Pages

Selasa, 01 Februari 2011

0 Poker

Agustus 2001

"Oke semuanya, pasang taruhannya."
Kalimat itu membawa Dedi kembali ke malam tahun baru saat ia masih di SMA. Dibiarkannya pikirannya melayang, mengacaukan konsentrasinya pada permainan yang tengah berlangsung.

Malam Tahun Baru - Desember 1997

"Oke, Dedi. Pasang taruhanmu."
Dedi menoleh dari kartu-kartu di tangannya ke arah Icha yang duduk di depannya. Teman-teman mereka sudah terkapar akibat terlalu banyak minum. Tubuh-tubuh mereka tersebar di setiap penjuru ruangan. Tinggal Dedi dan Icha berdua yang masih bertahan. Melihat senyum penuh percaya diri yang terukir di wajah Icha, Dedi tahu bahwa Icha yakin sekali kartunya akan menang. Tapi bukan Dedi namanya kalau menyerah sebelum bertanding.

"Bagaimana kalau kita buat permainan ini jadi sedikit lebih menarik?"
"Kau ada ide?" Icha mengangkat gelas birnya dan meminumnya sedikit.
Sejak tadi, Icha dan Dedi memang menahan diri mereka untuk tidak minum terlalu banyak. Namun sedikit banyak pengaruh alkohol mulai mempengaruhi mereka berdua.

"Aku mau lihat seberapa jauh kau berani." Dedi melempar dompetnya ke atas meja.
"Kita naikkan taruhan kita, menjadi.. satu ciuman."
"Ciuman?" Alis Icha terangkat dan ia menyeringai. "Denganmu?"
"Yaa, terserah padamu jika kau lebih suka nyepok anak-anak lain yang sudah pada teler, tetapi kupikir mungkin kau lebih suka melakukannya dengan.. sukarelawan."
"Kau mau jadi sukarelawan? Menciumku?"
Dedi meringis, sadar kalau tertangkap basah.

Icha mempertimbangkan sejenak tantangan Dedi.
"Okelah, Dedi. Kau pikir kau bakal menang? Baik, kita lihat nanti keahlianmu mencium gadis. Dan kunaikkan lagi taruhannya."
"Aah.." Seringai Dedi melebar.
"Kunaikkan menjadi.." Icha berhenti sebentar, melirik sebentar kartunya kemudian pandangannya kembali ke wajah Dedi, dan melanjutkan, "Raba-rabaan."

Dedi berpura-pura gemetar ketakutan.
"Maksudmu, aku kau izinkan meraba tubuhmu? Di balik bajumu? Di luar beha? Atau di dalam beha?"
"Bagus, sekarang kau membuatnya jadi terdengar menyeramkan."
"Lho, aku kan cuma menggambarkan detilnya."

Icha menoleh ke arah Ronald yang sedang telentang tidak sadar di sofa dengan botol bir yang kosong di tangannya.
"Pokoknya siapa pun yang menang dia yang akan menentukan bagaimana nantinya."
"Oh, jadi.. misalkan aku yang menang," Dedi meletakkan kartu-kartunya dalam keadaan tertutup di atas meja dan mengangkat gelasnya.
Tanpa melepaskan tatapannya pada Icha, ia meminum seteguk.

"Jika kubuka kartuku, dan ternyata aku yang menang, aku boleh pilih bagian tubuh mana yang ingin kuraba?" rasa kurang percaya mewarnai suaranya.
"Marisa Haryanto, putri es dari Bandung, akan membiarkan jari-jariku menyelip ke balik beha-nya?"
"Itu kan kalau kau yang menang." Icha mengangguk dengan yakin dan membuat Dedi jadi penasaran, sudah berapa banyak Icha minum dan sudah seberapa mabukkah ia.
"Kalo aku yang menang.."
"Mmm hmm?"
"Kulakukan dengan caraku sendiri."
"Terserah kau." Dedi mengangkat bahu dan mengambil kembali kartu-kartunya dari atas meja. "Kau siap? Buka."

Agustus 2001

"Dedi? Hey, apa yang sedang kaulamunkan? Bangunlah!"
Dedi tersadar dari lamunannya dan mengembalikan perhatiannya ke permainan yang sedang berlangsung.
"Aku pusing nih. Cukuplah untukku malam ini."
"Lho? Kau mau ke mana?"
Dedi segera menghabiskan minumannya dan meletakkan kartu-kartunya. "Pulang."
"Dedi!"
"Yuk, aku duluan."

Malam Tahun Baru - Desember 1997

Icha menempelkan kartunya di bibirnya sambil memperhatikan Dedi ketika Dedi membuka kelima kartunya. Empat kartu as. Ia menyeringai lebar kepada Icha.
"Ayo, Icha. Kau mau ke tempat yang lebih.. 'private'? Atau kau lebih suka melakukannya sekarang di sini?"
Icha menggigit bibir bawahnya, salah satu kebiasaan khususnya yang membuat Dedi jungkir balik dilanda cinta tak berbalas. Lidah Icha terjulur membasahi bibirnya. Ia membuka kelima kartunya satu per satu.

"Delapan hearts. Sembilan hearts. Sepuluh hearts. Jack hearts. Queen hearts. Apa yang barusan kau bilang tadi?"
"Aargh!" Dedi mengerang sementara Icha tersenyum penuh kemenangan.
"Sialan kau! Sejak kapan kau pandai bermain poker?"
Icha bangkit dan merentangkan tangannya untuk melemaskan otot-ototnya. Kelenturan tubuhnya membakar setiap penghujung syaraf Dedi.
"Seingatku kau yang mengajariku dulu. Kau kan paling hobi mengajariku segala macam yang tak ada gunanya."

Dedi ikut berdiri, kegugupannya membuat nafasnya sedikit tersengal.
"Jadi.. taruhan yang tadi?"
Icha mengangguk dan meraih tangan Dedi. Dedi mengikutinya ke kamar mandi. Setelah mereka berdua masuk, Icha mengunci pintu kamar mandi dan kemudian berbalik menghadap wajah Dedi.
"Bisakah kau mulai dengan menciumku dulu?"
Icha melingkarkan tangannya di bahu pemuda itu dan mendorongnya ke tepi bak mandi. Bibirnya melayang di dekat bibir Dedi, menggodanya. Dedi sekali ini tidak mampu berkata-kata.

"Icha?"
"Dedi, tidak bisakah kau diam untuk sekali ini saja?"
Icha bergerak maju dan Dedi segera menciumnya. Lidah mereka bergerak bersama. Dedi menyelipkan lidahnya ke dalam mulut Icha dan membiarkan lidahnya bergerak di dalamnya, menjilat dan mengecap setiap permukaan di bagian dalam mulut Icha. Icha menahan lidah pemuda itu dengan giginya, dan menghisapnya dengan lembut sebelum melepaskannya. Sebuah ciuman sudah terbayar, namun Icha bergerak maju kembali, kali ini untuk melancarkan beberapa ciuman berturut-turut, setiap ciuman lebih panas dan bergairah daripada ciuman sebelumnya.

"Setengah dari hutangmu sudah kau bayar. Masih ada sisa setengah lagi."
Icha sebenarnya sudah tahu ia akan memenangkan permainan tersebut ketika menerima tantangan Dedi, dan sudah merencanakannya hal ini sejak tadi. Ia tahu Dedi menginginkan dirinya, dan bercinta dengan Dedi adalah salah satu hal yang ingin dicobanya. Icha selama ini hanya bercinta dengan Ronald, tetapi ia sering membayangkan bagaimana rasanya jika ia melakukannya dengan Dedi.

"Kita selesaikan sekaligus saja." Dedi berusaha menyembunyikan kegugupannya. "Aku paling tidak suka berhutang terlalu lama."
Icha mengangguk. "Setuju. Aku pun menolak menerima cicilan."
Tangan Icha meraih pinggang Dedi dan menarik keluar ujung-ujung kemeja Dedi dari pinggang celananya. Dedi sebenarnya masih belum sempat memikirkan bagian mana dari tubuhnya yang akan diraba oleh Icha, namun tubuhnya sudah bereaksi mendahului pikirannya. Icha tersenyum melihat tonjolan di depan celana Dedi, tahu bahwa kemaluan pemuda itu sudah mengeras di balik celananya akibat ciuman-ciuman yang ia lancarkan kepadanya tadi. Dan kini tonjolan itu semakin membesar menantikan sentuhannya tangannya.

Tangan Icha bergerak membuka kancing dan ritsluiting celana Dedi, kemudian menariknya turun sekaligus beserta celana dalamnya sampai sebatas pahanya. Pandangan Icha terpaku pada kemaluan Dedi yang kini berdiri tegak dan keras sepanjang 14 sentimeter. Dedi tahu bahwa Icha sedang membandingkan dirinya dengan Ronald, dan ini membuatnya merasa agak malu karena ia tahu Ronald memiliki ukuran penis beberapa sentimeter lebih panjang darinya.

Icha mengerti kekhawatiran Dedi dan tersenyum padanya.
"Hmm, paling tidak kau memang punya cukup modal untuk taruhan."
Digenggamnya batang kemaluan Dedi dengan tangannya, diusapnya dengan satu gerakan yang lembut dan perlahan. Dedi mendesah nikmat dan memejamkan matanya, sementara tangan Icha terus bergerak naik turun di sepanjang batang kemaluannya. Tangan Dedi mencekal sekuat-kuatnya pada tepi bak mandi, menahan keinginannya untuk menyentuh Icha. Ia tidak ingin sampai dirinya berbuat terlalu jauh terhadap Icha, sebab Icha masih kekasih sahabatnya sendiri.

"Dedi?" Icha masih berbisik.
Ia mulai merasa ragu apakah akan meneruskan permainan ini atau tidak.
"Kau tidak mau..?"
Dedi memaksakan diri menatap wajah Icha.
"Icha, perjanjian kita hanya.."
Tangan Icha berhenti bergerak dan dengan lembut diusapkannya ibu jarinya pada lekukan kecil di ujung penis Dedi, menimbulkan desiran kenikmatan yang hampir tak tertahankan.

Dedi mengerang dan melepaskan cekalannya pada tepi bak mandi, kemudian meraih kedua payudara Icha. Kedua puting susu Icha sudah mengeras, agak menonjol di balik baju kaosnya yang tipis. Diusapnya dengan jari-jarinya kemudian dicondongkannya kepalanya dan dimasukkannya puting susunya yang masih terbungkus pakaian itu ke dalam mulutnya. Permukaan pakaiannya yang agak kasar terasa amat merangsang saat lidah Dedi menari-nari di atasnya. Kemudian Dedi menarik pakaian Icha ke atas dan melepaskannya dari tubuhnya.

Tidak ingin menunggu lama lagi, Dedi melepaskan sekaligus bra-nya, kemudian dibiarkannya tangannya menjelajahi kedua gundukan di dada Icha yang selembut sutra. Tangan Icha kembali berada di selangkangan Dedi, mengusap batang kemaluannya ke atas dan ke bawah sedikit lebih cepat daripada sebelumnya sementara Dedi menciumi leher Icha dan meremas kedua payudara 34C-nya.

Dedi menjauhkan bibirnya dari leher Icha yang kini basah oleh ciuman dan hisapannya. Nafasnya memburu. Diraihnya tangan Icha untuk menghentikan gerakannya.
"Icha. Kita tidak bisa.."
Icha menarik tangannya dari genggaman Dedi. Matanya melebar, terkejut setelah baru saja menyadari bahwa mereka sudah berbuat terlalu jauh.
"Maafkan. Aku.." Icha berhenti berbicara dan kembali melancarkan ciuman-ciuman ganas pada bibir Dedi.
Dedi melingkarkan kedua lengannya pada pinggang Icha, memeluknya. Diangkatnya tubuh Icha dan memutar, dan kini giliran Icha yang menyandar pada tepi bak mandi.

Icha mendorong Dedi menjauhinya dan memandang wajah pemuda itu dengan penuh nafsu. Kemudian ia melepaskan kancing celana jeansnya dan menurunkannya sekaligus bersama celana dalamnya. Dedi tidak mampu berpikir atau menahan diri lagi. Diangkatnya tubuh Icha dan didudukkannya pada tepi bak mandi, dan ia menyelipkan tubuhnya di antara kedua kaki Icha. Penisnya yang tegang bersentuhan dengan bibir kemaluan Icha. Namun ia berhenti lagi, masih penuh keraguan akan apa yang mereka lakukan.

Icha menggigit pundak Dedi dan mendorong pinggulnya ke depan dengan tidak sabar. Dedi mengerang, mengakui kekalahannya dan membiarkan kemaluannya memasuki lubang vagina Icha. Ia mendorong pinggulnya ke depan, membiarkan keseluruhan batang penisnya masuk sedalam-dalamnya. Mereka berdua bergerak bersama-sama, memompa keluar masuk dengan penuh nafsu dan terburu-buru.

Kaki Icha melingkari pinggang Dedi dan ia mempercepat gerakannya, merasakan dirinya hampir mencapai orgasme. Gerakan Icha semakin cepat sampai akhirnya Dedi kehilangan kendalinya dan menyerah. Digigitnya pundak Icha saat puncak kenikmatan menyerangnya, menahan dirinya untuk tidak berteriak dan membangunkan teman-teman mereka di luar. Semprotan cairan mani dalam vaginanya membuat Icha serasa melayang tinggi melewati puncak kenikmatan. Icha menggigit bibirnya. Otot-otot vaginanya mengencang saat gelombang orgasme melanda dirinya.

Mereka berhenti bersamaan, saling menghindari tatapan mata masing-masing. Dedi mengusap perlahan bekas gigitannya pada pundak Icha.
Icha menggelengkan kepalanya. "Tidak apa-apa kok, sebentar juga akan hilang."
Dedi melepaskan diri dari pelukan Icha dan mundur perlahan, masih belum berani menghadapi tatapan mata Icha.

"Aku mau mandi." Icha memungut pakaiannya dari lantai kamar mandi yang setengah kering. "Kau mau ikut?"
"Sebaiknya tidak. Kau masih pacarnya Ronald."
"Dedi?" Icha menggantungkan pakaiannya di balik pintu kamar mandi. "Kau selalu saja membantahku. Apa salahnya sih sekali-sekali setuju denganku?"

Agustus 2001

"Katamu kau ke tempat Ronald bermain kartu. Kenapa ada di sini?"
"Aku berhenti bermain. Sudah kalah terlalu banyak malam ini."
"Masa sih?"
Dedi mengangguk dan menyodorkan sebungkus martabak manis keju kacang kepada Icha.
"Kurang bisa konsentrasi."
"Siapa yang menang malam ini?"
"Ronald."
"Makin pintar dia sekarang?"

Dedi dan Icha sudah memberitahu Ronald tentang kejadian pada malam tahun baru tersebut. Ketika itu Icha sudah putus dengan Ronald. Karena semuanya bermula dari permainan poker, Ronald menantang Dedi bermain poker untuk menentukan nasib mereka selanjutnya, siapa yang berhak mendapatkan Icha. Permainan itu bukan pertandingan yang seimbang sebetulnya, sebab Dedi pandai sekali menggertak, sedangkan wajah Ronald terlalu polos dan terbuka, dan Dedi selalu tahu kapan kartunya baik, kapan kartunya buruk. Tapi itu tidak penting sama sekali, karena tidak peduli siapa pun yang menang, Dedi tahu Icha tetap memilihnya.

TAMAT

0 komentar:

Poskan Komentar