng dia turun." Suaranya mendesah dan setengah berbisik.

Daun telingaku dan leherku diciumi dan dijilatinya lembut. Penisku kurasakan makin tegang dan benar-benar mulai membasah.

"Waktu sedang asik-asiknya berjoget, aku ngerasa tangannya kok jadi berani dan mengelus-elus pantatku. Tapi aku diamkan saja, karena kupikir, 'Let's play the game'. Terus terang aku jadi horny digitukan." Demikian cetus Lena sambil jilatannya mulai turun ke dada dan perutku.

Agak geli rasanya saat perutku dijilatnya, tapi tak lama karena lalu kepala penisku jadi sasarannya.

"Aahh.." setengah berteriak aku merasakan kehangatan mulut istriku yang menjilati dan mulai mengulum kepala penisku.
"Masukkan sampai dalam, sayang.. Oohh.. Hisap, sayang.. Eemmhh.. Eemmhh.. Aahh.." aku mulai meracau merasakan kenikmatan yang luar biasa.

Mendadak Lena melepaskan penisku dari mulutnya, lalu meludahi kepalanya sedikit sambil terus mengocoknya pelan dan berkata.

"Adam membisikiku katanya 'kamu seksi sekali. Saya suka wanita yang memakai G-string. Very sexy!' Aku tertawa saja mendengarnya, tapi senang juga dipuji begitu."

Tangannya membuat gerakan seperti memelintir naik-turun penisku dan menggenggamnya agak keras, membuatku mendelik-delik keenakan.

"Aku bilang juga sama dia, 'kamu juga macho banget sih, bikin aku horny aja'. Suaraku kubuat seseksi mungkin supaya dia makin berani."

Setelah berkata begitu, lagi-lagi penisku jadi sasaran hisapan mulutnya dan jilatan lidahnya. Ohh, nikmatnya tidak terkira.

"Terus terang memekku basah sekali waktu itu. Apalagi waktu kita bergerak-gerak memutar. Aku bisa ngerasin kontolnya Adam menekan clit-ku. Aku jadi sadar kalau dia juga pasti merasakan juga clit-ku di kontolnya. It makes me so horny.." Kulihat jari istriku bermain di kelentitnya dalam posisi menungging. Seksi sekali. Bau kewanitaannya mulai menusuk hidungku dan menambah birahiku.

Aku tak tahan lagi, kurengkuh tubuh istriku, dan saat dia masih dalam posisi menungging, kusodokan penisku perlahan ke dalam memeknya. Ahh.. Basah, hangat dan terasa berdenyut lembut. Kukeluar-masukkan dengan mantap penisku sambil kucengkram pinggulnya erat.

"Oohh, baby.. Fuck me.. Fuck me.. Oouughh.. Enak banget sayang.." Lena terengah-engah dalam birahinya yang liar. Pinggulnya bergerak maju-mundur menambah dalam terobosan penisku dengan sangat erotis.. Buah dadanya berguncang-guncang ke depan dan ke belakang membuatku ingin menjamah dan meremasnya. Namun tanganku malah bergerak ke kelentitnya dan mengosok-gosoknya lembut dengan jari tengahku. Hal itu membuatnya makin berkelojotan.

"Shit.. Baby, aku pingin keluar.. Ooughh.. Cepetin kontol kamu, sayang.. Oohh.." Lena benar-benar mendekati puncak birahinya. Saat kepalanya menoleh kearahku, kusambut & kukulum bibirnya dan kuhentikan gerakanku. Tangan kiriku meremas buah dada kirinya dengan gemas.

"Kok stop, sayang? Ayo dong, sayang.." Lena dengan gelisah berusaha memaju-mundurkan pinggulnya, tapi kutahan dengan sekuat tenaga dengan mencengkram pinggulnya. Tapi aku tetap membiarkan penisku di dalam vaginanya. Kuperhatikan ada cairan putih kental di pangkal penisku yang adalah cairan birahi istriku yang sudah membanjir.

"Continue your story atau aku akan berhenti di sini." Sambil berkata begitu, aku terus mengosok-gosok kelentitnya pelan untuk membuatnya makin bernapsu. Kuremas lembut buah dadanya dan kumainkan pentilnya yang sudah sangat keras. Kurasakan vaginanya berdenyut pelan beberapa kali.

"Waktu sudah beberapa saat kontol menekan memekku, aku tahu kalau aku nggak akan berhenti sampai aku orgasme. Enak sekali soalnya." Lena melanjutkan ceritanya. Akupun mulai menggoyang pantatku lagi.

"Aku benar-benar nggak peduli lagi siapa yang ngelihat atau apa yang bakalan terjadi nantinya."

"Lalu aku putuskan untuk benar-benar mendapat orgasme. Ku cengkram pantatnya supaya lebih mantap dan aku bergerak naik-turun karena dengan begitu aku yakin bisa lebih cepat. Dan Adam mengerti yang aku mau kerena kurasakan dia juga menyengkram pantatku dengan erat sehingga gesekannya sangat terasa.." sambil bercerita Lena memaju-mundurkan pinggulnya menyambut kontolku.

Aku lalu mencabut kontolku dan telentang di ranjang. Lena mengerti maksudku dan dengan cepat menaiki tubuhku dan memasukkan penisku ke dalam vaginanya yang sudah sangat basah. Cairan birahinya terlihat meleleh di paha bagian dalamnya. Tubuhnya yang bergerakn naik-turun-memutar mutar sangat seksi luar biasa dan aku merasa tidak lama lagi akan menyemburkan air maniku di dalam vaginanya. Penisku terasa demikian nikmat di dalam pijatan dan gesekan vagina istriku. Kuremas kedua buah dadanya yang bergelayut manja dan bergoyang kekiri dan kekanan.

"Benar aja, nggak lama kemudian aku ngerasa orgasmeku udah makin dekat dan akupun semakin cepat ingin mencapainya." Lena melanjutkan ceritanya.
"Oouugghh.. Baby.. I'm cumming.. Oohh, I'm gonna cum.. Yess.. Aagghh..!" Lena berteriak keras saat puncak kenikmatan birahi menyergapnya.

Aku bergerak semakin cepat dan liar. Kuremas pantatnya, dan kusodok-sodokkan penisku dengan cepat ke dalam vaginanya yang berkedutan sangat kuat, berkali-kali.

"Yaahh.. Aagghh.. Oh fuck.. Aku juga mau keluar, sayaang.. Aahh.. Aarrgghh..!! Dengan beberapa kali sodokan kuat dan cepat aku mencapai orgasmeku yang tertunda begitu lama. Tubuhku terasa enteng dan melayang.. Kukeluar-masukkan terus penisku beberapa kali lagi sampai kurasakan tuntas semburan air maniku. Vagina istriku berdenyut-denyut kuat beberapa kali menambah indah orgasme kami.

Lena ambruk di atas tubuhku. Hanya napas terengah kami berdua yang terdengar bersahutan. Tubuh kami terasa licin oleh keringat yang membanjir. Kuelus-elus lembut punggung dan pantat telanjang istriku, sambil kucium kepalanya. Buah dadanya naik-turun seirama dengan napasnya terasa lembut di atas dadaku.

Amat nikmat permainan seks kami kali ini. Mungkin aku akan membuat tantangan-tantangan baru untuk istriku lagi nanti. Hmm.. But it's a different story!

Tamat